Sabtu, 22 Maret 2014

Simply Life and Complicated Me

Beberapa kali menemukan gambar ini di akun Pathnya teman-teman saya. Kadang postingan sendiri kadang memposting ulang dari postingan temannya. Saya seringkali melihatnya sepintas lalu. membaca dan kemudian tersenyum. Tapi hari ini saya sendiri yang mempostingnya ke akun path saya.

Sedang menghadapi hari-hari yang berat belakangan ini. Mulai dari kejambretan tas ketika akan berangkat ke kampus dan kehilangan semua isinya. Sempat berada dalam fase shock hingga fase trauma pulang malam padahal kejadiannya siang hari. Terlalu banyak orang yang menganggap musibah saya sebagai kelucuan sehingga merasa berhak menertawakannya. Sebagian lagi sibuk berkomentar bahwa saya terlalu ceroboh, sudah seharusnya menikah dan tak sendiri atau saya kurang sedekah. Satu-satunya lelucon yang bisa saya terima ketika kehilangan motor dua bulan sebelumnya adalah dari bapak yang mengatakan bahwa yang mengambil motor saya sesungguhnya merugi karena sudah jelek. Dilanjutkan dengan kabut asap di Pekanbaru dan saya harus memperpanjang perjalanan saya dan terakhir cerita ttg masalah yg menimpa orang tua saya. Kekuatan saya runtuh sore ini..dalam beberapa karakter pesan yang dikirimkan oleh seorang teman.

I wish in life and in my life everything can be said as easy as the words above..
 setidaknya dengan bicara, ada banyak hal yang tersampaikan.. I've tried many times and Failed

Beberapa tahun yang lalu, ketika pertama kali masuk kerja dengan lingkungan yang sangat asing bagi saya, banyak hal menjadi sulit untuk dikatakan. Sebagian karena saya merasa takut melukai hati orang lain dan sebagian karena saya takut dinilai buruk. Alhasil kinerja saya memburuk. Saya merasa sudah bekerja dengan baik tapi menurut teman-teman sekantor saya tidak begitu. Alhasil masa percobaan saya ditambah 1 bulan. Hari itu, bos saya memanggil saya ke ruangannya dan mengatakan hasil penilaian teman-teman saya. Saya menangis. Merasa gagal. Tapi hari itu bos saya mengutakan saya dengan mengatakan bahwa saya hanya perlu memperbaiki diri sedikit lagi. Saya berterima kasih padanya. Hari itu ia menjelma bagai dewa dimata saya padahal adslinya beliau adalah salah satu sosok menakutkan di kantor.

Saya tidak suka dinilai orang apalagi dinilai buruk. well, everybody does. Lebih buruknya lagi, saya bisa sangat terpengaruh dengan segala penilaian dan penyampaian yang diutarakan orang lain tentang saya. Meski tidak semuanya benar dan meski tidak semuanya perlu didengar. Tapi saya tidak jago memilah dalam urusan ini. Saya rasa saya menuruni karakter yang sama dari ibu saya. Selain itu, sepertinya pengalaman sepanjang hidup saya yang dikelilingi oleh banyak orang sok tahu yg suka memberikan penilaian tentang fisik saya sesuka mereka tanpa mendengarkan jawaban saya mempengaruhi karakter saya sekarang.

Mungkin saya terlalu sering menempatkan orang lain pada posisi saya sehingga banyak hal diatas sana sering tidak saya lakukan.

Saya senang kalau ada yang mengatakan pada saya kalau dia rindu pada saya... tapi seringkali saya yang mengatakan kepada orang dan sebagian tidak menyukainya. Jadi saya hanya mengatakan ini kepada orang yang benar-benar menerima kalo saya merindukannya dan kemudian mengatakan hal yang sama. Saya takut jika saya mencoba mengatakannya lagi, maka akan semakin banyak orang yang bepikiran bahwa saya menggilai mereka (terutama jika ini lawan jenis) dan memilih pergi.

Saya sering berusaha menjelaskan kepada banyak orang siapa dan bagaimana saya..
sebagian akan mendengarkan secara serius dan mungkin akan mencari celah yang aman jika berurusan dengan saya, sebagian lagi tidak peduli dan sisanya akan berkata bahwa saya memiliki terlalu banyak alasan untuk bertahan menjadi diri saya saat ini.

Wanna have something? ask for it...
suatu kali di masa kejayaan pertemanan komunitas, saat saya dan teman-teman sering menghabiskan malam bersama, saya pernah meminta tolong dijemput karena hujan. Dan sambil tertawa-tawa, teman saya bilang kalau rumah saya kejauhan. Malam itu saya tidak kemana-mana. Tapi rasanya menyakitkan sekali mengetahui keesokan harinya bahwa teman saya yang rumahnya lebih jauh dari saya dijemput. dan saya kemudian mulai takut meminta..takut ditolak tepatnya


Lately i realized that i've treated people just like how i want them treat me..
but still, I forgot that they are not me and I couldn't pleased everyone

 Life supposed to be simple.. but I am the complicated one




2 komentar:

dinantonia mengatakan...

"Life is supposed to be simple, but I'm a complicated one."

Thanks for writing this. I can really relate to it, and I'm glad there is someone who feels the same way.

Hesty Wulandari mengatakan...

Hai dina,
so surprise seeing someone like an my absurd post like this. but I do feel so glad reading your comment.
I, and might be you too has wasted most our time just to guess whether people like me or enjoy how i treat them..and at the end, i know sometimes they like, sometimes they dont like..and everything will always be like that..

Thank u for stopping by :)
so, i wanna start to not trying much pleasing everyone..
it is me, mwho need to be pleased by myself