Selasa, 23 Juni 2015

Teknologi dan Hal-hal Yang Berubah Disekitar Kita

Suatu kali di kelas presentasi, saya melihat foto saya ada di slide terakhir dari peresentasi grup yang maju hari ini. Foto tersebut yang pernah saya unggah di akun social media khusus foto yang saya punya . Rasanya aneh. Mungkin lebih tepatnya tidak nyaman .Hampir sepanjang 8,5 tahun masa studi saya, saya dan teman-teman nyaris tidak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan mahasiswa generasi sekarang didepan kelas. Dosen-dosen kami dulu kebanyakan generasi lama yang memiliki banyak sekali batas dengan mahasiswanya. Beliau-beliau juga memiliki kharisma yang luar biasa, yang bahkan untuk menatap matanya saja saya dan teman-teman berani. Jadi, jangankan menampilkan foto beliau di tayangan presentasi, untuk berkonsultasi tentang bahan presentasinya saja kami tidak berani.

Lain waktu didalam rapat kantor,  saya melihat hampir tidak ada yang fokus membahas topik yang dibicarakan. Masing-masing peserta rapat lebih fokus pada layar sentuh gadget masing-masing, entah mengecek pesan atau hanya sekedar mengecek notifikasi komen-komen pada sebuah postingan. Belum lagi  bunyi dering telpon genggam yang tidak berhenti bersahutan. 

Sementara itu di media sosial pertemanan, satu postingan lucu-lucuan bisa berakhir dengan amat sangat serius. Sebuah pemikiran orang lain yang disadur bisa menjadi awal suatu debat kusir. Rasanya, selain menjadi areal untuk menjalin pertemanan, media sosial sudah berubah fungsi menjadi ruang debat terbuka dan bahkan etalase yang memungkinkan kita untuk bisa memamerkan apa saja yang kita mau; mulai dari  materi, pencapaian hingga status.

Banyak yang berubah disekitar saya setelah teknologi komunikasi dan informasi semakin berkembang. Selain hal-hal yang saya bilang diatas, hal lain yang juga sangat terasa adalah semakin menurunnya frekuensi untuk bisa bertemu dan ngobrol dengan banyak orang tanpa diganggu oleh gadget masing-masing. Rasanya banyak hal tidak penting menjadi sangat penting dan sebaliknya. Hal lain yang saya rasa berubah cukup drastis adalah hilangnya nilai-nilai yang harusnya tidak ikut hilang terbawa perkembangan teknologi.
Sedangkan di ranah teknologi lain, seperti media sosial misalnya, saya kadang masih suka merasa bingung tentang bagaimana penempatan yang sebenarnya. Bagi saya, akun -akun tersebut adalah milik pribadi meskipun sebenarnya banyak orang yang berpendapat bahwa akun media sosial merupakan wilayah publik. Masalahnya, jika dibahas tentang wilayah publik dan pribadi, maka bahasannya akan sangat panjang. Oleh karena itu, menurut saya, item-item yang berada di ranah pribadi harusnya tetap menjadi milik pribadi dan konsekuensinya, jika ingin digunakan ada etikanya Sama saja tata caranya dengan menggunakan atau meminjam barang pribadi milik orang lain. Ya minimal minta izin dulu lah. Jika tidak bisa dimintai izin, cantumkan nama pemiliknya. sederhana saja sebenarnya

Sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pintar saja, maka seharusnya kita, para penggunanya juga harus lebih pintar terutama dalam memilih mana yang seharusnya ikut berkembang seiring berkembangnya teknologi dan mana yang harus tetap dipertahankan.

Tapi lagi-lagi, mungkin ini hanya perasaan saya saja. Bagaimana menurut kalian temans?