Jumat, 16 Oktober 2015

Asisten Rumah Tangga

Sudah hampir tiga minggu saya hidup tanpa asisten rumah tangga.  Sudah tiga minggu itu pula saya tidak menerima pesanan cake pisang, brownies dan tidak berminat lagi membuat tuna rica-rica in jar. Selama itu, rumah kontrakan saya yang sepetak tidak selalu mengkilatt. Kadang ia rapi tapi lebih sering berantakan. 

Asisten saya, Sila, mengalami penyumbatan di ginjalnya sehingga harus di operasi. operasi tersebut mengharuskannya untuk istirahat total. Lucunya, dua minggu sebelum ia diketahui harus menjalani operasi, saya baru saja berbicara dengannya tentang rencana saya untuk mengurusi sekolah yang artinya akan mengurangi fokus saya pada bisnis kecil-kecilan saya. Setelah terdiam beberapa saat, sila memberitahu saya bahwa ia juga ingin mengurangi jam bekerja karena ingin menambah anak.

Hari pertama Sila selesai di operasi, saya datang menjenguknya dan berbicara tentang izin istirahat sampai ia sanggup bekerja kembali. Tapi kemudian ia memberitahu saya bahwa ia mungkin tidak akan kembali bekerja dengan saya. Saya hanya mengangguk-angguk saja.

Hari-hari berikutnya saya kemudian menyadari bahwa Sila dan anaknya Icha, yang selalu ikut saat dia bekerja sudah menjadi keluarga baru bagi saya. Rasanya ada sesuatu yang kosong di hati setiap jam 9 pagi menjelang dia motor merahnya tidak kunjung datang. Saya tiba-tiba merasa sendiri (lagi)

 Tiba-tiba saya merasa patah hati. Mungkin lebih tepatnya kehilangan. Bukan hanya kehilangan teman dan saudara tapi juga kehilangan perhatian, ada yang mempedulikan dan ada yang mengurusi. Tiba-tiba semuanya bukan lagi sekedar masalah apakah kamar saya rapi atau tidak, piring saya sudah dicuci atau belum, rumah saya beraroma kue atau tidak sekarang.

Akhirnya saya jadi tahu mengapa teman-teman saya yang ibu-ibu ribut sekali kalau ART mereka berhenti. Selain jadi semakin repot, saya yakin mereka pasti juga merasa kehilangan seperti saya. 

Tapi berhentinya Sila terus terang juga mengubah hari-hari saya

Sekarang saya jarang  tidur lagi setelah sholat subuh dan memilih untuk beres-beres rumah, menyapu atau mencuci piring. Karena terbiasa pulang ke rumah yang sudah rapi dan tertata, maka mau tidak mau sekarang standar kerapian saya ikut meningkat. saya semakin bisa menghargai hal-hal kecil yang biasa dilakukan Silla untuk saya karena sekarang saya harus melakukannya sendirian.

Pengeluaran bulanan saya berkurang tapi pengeluaran untuk laundry bertambah :)

Dan harusnya, 
Saya sudah bisa mulai untuk menata urusan dan prioritas pribadi saya 
 

Tidak ada komentar: