Rabu, 14 Mei 2014

Being Rich or Feeling Rich??

quotesloveandlife.com/wp-content/uploads/2012/03/money-quotes-if-you-want-to-feel-rich.png

Dua malam yang lalu, dalam pembicaraan panjang dengan Vetra, teman baik saya, saya baru benar-benar merasakan bahwa pekerjaan tertentu akan diasosiasikan dengan besaran gaji tertentu dan besarnya gaji tersebut, selain berbanding lurus dengan pengeluaran juga mempengaruhi cara pandang kita harga dan nilai dari suatu barang. Bekerja sebagai dosen, membuat banyak orang berpikir bahwa saya memiliki gaji yang besar karena untuk bisa menjadi dosen, seseorang harus menamatkan sekolah minimum di level magister. Analoginya, biaya yang dikeluarkan untuk sekolah hingga ke menjadi seorang master tidak sedikit sehingga mereka yang bekerja dengan persyaratan pendidikan yang tinggi seharusnya dibayar tinggi juga. Analoginya siy tidak salah, tapi tidak benar juga kalau kasusnya di negara ini.

Gaji pokok untuk PNS golongan 3b seperti saya hanya berada di range 2-3 juta dan dengan berbagai tunjangan mentok di range 3-4 jt:). Kaget? ya begitulah. Kebanyakan orang berpikir bahwa gaji PNS itu akan sama di semua departemen dan daerah. Jadi kalau orang lain taunya gaji PNS dari kementrian keuangan itu segitu besar, maka mereka akan berpikir bahwa semua PNS gajinya segitu, apalagi setelah adanya kebijakan remunerasi diberbagai departemen. Dan bahkan teman baik saya itu baru tahu kemaren kalau ternyata gaji temannya yang dosen pns di kampus negeri Pekanbaru ini sangat jauh dari yang ia duga. Dan ia tidak bisa menutupi keterkejutannya. Saya pikir tadinya ia tau range gaji saja dan sebaliknya, ia berpikir bahwa range gaji saya seperti yang ia pikirkan selama ini. Ya kurang lebihnya setara dengan penghasilannya para pegawai pajak:). Itupun juga tidak sengaja saat kami berbincang tentang opsi pekerjaan sebagai dosen untuk adiknya yang baru lulus.

Ia makin shock, tepatnya ga enakan karena baru saja membahas keinginannya untuk nonton jazz gunung di wiken ini untuk yang kedua kalinya. Eventnya siy keren bangetlah yang ga keren itu harga paket nontonnya yang lebih dari 1 juta. Jumlah yang sangat tidak santai bagi saya, terutama untuk hal yang sudah pernah dilakukan. Sesekali kita perlu untuk tidak memikirkan besaran nilai uang yang dihabiskan untuk suatu keinginan atau petualangan. saya dan Atiek, teman saya yang lain tidak akan protes dengan jumlah uang yang kami keluarkan untuk membeli pengalaman akan makanan, tempat istirahat yang nyaman ketika bepergian atau alat-alat dapur dan sebaliknya akan sangat perhitungan untuk barang-barang yang bersifat fancy, dan hanya memutuskan untuk membeli barang tersebut kalau ada diskon yang signifikan. Hal yang sama juga sering berlaku untuk barang-barang lainnya dan berharap bisa dapat tiket ke daerah-daerah yang ingin saya kunjungi dengan harga promo. Sesederhana itu saja bagi saya sebenarnya. Lagipula, secara ekonomi, hal yang berulang itu kepuasannya akan menurun sementara biaya yang akan kita keluarkan tetap. Gara-gara pembicaraan soal gaji tersebut, vetra jadi berkali-kali minta maaf atas ketidaksopanan dan kesombongannya bicara tentang banyak hal yang punya nilai uang dan saya bolak balik bilang bahwa saya tidak apa-apa karena saya tahu bahwa dia tidak tahu dan dia tidak punya maksud untuk pamer dan sombong, setidaknya untuk saya. Coz, we've been friends for years..and a friend doesnt always need to explain everything

Bukan masalah bahwa Vetra adalah teman baik saya yang membuat saya merasa bahwa ia perlu dimaafkan atas sikap tapi karena memang tidak ada yang perlu dipermasalahkan untuk itu. Saya sudah menemaninya jatuh bangun mendapatkan pekerjaan hingga hari ini ia berada di posisi bagus di perusahaan yang bagus pula. Saya tahu bahwa yang ia punya adalah apa yang pantas ia dapatkan. Perbedaan jumlah gaji yang diterima oleh tiap pekerjaan tentu juga disebabkan oleh beban dari masing-masing pekerjaan tersebut. Pekerjaannya mengurusi keberadaan mobil tangki dan kapal tanker diseluruh Indonesia setiap saat bahkan hari libur sekalipun dengan ritme dan beban yang berat mestilah berbayar mahal. Sedangkan pekerjaan saya ini, meski ada tumpukan kerja akhir semester, penelitian yang menunggu dan pengabdian masyarakat yang harus dilakukan diantara urusan kampus yang tak kenal waktu, saya masih bisa mengatur jam kerjanya sedemikian rupa, bisa pulang dan bobok-bobok ciang dulu kalo ada jeda antar kelas, bisa menunda dan mengganti kelas kalau ada halangan:). Dan yang paling penting adalah dia tidak pernah merendahkan saya karena uang meskipun ada banyak orang yang suka merendahkan orang lain hanya karena mereka tidak memiliki sesuatu yang material dan semoga selalu begitu.

Namun, saya tidak pernah memungkiri bahwa sayapun seringkali tidak bisa menutupi kecemburuan saya terhadap apa yang bisa ia miliki yang juga ingin saya miliki. Begitupun hal-hal bersifat material lain yang bisa didapatkan orang lain dengan mudah. Saya juga suka mengeluhkan melihat banyak orang dengan gampangnya memperoleh barang-barang yang ia inginkan meskipun tidak selalu ia butuhkan sementara ketika kehilangan barang-barang penting saya kemaren, saya harus pontang panting mencari uang dan pinjaman untuk mendapatkannya lagi.Dan jika itu terjadi, maka saya akan sibuk beradai-andai kalau saja saya terlahir dari keluarga kaya, atau pekerjaan dengan gaji besar atau minimal punya pasangan kaya sehingga saya tidak perlu susah memikirkan kebutuhan saya.

Tapi apa iya ukuran kaya selalu pada jumlah uang yang kita punya disaku, di dompet atau bahkan di rekening bank? Atau apa iya gadget yang kita pakai, kendaraan yang kita punya dan barang yang melekat di tubuh ini merepresentasikan itu semua?

Pada Vetra saya berbicara bahwa saya memang tidak memiliki banyak uang tapi hidup saya tidak mengenaskan. Saya masih bisa bepergiaan seperti dirinya meskipun dengan berbagai keberuntungan, seperti paper yang diterima dan dipresentasikan di sebuah kota baru, atau dapat tiket promo atau malah dibayari penuh oleh orang lain. Sayapun tidak punya aset tidak bergerak yang membanggakan berupa rumah, kendaraan, investasi yang nilainya mencengangkan, setelah tiga tahun bekerja, saya hanya punya kaplingan tanah cicilan yang lokasinya somewhere over the rainbow, motor second yang kemudian hilang pula, kebutuhan ngajar yang juga dicicil dan kemudian hilang juga, ac second di kamar untuk kota yang Pekanbaru yang panas ini. But I do I really dont mind of that. Bagi saya kekayaan tak bergerak saya juga banyak, berupa pengalaman yang saya dapat dari perjalanan-perjalanan yang menguras isi tabungan dan memperkaya hati. Jika ini soal kekayaan dengan yang harus dikonversikan dengan nilai uang, saya pikir saya masih cukup kaya Tapi ukuran kaya saya kali ini adalah saya sudah bisa membayar orang lain untuk bekerja dengan saya. Setiap menyerahkan gaji pada Silla, assiten saya diawal bulan, saat itulah saya merasa bahwa uang saya yang tak seberapa itu bisa memperbaiki kehidupan satu keluarga lain; Silla, suami dan anaknya.

Well, People say that Money can buy you a clothes not a style, A bed not a sleep..and etc
Tapi ada juga yang bilang bahwa orang-orang yang suka berkata bahwa money cant everything biasanya memang tidak punya banyak uang.

So, which one are you?

8 komentar:

perniquesenja mengatakan...

both of them,, being rich and feeling rich. coz i work smart and always feel grateful of its.

debi-ebong-bongky mengatakan...

mmm..apa yaa jeng, maunya sih dua2nya, tapi i am happy just feeling rich hesty, gue bisa spend time 24 jam dengan titipan Allah qania, gue merasa sangat kaya dan harus percaya surga dekat banget so i will get both of them being rich in heaven later *Amiin, . oo kita lihat orang orang bisa dengan santainya menghabiskan uang mereka karna mereka kaya? ohh tidak juga, itu hanya karena kita tidak ingin saja menghabiskannya karna kita punya prioritas bukan tidak sanggup,

Hesty Wulandari mengatakan...

vetra ; i know and it suppose to be that way..and i'll be richer having a rich friend like you around:)

Hesty Wulandari mengatakan...

debi : hai mami qania? gmn kabarnya sydney?

cara orang menilai sesuatu saja usdah berbeda-beda dan kemudian cara mereka membelanjakan sesuatu juga pasti berbeda.

Begitupun ternyata defenisi feeling richh antara elu dan gw juga ternyata beda

tapi kalo menurut gw siy, elu mah udah rich, literally:)

iad mengatakan...

tergantung perspektif masing2 orang, s.
eniwei, kalo full time mom dekat ama surga, terus yg working mom seperti iad serasa jadi ibu durjana yang ga pantes punya surga di telapak kaki.
kalo yang belum jadi ibu?????
surganya jauuuuuuuuh.......
hehehehehe....

Hesty Wulandari mengatakan...

jadi ukuran kaya atau ga jadi bukan uang lagi dong ad?
tapi lg2 memang akhirnya harus setuju bahwa being rich and feeling rich semua sangat personal dan based on perception and opinion yg amat personal

iad mengatakan...

kalo ukuran kaya itu cuma uang, pastinya akan banyak sekali orang yang merasa tidak kaya.
waktu kecil dulu, kalo pergi jalan2 sama ayah dan mama, kami selalu jalan.kaki ke jalan raya terus naik angkot ke mana2 tapi kami tidak pernah merasa miskin karena dulu tuh ngerasa ya seperti itulah cara berjalan2.
peran orangtua untuk membangun perspektif anak itu penting. dan orangtua iad sudah berhasil melaksanakannya.
sekarang tugas iad ke anak2.
meski kemana2 pake motor, iad ga pernah bilang ke anak kalo kita tuh naik motor karena belum mampu.beli.mobil. tapi karena naik motor itu lebih menyenangkan. bisa pake helm bergamber, kavamata hiytam dan masker warna warni.
bagusnya lagi di tk qisthi yg banyak chinesenya, mereka tuh ngantar anak pake motor. tipikal orang chinese mah begitu ya, padahal mobilnya jangan ditanya. tapi nganter anaknya sekolah cuma pas hujan doang pake mobil. jd ga ada yg suka pamer2in hartanya di sekolah.
bandingkan ama sekolah islam mewah di padang, jauuuuuh deh.
hehejejejehehe...
lingkungan itu juga berpengaruh pada pola pikir.

Hesty Wulandari mengatakan...

iad: Makanya ukuran kaya seseorang itu berbeda-beda ad. Ada yang kaya (uang) tapi miskin kesempatan untuk menikmatinya.. ada yang kaya hati tapi tidak berkelimpahan secara materi, ada yang kaya pengalaman tapi hidup pas-pasan.

waktu kami kecil dulu, papa sesekali mengajak kami makan ke tempat populer hanya agar kami semua tidak merasa kekurangan dibandungkan orang lain

cara orang tua kitapun menanamkan nilai ternyata berebda-beda ya ad :)