Rabu, 30 April 2014

Kibot and Many Happy Faces


Itu tweet saya dua hari yang lalu. Sudah beberapa hari sebelumnya saya merasa agak drop. sesudahnya saya langsung mendapatkan balasan ini : 

Apr 28 jaga kesehatanmu ya mbak hes..jangan capek-capek *peluk*"

dan ada beberapa twit berbalas-balasanyang kemudian terjadi antara saya dan kibot, mulai dari konser Kahitna di malam sebelumnya yang membuat saya kangen mantan hingga soal jodoh dan soulmate. bales-balesan twit malam itu di akhiri dengan ini :


duh bot, apalah jadinya aku kalo malam ini ga dihibur kamu? thanks a lot ya buddy *kecup*

hahahahah yaampun mbak hes..thats what brother are for :) *peluk*"
many happiness in return ya bot..as you always make me and many people happy:)"

thank you mbak hes..you too mbak semoga kebahagiaan slalu sama-sama kamu yaaaa :)"

Aslinya saya tidak kenal Kibot. kami hanya pernah berada di satu area yang sama di salatiga selama tiga hari. Namun selama tiga hari itupun, saya belum pernah sekalipun berjabatan tangan dengannya. Jabat tangan kami malah terjadi lewat twitter setelah acara tiga hari itu usai. Itupun gara-gara balas-balasan twit yang ga usai sehari semalam antara saya, yani dan tari yang tak lain adalah teman kibot di Bekasi. 

Dunia pertemanan itu lucu ya. Kadang kita tak pernah bertemu langsung dengan orangnya tapi merasa amat dekat dan sebaliknya orang yang dekat secara posisi dekat dengan kita belum tentu sedekat itu hatinya. Saya patut berterima kasih pada penemu jaringan pertemanan virtual yang diciptakan lewat teknologi. Mereka telah mampu menjembatani berbagai hal yang terpisahkan oleh jarak dan waktu; mulai dari pekerjaan, pertemanan hingga hubungan setingkat perjodohan. Kehadiran banyak aku yang memungkinkan kita berinteraksi dengan banyak orang seperti twitter telah mampu menghadirkan banyak orang disekitar disekeliling kita tanpa harus berpindah tempat. Kita bisa ngobrol lewat barisan kata yang diketikkan, bahkan bisa memeluk dan mencium seseorang hanya dengan sederet kaliamt yang diberi ikon bintang.Untuk orang yang masih hidup sendiri seperti saya, mendapatkan sapaan, pujian ataupun semangat dari orang lain merupakan hal yang menyenangkan. Meski sendiri di kamar, saya selalu merasa seperti sedang berbincang dengan banyak orang. meskipun hanya virtual dan sapaannya hanya berupa tulisan..

Namun tentu saja masih ada hal yang tidak selalu mampu dihadirkan utuh oleh teknologi. Biasanya hal ini berhubungan dengan kontak hati. Meskipun juga ada banyak gerakan yang melibatkan hati dipermudah oleh teknologi, seperti penggalangan dana kemanusiaan dan lain-lainnya yang begitu mudah digerakkan didunia maya, tapi tetap saja untuk bisa dekat dengan seseorang, kita perlu koneksi hati. Tidak semua orang akan mengerti maksud sebuah tulisan yang tidak bernada sehingga hanya sedikit diantaranya yang kemudian akan tersentuh. Dan orang yang memiliki kemampuan untuk menyentuh hati orang lain meski hanya lewat beberapa baris kalimat itu seperti secara istimewa dikirimkan Tuhan ke Bumi. Ia dihadirkan untuk membuat orang lain selalu tersenyum, mengurai dan mengobati luka dengan cara yang teramat halus sehingga tidakada sakit yang terasa. Ia hadir mengusir sepi sehingga dengannya dunia menjadi penuh warna dan ceria, meskipun saat yang bersamaan hatinya juga sedang dirundung luka dan sepi.
Dan Kibot adalah satu diantaranya. Dalam beberapa waktu saya mengenal dia, tidak terhitung berapa kali ia menguraikan senyum di wajah saja. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa setiap kali kami mengobrol ditwitter, maka setiap kali itu pula ia memenuhi rongga hati saya dengan rasa bahagia lewat senyum, tawa lepas dan sesekali hal yang mengharukan. 

Saya dan Kibot terpisah pulau, tapi kami tidak terpisah jauh sebenarnya. Jarak tidak begitu berarti ketika ada yang menemani kita melewati hari paling berat sekalipun..Dan saya merasa beruntung.. Menjadi salah satu diantara orang yang selalu ia hibur hatinya, meski hanya dengan satu dua kalimat pendek..seperti 
"that's what brother are for mb hes.."

Dear Kibot, 
Thank U for creating smile in my face many times..like you always do in many people face
may it return to u in many ways:)
love you buddy..

Hesty

Minggu, 27 April 2014

Tentang Ambisi dan Target Hidup


Mengenal beberapa orang baru membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri. Tapi ini tidak berlaku untuk semua hal kok, hanya beberapa, terutama terkait cara saya menikmati hidup.

Teman-teman terdekat saya seringkali gemes melihat cara saya menjalani sesuatu yang seringkali tanpa perencanaan dan target. Saya memang tipikal let it flow or enjoying thing as it is atau bahasa kerennya mengalir saja. Dan setelah saya amat-amati, dari banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, rata-rata terjadi tanpa diperkirakan dan direncanakan sebelumnya meskipun beberapa diantaranya pernah masuk dalam daftar keinginan saya. Satu-satunya mapping yg pernah saya buat tentang sebuah keinginan hanyalah dream map di kelas tiga pijar waktu LLD 2014 Akber kemaren. Selain tanpa rencana, saya suka bingung kalo ditanyain akan menjadi apa saya 5 atau 10 tahun dari sekarang. Saya juga suka bingung kalo ditanyain target hidup saya apa. Seringkali saya akan menjawab dengan jawaban yang terlalu luas, seperti menjadi istri yang baik, atau dosen yang baik dan sejenisnya tanpa ambisi dan target. Semua dibuat semampu saya saja atau mungkin tepatnya, sejauh mana saya ingin membuktikan kemampuan saya.
Sepertinya saya memang tidak dikaruniai dengan kelebihan bernama ambisi yang bisa menuntun saya menjalankan sesuatu dengan target-target yang jelas. Hanya beberapa hal tertentu saja yang saya lakukan dengan penuh perencanaan, sisanya saya lebih suka bermain wait and the see.what will be happened. Jikapun direncanakan dengan baik, maka saya pastikan hanya beberapa yang sesuai dengan perencanaan awal, sisanya ya tergantung kemana hidup akan membawa rencana itu. Dan seringkali saya tidak berhasil memaksa diri saya untuk memperbaiki rencana yang sudah jauh menyimpang itu. Alih alih menariknya kembali ke jalur semula, saya lebih memilih untuk menunggu kejutan apa yang menanti dibalik rencana itu. Lebih lucu lagi, melihat sifat saya yang lempeng ini, banyak orang yang kemudian malah menjadikan saya objek dari ambisi dan obsesi mereka. Mulai dari ambisi orang tua yang ingin melihat anaknya kurus hingga ambisi untuk memberntuk karakter tertentu karena melihat potensi yang saya punya. Tapi ya lagi-lagi saya mesti bilang, hanya sebagian yang berhasil, lebih sering siy gagal :).

Bukan hal yang bagus sebenarnya. Orang bilang hidup tanpa ambisi itu ibarat burung tanpa sayap, yang akan membatasi jelajah kita kata sebagian orang. Selain itu, ambisi akan menjadi jejak penentu kesuksesan seseorang karena orang yang menjalani hidupnya dengan ambisi akan mampu mencapai apa yang tidak dicapai oleh banyak orang. Hanya saja banyak orang yang salah kaprah menggunakan kata ambisi ini. Sebagian orang menggunakan kata-kata ini untuk membuat dirinya terlihat dan menutupi kesempatan orang lain. Sebagian menghalalkan segala cara agar apa yang ia inginkan tercapai meskipun pada saat bersamaan juga akan melukai orang lain. Jika ini menyangkut ambisi bersama, banyak orang yang kemudian menjadikannya sampul bagi ambisi pribadi yang kebetulan melibatkan orang lain untuk mencapainya. It's ok actually, siapa tau malah bisa menjadi pencapaian bersama, sayangnya banyak yang suka lupa bertanya dan menyamakan langkah terlebih dahulu agar kecepatan kaki menjadi sama ketika berjalan dan melupakan jasa orang lain ketika ia tercapai. 

Meskipun bukan hal yang benar-benar bagus, tapi menjadi orang yang hidupnya mengalir seperti saya tidak sepenuhnya buruk.  Setidaknya saya lebih mudah menerima kegagalan dan jarang berhubungan dengan stress jika tidak berhasil mencapai sesuatu. Saya malah akan stress jika dipaksa untuk mengikuti keinginan dan ambisi orang lain meski itu sukses. Soal pekerjaan misalnya, saya sudah mengikuti 7 kali tes pegawai negri dari berbagai departemen sebelum lulus di tes terakhir dan menjadi dosen. Dua tes diantaranya saya ikuti berturut-beturut dan masih saja tidak lulus. Sedih siy pastinya tapi ya paling cuma perlu sehari dua hari saja untuk meratap:), setelahnya saya malah jadi bisa belajar apa saja yang perlu dipersiapkan kalo mau tes lagi. Nothing to loose does work on me in proper way, dalam pengertian always do my best and let God do the rest. Waktu ditinggal menikah oleh pacar yang sudah 3 tahun membina hubungan, saya memang patah hati setengah mati. Waktu yg saya butuhkan untuk sembuh juga tidak bisa dibilang sebentar, hampir 1/2 masa pacaran kami. Tapi alhamdulillah saya tidak sampai dirawat di rumah sakit karena mogok makan. Padahal lumayan bangetlah kalo bisa mogok makan, setidaknya saya jadi lebih kurus. tapi ternyata engga tuh, sampe hari ini saya masih tetap saja besar:)

Mungkin inilah yang dimaksud dengan keseimbangan hidup, bahwa Tuhan menciptakan kita beserta karakter yang kita bawa untuk membuat perpaduan yang sempurna untuk melengkapi kehidupan banyak orang dan sebaliknya. Bahwa orang yang ambisius disekitar saya mengajarkan saya bahwa ada banyak hal penting dalam hidup perlu dikejar dan sebagian (atau mungkin semua?) membutuhkan perencanaan. Jika orang lain akan punya back up plan, maka saya mungkin akan menyarankan no back up plan or get lost untuk setiap rencana yang gagal..Karena orang yang lempeng dan mengalir seperti saya juga sebenarnya memberikan banyak pelajaran, bahwa apapun bisa terjadi pada hal yang kita rencanakan dan mungkin itu artinya kita hanya perlu menikmati saja semua yang terjadi. :)




Rabu, 23 April 2014

A Sibling's Journey Wish

Dear Mbok Venus,

Jika ada pertanyaan kuis yang berhadiah jalan-jalan bersama satu orang sahabat ke suatu tempat saya pasti bingung memilihnya. Saya punya beberapa sahabat dekat yang semuanya memberikan kontribusi penting dalam kehidupan saya, mulai dari jaman putih abu-abu hingga sekarang mereka sudah punya anak dua atau satu. Dulu, saya dan sahabat-sahabat saya di Asrama putri 70 selalu berandai-andai bahwa suatu hari nanti kami akan melakukan perjalanan seperti yang dilakukan oleh Carrie, Samantha, Charlotte dan Miranda dalam Sex and The City. Memiliki banyak teman perempuan sebaya disekeliling untuk tetap tertawa dan bahagia ketika umur semakin menua merupakan berkah yang luar biasa. Namun ternyata tetap sulit untuk mewujudkan perjalanan bersama mengingat dua diantaranya sudah menikah dan punya anak dan yang lainnya meski masih lajang tapi jam terbang amat padat. Jadi yaa, boro-boro ke Dubai,  untuk napak tilas kembali ke Jogja bersama-sama saja terlihat amat mustahil. 

Tadinya saya berharap boleh memilih lebih dari satu orang untuk diajak ke Resort World Sentosa jika memenangkan kuis ini, karena jujur Mbok, saya punya tiga kandidat yang kesemuanya punya peranan sangat penting dalam hidup saya hari ini, melebihi sekedar teman baik. Mereka selalu ada setiap fase kehidupan yang saya alami, mulai dari yang paling manis hingga paling pahit sekalipun. Tidak terhitung banyaknya kebaikan yang pernah saya terima dari mereka sehingga saya pikir inilah kesempatan untuk membalasnya. 

Hidup benar-benar soal pilihan ya Mbok, dan memilih satu diantara mereka bukan hal yang mudah bagi saya. Saya semakin bingung mau menulis apa di blog ini agar bisa mendapatkan kesempatan ini hingga dua hari yang lalu saya menerima pesan dari adik saya di Depok yang mengabari bahwa ia baru saja mendapatkan beasiswa dari ikatan alumni dari tempatnya kuliah saat ini. Saya sangat bahagia mbok, mengingat bahwa kami sekeluarga baru saja melewati masa sulit. Saya membalas pesannya dan menulis bahwa ia bisa bepergian ke satu tempat yang diinginkan selama masa kuliahnya dengan menabung dari uang beasiswa itu, syukur-syukur bisa mengajak saya:).  

Pesan singkat dari adik saya malam itu mengingatkan saya pada tweet Mbok dua tahun yg lalu tentang siapa yang terakhir kali menjadi teman perjalanan saya dan kemana tujuan kami. Saya membalas tweet itudan menjawab bahwa saya bersama adik saya itu sedang bertualang di Jakarta sambil menunggu jadwal pendafatran ulangnya sebagai mahasiswa baru di kampus UI Depok keluar. Waktu twit saya dibalas dan diritwit oleh mbok, saya kegirangan. Norak ya? biarin ah. twet yang direply atau di ritwit oleh selebtwit pada masa itu adalah prestasi mbok.  

my next journey;s mate

Tapi bukan twitmu Mbok yang ingin saya bahas tapi isi cerita dan teman perjalanan saya kala itu. Perjalanan keliling Jakarta waktu itu merupakan perjalanan pertama kami berdua sekaligus perjalanan pertama bersama saudara tanpa orang tua yang pernah dilakukan dilakukan dikeluarga kami Mbok. Soalnya kami berlima bersaudara nyaris tidak pernah bepergian bersama dan lebih sering memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan perjalanan bersama teman-teman kami selama ini.

Sebenarnya perjalanan kami di Jakarta tidak heboh kok Mbok, hanya turun naik komuter line saja untuk mengetahui beberapa jalur dan tempat penting di Jakarta. Sisanya kami dengan noraknya keluar masuk supermarket lucu membeli salad yang buah dan sayurannya belum pernah kami temui sebelumnya, mengunjungi pasar, mencoba makanan-makanan baru dan sisanya membeli kebutuhan kuliahnya. Tapi ternyata perjalanan tersebut menjadi salah satu perjalanan paling menyenangkan yang pernah saya punya. Tidak menyangka bahwa adik kecil saya yang keras kepala itu bisa menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Mungkin karena kami hanya pergi berdua dan saat itu ia dan saya harus bekerja sama memutuskan banyak hal tentang masa depannya. Selain itu Mbok, perjalanan itu juga membuat kami lebih sering berbicara satu sama lain seperti teman dan kakak adik. Moment yang sering kami lewatkan saat berada di rumah karena masing-masing kami sibuk dengan gadget dan dunia kami masing-masing.

Setelah perjalanan sederhana itu, hampir disetiap musim maskapai pesawat melakukan promo tiket, ia selalu sibuk mengirimkan informasi harga tiket pesawat dari Pekanbaru ke Jakarta dan sibuk bertanya kapan saya akan ke Jakarta. Sesekali ia juga bertanya dan mengajak saya untuk bisa pergi liburan bareng saya kemana saja di Indonesia. Sejak saat itu, saya berniat dalam hati untuk mengusahakan minimal satu kali dalam setahun mengunjunginya ke Depok hanya untuk menikmati our time as siblings yang mungkin luput kami nikmati dulu semasa kami tinggal serumah

Dear Mbok Venus, 
Saya mungkin masih bisa menyusun jadwal untuk mengunjungi teman-teman terbaik saya atau membuatkan janji dan bersama-sama menabung untuk bisa menjelmakan impian kami untuk melakukan perjalanan ala Sex And The City atau ala Arisan 2 anytime I want. Tapi kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu bersama saudara sendiri jauh lebih susah diwujudkan. Selain jarak Pekanbaru dan Depok yang cukup jauh, jadwal libur kampusnya dan jadwal libur kampus saya tidak pernah sama. Hanya ketika lebaranlah waktu kami bersama menjadi cukup panjang, itupun akan diselingi dengan urusan pribadi masing-masing

Orang yang akan saya ajak tentunya adik saya itu Mbok. Namanya Nahlia dan ia biasa dipanggil Ade. Tahun ini umurnya 20 tahun dan saya 32 tahun. ia mahasiswi semester 4 di FH UI. Beasiswa yang ia raih itu Mbok, merupakan pembuktiannya kepada saya dan kakak-kakaknya yang lain bahwa ia bertanggungjawab terhadap pilihan kuliahnya meskipun bukan pilihan utamanya. Saya tidak terlalu pandai mengatakan perasaan saya kepada saudara-saudara saya dan kami memang tidak terlalu biasa melakukannya. Kami 5 beradik dari keluarga minang yang tidak terbiasa mengatakan rindu, sayang dan kebanggaan kami pada satu sama lain secara langsung. saya memilih untuk mengatakan lewat tulisan di blog saya yang seringkali mereka tidak baca. maka  kesempatan untuk melakukan perjalanan dan menikmati hidup di Resort World Sentosa ini merupakan cara saya untuk mengatakan kepadanya bahwa saya bangga dengan semua kerja keras yang telah ia lakukan untuk membuat kami sekeluarga terutama saya, kakaknya bangga.

Dont worry much about apa yang akan kami nikmati disana Mbok. It will be our next precious time as siblings. Jika saya dan Ade bisa sangat girang dan norak saat menikmati perjalanan naik turun komuter line Depok- Jakarta, keluar masuk tempat-tempat yang tidak pernah kami coba selama di Jakarta, maka bisa kebayang kan Mbok, betapa noraknya kami nanti disana?. Kami pasti akan sangat sangat menikmati semua yang tersedia di Resort World Sentosa Mbok kecuali kolam renang yang cukup dalam, karena kami berdua tidak bisa berenang:)

Terima Kasih Sayembaranya Mbok..
Terima Kasih sudah boleh berbagi cerita dan mimpi


Love 
Hesty 

 


Kamis, 10 April 2014

Maybe I do change..But, who doesn't?

Selesai makan siang dan duduk didepan laptop. Siang ini saya tidak punya jadwal mengajar di kampus, jadi masih bisa menikmati jam santai di rumah sebelum absen sore. Sebuah pesan masuk di bbm saya, dari seorang teman kuliah. 

"sty, pernah kontak dengan teman kita si X ga belakangan ini?"
"udah ga pernah, tiap ditelpon g pernah diangkat. pdhal sebelum menikah dia ga gitu. 
People do change ya? "
' Yup, people change and so do their friends" 

Pembicaraan yang sudah lama tidak terjadi diantara teman lama. Setelah pindah ke Pekanbaru kemudian disusul dengan kepindahan orang tua saya ke Padang Panjang, praktis saya semakin jarang ke Padang. Waktu libur yang bisa saya gunakan utk pulang secara normal itu hanyalah setiap weekend. Dengan lama perjalanan menuju sumbar yg bersikar 5-8 jam, saya memiliki pilihan terbatas. Jika saya memutuskan untuk pulang ke Padang Panjang, maka saya tidak akan ke Padang dan sebaliknya. 

Setiap kali pulang ke Padang Panjang, maka saya akan mengambil alih pekerjaan rumah yg biasa dikerjakan ibu saya. Mulai dari beres-beres rumah hingga memasak. maklum, sejak pensiun dan memutuskan utk bertani di kampung, Bapak dan ibu saya tidak terlalu mengurusi rumah, masakpun hanya secukupnya utk berdua. Menu makanan berkisar dari telor dadar atau asam padeh. Sesekali beliau berdua makan diluar atau beli nasi bungkus satu berdua. Jadi ketika ada anaknya yg pulang, ritme normal dari rumah kami mulai teras. Rumah yg dibersihkan, piring yang dicuci dan makanan yg dimasak sesaat sebelum dimakan. Kalau saya memutuskan ke Padang, maka itu waktunya saya main bersama ponakan dan adik bungsu, menemani kakak saya belanja bahan risoles ke pasar atau sekedar ngajak ponakan mampir ke swalayan untuk membeli jajanan yang mereka inginkan. Sisanya ya..leyeh-leyeh saja:)

Saya semakin jarang bertemu teman-teman saya yang berada di padang ketika pulang. Dulu, ada teman saya yang suka ngajakin kumpul kalo ada yg pulang ke padang, sekarang iapun sudah pindah ke Jakarta. Pun, hampir semua teman saya di Padang sudah menikah dan punya anak. Membuat janji bertemu dengan yang sudah menikah sama sulitnya dengan membuat janji untuk bertemu dosen pembimbing dulu. Kalo temen saya perempuan, maka alasan anak bisa jadi yg utama. Jika yang satu bisa, maka yg lain susah dan begitu seterusnya. Kalau janjian dengan teman laki-laki yang sudah menikah akan lebih sulit lagi. Bisa-bisa menjadi sasaran kecemburuan istrinya, meski istrinya kenal sekalipun. 

Pertemanan antar daerah kini semakin mudah dengan adanya fasilitas grup chat dari ponsel pintar yang beredar di pasaran. tadinya saya berpikir bahwa grup pertemanan mobile akan mengeratkan hubungan kami semua dimana saja dan kapan saja. tapi ternyata tidak. Yang ada kami tumbuh jadi orang dewasa yg absurd. Ditambah lagi bahasa tulisan yang ga kenal nada, perasaan bahwa semua teman memahami karakter temannya dan satu persatu mulai saling membanggakan pencapaian mereka. Kami semua akhirnya terperangkap dalam lingkaran atas nama teman tapi tidak pernah merasakan perasaan yang sama saat kami berjumpa dan berteman beberapa tahun yang lalu. 

Ternyata jadi orang dewasa itu susah ya..karena setiap pencapaian hidup orang dewasa membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Bisa selesai S2 misalnya, membuat saya memulai karir jauh lebih lambat dari kebanyakan teman. Sementara itu teman saya yang menikah lebih dulu dari kami semua akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga dan melepaskan kesempatan untuk menjadi wanita karir agar ia bisa melihat anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan setiap pencapaian itu juga menuntut perubahan dari orangnya..


People do change..

Satu orang teman baik yang baru saja menikah akhir tahun lalu menjadi contoh dari pembicaraan kami siang ini. Ia, biasanya jarang tidak mengangkat telepon dari saya dan kawan-kawan dan sering juga menelpon kami hanya sekedar untuk bercerita. Sejak menikah, tidak satu kalipun telepon saya diangkat. Saya berpikir ia sibuk atau mungkin tidak enak dengan istrinya. Tapi setelah mendapatkan konfirmasi hari ini, saya jadi tau bahwa yang tidak diangkat teleponnya oleh kawan saya ini bukan hanya telepon saya, tapi hampir semua telepon dari kami, teman2 akrabnya yang perempuan. Saya kangen bisa berbicara dan saling memotivasi tapi mungkin ia juga ingin menjaga perasaan pasangannya. Saya kehilangan teman baik lagi..dulu, ketika teman baik saya yg lain memutuskan menikah, saya sangat mendukungnya. Tapi setelahnya, ia tidak pernah menghubungi saya lagi. Sesekali saya berhasil berbicara dengannya dan itupun hanya beberapa menit. Ia bilang, istrinya tidak bisa menerima semua pertemanannya dengan wanita..dan saya mengerti. 

Pun ternyata dianggap berubah oleh kebanyakan teman saya. Jarang mengangkat telpon dan membalas sms. Saya mengakuinya. Soalnya yang komplain itu teman-teman saya yang menjadi ibu rumah tangga atau baru memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Seringkali mereka menelpon dan sms saat saya sedang mengajar yang artinya hp dalam posisi silent. Dan seringnya ketika ditelepon balik, mereka yang sedang sibuk mengurus anak, menyiapkan makan suami atau mau pergi dengan keluarganya. 

It feels so funny seeing people complaint about things change in friendship while they actually didn't try to maintain their friendship when they have chance to do that.. 

Dulu, saya suka sekali menghabiskan waktu dan pulsa untuk menghubungi teman-teman saya, sekedar ber hahahihi, bergosip ringan atau bahkan menjadi teman curhat. Tapi seringkali juga saya mendapatkan jawaban kalau mereka lagi sibuk dengan kerjaan, lagi sibuk dengan suami, lagi sibuk dengan apa saja..then I slowly stop to ask how are them now..Dan ketika itu terjadi pada saya dan beberapa teman yang kemudian berhenti bertanya kabar, kami dianggap berubah. Saya tidak menyalahkan teman-teman saya yang berubah pun saya juga keberatan untuk disalahkan. Saat mereka ingin bicara saya justru sedang hectic dari satu kelas ke kelas yang lain.. dan giliran saya yang akan bicara, mereka malah sedang sibuk bercengkrama dengan suami/istri dan anak..

Maybe I do change.. but, who doesn't?
Well, Every people has their own limit..


Jadi, Ga usah komplain sering-seringlah tentang kehidupan setelah tamat kuliah atau setelah memutuskan untuk menikah. Ada banyak orang yang sebenarnya sibuk menyesuaikan diri dengan kondisi bahwa orang-orang disekitarnya berubah dan ia harus menerimanya, suka atau tidak suka. Dan yang paling pahit adalah..teman-teman kitapun berubah..bahkan yang paling dekat sekalipun. Setelah semua pencapaian dalam hidup melalui sekolah, pekerjaan dan rumah tangga, ada banyak prioritas yang bergeser. Dulunya semua teman di lingkaran kita adalah yang utama. Ia bisa saja menjadi prioritas cadangan. Setelah menikah misalnya, karena satu orang baru akan menjadi prioritas utama yang bisa menggantikan semua circle yang ada.

That what we called life..

Saya bilang ke teman saya itu bahwa mungkin kita memang harus memilih siapa yang akan berada di lingkaran hidup kita saat ini. Jadi jangan sedih jika tidak terpilih untuk menjadi bagian dari lingkaran hidupnya orang lain..

dan selalu saja banyak hal yang menjadi begitu mudah untuk dikatakan..
padahal saya sendiri tahu, bahwa ketika itu terjadi, saya pun tidak mudah menghadapainya

but at least..
I've tried:)