Rabu, 09 Juli 2014

9 Juli..

Tanggal 9 Juli 2014. Hari ini pemilihan umum dalam rangka memilih calon pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan berlangsung. Setelah berhari-hari timeline dipenuhi oleh bermacam ragam berita, puja puji hingga caci maki calon presiden pilihan hati masing-masing kubu. Untuk pertama kalinya sejak saya boleh ikut pemilu, saya tidak bisa ikut memilih. Akibat dinas luar kota, saya ga sempat mengurus form A5. Hari ini saya nekat datang ke TPS dan kertas suara sudah habis. Jumlahnya tidak sesuai dan tidak mengantisipasi gelora masyarakat untuk menjadi bagian dari sejarah negara ini.

Tanggal 9 Juli 2014. Hari ulang tahun Akademi berbagi ke 4. Saya sudah ikut serta meramaikan timeline dengan cerita saya sendiri saat bergabung di akber chapter Pekanbaru. Ikut bergembira atas capaian umur dan jangkauan kota yang semakin banyak namun sekaligus sekelebat sedih menjalar karena hampir 3 minggu yang lalu saya mengundurkan diri jadi relawan akber di kota saya. So, pada ulang tahun yg ke 4 ini, saya (hanya pernah) menjadi bagian dari keluarga besar ini. 

Apa kesamaan pilpres kali ini dengan kegiataan volunterring seperti akademi berbagi?

Kesamaannya adalah keduanya adalah, ia lahir dari keinginan untuk melakukan dan mengalami perubahan.
Ada banyak orang yang menjadi relawan capres yg mereka dukung tanpa dibayar sepeserpun, malah sebaliknya menyumbang banyak tenaga, uang dan pikiran, mulai dari berkampanye dengan akun sendiri di media sosial, membuat lagu, video klip, hingga menyumbang uang . Banyak orang yang melakukan hal tersebut dengan sadar, semata-mata karena mereka ingin kehidupan yang lebih baik untuk anak cucu mereka kelak. Sama halnya dengan yg terjadi di akademi berbagi. Gerakan dimulai oleh satu-dua orang yang berpikir bahwa ada banyak kesempatan belajar yang seharusnya bisa dinikmati banyak orang. Tidak ada yg digaji dalam gerakan ini. Semua dibayar dengan sesuatu bernama rasa senang.

Tapi gerakan perubahan ternyata tidak mudah. Menjadi pendukung salah satu dari dua capres yang muncul ke permukaan tidaklah mudah. Apalagi jadi capresnya sendiri. Menjadi pendukung salah satu capres saja bisa menyebabkan kehilangan teman, apalagi menjadi presidennya. Tidak semua orang bisa melakukannya dan tidak semua orang yang bisa menjadi pemimpin mau mengambil resiko tersebut. Maka, yang dibutuhkan untuk membuat yang memiliki kemampuan jadi mau melakukan suatu langkah besar adalah dukungan..apapun bentuknya; diberitahu, diberi masukan bahkan kritik. Toh pemimpin bukan dewa. Iwan fals bilang, ia hanyalah manusia setengah dewa. Artinya, perlu setengah dewa lagi untuk menjadikannya sempurna

Di Akademi berbagi, setiap relawan diberikan atau bahkan harus diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin yang biasa disebut kepala sekolah, secara bergiliran. Agar masing-masing bisa melatih kemampuan kepemimpinan mereka masing-masing. Selain itu, pergantian posisi memungkinkan seseorang untuk bisa merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan pemimpin sebelumnya. Yah, kadang memang melihat dan berkomentar untuk sebuah permainan seperti main bola terasa begitu mudah, padahal jika menjadi pemain, kita belum tentu tahan. 

Disetiap gerakan untuk kebaikan, diperlukan cara-cara kebaikan pula, agar semua maksud bisa tersampaikan dengan baik dan bisa diterima dengan baik pula. Benang merah dari dua hal besar yang terjadi hari ini adalah siapapun yg kita pilih hari ini bisa menang dan juga bisa kalah. Tapi jika ia ditahbiskan jadi pemimpin, maka sudah selayaknya kita mulai belajar menghormati, bukan karena kita suka atau tidak pada sosoknya melainkan karena ia telah berani mengambil resiko atas hal besar yang kita sendiri belum tentu mampu melakukannya..


Selamat untuk perubahan di negeri kita..semoga menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik di masa yang akan datang

Selamat ulang tahun ke 4 akademi berbagi