Rabu, 17 September 2014

Jadi Kapan Aku dan Kau bertemu di KUA?


Kadang, ada banyak orang juga yang merasa bahwa punya hubungan dalam hitungan tahunan akan menjamin mereka akan berakhir di pelaminan padahal masa depan bukan kita yang punya. Padahal, satu menit menjelang akad nikah, segala bayangan manis tentang seakan hidup mendatang dapat kutempuh denganmu bisa saja buyar hanya karena sepenggal cerita masa lalu

Kadang banyak orang tidak mengerti mengapa ada perempuan pada umur tertentu belum juga menikahdan malah terus mengejar sekolah dan karir. Dan tetap saja ada orang-orang yang tidak akan pernah bosan membicarakan dan bertanya, entah itu terang-terangan atau hanya sekedar bisik-bisik dibelakang. Bisik-bisik dan pertanyaan yang kemudian membuat banyak orang melakukan perubahan dalam dirinya hanya agar ia terlihat dimata lawan jenisnya.. 

Sama seperti yang dialami Suci, Mona dan Fira, ketiga tokoh utama dalam film Aku Kau dan KUA yang saya tonton siang tadi`

Suatu kali dimasa kuliah, saya jatuh cinta pada abang angkatan saya yang aktivis dakwah kampus. Ia menjadi magnet saya untuk kemudian belajar memakai rok, berjalan dengan lebih ayu dan berbicara dengan lebih santun. Saya teringat apa yang dikatakan oleh kakak tingkat lainnya saat itu kepada saya : " Untuk bisa mendapatkan suami yang shleh, maka kita harus jadi perempuan sholeh dulu. karena laki-laki baik-baik adalah untuk perempuan baik-baik" 
Saya langsung tertunduk dan tertusuk. Dalam waktu sekejap saya mentransformasi diri dalam balutan keanggunan seperti yang diinginkan oleh banyak laki-laki sholeh seperti abang itu. Dan ternyata, si abang itu tidak menikah dengan saya. saat itu saya merasa menjadi Mona, yang merasa bahwa dengan perubahan drastisnya, akan berdampak drastis pada masalah jodohnya

6 tahun yang lalu, saya hampir saja akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan dengan seorang pria, sayangnya sebuah cerita masa lalu dari si Pria itu membuyarkan segalanya. Saya fikir kehancuran hati saya pada saat itu mungkin hanya sedikit saja dibawah kehancuran hati Fira yang gagal menikah hanya beberapa saat sebelum akad gara-gara sepenggal cerita masa lalu dari calon suaminya. 

Setelah umur 25 dan 27 berlalu dan setelah bekerja menjadi dosen, pertanyaan "kapan menikah" atau "kapan menyusul?' menjadi langganan untuk saya jawab. Belum lagi tuduhan-tuduhan sepeti : "jangan terlalu memilih" atau "jangan sekolah tinggi-tinggi nanti laki-laki pada takut" atau " jangan terlalu sibuk berkarir" atau " mau nikah kapan lagi? ntar keburu tua"
Saya bisa merasakan perasaannya Suci, yang tidak henti diberondong oleh pertanyaan dan komentar serupa

 Dan saya rasa, ada banyak orang yang sudah atau akan menonton film ini merasakan perasaan seperti yang saya rasa. 

Jika tidak ada ayat Al-Quran di bagian pembuka dan penutup, mungkin akan banyak orang yang tidak paham bahwa ada syiar agama dalam film ini. Film Aku, Kau dan KUA dibuat sangat mengalir dan menghadirkan serta nilai-nilai keislaman dengan cara yang sangat halus. Film ini mengajak (bukan mengajarkan) orang-orang muda terutama untuk taaruf dan kemudian menikah (di KUA)  saja jika memang telah menemukan orang yang dirasa tepat. 

Bahasa syiar dan dakwah yang dipilih sangat mudah dicerna dan digambarkan dengan cara yang sederhana tanpa kehilangan makna. Seperti pada scene bagaimana Deon melakukan presentasi tentang dirinya diawal proses taaruf di rumah Fira serta bagaimana film ini menjawab beberapa pertanyaan yang seringkali ditanyakan orang seputar taaruf; apakah masih boleh bepergian berdua, apakah mungkin menikah tanpa pernah jatuh cinta terlebih dahulu pada pasangannya, dsb. Scene itu juga yang paling banyak mengundang tawa diantara para penonton bioskop siang ini.  

Selain itu, saya "jatuh cinta" pada akting para pemainnya juga sangat natural, adanya iklan dan bahasa kekinian yang diselipkan tanpa membuat kita mengernyitkan muka. Ada banyak sindiran yang membuat kita tertawa dan tertohok pada saat yang bersamaan. Semua terasa sangat dekat dengan keseharian (saya) kita. 

Tapi yang saya rasa patut diacungi jempol adalah  tokoh Pepi yang kocaknya menghidupkan film ini. Saya siy sibuk menebak-menebak bahwa aksen yang dipakai si Pepi adalah aksen Pekanbaru yang sedikit bias dengan aksen batak. Mungkin karena penulis bukunya orang pekanbaru? ya bisa jadi:)

Terus terang, saya sendiri sangat berterima kasih pada film ini karena telah mampu menggambarkan perasaan hati saya sebagai wanita lajang usia 30an yang masih ingin sekolah tapi juga mulai capek menjawab pertanyaan kapan nikah:). Saya pikir ada banyak wanita lain juga yang merasa pikiran dan keinginannya tersampaikan dengan baik lewat film ini, terutama jika setelahnya para pria yang duduk disebelah mereka di bioskop tadi siang berkata :'merit yuk?' setelah film usai, seperti yang saya dengar di pintu keluar:)





4 komentar:

Wanda mengatakan...

Serius ada yang ngajak merit gitu habis nonton film? Hahaha seru! Jadi pengen nonton filmnya juga. Mudah2an ga sampai ada sekuel yang judulnya Aku Kau dan Pengadilan Agama ya :(

Hesty Wulandari mengatakan...

wanda : iya wan, ada yang ngomong gitu sambil bisik-bisik waktu jalan keluar..ya semoga saja berakhir di pelaminan.
soal sekuel dan jadi sinetron sudah di konfirm ke penulisnya, katanya ga bakal buat sekuel
btw, apa kabar wan? bulan alu hesty ke sing lo.tapi dirimu ga bs dihubungi:(

desi mengatakan...

kok pergi nonton ga ngajak2...emang siapa penulisnya ty?

Hesty Wulandari mengatakan...

desi : perginya pas jam ngajar di kota. jadi sekalian.hehe.
penulis bukunya bang marah adil, owner dr @tweetnikah. orang pekanbaru :)