Jumat, 29 Januari 2016

Tentang Bunuh Diri (Dear Alex)

Dear Alex, 

Gue habis baca postingan blog lu tentang depresi dan bunuh diri. Well, sedih dan senang memang seringkali tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam episode 26 hari di Eropa yang seharusnya menyenangkanpun, ada terselip bahasan yang menyedihkan. Tapi gw seneng Lex dengan tulisan lu dan gw yakin ada banyak sekali yg membacanya sambil menahan tangis atau mungkin menangis sesegukan.

Gue sendiri alhamdulillah belum pernah punya keinginan buat bunuh diri Lex, bukan karena hidup gue sempurna Lex, tapi karena gw banyak takutnya:). Mo loncat dari jembatan, gw ga bisa berenang, trus takut ada buaya yang gigit. Gw juga takut kalo gw menyayat tangan gw, pembuluh venna gw kecil dan susah dicarinya. Jangankan buat bunuh diri, buat ngambil darah aja susahnya setengah mati. Yang jelas Lex, gw belom siap buat mati Lex, masih banyak dosa.

Hidup gw jauh dari sempurna Lex. Badan gw gede. Dari kecil sampai sekarang umur gw 33 tahun, gw masih berhadapan dengan ejekan dan cemoohan terkait ukuran. Semakin kesini ejekannya makin beragam dan makin banyak sangkut pautnya. Salah satunya dengan jodoh. Umur 33 masih lajang, salah satu alasannya menurut orang-orang bahkan ibu gue sendiri ya karena badan gw besar,  jadinya ga ada yg mau. 

Tapi mungkin bully terus menerus bahkan dari orang terdekat gue membuat gue pengen mati-matian nunjukin kalo gue patut diperhitungkan. Lucunya, itu juga yg membentuk gw menjadi orang yang selow, karena biasa dianggap ga mungkin mendapatkan sesuatu; jodoh atau kerjaan karena fisik yg ga oke. Mungkin akhirnya gue jadi orang yang kelewat kuat Lex yang boro-boro mikir bunuh diri, yang terjadi malah sibuk mencegah teman-teman dekat gue untuk bunuh diri. 

Gue ga pengen bunuh diri Lex,  masih banyak yang ingin gue alami dan gue raih. Tapi kadang terlintas juga dalam pikiran gue, ada ga ya yang bakal kehilangan gue kalo gw mati?, persis seperti pertanyaan elu. Karena jujur, gw takut kalo ga ada yg mengingat gue. Karena sebenarnya gue takut ga ada teman. Gue takut kesepian Lex. Makanya setiap hari gw daftar telpon hemat supaya gw punya teman ngobrol, supaya gue waras. Meskipun yaaa, lebih banyak telepon gue yang tidak diangkat daripada diangkat. Mungkin teman-teman gue sibuk Lex :(.

Lagipula Lex, di kampus gue ketemu banyak sekali mahasiswa yang butuh ditolong dan didengarkan untuk masalah hidup yang tidak mudah bagi mereka yang baru beranjak dewasa dan belum punya pengalaman. Jika gue bunuh diri Lex, gw akan malu sama mahasiswa gue plus, yang akan mendengarkan cerita mereka akan berkurang satu. 

Maka Lex, gue juga berpikir, kalo masih punya teman bicara ketika pulang dari kampus, meski cuma lewat sms, bbm atau wa, masih ada yg curhat ama gue di kampus, atau masih ada yg mau angkat telp gue,  itu artinya gue ga kesepian. Dan bagi gue, itu artinya gue masih berguna. Bukankah hakikatnya manusia seharusnya berguna bagi orang lain?

Makasih ya Lex sudah berbagi cerita 
semoga semakin banyak yang terbantu setelah baca tulisan lu.


postingan ini terinspirasi dari tulisannya Alexander Thian dihttp://amrazing.com/depression-suicidal-thoughts/

1 komentar:

Desi mengatakan...

tau ga ty, waktu aku mengalami masa depresi dulu, sekitar 8 th lalu, aku pernah membayangkan u bunuh diri ketika aku melihat pisau. tapi aku ngeri sendiri. mungkin itu tandanya Allah masih sayang sama aku dan mengarahkan aku, akhirnya ga jadi bunuh diri.

dan beberapa waktu lalu aku dengar ustad ceramah, orang yg ga akan pernah punya kesempatan untuk minta ampun yaa itu..orang yg bunuh diri, karena ketika bunuh dirinya berhasil, berarti ga akan balik k dunia lagi kan, dan hilanglah kesempatan minta ampun, makanya org yg bunuh diri itu orang yg dilaknat Allah.

btw, aku buka blog mu dari pc lewat link di blogku, ternyata terakhir aku posting itu th 2013, sdh 3 th blog ku nganggur, jadi pengen ngblog lagi :)