Minggu, 15 Mei 2016

Undangan Pernikahan

Tidak banyak yang tahu bahwa setiap kali undangan pernikahan saya terima, setiap kali itu pula hati saya berdesir pedih.

Dulu, ketika undangan itu datangnya dari geng teman-teman dekat semasa SMA dan kuliah, saya heboh dan bersemangat untuk menghadirinya.

Pernah, seorang teman menikah, saya bela-belain nyari kado yang lucu dan cukup di kantong saya, membungkusnya lalu mengetikkan quote-quote pernikahan di kertas wangi sebagai penyerta. Saya siy berharap hadiah itu cukup berguna bagi mereka meskipun ala kadarnya

Melewati masa umur 25, undangan pernikahan memberikan efek ganda pada saya; semangat tapi juga mulai khawatir. Akankah saya segera mengundang orang lain juga di pesta saya? Atau akankah saya akan menjadi objek pertanyaan kapan menikah semata?

Di umur 27, saya membuat undangan pernikahan dan juga memesan kebaya pernikahan di Jogja. Undangan dan kebaya itu dipesan untuk adik saya. Dan kemudian lebih banyak pertanyaan dan pernyataan yang terdengar. Semakin lama semakin menakutkan.

Umur 30an, undangan semakin sering diterima. Kali ini bukan lagi dari kolega semata, tapi juga dari mahasiswa-mahasiswa saya. Ternyata saya semakin tua dan mereka rasanya terlalu cepat menikah. Pada saat itu, undangan sudah harus diterima dengan besar hati.

Begitupun dengan dilangkahi oleh saudara kandung, dilangkahi menikah oleh adik kelas (dan bahkan) oleh murid yang dulu saya ajar, ditinggal menikah oleh mantan atau ditinggal menikah oleh teman, semua sudah harus mulai diterima dengan besar hati

Siapa tahu setelahnya Gusti Allah menyiapkan lelaki yang besar pula hatinya untuk semua kesabaran itu

Semoga begitu...

Minggu, 24 April 2016

Long Road To be a Student; Menghadapi Komentar yang Menyebalkan ..

gambar dari ignya Agoez Rahman, suaminya Dewi Sandra
.

Berhadapan dengan urusan sekolah dan masa depan memang membutuhkan ketahanan diri yang tinggi baik secara fisik ataupun mental. Selain karena prosesnya yang panjang, potensi kegagalan yang tinggi serta proses recovery yang kadangkala cukup lama, urusan masa depan ini juga seringkali dihubungkan oleh banyak orang dengan hal-hal yang kadang kala tidak perlu dihubungkan sama sekali.

Salah satu hal yang berat dari proses ini adalah bagaimana menyikapi berbagai pendapat dan komentar yang seringkali muncul tanpa diminta. Dan sayangnya, pendapat dan komentar tersebut lebih sering melemahkan daripada menguatkan. Apalagi jika yang ingin sekolah (lagi) itu adalah seorang dosen perempuan yang masih lajang seperti saya. Pendapat yang paling sering saya dengar adalah tentang semakin sulitnya perempuan yg bersekolah tinggi untuk mendapatkan jodoh. Banyak yang menyampaikannya dengan hati-hati namun lebih banyak lagi yang menyampaikannya dengan pilihan kata yg amat menyakitkan.

Seperti pengalaman saya beberapa hari yang lalu disebuah kantor. Saat itu saya sedang mengurusi sesuatu yg membutuhkan informasi pribadi. Kemudian, kepada petugasnya saya memberitahukan bahwa saya berumur 34, masih lajang dan berpenghasilan sekian. Setelah saya menyampaikan informasi tersebut, petugasnya berkomentar :

"Para dosen ini biasanya suka sekolah tinggi-tinggi ya sampe lupa menikah, seperti mbak kan?"

Lalu saya menjawab:

"Mbak, saya ga lupa untuk menikah. Saya malah ingin sekali menikah tapi jodoh saya belum datang".

Meskipun saya berusaha menjawabnya sehalus mungkin, tetap tidak mengurangi usaha mbak petugas itu untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yg lebih terkesan seperti tuduhan yang menyudutkan saya seperti saya terlalu pemilih, terlalu sibuk berkarir dan seterusnya.Saya sebenarnya tidak kaget lagi dengan pertanyaan dan tuduhan seperti ini, sudah terlalu sering saya menghadapinya. Yang saya sering membuat saya kaget adalah pertanyaan dan tuduhan itu keluar dari mulut orang yg bahkan tidak mengenal saya sama sekali.

Bahkan kadang yang harus diyakinkan tentang perempuan lajang umur 30an dan ingin sekolah ke Luar Negri dan dia akan baik-baik saja itu adalah orang-orang terdekat. Syukurnya, saya mempunyai support system yang cukup baik. Kakak saya menjadi bamper saya jika saya mulai diusik oleh keluarga besar tentang rencana ini. Yang paling sulit itu adalah menyakinkan ibu saya bahwa rancana sekolah saya juga adalah bentuk rencana masa depan lainnya yang ingin saya wujudkan.

Saya memahami bahwa hampir semua orang tua akan mengkhawatirkan anaknya berencana pergi dan menetap di daerah baru dan sendirian. Lebih jauh lagi, saya memahami kesedihan hatinya karena melihat saudara-saudara saya yang lainnya yang lebih muda sudah mendapatkan pasangan, sementara saya belum dan beliau harus terus menerus menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya. Belum lagi pikiran banyak orang termasuk dalam hal ini orang tua saya, bahwa para lajang dengan umur 30 an seperti saya terlalu santai dan cenderung tidak memikirkan tentang pernikahan.

Sayangnya, semakin tua seseorang, semakin banyak masalah yang ia pilih untuk disimpan sendiri saja karena membaginya pada orang lain mungkin akan menambah beban pikiran mereka saja. Seperti yang saya lakukan. Saya memilih tidak menceritakan perjuangan saya berkenalan dengan banyak pria, yang kemudian tapi berujung patah hati. Yang orang-orang tahu bahwa saya dan para lajang lainnya terlalu pemilih. Saya juga tidak perlu menceritakan pada banyak orang sedihnya tidak punya teman ketika pulang ke rumah, sehingga sebagian memilih untuk berlangganan tv kabel atau membeli banyak pulsa yg bisa dihabiskan tiap malam untuk berbicara dengan banyak orang yang seringkali terlalu sibuk untuk diajak bicara, hanya agar sepinya tidak terasa. Yang mereka tahu hanyalah saya dan lajang lainnya terlalu sibuk mengejar karir atau tidak bergaul.

Sebagian orang akan bilang kalo saya harusnya bersyukur masih lajang..Ya, saya bersyukur dengan status saya sekarang. Mungkin itulah yg akan memudahkan saya untuk meraih impian yg ada di depan mata saat ini. Jika saya sudah menikah dan punya anak, mungkin saya harus melupakan sebagian impian-impian saya, Hal yang bolak balik saya ingatkan kepada diri saya sendiri. Untuk bersyukur dan menerima kondisi yang saya miliki sekarang.

Sayangnya memang ada orang-orang yang diciptakan Allah untuk menguji hati orang lain. Orang-orang yang somehow suka lupa bahwa banyak orang yang juga ingin hidupnya senormal hidup mereka; Lulus kuliah, bekerja kemudian dilamar, menikah dan kemudian punya anak lalu hidup bahagia selamanya tanpa cela tapi bukankah ada bagian-bagian yang dirahasiakanNya kepada kita agar kita mengusahakan dulu sebaik-baiknya?

Hanya karena kita sudah melewati fase itu, lalu kita jadi punya lisensi untuk menteror orang lain dengan pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab?

Mungkin kita juga seringkali lupa bahwa orang yg hari ini menikah dan punya anak juga dulu suka sebel dengan pertanyaan serupa. Jika demikian, berhentilah menjadi penanya yg menyebalkan. Kalau tidak mampu, mungkin dikurangi sedikit demi sedikit. Itu sudah akan banyak membantu..

Minggu, 17 April 2016

Long Road To be a Student; About Support System

Having up and down along these three years because of something called scholarship application makes me understand that what i need for a big plan is a great support system.

Among my collagues in office, I'm the only one now who plan to continue my study abroad rather than thinking about reaching the next step of my personal life through marriage. Due to this case, I received many question about why I choose study than having husband or many simple statements (which is not simple at all) such as :
"having a phd will create difficulties for me to get a husband"
Or
"You supposed to think about having a baby than having a phd"

Those statements and questions are one of the hardest part of this plan. More people are taking on disagree side than agree to your plan while you actually not asking for their agreement.

Not only your colleagues will against you, sometimes, you need to against your close circle such as your parents, siblings or even your bestiest. It is much more difficult to consider what your close persons think than any other opinion.

Sometimes when i take a deep breath, I also wondering, is it too hard to people to be somebody's dream supporter? Is it difficult for them to understand that each person has different vision?

That is the reason why I choose to share my dream just to several people who will listen and support me through their wishes and pray instead of ask those annoying question. Because this scholarship journey is a very long and winding road, full of emotional things and demands a lot of energy. Having good and supported people around you when you have a tiring journey will mean a lot.

And if you cant have one, then be one..


Sabtu, 16 April 2016

Patiently Hoping for a Degree..Long road to be a student

Even before it is started, continuing my degree requires a very long and demanding road. That's why some people say that accronym of PhD stands for Patiently Hoping (for a) Degree than Philosophy Doctor.

Since three years ago, I decided to allocate time for gaining informations and preparing myself for making many abroad scholarship applications. Just like job application, scholarship applications will also give you some emotional pressures because some of them will be rejcted while some others will be gone with the wind.

My first application was sent to Australian Government Scholarship; AAS. It was succesfully rejected. I felt a little bit dissapointed but after re read it today, I know that my application was so far for excellent while there were thousand applications for only about hundred nominees.

On the next year, I tried to prepared the better ones. Unfortunately, my Toefl score below the line. I can only sent 2 applications; first to NZ aid scholarship and the second to ministry of religion. These scholarships much more affordable for my toefl score but still, mine were failed too.

I kept asking what was wrong about my application since both of them already fulfilled the requirements. Before sending my NZ application, i send my personal statements, my research proposal to some expert colleagues who already been experienced with study abroad and got some feedback. Then i was quite confidence and raised up my hope about that. Maybe they seeked for the excellent one rather than just a good one or maybe my time is not yet coming.

Failed will always be hurt no matter how hard you try to cheer up yourself. After two years and three application failing, I was thinking to give up. I'm thinking of continuing my study in some national leading universities. But one day, a forty something friend told me that I'm just too early too give up. Because even a forty something years old lecturer like her is fighting for a scholarship which most of them requires maximum age about 40years old.

Then, here I am now, preparing another applications after another rejections on the last two months..

I'm sure after doing more hardwork and pray, nothing is in vain






Jumat, 29 Januari 2016

Tentang Bunuh Diri (Dear Alex)

Dear Alex, 

Gue habis baca postingan blog lu tentang depresi dan bunuh diri. Well, sedih dan senang memang seringkali tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam episode 26 hari di Eropa yang seharusnya menyenangkanpun, ada terselip bahasan yang menyedihkan. Tapi gw seneng Lex dengan tulisan lu dan gw yakin ada banyak sekali yg membacanya sambil menahan tangis atau mungkin menangis sesegukan.

Gue sendiri alhamdulillah belum pernah punya keinginan buat bunuh diri Lex, bukan karena hidup gue sempurna Lex, tapi karena gw banyak takutnya:). Mo loncat dari jembatan, gw ga bisa berenang, trus takut ada buaya yang gigit. Gw juga takut kalo gw menyayat tangan gw, pembuluh venna gw kecil dan susah dicarinya. Jangankan buat bunuh diri, buat ngambil darah aja susahnya setengah mati. Yang jelas Lex, gw belom siap buat mati Lex, masih banyak dosa.

Hidup gw jauh dari sempurna Lex. Badan gw gede. Dari kecil sampai sekarang umur gw 33 tahun, gw masih berhadapan dengan ejekan dan cemoohan terkait ukuran. Semakin kesini ejekannya makin beragam dan makin banyak sangkut pautnya. Salah satunya dengan jodoh. Umur 33 masih lajang, salah satu alasannya menurut orang-orang bahkan ibu gue sendiri ya karena badan gw besar,  jadinya ga ada yg mau. 

Tapi mungkin bully terus menerus bahkan dari orang terdekat gue membuat gue pengen mati-matian nunjukin kalo gue patut diperhitungkan. Lucunya, itu juga yg membentuk gw menjadi orang yang selow, karena biasa dianggap ga mungkin mendapatkan sesuatu; jodoh atau kerjaan karena fisik yg ga oke. Mungkin akhirnya gue jadi orang yang kelewat kuat Lex yang boro-boro mikir bunuh diri, yang terjadi malah sibuk mencegah teman-teman dekat gue untuk bunuh diri. 

Gue ga pengen bunuh diri Lex,  masih banyak yang ingin gue alami dan gue raih. Tapi kadang terlintas juga dalam pikiran gue, ada ga ya yang bakal kehilangan gue kalo gw mati?, persis seperti pertanyaan elu. Karena jujur, gw takut kalo ga ada yg mengingat gue. Karena sebenarnya gue takut ga ada teman. Gue takut kesepian Lex. Makanya setiap hari gw daftar telpon hemat supaya gw punya teman ngobrol, supaya gue waras. Meskipun yaaa, lebih banyak telepon gue yang tidak diangkat daripada diangkat. Mungkin teman-teman gue sibuk Lex :(.

Lagipula Lex, di kampus gue ketemu banyak sekali mahasiswa yang butuh ditolong dan didengarkan untuk masalah hidup yang tidak mudah bagi mereka yang baru beranjak dewasa dan belum punya pengalaman. Jika gue bunuh diri Lex, gw akan malu sama mahasiswa gue plus, yang akan mendengarkan cerita mereka akan berkurang satu. 

Maka Lex, gue juga berpikir, kalo masih punya teman bicara ketika pulang dari kampus, meski cuma lewat sms, bbm atau wa, masih ada yg curhat ama gue di kampus, atau masih ada yg mau angkat telp gue,  itu artinya gue ga kesepian. Dan bagi gue, itu artinya gue masih berguna. Bukankah hakikatnya manusia seharusnya berguna bagi orang lain?

Makasih ya Lex sudah berbagi cerita 
semoga semakin banyak yang terbantu setelah baca tulisan lu.


postingan ini terinspirasi dari tulisannya Alexander Thian dihttp://amrazing.com/depression-suicidal-thoughts/