Kamis, 10 April 2014

Maybe I do change..But, who doesn't?

Selesai makan siang dan duduk didepan laptop. Siang ini saya tidak punya jadwal mengajar di kampus, jadi masih bisa menikmati jam santai di rumah sebelum absen sore. Sebuah pesan masuk di bbm saya, dari seorang teman kuliah. 

"sty, pernah kontak dengan teman kita si X ga belakangan ini?"
"udah ga pernah, tiap ditelpon g pernah diangkat. pdhal sebelum menikah dia ga gitu. 
People do change ya? "
' Yup, people change and so do their friends" 

Pembicaraan yang sudah lama tidak terjadi diantara teman lama. Setelah pindah ke Pekanbaru kemudian disusul dengan kepindahan orang tua saya ke Padang Panjang, praktis saya semakin jarang ke Padang. Waktu libur yang bisa saya gunakan utk pulang secara normal itu hanyalah setiap weekend. Dengan lama perjalanan menuju sumbar yg bersikar 5-8 jam, saya memiliki pilihan terbatas. Jika saya memutuskan untuk pulang ke Padang Panjang, maka saya tidak akan ke Padang dan sebaliknya. 

Setiap kali pulang ke Padang Panjang, maka saya akan mengambil alih pekerjaan rumah yg biasa dikerjakan ibu saya. Mulai dari beres-beres rumah hingga memasak. maklum, sejak pensiun dan memutuskan utk bertani di kampung, Bapak dan ibu saya tidak terlalu mengurusi rumah, masakpun hanya secukupnya utk berdua. Menu makanan berkisar dari telor dadar atau asam padeh. Sesekali beliau berdua makan diluar atau beli nasi bungkus satu berdua. Jadi ketika ada anaknya yg pulang, ritme normal dari rumah kami mulai teras. Rumah yg dibersihkan, piring yang dicuci dan makanan yg dimasak sesaat sebelum dimakan. Kalau saya memutuskan ke Padang, maka itu waktunya saya main bersama ponakan dan adik bungsu, menemani kakak saya belanja bahan risoles ke pasar atau sekedar ngajak ponakan mampir ke swalayan untuk membeli jajanan yang mereka inginkan. Sisanya ya..leyeh-leyeh saja:)

Saya semakin jarang bertemu teman-teman saya yang berada di padang ketika pulang. Dulu, ada teman saya yang suka ngajakin kumpul kalo ada yg pulang ke padang, sekarang iapun sudah pindah ke Jakarta. Pun, hampir semua teman saya di Padang sudah menikah dan punya anak. Membuat janji bertemu dengan yang sudah menikah sama sulitnya dengan membuat janji untuk bertemu dosen pembimbing dulu. Kalo temen saya perempuan, maka alasan anak bisa jadi yg utama. Jika yang satu bisa, maka yg lain susah dan begitu seterusnya. Kalau janjian dengan teman laki-laki yang sudah menikah akan lebih sulit lagi. Bisa-bisa menjadi sasaran kecemburuan istrinya, meski istrinya kenal sekalipun. 

Pertemanan antar daerah kini semakin mudah dengan adanya fasilitas grup chat dari ponsel pintar yang beredar di pasaran. tadinya saya berpikir bahwa grup pertemanan mobile akan mengeratkan hubungan kami semua dimana saja dan kapan saja. tapi ternyata tidak. Yang ada kami tumbuh jadi orang dewasa yg absurd. Ditambah lagi bahasa tulisan yang ga kenal nada, perasaan bahwa semua teman memahami karakter temannya dan satu persatu mulai saling membanggakan pencapaian mereka. Kami semua akhirnya terperangkap dalam lingkaran atas nama teman tapi tidak pernah merasakan perasaan yang sama saat kami berjumpa dan berteman beberapa tahun yang lalu. 

Ternyata jadi orang dewasa itu susah ya..karena setiap pencapaian hidup orang dewasa membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Bisa selesai S2 misalnya, membuat saya memulai karir jauh lebih lambat dari kebanyakan teman. Sementara itu teman saya yang menikah lebih dulu dari kami semua akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga dan melepaskan kesempatan untuk menjadi wanita karir agar ia bisa melihat anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan setiap pencapaian itu juga menuntut perubahan dari orangnya..


People do change..

Satu orang teman baik yang baru saja menikah akhir tahun lalu menjadi contoh dari pembicaraan kami siang ini. Ia, biasanya jarang tidak mengangkat telepon dari saya dan kawan-kawan dan sering juga menelpon kami hanya sekedar untuk bercerita. Sejak menikah, tidak satu kalipun telepon saya diangkat. Saya berpikir ia sibuk atau mungkin tidak enak dengan istrinya. Tapi setelah mendapatkan konfirmasi hari ini, saya jadi tau bahwa yang tidak diangkat teleponnya oleh kawan saya ini bukan hanya telepon saya, tapi hampir semua telepon dari kami, teman2 akrabnya yang perempuan. Saya kangen bisa berbicara dan saling memotivasi tapi mungkin ia juga ingin menjaga perasaan pasangannya. Saya kehilangan teman baik lagi..dulu, ketika teman baik saya yg lain memutuskan menikah, saya sangat mendukungnya. Tapi setelahnya, ia tidak pernah menghubungi saya lagi. Sesekali saya berhasil berbicara dengannya dan itupun hanya beberapa menit. Ia bilang, istrinya tidak bisa menerima semua pertemanannya dengan wanita..dan saya mengerti. 

Pun ternyata dianggap berubah oleh kebanyakan teman saya. Jarang mengangkat telpon dan membalas sms. Saya mengakuinya. Soalnya yang komplain itu teman-teman saya yang menjadi ibu rumah tangga atau baru memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Seringkali mereka menelpon dan sms saat saya sedang mengajar yang artinya hp dalam posisi silent. Dan seringnya ketika ditelepon balik, mereka yang sedang sibuk mengurus anak, menyiapkan makan suami atau mau pergi dengan keluarganya. 

It feels so funny seeing people complaint about things change in friendship while they actually didn't try to maintain their friendship when they have chance to do that.. 

Dulu, saya suka sekali menghabiskan waktu dan pulsa untuk menghubungi teman-teman saya, sekedar ber hahahihi, bergosip ringan atau bahkan menjadi teman curhat. Tapi seringkali juga saya mendapatkan jawaban kalau mereka lagi sibuk dengan kerjaan, lagi sibuk dengan suami, lagi sibuk dengan apa saja..then I slowly stop to ask how are them now..Dan ketika itu terjadi pada saya dan beberapa teman yang kemudian berhenti bertanya kabar, kami dianggap berubah. Saya tidak menyalahkan teman-teman saya yang berubah pun saya juga keberatan untuk disalahkan. Saat mereka ingin bicara saya justru sedang hectic dari satu kelas ke kelas yang lain.. dan giliran saya yang akan bicara, mereka malah sedang sibuk bercengkrama dengan suami/istri dan anak..

Maybe I do change.. but, who doesn't?
Well, Every people has their own limit..


Jadi, Ga usah komplain sering-seringlah tentang kehidupan setelah tamat kuliah atau setelah memutuskan untuk menikah. Ada banyak orang yang sebenarnya sibuk menyesuaikan diri dengan kondisi bahwa orang-orang disekitarnya berubah dan ia harus menerimanya, suka atau tidak suka. Dan yang paling pahit adalah..teman-teman kitapun berubah..bahkan yang paling dekat sekalipun. Setelah semua pencapaian dalam hidup melalui sekolah, pekerjaan dan rumah tangga, ada banyak prioritas yang bergeser. Dulunya semua teman di lingkaran kita adalah yang utama. Ia bisa saja menjadi prioritas cadangan. Setelah menikah misalnya, karena satu orang baru akan menjadi prioritas utama yang bisa menggantikan semua circle yang ada.

That what we called life..

Saya bilang ke teman saya itu bahwa mungkin kita memang harus memilih siapa yang akan berada di lingkaran hidup kita saat ini. Jadi jangan sedih jika tidak terpilih untuk menjadi bagian dari lingkaran hidupnya orang lain..

dan selalu saja banyak hal yang menjadi begitu mudah untuk dikatakan..
padahal saya sendiri tahu, bahwa ketika itu terjadi, saya pun tidak mudah menghadapainya

but at least..
I've tried:)

4 komentar:

Izumi mengatakan...

Salam kenal, kaka :D
Saya suka tulisannya. Keep writing ya.

Hesty Wulandari mengatakan...

Hai Izumi,

Nama kamu mengingatkan saya pada bos saya. terima kasih sudah mau mampir dan membaca

salam,
Hesty

Yoserizal Fernando mengatakan...

Saya juga merasa demikian.. Teman yang dulunya sangat dekat bisa menjauh.. yang baru dikenal kemarin sore, terasa sangat dekat

Hesty Wulandari mengatakan...

yose : mungkin kita yang berubah..atau mungkin lingkungan kita yang berubah..
atau malah mungkin keduanya

tapi yang kekal didunia ini ya perubahan:)