Rabu, 26 Maret 2014

Ketika Mimpi-Mimpi Diaminkan.. Cerita dari LLD 2014 Akademi Berbagi

Our Dream Board- Photo by Gallant YP

Pernahkan membayangkan sebelumnya bahwa suatu hari anda akan berada di suatu meja dengan 5 orang tidak pernah anda kenal sebelumnya dan kemudian mereka menjadi orang pertama yang mengaminkan mimpi yang anda tulis hari itu? Saya tidak pernah. Namun kemudian saya merasa beruntung sekali bisa mengalaminya. Siang itu, Ada 7 orang di meja yang sama dengan saya dan ada 190 an orang lainnya di meja lain yang berbeda yang bergantian membacakan mimpi mereka dan pada saat bersamaan ada beratus kali kata Amin terucap di udara. Seakan mimpi dan nyata itu sejengkal adanya..

Hari ini saya melihat postingan Yani di twitter tentang keinginannya untuk berkeliling Indonesia.Tweet ini ia buat untuk membalas tweet sebuah akun pencarian harga tiket pesawat yang mempromosikan keindahan Indonesia.  Saya kemudian membalas tweet tersebut dan mengingatkan Yani bahwa kami pernah mengaminkannya mimpinya untuk berjalan-jalan keliling Indonesia dan Dunia bersama kedua orang tuanya disuatu sesi bermimpi dikelas tiga pijar hampir 3 minggu yang lalu di salatiga. Saya terharu menuliskannya dan dia mungkin juga begitu. 

Saya dan Yani berkenalan disebuah meja yang bertuliskan nama kami dan enam orang lainnya sebagai satu kelompok dalam sebuah kelas tentang pengembangan diri sendiri yan
g dibawakan oleh orang-orang hebat pencapaian kerjanya sangat luar biasa di perusahaan riset kelas dunia. Hari itu, ada tiga sesi yang kami pelajari, mulai dari mengenal diri sendiri, bermimpi hingga memetakan perjalanan pencapaian mimpi tersebut. Sesi tersebut merupakan sesi hari kedua dari rangkaian 3 hari peningkatan kualitas saya dan 190an orang lainnya yang tergabung sebagai relawan dalam komunitas akademi berbagi yang tersebar di 34 kota diseluruh Indonesia. Acara tiga hari untuk masa depan yang lebih baik ini disebut dengan Local Leaders Day (LLD). Akademi Berbagi sendiri merupakan komunitas berbagi pengetahuan yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan berbagai ilmu tanpa terikat ruang kelas dan waktu bahkan biaya. Saya sendiri bergabung di akademi berbagi Pekanbaru, yang baru berdiri September 2013 yang lalu.

Semua sesi disampaikan dengan sangat baik dan sangat menyenangkan. Tidak terbayangkan oleh saya berapa yang harus saya bayar jika saya mengikuti training semacam itu. Namun sesi yang paling saya berkesan bagi saya adalah sesi bermimpi. Ini bukan cerita tentang mimpi yang saya tulis, tapi cerita tentang dengan siapa mimpi tersebut saya bagi. 

Awalnya, masing-masing kami diminta untuk menceritakan mimpi kami kepada teman sebelah, yang selama acara disebut patner. Patner saya kemudian akan menuliskan mimpi yang diceritakan dan bergantian pula saya akan menuliskan mimpi Afif-patner saya selama hari itu. Setelah daftar mimpi tersebut selesai, kami kemudian diminta untuk bergantian membacakannya ke teman teman satu kelompok. Ada delapan orang yang bergantian membacakan mimpinya.

Hampir semua kami bermimpi untuk membahagiakan orang tua; entah dengan cara menghajikan, mengajak jalan-jalan atau membelikan rumah. Ada mimpi untuk berjalan-jalan keliling Indonesia bahkan ke luar negri, baik sendiri ataupun bersama orang tuanya . Ada yang bermimpi untuk mendirikan sekolah gratis bernuansa alam, ada yang ingin meraih piala oscar dan ada yang bercita-cita untuk sekolah lagi keluar negri seperti saya. Saya dan dua perempuan lainnya di kelompok itu juga menuliskan mimpi tentang finding our own Mr. Right and live happily ever after:). 

Tanpa disadari, ada banyak mipi yang serupa, ada banyak impian yang saya pkir hanya mimpi pribadi yang ternyata juga dimiliki oleh orang lain. Rasanya seperti menemukan teman bermimpi. Saat pembacaan mimpi tentang orang tua merupakan bagian paling emosional. Ada yang terbata-bata membacakannya dan ada pula yang membacakannya sambil menangis. Dan mata sayapun juga berkaca-kaca dan tak lama kemudian ikut menangis. Bagi sebagian orang mimpi itu bersifat pribadi, tidak untuk dipublikasikan. tapi hari itu, saya tidak menyesal membacakan mimpi-mimpi pribadi saya, begitupun saya rasa dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Disetiap meja, saat setiap mimpi dibacakan, ada tujuh suara yang secara bersamaan dan terus menerus melafazkan amin.  Sampai kemudian kami sudah tidak lagi mengetahui mimpi siapa yang barusan kami aminkan. 

Siang itu saya tidak berhenti merinding.

Rasanya mimpi saya menjadi dekat dan mudah hanya karena dukungan 5 orang yang baru saya kenal hari itu lewat sepotong kata yang terdiri dari empat huruf AMIN.Tapi empat huruf dalam satu kata itu saya tahu persis diucapkan dengan tulus, bahkan sebagian ditambahkan dengan doa dan kata-kata penyemangat. Itulah yang membuat saya rasanya menyesal hanya menuliskan 7 saja mimpi yang saya punya. Saya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak lagi dukungan dan doa yang tulus untuk mimpi yang saya punya.

Lagi-lagi saya merasa beruntung telah menjadi satu dari 199 orang yang berkesempatan untuk diperbaiki kualitasnya. Dan saya merasa sangat jauh lebih beruntung karena saya bisa berbagi mimpi dengan teman-teman baru..meskipun saya tidak pernah mengenal mereka secara dekat sebelumnya.

Hari itu, saya dengan senang hati ikut mengaminkan sekian ratus mimpi yang terucap karena saya tahu bahwa ada beratus orang juga yang mengaminkan mimpi saya meski tidak semua pernah mendengarkannya.


Sabtu, 22 Maret 2014

Simply Life and Complicated Me

Beberapa kali menemukan gambar ini di akun Pathnya teman-teman saya. Kadang postingan sendiri kadang memposting ulang dari postingan temannya. Saya seringkali melihatnya sepintas lalu. membaca dan kemudian tersenyum. Tapi hari ini saya sendiri yang mempostingnya ke akun path saya.

Sedang menghadapi hari-hari yang berat belakangan ini. Mulai dari kejambretan tas ketika akan berangkat ke kampus dan kehilangan semua isinya. Sempat berada dalam fase shock hingga fase trauma pulang malam padahal kejadiannya siang hari. Terlalu banyak orang yang menganggap musibah saya sebagai kelucuan sehingga merasa berhak menertawakannya. Sebagian lagi sibuk berkomentar bahwa saya terlalu ceroboh, sudah seharusnya menikah dan tak sendiri atau saya kurang sedekah. Satu-satunya lelucon yang bisa saya terima ketika kehilangan motor dua bulan sebelumnya adalah dari bapak yang mengatakan bahwa yang mengambil motor saya sesungguhnya merugi karena sudah jelek. Dilanjutkan dengan kabut asap di Pekanbaru dan saya harus memperpanjang perjalanan saya dan terakhir cerita ttg masalah yg menimpa orang tua saya. Kekuatan saya runtuh sore ini..dalam beberapa karakter pesan yang dikirimkan oleh seorang teman.

I wish in life and in my life everything can be said as easy as the words above..
 setidaknya dengan bicara, ada banyak hal yang tersampaikan.. I've tried many times and Failed

Beberapa tahun yang lalu, ketika pertama kali masuk kerja dengan lingkungan yang sangat asing bagi saya, banyak hal menjadi sulit untuk dikatakan. Sebagian karena saya merasa takut melukai hati orang lain dan sebagian karena saya takut dinilai buruk. Alhasil kinerja saya memburuk. Saya merasa sudah bekerja dengan baik tapi menurut teman-teman sekantor saya tidak begitu. Alhasil masa percobaan saya ditambah 1 bulan. Hari itu, bos saya memanggil saya ke ruangannya dan mengatakan hasil penilaian teman-teman saya. Saya menangis. Merasa gagal. Tapi hari itu bos saya mengutakan saya dengan mengatakan bahwa saya hanya perlu memperbaiki diri sedikit lagi. Saya berterima kasih padanya. Hari itu ia menjelma bagai dewa dimata saya padahal adslinya beliau adalah salah satu sosok menakutkan di kantor.

Saya tidak suka dinilai orang apalagi dinilai buruk. well, everybody does. Lebih buruknya lagi, saya bisa sangat terpengaruh dengan segala penilaian dan penyampaian yang diutarakan orang lain tentang saya. Meski tidak semuanya benar dan meski tidak semuanya perlu didengar. Tapi saya tidak jago memilah dalam urusan ini. Saya rasa saya menuruni karakter yang sama dari ibu saya. Selain itu, sepertinya pengalaman sepanjang hidup saya yang dikelilingi oleh banyak orang sok tahu yg suka memberikan penilaian tentang fisik saya sesuka mereka tanpa mendengarkan jawaban saya mempengaruhi karakter saya sekarang.

Mungkin saya terlalu sering menempatkan orang lain pada posisi saya sehingga banyak hal diatas sana sering tidak saya lakukan.

Saya senang kalau ada yang mengatakan pada saya kalau dia rindu pada saya... tapi seringkali saya yang mengatakan kepada orang dan sebagian tidak menyukainya. Jadi saya hanya mengatakan ini kepada orang yang benar-benar menerima kalo saya merindukannya dan kemudian mengatakan hal yang sama. Saya takut jika saya mencoba mengatakannya lagi, maka akan semakin banyak orang yang bepikiran bahwa saya menggilai mereka (terutama jika ini lawan jenis) dan memilih pergi.

Saya sering berusaha menjelaskan kepada banyak orang siapa dan bagaimana saya..
sebagian akan mendengarkan secara serius dan mungkin akan mencari celah yang aman jika berurusan dengan saya, sebagian lagi tidak peduli dan sisanya akan berkata bahwa saya memiliki terlalu banyak alasan untuk bertahan menjadi diri saya saat ini.

Wanna have something? ask for it...
suatu kali di masa kejayaan pertemanan komunitas, saat saya dan teman-teman sering menghabiskan malam bersama, saya pernah meminta tolong dijemput karena hujan. Dan sambil tertawa-tawa, teman saya bilang kalau rumah saya kejauhan. Malam itu saya tidak kemana-mana. Tapi rasanya menyakitkan sekali mengetahui keesokan harinya bahwa teman saya yang rumahnya lebih jauh dari saya dijemput. dan saya kemudian mulai takut meminta..takut ditolak tepatnya


Lately i realized that i've treated people just like how i want them treat me..
but still, I forgot that they are not me and I couldn't pleased everyone

 Life supposed to be simple.. but I am the complicated one




Rabu, 19 Maret 2014

Bapak

http://www.happyfatherday2013.com
Jam 10 malam dan kakak saya baru selesai bercerita di telepon. Saya masih memulihkan diri setelah perjalanan panjang selama 11 hari ke Jawa dan telepon darinya barusan berhasil membuyarkan istirahat saya. Malam ini kami berbicara tentang situasi terkini yang dihadapi oleh orang tua kami. Sebelumnya saya dan saudara-saudara saya hanya mengetahui sedikit tentang masalah yang menimpa orang tua kami tapi belum mengetahui semua. Saya tidak bisa menceritakan dengan detil apa yang dialami orang tua saya. Yang jelas semua berurusan dengan pekerjaan bapak saya dengan pihak ketiga dan melibatkan sejumlah uang yang nilainya tidak kecil. Semenjak kejadian itumenimpa beliau, bapak  tidak berani mengangkat kepalanya. Beliau kehilangan sinar dan kharismanya, mungkin juga harga dirinya. Berbulan-bulan setelah peristiwa ini terjadi beliau berusaha menyembunyikan semua hanya agar ibu kami tidak mengetahuinya. Ibu saya menderita diabetes dan akan sangat mudah terpengaruh kadar gulanya oleh masalah-masalah seperti itu.

Malam ini saya jadi ingin menulis tentang Bapak. entah mengapa saya ingin menggunakan kata-kata itu dipostingan kali ini. Saya biasa memanggil beliau dengan sebutan papa dan menuliskan nama beliau di hp dengan sebutan papi. Sudah beberapa kali saya menulis tentang bapak dalam postingan blog saya. pengganti ungkapan saya yang tak terucapkan hanya karena saya dan saudara-saudara saya tidak terlalu pintar mengekspresikan rasa sayang dan bangga kami kepada beliau. Bahkan setelah kuliah jauh pun dan saya mulai membiasakan diri untuk mencium tangan dan memeluk beliau ketika pulangpun, bapak masih kikuk. Bertahun dalam masa tumbuh saya sebagai seorang anak, bapakpun jarang memuji saya didepan saya secara langsung.Beliau hanya akan berkomentar pendek seperti :"biasa saja" jika saya mendapat prestasi. Tapi saya tahu bahwa bapak akan menceitakan tentang kami anak-anaknya bergantian kepada orang lain. tergantung prestasi apa yang kami punya pada saat itu. setelah waktu berjalan tanpa henti, Bapak kemudian menjadi pria yang menjabat tangan pria-pria lain yang akan mengambil tanggung jawab atas anak-anak perempuan yang ia besarkan. dan kemudian menjadi kakek yang menyenangkan bagi keempat cucu laki-lakinya. dan kemudian beliau mulai bercerita tentang cucu-cucunya kepada orang lain.

Hingga hari ini, ketika masalah itu datang kepada keluarga kami, bapak masih tetap menjadi orang yang membanggakan dimata saya. Beliau tidak sempurna. Ada banyak kesalahan yang beliau punya termasuk yang sering saya rasakan dulu sebagai anak. Tapi melihat bapak saya menjadi lebih kurus dari yang biasa kami lihat, dengan kerutan disekitar mata yang semakin terlihat dan bintik hitam dikulit yang semakin banyak, saya merasa bahwa semua yang telah bapak lakukan untuk kami anak-anaknya tidak pernah salah.

Saya teringat ketika mengalami kecelakaan motor hampir tiga tahun yang lalu, bapak menelpon saya dengan nada khawatir yang jika didengar orang lain mungkin ditafsirkan marah. Beliau melarang saya untuk keluar malam lagi setelahnya. dasarnya saya bandel, hingga hari ini saya masih sering punya kegiatan hingga larut malam. Begitupun ketika motor saya hilang dua bulan yang lalu, bapak dengan entengnya bilang bahwa motor saya sudah jelek begitu ternyata masih disukai maling. saya lega karena tidak dimarahi.

Bertahun-tahun bapak membanting tulang sebagai kontraktor listrik rekanan PLN yang proyeknya tahun ini dengan bayaran tahun depan hanya agar kami bisa memiliki rumah yang layak untuk ditinggali dan bisa sekolah setinggi mungkin. Pada masa sulit, bapak akan mengajak kami hanya berkeliling kota dan membeli kacang rebus dan duduk di pantai. Jika masa senang tiba, beliau akan pulang ke rumah dengan aroma martabak mesir dan mie goreng yang disembunyikan di mobil. Sekali-sekali beliau membelikan kami makanan aneh-aneh yang beliau sendiri tidak ingin memakannya seperti ayam goreng KFC atau pizza hut hanya agar kami bisa ikut bercerita jika teman kami bercerita ttg hal tersebut.

Saya kemudian berpikir tentang maksud semua hal yang menimpa orang tua saya justru setelah mereka mulai pensiun. Somehow, kita mungkin memilih untuk tidak berhadapan dengan masalah-masalah yang tidak kita inginkan. siapa sih yang suka hidup dengan masalah. Apalagi masalah ini muncul justru disaat orang tuanya teman-teman saya sudah mulai slow down menikmati hidup, bergantian tiap sebentar mengunjungi anak-anaknya, pergi umrah setiap kali mereka ingin, atau membeli kendaraan baru. Hingga hari ini bapak dan ibu saya masih mencangkuli sawah dan ladang warisan di kampung kami untuk hidup menunggu kelapangan rezeki agar bisa dipanggil ke tanah suci dan masih memakai mobil pick up tua untuk menjemput saya ke jalan raya diluar kampung ketika pulang. Mungkin bukan kondisi terbaik yang ingin saya lihat sebagai anak, pun masalah yang dialami beliau belum berkurang sedikitpun tapi mungkin kondisi terbaik yang bisa beliau miliki.

 Jika teringat pada besarnya permasalahan yang harus diselesaikan oleh bapak, saya merasa tidak berarti apa-apa. Jika saya yang menjadi beliau, mungkin saya sudah melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Tapi beliau tidak. Bapak hanya berbicara lirih sekali ditelepon dengan kakak saya satu kali untuk mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Beliau masih berangkat ke sawah tiap pagi dan masih minum kopi di warung bersama para petani sebelum mulai bekerja. Bapak masih menjadi solusi banyak orang di kampung kami untuk permasalahan mereka meskipun beliau belum menemukan solusi untuk masalahnya sendiri

Seberat apapun masalahnya pak, kita akan lalui bersama-sama..
seperti dulu, saat bapak mengusahakan uang kuliah, tiket pesawat dan laptop agar saya bisa kuliah sebaik orang lain..

salam sayang dari Pekanbaru

Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami