Jumat, 20 Maret 2015

They Say What??

Baru dua hari yang lalu saya pulang dari Tembilahan. Tembilahan adalah kota kecil di pinggir sungai Indragiri bagian hilir. Untuk mencapai Tembilahan, saya harus terguncang- guncang disepanjang jalan bergelombang dan seringkali jelek nan panjang. Bukan cerita tentang Tembilahannya yang akan saya posting kali ini, tapi tentang perbincangan saya dengan supir travel yang mengantar saya pulang. Lagi-lagi postingan ini ditulis karena abis baca postingannya mb ira tentang apa yang suka dibilang (dikomentari) orang ketika bertemu orang lain. 

Supir travelnya masih muda, umurnya sekitar. Sudah menikah dengan anak 4. Biasa saja siy dibagian yang itu. Yang luar biasa itu, masing-masing anak berasal dari ibu yang berbeda. Berarti kalau begitu si supir sudah menikah 4 kali dengan wanita yang berbeda. Tapi ternyata, dugaan saya salah. Si abang supir itu sudah menikah 6 kali:) Di jalan menuju rumah, dia bertanya kepada saya soal umur dan status. Saya sampaikan dengan jujur saja. Tapi kemudian saya menyesal juga. Karena pertanyaan dan jawaban yang ia lontarkan berikutnya benar-benar bikin saya ingin menabok mukanya. 

 
" Kok belum menikah juga kak? terlalu banyak memilih ya? awas lo nanti jadi perawan lapuk"

atau 
" Serius kakak belum menikah? kok badannya kaya wanita beranak empat?

atau 
"jangan terlalu sibuk kerja kak, pergilah jalan-jalan agar mata dan pikirannya terbuka"

dan yang paling parah 

" Pakai pemanis (susuk) dong kak biar laku..biar ga tua dan melapuk sendiri"

Ternyata selain menunggu, berada satu lokasi dengan orang yang tidak kita inginkan akan mebuat waktu terasa berjalan begitu lambat. hanya 20 menit jarak waktunya dari rumah penumpang terakhir sebelum saya menuju ke rumah terasa seperti seharian. Akhirnya saya memilih banyak diam atau mengalihkan pembicaraan saja, namun dalam hati tak berhenti gedumel, kok bisa ya orang-orang dengan gampangnya mengomentari hidup orang lain hanya karena merasa hidupnya sudah sesuai track; sekolah-lulus-kerja-nikah-punya anak-dst. 

Dalam kasus si abang ini, saya jadi merasa bahwa dia mungkin merasa diatas rata-rata soal pengalaman menikah, bahkan mungkin sudah teramat sangat khatam sehingga berhak memberikan pandangan (tanpa diminta) soal masalah orang lain dan sesuka hatinya pula. Tapi setelah banyak diam, saya jadi berpikir, ya wajarlah jika ia suka mengomentari hidup orang lain, karena ia punya banyak waktu sepanjang jalan untuk melihat, bertanya dan mengamati kehidupan orang lain. Sementara sebagian besar penumpangnya sibuk menghabiskan waktu mereka untuk beristirahat.


Ketika akhirnya mobil berhenti didepan rumah, saat itu juga saya merasa sangat bahagia dan lega. Benar kata quote diatas, sebagian orang perlu berlalu dari depan muka kita agar hari menjadi lebh cerah:)> 

Jadi, pelajaran hari itu adalah, jangan banyak ngobrol dengan supir travel..terutama jika ia memiliki aura menyebalkan. Dan jangan lupa berdoa sebelum berangkat, agar yang mengemudi mobil orangnya menyenangkan dan ga suka mengomentari orang lain:)

4 komentar:

iad mengatakan...

suka banget sama "quote" nya xixixixi....
semoga aja kita bukan awan ya....
tapi mentari setelah hujan, saat kita datang, hujan pergi dan muncullah pelangi. aamiin....

Anonim mengatakan...

Bolehkah aku mengenalmu?

Hesty Wulandari mengatakan...

iad, the quote happened to us so often. so no wonder that we like it :)

anonim, makasiy sudah mampir. tentu saja boleh. dengan senang hati

irrasistible mengatakan...

Yaampuun Mbak Hesty, pengalamanku gak ada apa2nya deh dibanding pengalamanmu ini. Aseli ngeselin bangeeett.. Pengen dijotos ih tuh orang!