Selasa, 24 November 2015

Sesudah Kesulitan

Sore ini hujan. Ketika ibu kos saya wafat beberapa tahun yang lalu, teman-teman kos yg nasrani menyanyikan lagu seperti pelangi sehabis hujan. Kurang lebih maknanya setelah dukacita, Tuhan akan hadirkan sukacita. Meski bukan nasrani, saya juga percaya itu. Dalam Quran surat Al Insyirah, Allah mengatakan : "..sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.."

Dua bulan yg lalu, saya nyaris jadi korban penipuan di sebuah situs online dating. Saya memutuskan untuk mendaftar di situs itu setelah mulai merasa tidak aman dengan kelajangan saya.

Sebelumnya, saya baik-baik saja dengan status lajang, hingga saya mendapat gangguan dari orang-orang yang tidak saya harapkan.

Saya berkenalan dengan seorang pria di situs itu dan segalanya berjalan sangat normal. terlalu normal untuk dicurigai.

Ketika tau saya menjadi target penipuan, saya patah hati juga, cukup dalam ternyata meski kemudian ia juga sembuh dengan cepat. Pria itu menyenangkan dan terlalu menyenangkan meski untuk berbicara dan berkirim pesan padanya saya merasa seperti sedang tes bahasa inggris:)

Itu patah hati kelima saya di tahun ini. Sebelumnya saya putus dengan pasangan saya di awal tahun, gagal berangkat kursus ke eropa, dua kali aplikasi beasiswa saya gagal dan kemudian patah hati dengan pria yg bahkan belum pernah saya temui

minggu lalu saya kemudian mendapat kabar kalo skor test bahasa inggris saya akhirnya mencukupi utk bs melamar untuk beberapa beasiswa

Dan teman tempat menangis saya bilang, 
"aku pikir, pasti ada kontribusi pria itu pada kemampuan bahasa inggrismu"

dan saya kemudian juga berpikir begitu..

Ah, janjiNya memang tak pernah salah

Senin, 09 November 2015

Tentang Rejeki..

Kalau dipikir-pikir, rejeki Allah itu memang ga bertepi

barusan dapat telpon dari adik sepupu yg mengabarkan kalo dia diterima di PLN setelah dua tahun menganggur. 

Kakaknya dosen honorer di STAIN di kota mereka dan sedang menempuh S2 agar bs diangkat jd dosen tetap. Adiknya yg no 4 lulus tahun ini di brawijaya dan adiknya no 3 baru lulus kuliah. dan adiknya yg bungsu baru sma 

Bapaknya mereka bekerja sebagai penyuluh pertanian yang akan segera pensiun dengan pangkat tertinggi 3a

dan tepat di masa-masa kebutuhan keuangan keluarga mereka sedang memuncak dan pada saat itulah rejeki sepupu saya datang. Bukan pada saat yg diinginkan mereka tapi pada saat yang dibutuhkan. 

Diujung telpon sepupu saya itu bilang : 

"Kalau temannya bapak bertanya anaknya sudah kerja atau belum, beliau sekarang sudah bisa menjawabnya dengan bahagia."

Alhamdulillah
Tidak ada yg sia-sia dari usaha dan doa
Allah tidak pernah tidur

Jumat, 30 Oktober 2015

Doa Ibu

Habis telponan sejam lebih ke kampung dan berbicara panjang dengan ibu saya. Baru kali ini saya bisa bicara sambil ngakak-ngakak segitu lama dengan beliau.

Ibu saya biasanya menghabiskan waktu ditelpon dengan ceramah, nasehat dan lebih seringnya komplain ini itu kepada anaknya. 

Malam ini sebelum telepon ditutup, saya meminta beliau untuk mendoakan agar rencana sekolah saya secepatnya terealisasi dan urusan terkait itu dilancarkan. 

Setelah telepon ditutup, saya tak berhenti tersenyum. Lama kemudian saya teringat bahwa sebandel-bandelnya saya dan segitu seringnya saya dan ibu saya berantem karena berbeda pendapat, ekspektasi dan keinginan, jika ada hal-hal besar yg akan saya lalui, beliau tetap jadi orang no satu yg saya mintain doanya

karena saya tahu, 
Siapa saya hari ini, karena doa beliau agar saya kuliah di jurusan akuntansi di kota saya

Dan saya juga tahu bahwa kesempatan, pertolongan dan kemudahan yg sering saya terima kebanyakan asalnya dari doa beliau

Sudah berbicara dengan ibumu hari ini?


Senin, 26 Oktober 2015

Or maybe its just my own expectation...


Setelah tamat kuliah, bekerja dan kemudian menikah, how do we expect our relationship with some old friends? How do we want them to be? Do we want them to stay same as we know them on high school or college? 

Seorang teman kuliah yang minggu ini berada di Jakarta bercerita bahwa dia baru saja bertemu teman-teman kuliah kami dulu disana. Teman saya itu pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan dan beberapa teman di Jakarta sibuk mengajak berjumpa. Sayapun ditelepon oleh mereka ditengah kemacetan.  

I wish I were there at that time since I miss being around them

Sampai kemudian sorenya saya mendapatkan pesan di bbm bertubi-tubi dari si teman itu, bercerita tentang pertemuan mereka hari itu. Tentang teman kami yang sekarang jadi orang yang berbeda sejak tinggal di Jakarta, terutama gaya hidupnya. Tiba-tiba kehidupan kami-kami di daerah terasa sangat kuno dan biasa sehingga ia merasa out of our old friend’s league. Hmm.. saya sendiri jadi berpikir ulang untuk bertemu mereka saat ke Jakarta bulan depan. 

lalu saya jadi teringat postingannya kang adhitya mulya yang syarat hidup dan yang hedonic treadmill dan kemudian membuat saya berpikir, apa memang perubahan kemampuan finansial serta pencapaian hidup akan otomatis merubah hidup, atau  kita merubah diri kita karena kemampuan finansial  kita meningkat dan pencapaian hidup kita banyak?

Dan kemudian pertanyaan ini berujung pada pertanyaan pada diri sendiri: 

"Apakah teman saya ini masih orang yang sama dengan yang dulu biasa saya ajak naik bis untuk makan bakso di warung pinggir jalan di kota kami?"
“Ataukah ia mungkin orang yang sama dengan kelas yang berbeda?”

Saya sungguh tidak masalah dengan teman-teman saya yang suka membeli barang mahal. Saya tahu bahwa mereka mampu untuk itu dan lagipula itu uang mereka sendiri. Tapi,  saya juga paham dengan apa yang dirasakan teman saya tadi, bahwa pembicaraan reuni yang isinya tentang kemampuan; baik itu membeli barang, mencapai yang terbaik dalam pekerjaan, fasilitas terbaik yang sudah pernah kita coba are no longer fun anymore, terutama jika orang yang kita temui adalah teman lama yang kita kenal dulunya biasa saja dan karena itulah kita berteman dengannya, karena ia biasa saja. 

Or maybe its just my own expectation having the same old friends...
Karena sebenarnya yang kita rindukan dari teman-teman lama itu adalah obrolan yang membebaskan kita dari tuntutan yang kita terima di masa sekarang dan bisa dengan senang hati menertawakan keluguan, kebodohan kita di masa silam. 

Mungkin sebagian orang perlu membuktikan kepada banyak orang siapa dirinya sekarang, but to your old best friends, you don't need to do that.You can feel insecure to other people's achievement but trust me, when you around your best old friends, you will not need to feel that. Your old friends weren’t deal with who you are today, they already engaged with you long time ago, before you became very important person in your office, before your wore your expensive clothes. So, it supposed to be okay for them if your life not run well, also its not that important to them how much money you earned from your successful business. To them, as long as you are happy, they will be happy too. 

Because for these people, all you need to be is just be the old same you because some people just love their friends as they ever known them..








Minggu, 25 Oktober 2015

Cengeng

Tadi siang, saya berbalas-balasan pesan melalui aplikasi whatsap dengan seseorang yg sudah saya anggap seperti abang saya sendiri. Disitu saya menulis tentang keinginan saya untuk menikah dan meminta dia untuk mencarikan, jika ada pria dari kalangan pergaulannya yang ia kira mungkin akan cocok dengan saya. Saya kemudian bercerita tentang hal-hal yang membuat saya belakangan ini merasa tidak nyaman dengan status lajang saya. Salah satunya adalah gangguan dari pria-pria yang tidak lajang disekitar saya.

Kemudian ia menulis :

"Semoga niat baikmu berkeluarga segera diijabah ya. Aku doakan"

Dan saya membalasnya dengan ucapan terima kasih dengan airmata bercucuran. Untung saja ia tidak tahu. Isi pesan yang tidak seberapa panjang itu menguatkan saya dan memberikan dukungan yang saya perlukan meskipun mungkin abang itu belum tentu bisa mencarikan yang tepat untuk saya.

Dua minggu yang lalu, dengan hanya satu kalimat ditelepon yang saya sampaikan ke Ibu saya bahwa seseorang tidak jadi datang, pembicaraan berikutnya beralih menjadi tangis sesegukan, baik itu saya ataupun ibu saya dan semakin deras airmata saya mengalir ketika telpon berpindah dan ada suara bapak saya berbicara diujung sana 

"Bapak percaya kalau kamu bisa mengandalkan dirimu sendiri dan ini tidak seberapa untuk kamu lewati"


Ternyata belakangan ini saya memang lebih cengeng dari biasanya 
Mungkin karena faktor usia:)

Jumat, 16 Oktober 2015

Asisten Rumah Tangga

Sudah hampir tiga minggu saya hidup tanpa asisten rumah tangga.  Sudah tiga minggu itu pula saya tidak menerima pesanan cake pisang, brownies dan tidak berminat lagi membuat tuna rica-rica in jar. Selama itu, rumah kontrakan saya yang sepetak tidak selalu mengkilatt. Kadang ia rapi tapi lebih sering berantakan. 

Asisten saya, Sila, mengalami penyumbatan di ginjalnya sehingga harus di operasi. operasi tersebut mengharuskannya untuk istirahat total. Lucunya, dua minggu sebelum ia diketahui harus menjalani operasi, saya baru saja berbicara dengannya tentang rencana saya untuk mengurusi sekolah yang artinya akan mengurangi fokus saya pada bisnis kecil-kecilan saya. Setelah terdiam beberapa saat, sila memberitahu saya bahwa ia juga ingin mengurangi jam bekerja karena ingin menambah anak.

Hari pertama Sila selesai di operasi, saya datang menjenguknya dan berbicara tentang izin istirahat sampai ia sanggup bekerja kembali. Tapi kemudian ia memberitahu saya bahwa ia mungkin tidak akan kembali bekerja dengan saya. Saya hanya mengangguk-angguk saja.

Hari-hari berikutnya saya kemudian menyadari bahwa Sila dan anaknya Icha, yang selalu ikut saat dia bekerja sudah menjadi keluarga baru bagi saya. Rasanya ada sesuatu yang kosong di hati setiap jam 9 pagi menjelang dia motor merahnya tidak kunjung datang. Saya tiba-tiba merasa sendiri (lagi)

 Tiba-tiba saya merasa patah hati. Mungkin lebih tepatnya kehilangan. Bukan hanya kehilangan teman dan saudara tapi juga kehilangan perhatian, ada yang mempedulikan dan ada yang mengurusi. Tiba-tiba semuanya bukan lagi sekedar masalah apakah kamar saya rapi atau tidak, piring saya sudah dicuci atau belum, rumah saya beraroma kue atau tidak sekarang.

Akhirnya saya jadi tahu mengapa teman-teman saya yang ibu-ibu ribut sekali kalau ART mereka berhenti. Selain jadi semakin repot, saya yakin mereka pasti juga merasa kehilangan seperti saya. 

Tapi berhentinya Sila terus terang juga mengubah hari-hari saya

Sekarang saya jarang  tidur lagi setelah sholat subuh dan memilih untuk beres-beres rumah, menyapu atau mencuci piring. Karena terbiasa pulang ke rumah yang sudah rapi dan tertata, maka mau tidak mau sekarang standar kerapian saya ikut meningkat. saya semakin bisa menghargai hal-hal kecil yang biasa dilakukan Silla untuk saya karena sekarang saya harus melakukannya sendirian.

Pengeluaran bulanan saya berkurang tapi pengeluaran untuk laundry bertambah :)

Dan harusnya, 
Saya sudah bisa mulai untuk menata urusan dan prioritas pribadi saya 
 

Senin, 12 Oktober 2015

Just A Sentimental Lecturer

Akhir minggu ini saya merasa seperti dibawa kembali ke masa-masa awal karier saya sebagai dosen. Pertama karena salah satu mahasiswa saya menikah dan saya ikut jadi panitianya. Mahasiswa saya yang ini berada di angkatan pertama mahasiswa yang saya ajar. Jarak umur saya dengan mereka hanya 8 tahun saja, hamoir seumuran dengan Laras, Bembi, Ajeng, Kristin atau Afifah adik kos saya dulu. Di pestanya, saya kembali bertemu dengan teman-teman dekatnya yang juga amat dekat dengan saya. Rasanya seperti ruang kelas dipindahkan ke gedung tempat pesta berlangsung

Lalu keesokan harinya saya bertemu dengan para mantan mahasiswa saya diangkatan ketiga yang saya ajar di kampus yang sekarang di acara ospek jurusan. Mereka datang mewakili alumni untuk berbagi dengan adik-adik kelas tentang kuliah dan prospek kerjanya.

Hampir semua mahasiswa saya tersebut sudah mengalami transformasi kedewasaan. Yang pria terlihat makin mapan dengan jenggot dan kumis tipis. Kesejahteraan juga tak bisa dibohongi dari pipi dan perut mereka:). Sementara yang perempuan makin anggun, matang dan cantik, meski ada yang masih saja tidak bisa menghilangkan sisi-sisi ketomboian mereka. 

Mereka bertemu saya dengan berbagai cerita baru. Ada yang baru masuk kerja, ada yang sudah akan pindah kerja. Ada yang sedang pedekate, ada yang melamar dan ada yang baru saja putus cinta. Ada yang masih bertahan dengan orang lama setelah berkali-kali putus sambung, ada yang move on dari cerita lama dan ada yang masih sibuk mencari kemana harus menambatkan hati

Tapi tetap ada satu hal yang tidak berubah
Bagi mereka, saya masih tetap Ibu dosennya mereka
Yang mereka kenalkan kemana-mana sebagai dosen mereka 
meski ruang kelas sudah lama kami tinggalkan
dan sebagian selalu mengulang kalau mereka rindu berada di kelas saya
Yang tetap saja dipanggilnya Ibu bukan kakak, mba atau uni
Yang tetap saja dicium tangannya meski seragam kami sama
Dan belakangan makin santer godain saya dengan nanyain kapan saya menikah

Rasanya, 
Melihat mereka terbang tinggi dan hidup saat ini dengan cerita yang lebih baik dari sebelumnya 
dan bahkan dengan cerita yang jauh lebih baik dari cerita ibu dosennya 
saya hanya bisa menggumam dalam haru
Saya beruntung bisa jadi bagian dari itu

Dan pekerjaan ini
bernilai lebih banyak daripada gajinya sendiri
karena hal-hal yang tidak bisa diukur dengan uang

Dear Students, 
Its not you who lucky being my students
Its actually me, the luckiest woman whose opportunity being your teacher

*menghapus air mata*
I'm just a sentimental lecturer

Jumat, 09 Oktober 2015

Wedding Invitation and The Single Lady

This week, I got two wedding invitation and both of them came from my closest circle. One is my friend's sister and the other one came from my late student. This weekend became a very full wedding event every where, maybe because of the special dates 10-10-15 or because Iedul Adha has just passed already and months after that became good time for wedding celebration.

Having my organizing my two sister's wedding several years ago, I know that Its always nice to wonder how busy and stressful the preparation is. You have to organize family meeting, choose the catering, find the wedding tenant, create the invitation, and many big and small stuffs. And I really enjoyed it

but It was several years ago
 
Lately, I can't easily enjoy the before, on going and after wedding event held around me. 
Thus, I also can't enjoy being in wedding party for couple hours except on my very close person wedding.

Having someone invites me to his/her special occasion its actually makes me feel happy. Because I do happy when someone finally found his or her destiny and I wish i will have that privilege soon, especially when it is happened to people that I know well. I do sometimes envy, but still, my happines is much bigger than my envy. I almost have no reason not to happy when everyone's happy

If it is so, then why the wedding party became not necessarily my happy thing ?

Its because I just can't answer any question related to when will i get married nicely anymore. And its simply because I really don't know when the time for me happened exactly. I really don't and I cant stop people to ask me.

I already try to answer with :

" smiley face"
"I dont know, do you have any candidates for me?"
"My future husband is just lost in somewhere else, maybe he need time to find a way home"

and it comes with another non-stop statements and questions like :

"I'm not capable to find you a candidate, your education is just too high for a man"
"I'm not capable, why don't you ask your parents?"
 "Its hard to find someone fix to you, your appearance is not good looking"

*sigh*

then lately, I answered with :

"I don't know, may you just ask Allah?"
or asked them to send me a pray so that I can see my lifetime partner soon instead of keep asking and commenting my single life

Is it too much to ask?
 

 

Rabu, 07 Oktober 2015

Being Thirty Something

When I was on my 20, I will worry about will I get a good job or will someone asks me to go out with him only. But still, I didn't have to worry that much because I have a lot of not-official-someone to go out with. Also, I have a lot of girl friends to chit chat. even when I didn't have money because of jobless, I still can ask some to my parent. Life is easy and colorful at that time. 

I'm not saying that life in thirty something become black, grey and white and not colorful. But sometime it feels like you live to please everyone around you. You have to deal more about how to let people (and their opinion) come into your life. You have also need to think more about who you need to maintain your interaction with and whom you have to delete; permanent or temporary from your social media account, your messenger contact or even from your phone book. You have to wisely choose updates in social media timeline to be read. Your friends from many circles will or already married, so you will across the time from you were so envy seeing your best friend got married until you pass the time when you are the only one among your group who is not yet tie the knot. So, you have to understand that everything will not be the same since that day. 

And its getting harder when you are thirty-something and single. Your life will be fulfilled with not only that classic question; like when will you get married, but also some random questions which became relevant to your age; like why you still use motorbike instead of buying car, how much your salary is, what is your investments, etc and those question will be asked for you anywhere. 

Even If you met someone, you will find out that many people will happy. But you will also know that more people doubting you. Some of them will say that he is not fixed to your status; education or salary or family and some will say that he is not fix to your physical thingy; shorter, fatter or thinner. Some will say don't be too hurry after keep asking why you stay single. 

When you choose to focus on your career, education or your any other dream, some people will happily support you because they believe that career, pursuing another degree or travelling around the world should be enjoyed while you're single. But believe me, that there more people out there will tell you that your career, education or your hobbies will create further distance between you and your future husband because, according to their opinion, man will loose his confidence while facing a successful high education woman. 


Then I finally found out that being thirty something for me is more difficult than I ever thought but its give me many lessons learned. By this year, I will reach my 33. I am single, have a good and nice job, not having some certain amount of fixed and growth assets, plan to continue my degree soon. I already deal with those things; good or bad and learning, that being thirty something forced me to choose everything that fixed to me wisely. And the most important thing for me is, I stop trying to please everyone. Its better to save my energy for creating more happiness for someone that I supposed to please. She is me, My self and I


 

Rabu, 26 Agustus 2015

Terlalu Awal Untuk Menyerah,,,




Tidak ada kegagalan yang manis. Semuanya pahit, hampir tak tertelan

Dua aplikasi beasiswa dan satu aplikasi kursus singkat di luar negri saya ditolak tahun ini dan kesemua beritanya diterima pada waktu yang berdekatan. Saya patah hati. Bahkan patah hatinya lebih parah dari patah hati berpisah dari kekasih hati beberapa bulan sebelumnya. Patah hati yang sangat dalam hingga saya tidak mampu merasakan kesedihan yang juga tak kalah dalamnya ketika teman dekat saya menikah dan yang saya tahu hanyalah tanggal pernikahannya saja.

Sekolah lagi sudah menjadi target saya dalam duat tahun terakhir. Dalam dua tahun terakhir itu pulalah saya menyusun rencana dan persiapan; mulai dari menyusun proposal penelitian, membuat beberapa essay sesuai permintaan lembaga pemberi beasiswa, berkali-kali tes toefl agar angkanya merambat naik menuju 550 hingga berkali-kali mengontak para pembimbing agar dibuatkan surat rekomendasi. Beberapa diantaranya sukses dan lebih banyak yang gagal.  

Biasanya, saya akan angkat tangan dan mengibarkan bendera putih jika sudah seperti ini. Dan itulah yang terjadi selama hampir dua minggu setelah pengumuman-pengumuman itu. Tiba tiba saya kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa dan tidak tahu harus bagaimana dengan dengan rencana sekolah saya. Saya frustasi karena usaha (yang menurut saya maksimal) tidak mendapat balasan yang sesuai dengan keinginan saya. 

Dan frustasi saya mungkin saja akan terus berlanjut hingga hari ini jika saja sore itu adik saya, Yuli tidak berceletuk tentang rencana dan mimpinya untuk mengunjungi saya jika saya bersekolah di luar negri. 

Pada saat itu saya akhirnya tersadar
bahwa didalam impian saya ada impian orang lain yang ikut terbangun
dan masih terlalu awal untuk menyerah

Jadi, saya batal menyerah untuk mencoba aplikasi beasiswa lainnya tahun depan
Saya akan mulai lagi tes-tes bahasa inggris dan semoga kali ini tidak akan banyak mengulang
Saya akan memperbaiki proposal penelitian saya sehingga para calon supervisor sudi meliriknya 

Saya akan berjuang hingga batas maksimal yang saya punya
agar saya bisa berpetualan di pengalaman-pengalaman keilmuan yang amat luas 
serta menyambut keluarga saya nanti yang akan mengunjungi saya di luar negri

dan siapa tahu
menemukan pria bermata biru untuk dibawa pulang :)



Selasa, 23 Juni 2015

Teknologi dan Hal-hal Yang Berubah Disekitar Kita

Suatu kali di kelas presentasi, saya melihat foto saya ada di slide terakhir dari peresentasi grup yang maju hari ini. Foto tersebut yang pernah saya unggah di akun social media khusus foto yang saya punya . Rasanya aneh. Mungkin lebih tepatnya tidak nyaman .Hampir sepanjang 8,5 tahun masa studi saya, saya dan teman-teman nyaris tidak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan mahasiswa generasi sekarang didepan kelas. Dosen-dosen kami dulu kebanyakan generasi lama yang memiliki banyak sekali batas dengan mahasiswanya. Beliau-beliau juga memiliki kharisma yang luar biasa, yang bahkan untuk menatap matanya saja saya dan teman-teman berani. Jadi, jangankan menampilkan foto beliau di tayangan presentasi, untuk berkonsultasi tentang bahan presentasinya saja kami tidak berani.

Lain waktu didalam rapat kantor,  saya melihat hampir tidak ada yang fokus membahas topik yang dibicarakan. Masing-masing peserta rapat lebih fokus pada layar sentuh gadget masing-masing, entah mengecek pesan atau hanya sekedar mengecek notifikasi komen-komen pada sebuah postingan. Belum lagi  bunyi dering telpon genggam yang tidak berhenti bersahutan. 

Sementara itu di media sosial pertemanan, satu postingan lucu-lucuan bisa berakhir dengan amat sangat serius. Sebuah pemikiran orang lain yang disadur bisa menjadi awal suatu debat kusir. Rasanya, selain menjadi areal untuk menjalin pertemanan, media sosial sudah berubah fungsi menjadi ruang debat terbuka dan bahkan etalase yang memungkinkan kita untuk bisa memamerkan apa saja yang kita mau; mulai dari  materi, pencapaian hingga status.

Banyak yang berubah disekitar saya setelah teknologi komunikasi dan informasi semakin berkembang. Selain hal-hal yang saya bilang diatas, hal lain yang juga sangat terasa adalah semakin menurunnya frekuensi untuk bisa bertemu dan ngobrol dengan banyak orang tanpa diganggu oleh gadget masing-masing. Rasanya banyak hal tidak penting menjadi sangat penting dan sebaliknya. Hal lain yang saya rasa berubah cukup drastis adalah hilangnya nilai-nilai yang harusnya tidak ikut hilang terbawa perkembangan teknologi.
Sedangkan di ranah teknologi lain, seperti media sosial misalnya, saya kadang masih suka merasa bingung tentang bagaimana penempatan yang sebenarnya. Bagi saya, akun -akun tersebut adalah milik pribadi meskipun sebenarnya banyak orang yang berpendapat bahwa akun media sosial merupakan wilayah publik. Masalahnya, jika dibahas tentang wilayah publik dan pribadi, maka bahasannya akan sangat panjang. Oleh karena itu, menurut saya, item-item yang berada di ranah pribadi harusnya tetap menjadi milik pribadi dan konsekuensinya, jika ingin digunakan ada etikanya Sama saja tata caranya dengan menggunakan atau meminjam barang pribadi milik orang lain. Ya minimal minta izin dulu lah. Jika tidak bisa dimintai izin, cantumkan nama pemiliknya. sederhana saja sebenarnya

Sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pintar saja, maka seharusnya kita, para penggunanya juga harus lebih pintar terutama dalam memilih mana yang seharusnya ikut berkembang seiring berkembangnya teknologi dan mana yang harus tetap dipertahankan.

Tapi lagi-lagi, mungkin ini hanya perasaan saya saja. Bagaimana menurut kalian temans?



Senin, 23 Maret 2015

Out of League

*sebuah foto dikirimkan lewat bbm*

"bagaimana menurutmu kak?"

"Bagaimana apanya? dia ini siapa?"

"Namanya si Fulan. Ia dikenalkan oleh Abang itu padaku beberapa waktu yang lalu. Ia dulu kakak kelasku dan kuliah di jurusan yang sama denganku"

" Dia suka padamu? kalau suka, then go for him"

" hmmm Aku  tak tahu kak..hanya saja He's out of my league"

Begitulah kurang lebih isi percakapan diantara dua kakak adik disuatu malam. Yang bertanya umurnya akan genap 21 pada tahun ini sementara yang menjawab umurnya 33 tahun ini. Itu percakapan antara saya dengan adik no 4. Bermula dari omongan tentang jerawatnya yang semakin bersemi hingga akhirnya sampai kepada obrolan tentang pria itu..

Pada dasarnya saya mendukung saja semua pilihan hatinya. Karena saya tahu, karakterk pria yang saya suka tak berbeda jauh dengan pria yang ia suka. Pria yang ini (mestinya) pria pintar nan menawan, mungkin dulunya aktivis, pasti pandai berbicara dan berkisah dan berkharisma. Ya kurang lebih seperti pria-pria yang menawan hati saya dulu..

I hate to say this but it just her grow too fast..
baru saja kemaren rasanya saya pontang panting kesana-kemari mengurusi urusan daftar ulangnya sebagai anak baru di Depok, eh hari ini dia sudah berbicara tentang seorang pria yang mengesankan hatinya. Duh dek:)

Sebenarnya da masih banyak baris percakapan kami selain yang diatas. Termasuk soal He's Out of Her League. Saya membalas cukup serius dibagian ini. dan adik kecil saya itu hanya membalas dengan ha ha ha ..entah malu entah gundah. but seriously, this league not supposed to be a very serious one


 Then I told her, that I've lost many opportunities to know many interesting men just because many people around me believe that I am in somebody's league. I'm out of the league not because my over qualification but because I think, I can fulfilled the requirement.

Sejak dulu, orang selalu berpikir, bahwa hanya perempuan-perempuan dengan standar kecantikan tertentulah yang boleh bersaing untuk memperebutkan hati seorang laik-laki. Maka jika anda tidak langsing, tinggi, putih dan berambut lurus, maka,  you' re out the league. Itulah sebabnya mengapa ketika kita jatuh hati pada seseorang disuatu masa maka kita akan sibuk mengukur diri. Padahal, kesibukan kita mengukur diri itu datangnya dari pendapat umum saja, yang mungkin tidak berpihak pada diri kita. Sehingga, ada banyak potensi diri yang tidak lagi terlihat hanya karena rambut tidak lurus atau kulit tidak putih tadi.
Saya pernah merasakannya pada waktu jatuh cinta pada ketua kelas saya dulu. Bagi saya, tidak ada yang salah dengan hati saya itu  hingga kemudian ada yang menjadikannya lelucon. Kemudian, rasa rendah diri berbicara dan mengatakan bahwa dia, si pujaan hati adalah rembulan yang tinggi di angkasa sementara saya, hanyalah sang punguk yang tak berhenti merindukannya. Baru disitulah saya menyadari, bahwa baginya, I'm out of his league

Ketika hari ini adik kecil saya menyukai pria nan menawan hatinya, tentu saja posisi si pria jauh lebih tinggi; Pria itu sudah menyelesaikan kuliahnya dan sudah bekerja di tempat yang bagus pula. Lalu saya katakan kepada adik saya :
"No worry
, setahun-dua tahun dari sekarang, kamu akan bisa berhadapan dengannya dengan kepala tegak. Bukan karena posisinya berada lebih rendah dari pencapaianmu tapi karena posisimu saat itu sudah bisa disejajarkan dengannya."

lagi-lagi ia hanya membalas dengan "ha ha ha "

mungkin pada dasarnya ia setuju tapi malu mengakuinya 

Btw, Tidak semua orang harus bermain di Liga yang sama. Dan tidak semua liga harus dimenangkan atau sebaliknya, tidak berarti disemua liga kita akan menjadi pecundang.
Jika tidak bisa bermain di Liga yang ada saat ini, maka mungkin kita perlu berlatih lebih keras, hingga kemudian undangan untuk bermain pada Liga tertentu akan datang dengan sendirinya





 

Jumat, 20 Maret 2015

They Say What??

Baru dua hari yang lalu saya pulang dari Tembilahan. Tembilahan adalah kota kecil di pinggir sungai Indragiri bagian hilir. Untuk mencapai Tembilahan, saya harus terguncang- guncang disepanjang jalan bergelombang dan seringkali jelek nan panjang. Bukan cerita tentang Tembilahannya yang akan saya posting kali ini, tapi tentang perbincangan saya dengan supir travel yang mengantar saya pulang. Lagi-lagi postingan ini ditulis karena abis baca postingannya mb ira tentang apa yang suka dibilang (dikomentari) orang ketika bertemu orang lain. 

Supir travelnya masih muda, umurnya sekitar. Sudah menikah dengan anak 4. Biasa saja siy dibagian yang itu. Yang luar biasa itu, masing-masing anak berasal dari ibu yang berbeda. Berarti kalau begitu si supir sudah menikah 4 kali dengan wanita yang berbeda. Tapi ternyata, dugaan saya salah. Si abang supir itu sudah menikah 6 kali:) Di jalan menuju rumah, dia bertanya kepada saya soal umur dan status. Saya sampaikan dengan jujur saja. Tapi kemudian saya menyesal juga. Karena pertanyaan dan jawaban yang ia lontarkan berikutnya benar-benar bikin saya ingin menabok mukanya. 

 
" Kok belum menikah juga kak? terlalu banyak memilih ya? awas lo nanti jadi perawan lapuk"

atau 
" Serius kakak belum menikah? kok badannya kaya wanita beranak empat?

atau 
"jangan terlalu sibuk kerja kak, pergilah jalan-jalan agar mata dan pikirannya terbuka"

dan yang paling parah 

" Pakai pemanis (susuk) dong kak biar laku..biar ga tua dan melapuk sendiri"

Ternyata selain menunggu, berada satu lokasi dengan orang yang tidak kita inginkan akan mebuat waktu terasa berjalan begitu lambat. hanya 20 menit jarak waktunya dari rumah penumpang terakhir sebelum saya menuju ke rumah terasa seperti seharian. Akhirnya saya memilih banyak diam atau mengalihkan pembicaraan saja, namun dalam hati tak berhenti gedumel, kok bisa ya orang-orang dengan gampangnya mengomentari hidup orang lain hanya karena merasa hidupnya sudah sesuai track; sekolah-lulus-kerja-nikah-punya anak-dst. 

Dalam kasus si abang ini, saya jadi merasa bahwa dia mungkin merasa diatas rata-rata soal pengalaman menikah, bahkan mungkin sudah teramat sangat khatam sehingga berhak memberikan pandangan (tanpa diminta) soal masalah orang lain dan sesuka hatinya pula. Tapi setelah banyak diam, saya jadi berpikir, ya wajarlah jika ia suka mengomentari hidup orang lain, karena ia punya banyak waktu sepanjang jalan untuk melihat, bertanya dan mengamati kehidupan orang lain. Sementara sebagian besar penumpangnya sibuk menghabiskan waktu mereka untuk beristirahat.


Ketika akhirnya mobil berhenti didepan rumah, saat itu juga saya merasa sangat bahagia dan lega. Benar kata quote diatas, sebagian orang perlu berlalu dari depan muka kita agar hari menjadi lebh cerah:)> 

Jadi, pelajaran hari itu adalah, jangan banyak ngobrol dengan supir travel..terutama jika ia memiliki aura menyebalkan. Dan jangan lupa berdoa sebelum berangkat, agar yang mengemudi mobil orangnya menyenangkan dan ga suka mengomentari orang lain:)

Selasa, 03 Maret 2015

Lose and Gain 2014

Sudah bulan ketiga di 2015 dan saya baru mulai kembali melihat-lihat blog ini. Kemaren, sehabis  menyempatkan diri untuk blog walking ke blognya Jeng Ocha , saya merasa mulai rindu menulis lagi. Apalagi beberapa postingan terakhirnya jeng ocha banyak yang berisi cerita sehari-hari yang mengena di hati. Btw, postingan terakhir yang saya punya ada di bulan Oktober 2014 dan nadanya masih sendu. Tahun 2014 nampaknya menyisakan terlalu banyak cerita luka di hati saya, meskipun sudah tidak ingin terlalu saya kenang tapi tetap muncul dalam tulisan.

Tapi ternyata, cerita luka memang selalu datang beriringan dengan cerita suka, meskipun tidak selalu berdekatan waktunya. Semua cerita tahun lalu mengingatkan saya pada ayat Al-Quran favorit saya; surat Al Insyirah; "Bahwa sesungguhnya setelah kesulitan selalu ada kemudahan.."

Awal. tahun lalu, sudah diisi dengan berbagai cobaan; mulai dari kehilangan motor hingga menjadi korban jambret, disusul kemudian dengan masalah keluarga yang cukup berat. Namun demikian, diantara masalah keluarga yang tak terbayangkan sebelumnya itu, kami mendapatkan berita gembira; adik saya yang no 4 mendapat beasiswa di kampusnya. Bukan hanya soal uang beasiswanya yang lumayan; yang membuat uang kuliahnya satu semester bisa dibayar sendiri, tapi lebih jauh kebahagiaan karena melihat perjuangannya bertahan untuk kulah dan berprestasi di tempat yang ia tidak sukai sebelumnya yang membuat kesedihan diawal tahun berangsur pupus.

Setelah memutuskan berhenti dari satu kegiatan yang pernah menjadi cerita besar dalam hidup saya, saya mengalami fase patah hati yang panjang yang membuat saya berputar dalam scene drama yang terus menerus. Tapi kemudian saya bertemu dengan beberapa orang dari lingkaran yang sama yang kemudian memberikan dukungan tanpa henti bagi penyembuhan hati saya. Setelahnya, saya jadi memiliki tempat untuk menertawakan hal-hal yang tidak penting, yang sebelumnya pernah saya tangisi berhari-hari. 

Another brighter side after long dark scene happened to me is another new opportunity. Saya  kemudian berkesempatan bergabung dalam sebuah ekspedisi bertemakan kuliner nusantara. Meski bukan posisi hebat, tapi posisi local fixer memungkinkan saya untuk bekerja dengan orang-orang hebat dibidang kuliner. Then I finally see where I supposed to be and whom I supposed work with..

Fase patah hati yang panjang itu membuat saya punya banyak energi yang bisa dilampiaskan pada banyak hal, dan syukurnya, pelampiasan tersebut tidak aneh-aneh. Dua kali pada tahun lalu saya akhirnya berkesempatan untuk mempresentasikan penelitian saya di dua konferensi dan dua paper lainnya lolos seleksi. Bukan sesuatu pencapaian yang sangat luar biasa sebenarnya untuk bisa dibanggakan. Mengingat ada banyak peneliti yang presentasi beberapa kali setiap bulannya, atau orang lain yang tiap sebentar berkeliling untuk diundang jadi pembicara kemana-kemana karena kehebatannya.

Melihat dan membaca semua cerita yang terjadi tahun lalu dan membandingkannya dengan apa yang kami dapati hari ini, saya hanya bisa takjub. Kesedihan, musibah dan patah hati pada akhirnya akan berlalu juga..hanya mungkin tidak semuanya berlalu secepat yang kita inginkan. Kadang kala ia butuh kesabaran dan waktu..

Afterall last year, I realized that I already lose many good thing, but  I gained many better things after that.
And I might say that I do proud of myself..
Not only about the achievement
but also about how I through this stormy year and try hard to dance in the rain