Minggu, 15 Mei 2016

Undangan Pernikahan

Tidak banyak yang tahu bahwa setiap kali undangan pernikahan saya terima, setiap kali itu pula hati saya berdesir pedih.

Dulu, ketika undangan itu datangnya dari geng teman-teman dekat semasa SMA dan kuliah, saya heboh dan bersemangat untuk menghadirinya.

Pernah, seorang teman menikah, saya bela-belain nyari kado yang lucu dan cukup di kantong saya, membungkusnya lalu mengetikkan quote-quote pernikahan di kertas wangi sebagai penyerta. Saya siy berharap hadiah itu cukup berguna bagi mereka meskipun ala kadarnya

Melewati masa umur 25, undangan pernikahan memberikan efek ganda pada saya; semangat tapi juga mulai khawatir. Akankah saya segera mengundang orang lain juga di pesta saya? Atau akankah saya akan menjadi objek pertanyaan kapan menikah semata?

Di umur 27, saya membuat undangan pernikahan dan juga memesan kebaya pernikahan di Jogja. Undangan dan kebaya itu dipesan untuk adik saya. Dan kemudian lebih banyak pertanyaan dan pernyataan yang terdengar. Semakin lama semakin menakutkan.

Umur 30an, undangan semakin sering diterima. Kali ini bukan lagi dari kolega semata, tapi juga dari mahasiswa-mahasiswa saya. Ternyata saya semakin tua dan mereka rasanya terlalu cepat menikah. Pada saat itu, undangan sudah harus diterima dengan besar hati.

Begitupun dengan dilangkahi oleh saudara kandung, dilangkahi menikah oleh adik kelas (dan bahkan) oleh murid yang dulu saya ajar, ditinggal menikah oleh mantan atau ditinggal menikah oleh teman, semua sudah harus mulai diterima dengan besar hati

Siapa tahu setelahnya Gusti Allah menyiapkan lelaki yang besar pula hatinya untuk semua kesabaran itu

Semoga begitu...