Senin, 12 Oktober 2015

Just A Sentimental Lecturer

Akhir minggu ini saya merasa seperti dibawa kembali ke masa-masa awal karier saya sebagai dosen. Pertama karena salah satu mahasiswa saya menikah dan saya ikut jadi panitianya. Mahasiswa saya yang ini berada di angkatan pertama mahasiswa yang saya ajar. Jarak umur saya dengan mereka hanya 8 tahun saja, hamoir seumuran dengan Laras, Bembi, Ajeng, Kristin atau Afifah adik kos saya dulu. Di pestanya, saya kembali bertemu dengan teman-teman dekatnya yang juga amat dekat dengan saya. Rasanya seperti ruang kelas dipindahkan ke gedung tempat pesta berlangsung

Lalu keesokan harinya saya bertemu dengan para mantan mahasiswa saya diangkatan ketiga yang saya ajar di kampus yang sekarang di acara ospek jurusan. Mereka datang mewakili alumni untuk berbagi dengan adik-adik kelas tentang kuliah dan prospek kerjanya.

Hampir semua mahasiswa saya tersebut sudah mengalami transformasi kedewasaan. Yang pria terlihat makin mapan dengan jenggot dan kumis tipis. Kesejahteraan juga tak bisa dibohongi dari pipi dan perut mereka:). Sementara yang perempuan makin anggun, matang dan cantik, meski ada yang masih saja tidak bisa menghilangkan sisi-sisi ketomboian mereka. 

Mereka bertemu saya dengan berbagai cerita baru. Ada yang baru masuk kerja, ada yang sudah akan pindah kerja. Ada yang sedang pedekate, ada yang melamar dan ada yang baru saja putus cinta. Ada yang masih bertahan dengan orang lama setelah berkali-kali putus sambung, ada yang move on dari cerita lama dan ada yang masih sibuk mencari kemana harus menambatkan hati

Tapi tetap ada satu hal yang tidak berubah
Bagi mereka, saya masih tetap Ibu dosennya mereka
Yang mereka kenalkan kemana-mana sebagai dosen mereka 
meski ruang kelas sudah lama kami tinggalkan
dan sebagian selalu mengulang kalau mereka rindu berada di kelas saya
Yang tetap saja dipanggilnya Ibu bukan kakak, mba atau uni
Yang tetap saja dicium tangannya meski seragam kami sama
Dan belakangan makin santer godain saya dengan nanyain kapan saya menikah

Rasanya, 
Melihat mereka terbang tinggi dan hidup saat ini dengan cerita yang lebih baik dari sebelumnya 
dan bahkan dengan cerita yang jauh lebih baik dari cerita ibu dosennya 
saya hanya bisa menggumam dalam haru
Saya beruntung bisa jadi bagian dari itu

Dan pekerjaan ini
bernilai lebih banyak daripada gajinya sendiri
karena hal-hal yang tidak bisa diukur dengan uang

Dear Students, 
Its not you who lucky being my students
Its actually me, the luckiest woman whose opportunity being your teacher

*menghapus air mata*
I'm just a sentimental lecturer

Tidak ada komentar: