Minggu, 24 April 2016

Long Road To be a Student; Menghadapi Komentar yang Menyebalkan ..

gambar dari ignya Agoez Rahman, suaminya Dewi Sandra
.

Berhadapan dengan urusan sekolah dan masa depan memang membutuhkan ketahanan diri yang tinggi baik secara fisik ataupun mental. Selain karena prosesnya yang panjang, potensi kegagalan yang tinggi serta proses recovery yang kadangkala cukup lama, urusan masa depan ini juga seringkali dihubungkan oleh banyak orang dengan hal-hal yang kadang kala tidak perlu dihubungkan sama sekali.

Salah satu hal yang berat dari proses ini adalah bagaimana menyikapi berbagai pendapat dan komentar yang seringkali muncul tanpa diminta. Dan sayangnya, pendapat dan komentar tersebut lebih sering melemahkan daripada menguatkan. Apalagi jika yang ingin sekolah (lagi) itu adalah seorang dosen perempuan yang masih lajang seperti saya. Pendapat yang paling sering saya dengar adalah tentang semakin sulitnya perempuan yg bersekolah tinggi untuk mendapatkan jodoh. Banyak yang menyampaikannya dengan hati-hati namun lebih banyak lagi yang menyampaikannya dengan pilihan kata yg amat menyakitkan.

Seperti pengalaman saya beberapa hari yang lalu disebuah kantor. Saat itu saya sedang mengurusi sesuatu yg membutuhkan informasi pribadi. Kemudian, kepada petugasnya saya memberitahukan bahwa saya berumur 34, masih lajang dan berpenghasilan sekian. Setelah saya menyampaikan informasi tersebut, petugasnya berkomentar :

"Para dosen ini biasanya suka sekolah tinggi-tinggi ya sampe lupa menikah, seperti mbak kan?"

Lalu saya menjawab:

"Mbak, saya ga lupa untuk menikah. Saya malah ingin sekali menikah tapi jodoh saya belum datang".

Meskipun saya berusaha menjawabnya sehalus mungkin, tetap tidak mengurangi usaha mbak petugas itu untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yg lebih terkesan seperti tuduhan yang menyudutkan saya seperti saya terlalu pemilih, terlalu sibuk berkarir dan seterusnya.Saya sebenarnya tidak kaget lagi dengan pertanyaan dan tuduhan seperti ini, sudah terlalu sering saya menghadapinya. Yang saya sering membuat saya kaget adalah pertanyaan dan tuduhan itu keluar dari mulut orang yg bahkan tidak mengenal saya sama sekali.

Bahkan kadang yang harus diyakinkan tentang perempuan lajang umur 30an dan ingin sekolah ke Luar Negri dan dia akan baik-baik saja itu adalah orang-orang terdekat. Syukurnya, saya mempunyai support system yang cukup baik. Kakak saya menjadi bamper saya jika saya mulai diusik oleh keluarga besar tentang rencana ini. Yang paling sulit itu adalah menyakinkan ibu saya bahwa rancana sekolah saya juga adalah bentuk rencana masa depan lainnya yang ingin saya wujudkan.

Saya memahami bahwa hampir semua orang tua akan mengkhawatirkan anaknya berencana pergi dan menetap di daerah baru dan sendirian. Lebih jauh lagi, saya memahami kesedihan hatinya karena melihat saudara-saudara saya yang lainnya yang lebih muda sudah mendapatkan pasangan, sementara saya belum dan beliau harus terus menerus menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya. Belum lagi pikiran banyak orang termasuk dalam hal ini orang tua saya, bahwa para lajang dengan umur 30 an seperti saya terlalu santai dan cenderung tidak memikirkan tentang pernikahan.

Sayangnya, semakin tua seseorang, semakin banyak masalah yang ia pilih untuk disimpan sendiri saja karena membaginya pada orang lain mungkin akan menambah beban pikiran mereka saja. Seperti yang saya lakukan. Saya memilih tidak menceritakan perjuangan saya berkenalan dengan banyak pria, yang kemudian tapi berujung patah hati. Yang orang-orang tahu bahwa saya dan para lajang lainnya terlalu pemilih. Saya juga tidak perlu menceritakan pada banyak orang sedihnya tidak punya teman ketika pulang ke rumah, sehingga sebagian memilih untuk berlangganan tv kabel atau membeli banyak pulsa yg bisa dihabiskan tiap malam untuk berbicara dengan banyak orang yang seringkali terlalu sibuk untuk diajak bicara, hanya agar sepinya tidak terasa. Yang mereka tahu hanyalah saya dan lajang lainnya terlalu sibuk mengejar karir atau tidak bergaul.

Sebagian orang akan bilang kalo saya harusnya bersyukur masih lajang..Ya, saya bersyukur dengan status saya sekarang. Mungkin itulah yg akan memudahkan saya untuk meraih impian yg ada di depan mata saat ini. Jika saya sudah menikah dan punya anak, mungkin saya harus melupakan sebagian impian-impian saya, Hal yang bolak balik saya ingatkan kepada diri saya sendiri. Untuk bersyukur dan menerima kondisi yang saya miliki sekarang.

Sayangnya memang ada orang-orang yang diciptakan Allah untuk menguji hati orang lain. Orang-orang yang somehow suka lupa bahwa banyak orang yang juga ingin hidupnya senormal hidup mereka; Lulus kuliah, bekerja kemudian dilamar, menikah dan kemudian punya anak lalu hidup bahagia selamanya tanpa cela tapi bukankah ada bagian-bagian yang dirahasiakanNya kepada kita agar kita mengusahakan dulu sebaik-baiknya?

Hanya karena kita sudah melewati fase itu, lalu kita jadi punya lisensi untuk menteror orang lain dengan pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab?

Mungkin kita juga seringkali lupa bahwa orang yg hari ini menikah dan punya anak juga dulu suka sebel dengan pertanyaan serupa. Jika demikian, berhentilah menjadi penanya yg menyebalkan. Kalau tidak mampu, mungkin dikurangi sedikit demi sedikit. Itu sudah akan banyak membantu..

4 komentar:

Desi mengatakan...

Like it ty, postingan mu mewakili suara hatiku 😊

Desi mengatakan...

Like it ty, postingan mu mewakili suara hatiku 😊

Hesty Wulandari mengatakan...

Yang pasti mewakili suara hati kita2 yg terlalu sering diganggu oleh orang lain ci:)

Hesty Wulandari mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.