Senin, 09 Juni 2014

Does Size really Matter?

Saya tidak akan menulis tentang masalah ukuran dari organ tubuh seorang pria dalam postingan ini, melainkan menuliskan tentang masalah ukuran tubuh saya. Well, bagi sebagian orang, ukuran tubuh memang bukan masalah sementara bagi sebagian orang lainnya ukuran tubuh (terutama tubuh orang lain) merupakan masalah.

Bagaimana dengan saya?

Sebagai orang yang lahir dan besar dengan ukuran tubuh diatas rata-rata, saya juga sering merasa bahwa ukuran tubuh sebenarnya memang suatu masalah. Tapi yang menjadi masalah seringkali bukan gangguan kesehatan melainkan gangguan kejiwaan atau psikologis. Gangguan paling sering dialami adalah didera ketidakpercayaan diri. Masalah ejekan atau dibully sekalipun hanyalah salah satu teman bagi saya dan orang-orang dengan masalah yang sama bertumbuh. Aslinya? ada banyak hal lain yang sebenarnya mengharuskan saya dan orang-orang dengan kekurangan fisik yang lain berdamai dengannya. Toh hal-hal tersebut belum sampai membunuh kami. Just like what people say : "What doesnt kill you, makes you stronger"

Memiliki postur tubuh seperti saya tentu saja bukan hal yang benar-benar plus seperti yang dikatakan oleh para motivator dan iklan di majalah wanita, Selain itu, Sebenarnya ada banyak hal yang saya rasa menjadi kerugian akibat ukuran badan yang diatas rata-rata tadi, yang mungkin tidak selalu dirasa oleh semua orang yang berukuran besar.
1. Sulit mendapatkan baju yang sesuai dengan keinginan. 

Orang Indonesia suka tidak fair bikin ukuran. Jika memakai baju dari luar, saya tinggal memakai ukuran L atau XL bahkan kadang-kadang (banget)  M. Tapi kalo membeli baju di toko sini, maka baju saya bisa memiliki 3-5 huruf L yang berderet-deret. Yang jualan online apalagi. Baju-baju berukuran agak-besar-sedikit-saja sudah langsung diklaim sebagai baju extra size. Jika ingin mencari penjual baju ukuran besar di web, maka kata kunci yang digunakan tidak lagi menyenangkan. Kalo diluar negeri mereka cenderung menggunakan kata plus-size, maka didalam negeri, bersiaplah untuk memakai kata kunci jumbo untuk mendapatkan baju yang mungkin agak sesuai. 

Selain ukurannya yang seringkali tidak sesuai, baju ukuran besar biasanya dibuat tidak cantik dan tidak gaya. Kecuali jika kita mendapatkannya melalui factory outlet atau toko baju sisa ekspor, baru pilihan-pilihan yang menyenangkan akan keluar. Kebanyakan dari baju besar yang diproduksi didalam negri memakai terlalu banyak hiasan seperti renda-renda yang tidak pada tempatnya atau warna-warna yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya seperti kuning lemon atau hijau daun yang amat sangat terang. 

Karena baju kami menghabiskan kain yang pastinya lebih banyak, maka harganya juga sering ga masuk akal. Sebuah baju kerja ukuran besar di Mangga Dua ditawarkan ke saya IDR 300 K per helai. Untuk saya yang setiap hari memakai baju kerja berwarna-warni, harga tersebut mesti tidak masuk akal

2. Menjadi orang gemuk, akan membuat kita lebih sering terlihat selalu kurang meski punya kelebihan lain (selain berat badan) yang banyak. 

Pengalaman pribadi dari orang yang tumbuh dengan ukuran besar seperti saya mengajarkan saya bahwa saya bisa saja pintar, punya pekerjaan yang bagus, punya keahlian tertentu, pendapatan yang lumayan, tapi semua seringkali tidak terlihat karena postur. Bukan generalisasi sebenarnya hanya pengalaman pribadi. Dari dulu saya terbiasa mendapatkan kata-kata bertopeng nasihat dan masukan seperti :
" Coba ya kalo kamu lebih kurus, pasti kamu akan jadi anak berprestasi yang sempurna" 
atau 
" Wah, hari ini kamu terlihat berbeda, lebih cantik. Kurusin dikit dong badannya biar makin cantik"

Kadang suka merasa tidak fair dengan semua pujian yang bersayap. Saya pasti akan menunggu mereka menyelesaikan pujiannya dulu untuk mengetahui ujung kalimatnya biar tidak perlu merasa terhempas jauh setelah mengawang-awang tinggi. 

3. Seringkali tidak menjadi pilihan pertama
Kalo ini soal asrama dan hubungan antar lawan jenis. Memiliki tubuh besar membuat orang seperti saya harus siap untuk tidak terlihat dihadapan para pria kecengan meskipun saya tidak mungkin bersembunyi. Saya harus mengakui bahwa saya seringkali kalah telak dengan para perebut pandangan pertama. Saya baru akan bisa memenangkan hati seseorang jika sudah diajak berbicara. Saking sebelnya dengan hal ini, saya pernah menuliskan kata-kata begini di BIO twitter saya beberapa waktu silam ;
" Bukan perempuan yang akan membuat kamu berpaling saat pertama jumpa, tapi jika ini soal cinta, maka silahkan diadu"

Menjadi perempuan dengan ukuran ekstra membuat saya (akhirnya) menyadari bahwa cinta itu biasanya soal pandangan mata, yang memiliki kecendrungan untuk menikmati keindahan. Dan keindahan itu hanya milik mereka yang berukuran standar. Jadi, ya ga usah berharap untuk diajakin jadi patner pergi ke pesat, pergi jalan-jalan sebagai pasangan dll. Pun beberapa kali pernah dekat dengan beberapa pria yang mengaku menerima saya apa adanya, tetap saja permasalahan ukuran terlontar dari mulut mereka:)

Terbaca sangat menyedihkan? sebenarnya engga juga. Seperti biasa, hidup selalu punya dua sisi. Selain cerita-cerita sedih, ada banyak cerita menyenangkan yang saya alami (lagi-lagi) karena ukuran.

 1. Saya jarang sekali harus duduk berdempet-dempet di bangku tengah  kalo pergi naik mobil rame-rame. posisi saya selalu disebelah supir:)

2. Baju atau sepatu ukuran besar tidak terlalu banyak yang beli, meski suka dijual mahal, tapi juga sering didiskon besar-besaran

3.  Gampang dikenali karena ukuran dan tampilan sehingga teman-teman yg jarang jumpa pun langsung dengan mudah mengenali saya meski sudah lama tidak bertemu

4.  Dianggap mewakili kaum sukses, berduit dan bahagia dan akan sangat membanggakan kalo dibawa pulang kampung karena orang kaya dan bahagia biasanya berukuran besar

5. Meski jarang sekali menjadi pilihan pertama atau ditaksir pd pandangan pertama, orang seperti saya ternyata susah dicari penggantinya. Orang-orang berukuran besar memiliki empati yang lebih besar. setidaknya itu kata para mantan, sehingga kami juga dikelilingi oleh orang-orang penuh kasih saya

6. Jarang pusing mikirin diet dan ngitung kalori yang masuk ke tubuh. it's our lifetime matter already.  Saya jarang sekali meributkan efek satu-dua sendok eskrim berlemak yang masuk kedalam tubuh saya. Saya juga jarang sekali ogah-ogahan dalam menikmati suatu jamuan hanya karena takut gemuk. Jadilah saya bisa direkrut untuk meningkatkan selera makan orang lain serta dipercaya ketajaman lidahnya. . 

Jadi begitulah, sekelumit cerita ttg para plus size seperti saya. Jika kalian menemukan bahwa rata-rata orang bertubuh besar itu kelewat perasa, tentu kini kalian sudah tau alasannya. Dan jika kalian masih sibuk mengeluh tentang betapa buruknya kalian hari ini hanya karena satu potong kue bermentega, maka kalian mungkin sesekali perlu berjalan dengan sepatu saya:)


3 komentar:

idhan hulwah mengatakan...

saya malah kebalikannya, soo thin :(

idhan hulwah mengatakan...

saya malah kebalikannya, soo thin!
:(

Hesty Wulandari mengatakan...

idhan : ayo ditulis ceritanya..
saya lagi iseng nulis (lagi) tentang ini. berhadapan dgn orang2 yg sibuk mempermasalahkan ukuran :)