Selasa, 14 Oktober 2014

Tentang (Tidak) Memaafkan


Ketika putus dengan mantan terlama, Saya membutuhkan waktu kurang lebih 4 tahun untuk bisa kembali berkomunikasi dengannya. Bukan hanya betapa sulitnya memaafkan semua yang telah terjadi pada akhir cerita kami tapi juga karena begitu sulit bagi saya melupakan semuanya begitu saja. Empat tahun kemudian, setelah komunikasi dibuka kembali, ia (si mantan) berujar kalau ia sudah siap kalau saya tidak memaafkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan pada saya. Karena ia tahu bahwa ia luka yang ia torehkan di hati saya teramat dalam.. 

Selama ini, saya selalu berpikir setiap luka yang kita punya yang disebabkan oleh orang lain akan sembuh jika kita memaafkan semua yang telah terjadi, entah itu kejadiannya atau orang yang melakukan. Tapi kemudian, ketika mengalaminya sendiri, saya jadi tahu bahwa ternyata luka saya tidak pernah benar-benar sembuh karena sebuah kata memaafkan yang keluar dari mulut saya. Ternyata memaafkan memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi mungkin iapun tidak benar-benar sulit. Yang sulit itu adalah melupakan semua yang telah terjadi sehingga meskipun kata maaf dan berdamai dengan keadaan sudah terucap dari mulut, belum tentu disetujui oleh hati.

Hingga kemaren saya membaca postingannya pashatama tentang memaafkan. 

Lagi-lagi diawal membaca, saya berpikir bahwa saya akan diseret kedalam argumentasi yang sama dengan yang ada dalam pikiran saya selama ini, bahwa memaafkan akan menjadi obat bagi hati saya yang luka. Tapi ternyata saya salah. si mba shasy itu pada intinya menulis bahwa, its okay not to forgive someone or something for whatever the reason is..and.. Masa bodoh dengan energi positif yang tersumbat itu tadi. Kalau dengan tidak memaafkan membuat kamu merasa lebih baik, so what. Just walk away, do anything that will make you feel better. Thats what life is about.

Setelah membaca postingan itu, entah mengapa saya merasa sangat lega. 

Hampir 5 bulan saya terperangkap dalam situasi yang membingungkan karena perihal memaafkan. Hampir lima bulan juga hati saya tidak sembuh-sembuh karena luka yang ditorehkan oleh beberapa orang pada hati saya dan itu dalam. To be honest, saya belum mampu dan belum mau memaafkannya. Karena setiap kali saya melihat dan mendengar apapun terkait semua kejadian selama 5 bulan belakangan ini, luka saya berdarah lagi. Hampir selama itu pulalah saya dinasehati banyak orang untuk bisa memaafkan yang sudah terjadi. Mungkin karena bukan mereka yang mengalami, atau mungkin karena mereka telah mengalami

Well, actually everything is always easier when it is said than when it is done until it happened to you..

Saya masih belum bisa memaafkan orang-orang yang membuat saya berkali lipat terlihat lebih bodoh dimata banyak orang hanya karena saya tidak menguasai hal yg mereka kuasai. Saya masih belum bisa memaafkan dan melupakan semua scene yang menjatuhkan harga diri saya dimata banyak orang hanya karena saya tidak tahu dan saya tidak pernah lupa dan belum bisa memaafkan betapa sakitnya  hati saya ketika dipermalukan didepan banyak orang lewat sebuah forum hanya karena saya tidak sekeren orang setelah saya. 


Dan ternyata...
its ok not to forgive...
maybe its not to, its just not yet
But if I don't want to..

Then Its ok

as ok as to take sometime to heal my pain

Thanks a lot mba Sashy 
You made up my day..


Senin, 29 September 2014

Belajar Menghargai Makanan di Film Tabularasa

Mungkin jika kita bertanya kepada sekelompok orang di negara ini tenang siapa yang tidak suka masakan Padang, mungkin hanya beberapa dari sekian banyak orang yang ditanya yang akan mengangkat tangannya. Sebagai orang minang, tentu saja saya lahir dan besar dengan masakan minang, yang lebih dikenal dengan makanan Padang kalau diluar Sumbar.

Sebut saja sambalado, dari kecil saya sudah akrab dengan berbagai macam jenis sambalado khas minang seperti sambalado uok, sambalado mudo, sambalado matah sampai ke sambalado tanak. Bukan orang minang jika makan tanpa cabe. Selain sambalado, hampir setiap hari menu di rumah kami ada yang balado. Balado sendiri berbeda dengan sambalado. Balado artinya memakai cabe goreng; Ba ; memakai atau dengan atau diberi , Lado : cabe keriting; baik merah atau hijau. Jadi kalau menemukan menu ayam goreng balado di RM Padang, makan itu artinya ayam goreng yang memakai atau diberi cabe goreng. Menu utamanya adalah ayam goreng, cabenya sendiri adalah pelengkapnya. Sementara di sambalado, cabenya yang menjadi pusat perhatian, item seperti teri, pete atau jengkol adalah pelengkapnya. 

Siapa yang menyangka kalau masakan yang terlihat sederhana itu sebenarnya membutuhkan cara masak yang sangat tidak sederhana?. Dan saya mengetahuinya sedari kecil sewaktu "dipaksa" mama untuk belajar memasak; menggiling cabe, memeras santan, menanak nasi hingga belajar mengenali aroma cabe goreng. Saking tidak sederhananya proses membuat makanan balado, saya harus bolak balik ke kamar mandi merendam tangan saya yang kepanasan akibat menggiling cabe hingga bersin-bersin didepan kuali saat menggoreng cabe

Memori itu yang kemudian berputar di kepala saya saat saya menonton Film Tabularasa minggu lalu, film Indonesia pertama yang menjadikan makanan sebagai metafora dari nilai-nilai yang ada pada sepiring hidangan yang kita makan setiap harinya. 

Secara tidak langsung, film ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai makanan yang biasa kita makan. Banyak penikmat masakan Padang yang mungkin tidak tahu bahwa untuk mendapatkan sebungkus nasi Padang yang panas mengepul dengan aroma daun pisang, kuah santan dan sambalado perlu sebuah proses panjang, seperti yang dilakukan oleh Amak, bangun dini hari, belanja ke pasar dan memilih bahan-bahan terbaik, duduk ber jam-jam didepan tungku berjelaga hingga ia bisa terhidang. Begitupun banyak orang yang tidak tahu bahwa ada banyak filosofi yang tersimpan dibalik sebuah hidangan.  Memasak rendang misalnya, memiliki filosofi kesabaran karena proses memasaknya yang lebih, hampir 4 jam. Selain lama, rendang harus dirasakan cara memasaknya, tidak boleh kurang atau berlebihan pengadukannya. Atau mungkin filosofi yang tersimpan dibalik pemilihan bahan baku yang harus cermat; lebih baik membeli yang bagus meskipun mahal daripada menang membeli yang murah tapi menurunkan mutu karena bagi orang Minang, Rasa itu no 1

Bukan hanya sarat nilai yang ternyata sering kita lewatkan dari hal-hal sederhana seperti yang saya ceritakan diatas, film Tabularasa juga mengajarkan kita bagaimana menghadapi hidup setelah menghadapi kegagalan, belajar untuk tidak menilai orang dari tampilan luarnya saja atau berdamai dengan masa lalu. Abaikan bahwa alur cerita dibagian awalnya berjalan sangat lambat atau proses masak memasaknya yang agak kurang banyak, film Tabularasa memang layak untuk ditonton karena aman untuk segala usia, tidak ada adegan yang membuat kita harus berpikir ulang untuk membawa anak-anak ke bioskop, pengambilan gambar untuk proses masak memasaknya keren sekali, sehingga sepanjang film perut tidak mampu menahan rasa lapar. Selain itu dialog yang menggunakan bahasa minangnya juga bagus, tidak dibuat-buat dan dialog dengan bahasa Papuanya mampu memancing tawa.

Hanya saja, film ini memiliki after effect yang tidak menyenangkan, yaitu rasa lapar dan rasa ingin makan nasi Padang yang tak tertahankan, sehingga tidak disarankan untuk menontonnya dalam keadaan perut kosong dan akan lebih baik jika posisi bioskop berdekatan dengan Rumah makan Padang:) 

Yang belum tau film Tabularasa, bisa cek trailernya dibawah ini




Rabu, 17 September 2014

Jadi Kapan Aku dan Kau bertemu di KUA?


Kadang, ada banyak orang juga yang merasa bahwa punya hubungan dalam hitungan tahunan akan menjamin mereka akan berakhir di pelaminan padahal masa depan bukan kita yang punya. Padahal, satu menit menjelang akad nikah, segala bayangan manis tentang seakan hidup mendatang dapat kutempuh denganmu bisa saja buyar hanya karena sepenggal cerita masa lalu

Kadang banyak orang tidak mengerti mengapa ada perempuan pada umur tertentu belum juga menikahdan malah terus mengejar sekolah dan karir. Dan tetap saja ada orang-orang yang tidak akan pernah bosan membicarakan dan bertanya, entah itu terang-terangan atau hanya sekedar bisik-bisik dibelakang. Bisik-bisik dan pertanyaan yang kemudian membuat banyak orang melakukan perubahan dalam dirinya hanya agar ia terlihat dimata lawan jenisnya.. 

Sama seperti yang dialami Suci, Mona dan Fira, ketiga tokoh utama dalam film Aku Kau dan KUA yang saya tonton siang tadi`

Suatu kali dimasa kuliah, saya jatuh cinta pada abang angkatan saya yang aktivis dakwah kampus. Ia menjadi magnet saya untuk kemudian belajar memakai rok, berjalan dengan lebih ayu dan berbicara dengan lebih santun. Saya teringat apa yang dikatakan oleh kakak tingkat lainnya saat itu kepada saya : " Untuk bisa mendapatkan suami yang shleh, maka kita harus jadi perempuan sholeh dulu. karena laki-laki baik-baik adalah untuk perempuan baik-baik" 
Saya langsung tertunduk dan tertusuk. Dalam waktu sekejap saya mentransformasi diri dalam balutan keanggunan seperti yang diinginkan oleh banyak laki-laki sholeh seperti abang itu. Dan ternyata, si abang itu tidak menikah dengan saya. saat itu saya merasa menjadi Mona, yang merasa bahwa dengan perubahan drastisnya, akan berdampak drastis pada masalah jodohnya

6 tahun yang lalu, saya hampir saja akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan dengan seorang pria, sayangnya sebuah cerita masa lalu dari si Pria itu membuyarkan segalanya. Saya fikir kehancuran hati saya pada saat itu mungkin hanya sedikit saja dibawah kehancuran hati Fira yang gagal menikah hanya beberapa saat sebelum akad gara-gara sepenggal cerita masa lalu dari calon suaminya. 

Setelah umur 25 dan 27 berlalu dan setelah bekerja menjadi dosen, pertanyaan "kapan menikah" atau "kapan menyusul?' menjadi langganan untuk saya jawab. Belum lagi tuduhan-tuduhan sepeti : "jangan terlalu memilih" atau "jangan sekolah tinggi-tinggi nanti laki-laki pada takut" atau " jangan terlalu sibuk berkarir" atau " mau nikah kapan lagi? ntar keburu tua"
Saya bisa merasakan perasaannya Suci, yang tidak henti diberondong oleh pertanyaan dan komentar serupa

 Dan saya rasa, ada banyak orang yang sudah atau akan menonton film ini merasakan perasaan seperti yang saya rasa. 

Jika tidak ada ayat Al-Quran di bagian pembuka dan penutup, mungkin akan banyak orang yang tidak paham bahwa ada syiar agama dalam film ini. Film Aku, Kau dan KUA dibuat sangat mengalir dan menghadirkan serta nilai-nilai keislaman dengan cara yang sangat halus. Film ini mengajak (bukan mengajarkan) orang-orang muda terutama untuk taaruf dan kemudian menikah (di KUA)  saja jika memang telah menemukan orang yang dirasa tepat. 

Bahasa syiar dan dakwah yang dipilih sangat mudah dicerna dan digambarkan dengan cara yang sederhana tanpa kehilangan makna. Seperti pada scene bagaimana Deon melakukan presentasi tentang dirinya diawal proses taaruf di rumah Fira serta bagaimana film ini menjawab beberapa pertanyaan yang seringkali ditanyakan orang seputar taaruf; apakah masih boleh bepergian berdua, apakah mungkin menikah tanpa pernah jatuh cinta terlebih dahulu pada pasangannya, dsb. Scene itu juga yang paling banyak mengundang tawa diantara para penonton bioskop siang ini.  

Selain itu, saya "jatuh cinta" pada akting para pemainnya juga sangat natural, adanya iklan dan bahasa kekinian yang diselipkan tanpa membuat kita mengernyitkan muka. Ada banyak sindiran yang membuat kita tertawa dan tertohok pada saat yang bersamaan. Semua terasa sangat dekat dengan keseharian (saya) kita. 

Tapi yang saya rasa patut diacungi jempol adalah  tokoh Pepi yang kocaknya menghidupkan film ini. Saya siy sibuk menebak-menebak bahwa aksen yang dipakai si Pepi adalah aksen Pekanbaru yang sedikit bias dengan aksen batak. Mungkin karena penulis bukunya orang pekanbaru? ya bisa jadi:)

Terus terang, saya sendiri sangat berterima kasih pada film ini karena telah mampu menggambarkan perasaan hati saya sebagai wanita lajang usia 30an yang masih ingin sekolah tapi juga mulai capek menjawab pertanyaan kapan nikah:). Saya pikir ada banyak wanita lain juga yang merasa pikiran dan keinginannya tersampaikan dengan baik lewat film ini, terutama jika setelahnya para pria yang duduk disebelah mereka di bioskop tadi siang berkata :'merit yuk?' setelah film usai, seperti yang saya dengar di pintu keluar:)





Rabu, 09 Juli 2014

9 Juli..

Tanggal 9 Juli 2014. Hari ini pemilihan umum dalam rangka memilih calon pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan berlangsung. Setelah berhari-hari timeline dipenuhi oleh bermacam ragam berita, puja puji hingga caci maki calon presiden pilihan hati masing-masing kubu. Untuk pertama kalinya sejak saya boleh ikut pemilu, saya tidak bisa ikut memilih. Akibat dinas luar kota, saya ga sempat mengurus form A5. Hari ini saya nekat datang ke TPS dan kertas suara sudah habis. Jumlahnya tidak sesuai dan tidak mengantisipasi gelora masyarakat untuk menjadi bagian dari sejarah negara ini.

Tanggal 9 Juli 2014. Hari ulang tahun Akademi berbagi ke 4. Saya sudah ikut serta meramaikan timeline dengan cerita saya sendiri saat bergabung di akber chapter Pekanbaru. Ikut bergembira atas capaian umur dan jangkauan kota yang semakin banyak namun sekaligus sekelebat sedih menjalar karena hampir 3 minggu yang lalu saya mengundurkan diri jadi relawan akber di kota saya. So, pada ulang tahun yg ke 4 ini, saya (hanya pernah) menjadi bagian dari keluarga besar ini. 

Apa kesamaan pilpres kali ini dengan kegiataan volunterring seperti akademi berbagi?

Kesamaannya adalah keduanya adalah, ia lahir dari keinginan untuk melakukan dan mengalami perubahan.
Ada banyak orang yang menjadi relawan capres yg mereka dukung tanpa dibayar sepeserpun, malah sebaliknya menyumbang banyak tenaga, uang dan pikiran, mulai dari berkampanye dengan akun sendiri di media sosial, membuat lagu, video klip, hingga menyumbang uang . Banyak orang yang melakukan hal tersebut dengan sadar, semata-mata karena mereka ingin kehidupan yang lebih baik untuk anak cucu mereka kelak. Sama halnya dengan yg terjadi di akademi berbagi. Gerakan dimulai oleh satu-dua orang yang berpikir bahwa ada banyak kesempatan belajar yang seharusnya bisa dinikmati banyak orang. Tidak ada yg digaji dalam gerakan ini. Semua dibayar dengan sesuatu bernama rasa senang.

Tapi gerakan perubahan ternyata tidak mudah. Menjadi pendukung salah satu dari dua capres yang muncul ke permukaan tidaklah mudah. Apalagi jadi capresnya sendiri. Menjadi pendukung salah satu capres saja bisa menyebabkan kehilangan teman, apalagi menjadi presidennya. Tidak semua orang bisa melakukannya dan tidak semua orang yang bisa menjadi pemimpin mau mengambil resiko tersebut. Maka, yang dibutuhkan untuk membuat yang memiliki kemampuan jadi mau melakukan suatu langkah besar adalah dukungan..apapun bentuknya; diberitahu, diberi masukan bahkan kritik. Toh pemimpin bukan dewa. Iwan fals bilang, ia hanyalah manusia setengah dewa. Artinya, perlu setengah dewa lagi untuk menjadikannya sempurna

Di Akademi berbagi, setiap relawan diberikan atau bahkan harus diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin yang biasa disebut kepala sekolah, secara bergiliran. Agar masing-masing bisa melatih kemampuan kepemimpinan mereka masing-masing. Selain itu, pergantian posisi memungkinkan seseorang untuk bisa merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan pemimpin sebelumnya. Yah, kadang memang melihat dan berkomentar untuk sebuah permainan seperti main bola terasa begitu mudah, padahal jika menjadi pemain, kita belum tentu tahan. 

Disetiap gerakan untuk kebaikan, diperlukan cara-cara kebaikan pula, agar semua maksud bisa tersampaikan dengan baik dan bisa diterima dengan baik pula. Benang merah dari dua hal besar yang terjadi hari ini adalah siapapun yg kita pilih hari ini bisa menang dan juga bisa kalah. Tapi jika ia ditahbiskan jadi pemimpin, maka sudah selayaknya kita mulai belajar menghormati, bukan karena kita suka atau tidak pada sosoknya melainkan karena ia telah berani mengambil resiko atas hal besar yang kita sendiri belum tentu mampu melakukannya..


Selamat untuk perubahan di negeri kita..semoga menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik di masa yang akan datang

Selamat ulang tahun ke 4 akademi berbagi

Rabu, 25 Juni 2014

Mari mampir, makan dan berbincang di Kedai Ketjil

Malam ini saya singgah disebuah tempat makan baru bersama empat orang mahasiswa saya dulu. Tempat yang kami kunjungi ini bukan restoran, hanya sebuah dapur kecil portable diatas sebuah sepeda motor yang sekaligus gerobak. Di barat sana, orang menyebutnya food truck. 

Lagi-lagi kita memang harus berterima kasih pada teknologi, yang memungkinkan kita melihat dan meniru perkembangan dunia luar sana tanpa bergerak sedikitpun dari depan TV. Sejak berlangganan TV kabel hampir setengah tahun yang lalu, saya seringkali menghabiskan waktu didepan tayangan seputar makanan; mulai dari wisata kuliner, jelajah pasar hingga masak memasak. Dan ada satu tayangan berjudul eat street yang memperkaya saya dan (mungkin orang lain) dengan ide-ide menarik tentang berjualan makanan di jalanan Amerika dan Kanada. 

Mungkin itulah yang menginspirasi tempat makan yang saya datangi malam ini. Namanya Kedai Ketjil. Menurut saya siy, konsep kedai ketjil tidak sepenuhnya berupa food truckmelainkan gabungan dari food truck dan angkringan. Atau dengan kata lain, sebenarnya mereka mengusung angkringan dengan konsep modern. Makanan yang dijual tidak terlalu banyak macam; beberapa varian nasi ayam, finger food dan roti bakar, namun minumannya cukup beragam, mulai dari teh hingga squash. 

nasi ayam telur asin
Malam ini, di meja kami; saya dan empat orang mahasiswa saya ada empat varian nasi ayam; nasi ayam telor asin, cabe ijo, rica-rica dan goreng mentega. Kami juga memesan beberapa varian minuman ringan, yg saya ingat cuma lime squash dan sisanya saya lupa namanya dan berakhir dengan memesan setangkup roti bakar coklat keju.

Dari keempat varian nasi ayam itu, bagi saya, ayam cabe ijonya yang paling unggul. Rasanya segar, tidak seperti ayam cabe ijo rumah makan Padang. Jeruk nipisnya terasa sekali. Sementara itu, ayam telor asinnya kurang asin dan dibawah bayangan saya ttg sesuatu dengan telur asin. Saya tadi berharap telur asinnya akan sangat melimpah dan terasa kesat sehingga akan tidak perlu menambahkan apapun pada nasinya. tapi idenya cukup bagus. tidak terpikirkan sebelumnya. hanya mungkin perlu jam terbang pembuatnya saja. Ayam rica--ricanya sangat mirip ayam balado hanya lebih pedas dan ayam goreng menteganya sangat pucat:)

Lime squash mereka tidak dibuat dengan perasan jeruk nipis melainkan dengan memadukan minuman serbuk berperisa jeruk nipis dan soda dengan rasa jeruk nipis. Mereka juga memadukan minuman serbuk tersebut dengan soda rasa lain utk menghasilkan varian yang berbeda. Kreatif

Roti Bakar Coklat Keju
Last but not least, Roti bakar coklat keju mereka sangat amat dipujikan. Rotinya tebal dan empuk dibuat sendiri dengan standar rasa ala roti bakar kopitiam. Susu kental manis coklat dipakai untuk rasa coklat sangat melimpah dan keju yang banyak melelehkan hati dan lidah. 

Tapi sebenarnya, yang menjadi highlight untuk kedai ketjil ini adalah value yang mereka bawa. Saya membaca tulisan besar  "Mari mampir, makan dan berbincang" digerobak mereka. Hal yang sudah lama terlewatkan oleh banyak tempat nongkrong baru yang bermunculan di kota ini. Sejak gadget selalu berada digenggaman dan wifi ada disemua penjuru, kita mulai lupa rasanya berbincang dan berinteraksi ditempat makan. Tak jarang saya dan banyak orang duduk berhadapan tanpa bicara tapi saling mengirimkan mention di akun social media. What an Irony

Malam ini ketika datang kesana, saya dan teman-teman semeja menghabiskan malam kami dengan bercerita banyaaak sekali dan tertawa lepas berulang-ulang. bahkan untuk hal yang tidak lucu sekalipun..like never before

Sebelum pulang, si pemilik meminta komentar saya tentang kedai mereka dan kami berbincang cukup lama. Ia mendengarkan pendapat saya dengan seksama dan bahkan mencatatnya. Senang rasanya apa yang kita ketahui bisa menjadi bermanfaat bagi orang lain. Dan lebih menyenangkan lagi mengetahui bahwa apa yg kita katakan didengarkan, meski mungkin bukan hal hebat sekalipun

Makan malam untuk 5 orang malam ini menghabiskan isi kantomg kami 103ribu tapi nilai yang kami terima berkali lipatnya:)

Visit Kedai Ketjil (@kedaiketjilpku) di depan mesjid besar di jalan sumatra. Gerobak warna merah dengan beberapa meja dan bangku disekitarnya. Jangan lupa untuk menghabiskan waktu dan makanan dengan berbincang dengan orang disebelah anda..


Senin, 09 Juni 2014

Does Size really Matter?

Saya tidak akan menulis tentang masalah ukuran dari organ tubuh seorang pria dalam postingan ini, melainkan menuliskan tentang masalah ukuran tubuh saya. Well, bagi sebagian orang, ukuran tubuh memang bukan masalah sementara bagi sebagian orang lainnya ukuran tubuh (terutama tubuh orang lain) merupakan masalah.

Bagaimana dengan saya?

Sebagai orang yang lahir dan besar dengan ukuran tubuh diatas rata-rata, saya juga sering merasa bahwa ukuran tubuh sebenarnya memang suatu masalah. Tapi yang menjadi masalah seringkali bukan gangguan kesehatan melainkan gangguan kejiwaan atau psikologis. Gangguan paling sering dialami adalah didera ketidakpercayaan diri. Masalah ejekan atau dibully sekalipun hanyalah salah satu teman bagi saya dan orang-orang dengan masalah yang sama bertumbuh. Aslinya? ada banyak hal lain yang sebenarnya mengharuskan saya dan orang-orang dengan kekurangan fisik yang lain berdamai dengannya. Toh hal-hal tersebut belum sampai membunuh kami. Just like what people say : "What doesnt kill you, makes you stronger"

Memiliki postur tubuh seperti saya tentu saja bukan hal yang benar-benar plus seperti yang dikatakan oleh para motivator dan iklan di majalah wanita, Selain itu, Sebenarnya ada banyak hal yang saya rasa menjadi kerugian akibat ukuran badan yang diatas rata-rata tadi, yang mungkin tidak selalu dirasa oleh semua orang yang berukuran besar.
1. Sulit mendapatkan baju yang sesuai dengan keinginan. 

Orang Indonesia suka tidak fair bikin ukuran. Jika memakai baju dari luar, saya tinggal memakai ukuran L atau XL bahkan kadang-kadang (banget)  M. Tapi kalo membeli baju di toko sini, maka baju saya bisa memiliki 3-5 huruf L yang berderet-deret. Yang jualan online apalagi. Baju-baju berukuran agak-besar-sedikit-saja sudah langsung diklaim sebagai baju extra size. Jika ingin mencari penjual baju ukuran besar di web, maka kata kunci yang digunakan tidak lagi menyenangkan. Kalo diluar negeri mereka cenderung menggunakan kata plus-size, maka didalam negeri, bersiaplah untuk memakai kata kunci jumbo untuk mendapatkan baju yang mungkin agak sesuai. 

Selain ukurannya yang seringkali tidak sesuai, baju ukuran besar biasanya dibuat tidak cantik dan tidak gaya. Kecuali jika kita mendapatkannya melalui factory outlet atau toko baju sisa ekspor, baru pilihan-pilihan yang menyenangkan akan keluar. Kebanyakan dari baju besar yang diproduksi didalam negri memakai terlalu banyak hiasan seperti renda-renda yang tidak pada tempatnya atau warna-warna yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya seperti kuning lemon atau hijau daun yang amat sangat terang. 

Karena baju kami menghabiskan kain yang pastinya lebih banyak, maka harganya juga sering ga masuk akal. Sebuah baju kerja ukuran besar di Mangga Dua ditawarkan ke saya IDR 300 K per helai. Untuk saya yang setiap hari memakai baju kerja berwarna-warni, harga tersebut mesti tidak masuk akal

2. Menjadi orang gemuk, akan membuat kita lebih sering terlihat selalu kurang meski punya kelebihan lain (selain berat badan) yang banyak. 

Pengalaman pribadi dari orang yang tumbuh dengan ukuran besar seperti saya mengajarkan saya bahwa saya bisa saja pintar, punya pekerjaan yang bagus, punya keahlian tertentu, pendapatan yang lumayan, tapi semua seringkali tidak terlihat karena postur. Bukan generalisasi sebenarnya hanya pengalaman pribadi. Dari dulu saya terbiasa mendapatkan kata-kata bertopeng nasihat dan masukan seperti :
" Coba ya kalo kamu lebih kurus, pasti kamu akan jadi anak berprestasi yang sempurna" 
atau 
" Wah, hari ini kamu terlihat berbeda, lebih cantik. Kurusin dikit dong badannya biar makin cantik"

Kadang suka merasa tidak fair dengan semua pujian yang bersayap. Saya pasti akan menunggu mereka menyelesaikan pujiannya dulu untuk mengetahui ujung kalimatnya biar tidak perlu merasa terhempas jauh setelah mengawang-awang tinggi. 

3. Seringkali tidak menjadi pilihan pertama
Kalo ini soal asrama dan hubungan antar lawan jenis. Memiliki tubuh besar membuat orang seperti saya harus siap untuk tidak terlihat dihadapan para pria kecengan meskipun saya tidak mungkin bersembunyi. Saya harus mengakui bahwa saya seringkali kalah telak dengan para perebut pandangan pertama. Saya baru akan bisa memenangkan hati seseorang jika sudah diajak berbicara. Saking sebelnya dengan hal ini, saya pernah menuliskan kata-kata begini di BIO twitter saya beberapa waktu silam ;
" Bukan perempuan yang akan membuat kamu berpaling saat pertama jumpa, tapi jika ini soal cinta, maka silahkan diadu"

Menjadi perempuan dengan ukuran ekstra membuat saya (akhirnya) menyadari bahwa cinta itu biasanya soal pandangan mata, yang memiliki kecendrungan untuk menikmati keindahan. Dan keindahan itu hanya milik mereka yang berukuran standar. Jadi, ya ga usah berharap untuk diajakin jadi patner pergi ke pesat, pergi jalan-jalan sebagai pasangan dll. Pun beberapa kali pernah dekat dengan beberapa pria yang mengaku menerima saya apa adanya, tetap saja permasalahan ukuran terlontar dari mulut mereka:)

Terbaca sangat menyedihkan? sebenarnya engga juga. Seperti biasa, hidup selalu punya dua sisi. Selain cerita-cerita sedih, ada banyak cerita menyenangkan yang saya alami (lagi-lagi) karena ukuran.

 1. Saya jarang sekali harus duduk berdempet-dempet di bangku tengah  kalo pergi naik mobil rame-rame. posisi saya selalu disebelah supir:)

2. Baju atau sepatu ukuran besar tidak terlalu banyak yang beli, meski suka dijual mahal, tapi juga sering didiskon besar-besaran

3.  Gampang dikenali karena ukuran dan tampilan sehingga teman-teman yg jarang jumpa pun langsung dengan mudah mengenali saya meski sudah lama tidak bertemu

4.  Dianggap mewakili kaum sukses, berduit dan bahagia dan akan sangat membanggakan kalo dibawa pulang kampung karena orang kaya dan bahagia biasanya berukuran besar

5. Meski jarang sekali menjadi pilihan pertama atau ditaksir pd pandangan pertama, orang seperti saya ternyata susah dicari penggantinya. Orang-orang berukuran besar memiliki empati yang lebih besar. setidaknya itu kata para mantan, sehingga kami juga dikelilingi oleh orang-orang penuh kasih saya

6. Jarang pusing mikirin diet dan ngitung kalori yang masuk ke tubuh. it's our lifetime matter already.  Saya jarang sekali meributkan efek satu-dua sendok eskrim berlemak yang masuk kedalam tubuh saya. Saya juga jarang sekali ogah-ogahan dalam menikmati suatu jamuan hanya karena takut gemuk. Jadilah saya bisa direkrut untuk meningkatkan selera makan orang lain serta dipercaya ketajaman lidahnya. . 

Jadi begitulah, sekelumit cerita ttg para plus size seperti saya. Jika kalian menemukan bahwa rata-rata orang bertubuh besar itu kelewat perasa, tentu kini kalian sudah tau alasannya. Dan jika kalian masih sibuk mengeluh tentang betapa buruknya kalian hari ini hanya karena satu potong kue bermentega, maka kalian mungkin sesekali perlu berjalan dengan sepatu saya:)


Senin, 26 Mei 2014

Tentang Cara

Terus terang saya suka bingung jika berhadapan dan berbicara tentang bagaimana cara seseorang melakukan sesuatu atau cara seseorang memperlakukan orang lain. Selama hampir empat tahun berada di kota Pekanbaru dan bertemu orang-orang baru, saya tak pernah berhenti berdecak dan manggut-manggut, antara kagum dan heran dengan dua hal diatas. Tapi bukan berarti semua hal tentang kota ini buruk. Ada sisi baik yang juga saya temukan satu persatu. lagipula saya tidak ingin berbicara tentang love hate relationship saya dengan kota ini.:)

Kembali soal kebingungan dengan CARA. Saya jujur saja suka bingung kalo berada dibelakang sebuah mobil bagus nan mentereng yang tiba-tiba jendelanya terbuka dan ada tangan yg menjulur keluar membuang sampah.. Duh!. satu buah sampah yg dipegang tidak akan membuat mobil bagusnya jadi mendadak jelek kan ya? lagipula, masa siy mobil sebagus itu ga punya tong sampah?

Masalah mobil bagus yang tidak punya tong sampah atau mungkin tepatnya ga punya keinginan untuk membuang sampah pada tempatnya hanyalah salah satu hal yang membuat saya geleng-geleng kepala di sepanjang jalan raya kota ini. Hal lainnya? banyak. Contohnya adalah cara orang-orang menggunakan lampu sign kendaraannya. Belok kemana pasang lampu sign kemana, bahkan pasang lampu sign tapi ga belok-belok dan sebaliknya. Alhasil, saya pernah kehilangan gigi depan gara-gara lampu sign yang tak berujung.

Saya juga suka bingung dengan cara banyak orang mencocokkan acara dengan kostum yang mereka kenakan. tiga tahun lalu, saya pernah nonton konser soundrenalin di lapangan luas banget. Yang datang sama pasangannya pada pake gaun dan sepatunya kalo bukan wedges ya high heels. Hello?  jarak dari parkirannya ke venuenya hampir 1 km lo..dan acaranya sampai lewat tengah malam.  Ya gapapa siy  tampil begitu biar cantik, asal pas pulangnya ga pake kedinginan karena acara baru selesai tengah malam dan ga merengek-rengek dengan muka cemberut karena harus menenteng sepatu dan ga mungkin digendong pacar.

Kadang banyak orang merasa dengan tampil beda akan membuat mereka terlihat sangat menonjol diantara banyak orang. Iya siy..Kadang-kadang aja tapinya. Seringnya malah engga tuh. 
Lha kebayang ga siy kalau kita kebanyakan sinar tidak akan membuat kita langsung berkilau, seringnya malah membuat orang silau. Makanya perhiasan emas dibungkus di kotak bludru polos bukan di kotak yang berkilauan juga. karena perhiasan berkilau membutuhkan latar yang gelap untuk membuatnya outstanding. 

Begitu juga hakikatnya dengan manusia

Ada banyak cara yang bisa kita pilih untuk berkilau; baik secara fisik ataupun secara kepribadian. Kalo soal fisik ga usah bingunglah. Ada banyak produk kecantikan dan salon yang bisa menyulap segala kekurangan kita menjadi tidak tampak dalam sekejap mata. Yang penting siy punya duit aja untuk membayarnya..

Bagaimana dengan personality? 
Seorang teman baik pernah bilang: 
"If you are good enough, You don't need to find the spotlight..the spotlight will find you".
Kadang kita, termasuk saya terlalu berusaha siy ya untuk "terlihat". padahal aslinya, jika memang pantas disorot, bahkan tanpa perlu ngapa-ngapain kita pasti akan tetap terlihat. Hanya saja, banyak sekali diantara kita, termasuk saya yang berusaha banget untuk mengesankan orang lain; entah itu dengan benda ataupun dengan kata-kata. Padahal lagi, seringkali orang yg ingin dibuat terkesan itu bahkan tidak mengetahui bahwa kita ada.



Lagi-lagi kita harus kembali pada persoalan cara. Ada banyak cara untuk membuat diri kita berkilau dan terlihat, namun sesungguhnya ada lebih banyak cara untuk menikmati hidup daripada sibuk berpusing-pusing hanya untuk sekedar memikirkan cara-cara diatas:)

Rabu, 14 Mei 2014

Being Rich or Feeling Rich??

quotesloveandlife.com/wp-content/uploads/2012/03/money-quotes-if-you-want-to-feel-rich.png

Dua malam yang lalu, dalam pembicaraan panjang dengan Vetra, teman baik saya, saya baru benar-benar merasakan bahwa pekerjaan tertentu akan diasosiasikan dengan besaran gaji tertentu dan besarnya gaji tersebut, selain berbanding lurus dengan pengeluaran juga mempengaruhi cara pandang kita harga dan nilai dari suatu barang. Bekerja sebagai dosen, membuat banyak orang berpikir bahwa saya memiliki gaji yang besar karena untuk bisa menjadi dosen, seseorang harus menamatkan sekolah minimum di level magister. Analoginya, biaya yang dikeluarkan untuk sekolah hingga ke menjadi seorang master tidak sedikit sehingga mereka yang bekerja dengan persyaratan pendidikan yang tinggi seharusnya dibayar tinggi juga. Analoginya siy tidak salah, tapi tidak benar juga kalau kasusnya di negara ini.

Gaji pokok untuk PNS golongan 3b seperti saya hanya berada di range 2-3 juta dan dengan berbagai tunjangan mentok di range 3-4 jt:). Kaget? ya begitulah. Kebanyakan orang berpikir bahwa gaji PNS itu akan sama di semua departemen dan daerah. Jadi kalau orang lain taunya gaji PNS dari kementrian keuangan itu segitu besar, maka mereka akan berpikir bahwa semua PNS gajinya segitu, apalagi setelah adanya kebijakan remunerasi diberbagai departemen. Dan bahkan teman baik saya itu baru tahu kemaren kalau ternyata gaji temannya yang dosen pns di kampus negeri Pekanbaru ini sangat jauh dari yang ia duga. Dan ia tidak bisa menutupi keterkejutannya. Saya pikir tadinya ia tau range gaji saja dan sebaliknya, ia berpikir bahwa range gaji saya seperti yang ia pikirkan selama ini. Ya kurang lebihnya setara dengan penghasilannya para pegawai pajak:). Itupun juga tidak sengaja saat kami berbincang tentang opsi pekerjaan sebagai dosen untuk adiknya yang baru lulus.

Ia makin shock, tepatnya ga enakan karena baru saja membahas keinginannya untuk nonton jazz gunung di wiken ini untuk yang kedua kalinya. Eventnya siy keren bangetlah yang ga keren itu harga paket nontonnya yang lebih dari 1 juta. Jumlah yang sangat tidak santai bagi saya, terutama untuk hal yang sudah pernah dilakukan. Sesekali kita perlu untuk tidak memikirkan besaran nilai uang yang dihabiskan untuk suatu keinginan atau petualangan. saya dan Atiek, teman saya yang lain tidak akan protes dengan jumlah uang yang kami keluarkan untuk membeli pengalaman akan makanan, tempat istirahat yang nyaman ketika bepergian atau alat-alat dapur dan sebaliknya akan sangat perhitungan untuk barang-barang yang bersifat fancy, dan hanya memutuskan untuk membeli barang tersebut kalau ada diskon yang signifikan. Hal yang sama juga sering berlaku untuk barang-barang lainnya dan berharap bisa dapat tiket ke daerah-daerah yang ingin saya kunjungi dengan harga promo. Sesederhana itu saja bagi saya sebenarnya. Lagipula, secara ekonomi, hal yang berulang itu kepuasannya akan menurun sementara biaya yang akan kita keluarkan tetap. Gara-gara pembicaraan soal gaji tersebut, vetra jadi berkali-kali minta maaf atas ketidaksopanan dan kesombongannya bicara tentang banyak hal yang punya nilai uang dan saya bolak balik bilang bahwa saya tidak apa-apa karena saya tahu bahwa dia tidak tahu dan dia tidak punya maksud untuk pamer dan sombong, setidaknya untuk saya. Coz, we've been friends for years..and a friend doesnt always need to explain everything

Bukan masalah bahwa Vetra adalah teman baik saya yang membuat saya merasa bahwa ia perlu dimaafkan atas sikap tapi karena memang tidak ada yang perlu dipermasalahkan untuk itu. Saya sudah menemaninya jatuh bangun mendapatkan pekerjaan hingga hari ini ia berada di posisi bagus di perusahaan yang bagus pula. Saya tahu bahwa yang ia punya adalah apa yang pantas ia dapatkan. Perbedaan jumlah gaji yang diterima oleh tiap pekerjaan tentu juga disebabkan oleh beban dari masing-masing pekerjaan tersebut. Pekerjaannya mengurusi keberadaan mobil tangki dan kapal tanker diseluruh Indonesia setiap saat bahkan hari libur sekalipun dengan ritme dan beban yang berat mestilah berbayar mahal. Sedangkan pekerjaan saya ini, meski ada tumpukan kerja akhir semester, penelitian yang menunggu dan pengabdian masyarakat yang harus dilakukan diantara urusan kampus yang tak kenal waktu, saya masih bisa mengatur jam kerjanya sedemikian rupa, bisa pulang dan bobok-bobok ciang dulu kalo ada jeda antar kelas, bisa menunda dan mengganti kelas kalau ada halangan:). Dan yang paling penting adalah dia tidak pernah merendahkan saya karena uang meskipun ada banyak orang yang suka merendahkan orang lain hanya karena mereka tidak memiliki sesuatu yang material dan semoga selalu begitu.

Namun, saya tidak pernah memungkiri bahwa sayapun seringkali tidak bisa menutupi kecemburuan saya terhadap apa yang bisa ia miliki yang juga ingin saya miliki. Begitupun hal-hal bersifat material lain yang bisa didapatkan orang lain dengan mudah. Saya juga suka mengeluhkan melihat banyak orang dengan gampangnya memperoleh barang-barang yang ia inginkan meskipun tidak selalu ia butuhkan sementara ketika kehilangan barang-barang penting saya kemaren, saya harus pontang panting mencari uang dan pinjaman untuk mendapatkannya lagi.Dan jika itu terjadi, maka saya akan sibuk beradai-andai kalau saja saya terlahir dari keluarga kaya, atau pekerjaan dengan gaji besar atau minimal punya pasangan kaya sehingga saya tidak perlu susah memikirkan kebutuhan saya.

Tapi apa iya ukuran kaya selalu pada jumlah uang yang kita punya disaku, di dompet atau bahkan di rekening bank? Atau apa iya gadget yang kita pakai, kendaraan yang kita punya dan barang yang melekat di tubuh ini merepresentasikan itu semua?

Pada Vetra saya berbicara bahwa saya memang tidak memiliki banyak uang tapi hidup saya tidak mengenaskan. Saya masih bisa bepergiaan seperti dirinya meskipun dengan berbagai keberuntungan, seperti paper yang diterima dan dipresentasikan di sebuah kota baru, atau dapat tiket promo atau malah dibayari penuh oleh orang lain. Sayapun tidak punya aset tidak bergerak yang membanggakan berupa rumah, kendaraan, investasi yang nilainya mencengangkan, setelah tiga tahun bekerja, saya hanya punya kaplingan tanah cicilan yang lokasinya somewhere over the rainbow, motor second yang kemudian hilang pula, kebutuhan ngajar yang juga dicicil dan kemudian hilang juga, ac second di kamar untuk kota yang Pekanbaru yang panas ini. But I do I really dont mind of that. Bagi saya kekayaan tak bergerak saya juga banyak, berupa pengalaman yang saya dapat dari perjalanan-perjalanan yang menguras isi tabungan dan memperkaya hati. Jika ini soal kekayaan dengan yang harus dikonversikan dengan nilai uang, saya pikir saya masih cukup kaya Tapi ukuran kaya saya kali ini adalah saya sudah bisa membayar orang lain untuk bekerja dengan saya. Setiap menyerahkan gaji pada Silla, assiten saya diawal bulan, saat itulah saya merasa bahwa uang saya yang tak seberapa itu bisa memperbaiki kehidupan satu keluarga lain; Silla, suami dan anaknya.

Well, People say that Money can buy you a clothes not a style, A bed not a sleep..and etc
Tapi ada juga yang bilang bahwa orang-orang yang suka berkata bahwa money cant everything biasanya memang tidak punya banyak uang.

So, which one are you?

Rabu, 30 April 2014

Kibot and Many Happy Faces


Itu tweet saya dua hari yang lalu. Sudah beberapa hari sebelumnya saya merasa agak drop. sesudahnya saya langsung mendapatkan balasan ini : 

Apr 28 jaga kesehatanmu ya mbak hes..jangan capek-capek *peluk*"

dan ada beberapa twit berbalas-balasanyang kemudian terjadi antara saya dan kibot, mulai dari konser Kahitna di malam sebelumnya yang membuat saya kangen mantan hingga soal jodoh dan soulmate. bales-balesan twit malam itu di akhiri dengan ini :


duh bot, apalah jadinya aku kalo malam ini ga dihibur kamu? thanks a lot ya buddy *kecup*

hahahahah yaampun mbak hes..thats what brother are for :) *peluk*"
many happiness in return ya bot..as you always make me and many people happy:)"

thank you mbak hes..you too mbak semoga kebahagiaan slalu sama-sama kamu yaaaa :)"

Aslinya saya tidak kenal Kibot. kami hanya pernah berada di satu area yang sama di salatiga selama tiga hari. Namun selama tiga hari itupun, saya belum pernah sekalipun berjabatan tangan dengannya. Jabat tangan kami malah terjadi lewat twitter setelah acara tiga hari itu usai. Itupun gara-gara balas-balasan twit yang ga usai sehari semalam antara saya, yani dan tari yang tak lain adalah teman kibot di Bekasi. 

Dunia pertemanan itu lucu ya. Kadang kita tak pernah bertemu langsung dengan orangnya tapi merasa amat dekat dan sebaliknya orang yang dekat secara posisi dekat dengan kita belum tentu sedekat itu hatinya. Saya patut berterima kasih pada penemu jaringan pertemanan virtual yang diciptakan lewat teknologi. Mereka telah mampu menjembatani berbagai hal yang terpisahkan oleh jarak dan waktu; mulai dari pekerjaan, pertemanan hingga hubungan setingkat perjodohan. Kehadiran banyak aku yang memungkinkan kita berinteraksi dengan banyak orang seperti twitter telah mampu menghadirkan banyak orang disekitar disekeliling kita tanpa harus berpindah tempat. Kita bisa ngobrol lewat barisan kata yang diketikkan, bahkan bisa memeluk dan mencium seseorang hanya dengan sederet kaliamt yang diberi ikon bintang.Untuk orang yang masih hidup sendiri seperti saya, mendapatkan sapaan, pujian ataupun semangat dari orang lain merupakan hal yang menyenangkan. Meski sendiri di kamar, saya selalu merasa seperti sedang berbincang dengan banyak orang. meskipun hanya virtual dan sapaannya hanya berupa tulisan..

Namun tentu saja masih ada hal yang tidak selalu mampu dihadirkan utuh oleh teknologi. Biasanya hal ini berhubungan dengan kontak hati. Meskipun juga ada banyak gerakan yang melibatkan hati dipermudah oleh teknologi, seperti penggalangan dana kemanusiaan dan lain-lainnya yang begitu mudah digerakkan didunia maya, tapi tetap saja untuk bisa dekat dengan seseorang, kita perlu koneksi hati. Tidak semua orang akan mengerti maksud sebuah tulisan yang tidak bernada sehingga hanya sedikit diantaranya yang kemudian akan tersentuh. Dan orang yang memiliki kemampuan untuk menyentuh hati orang lain meski hanya lewat beberapa baris kalimat itu seperti secara istimewa dikirimkan Tuhan ke Bumi. Ia dihadirkan untuk membuat orang lain selalu tersenyum, mengurai dan mengobati luka dengan cara yang teramat halus sehingga tidakada sakit yang terasa. Ia hadir mengusir sepi sehingga dengannya dunia menjadi penuh warna dan ceria, meskipun saat yang bersamaan hatinya juga sedang dirundung luka dan sepi.
Dan Kibot adalah satu diantaranya. Dalam beberapa waktu saya mengenal dia, tidak terhitung berapa kali ia menguraikan senyum di wajah saja. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa setiap kali kami mengobrol ditwitter, maka setiap kali itu pula ia memenuhi rongga hati saya dengan rasa bahagia lewat senyum, tawa lepas dan sesekali hal yang mengharukan. 

Saya dan Kibot terpisah pulau, tapi kami tidak terpisah jauh sebenarnya. Jarak tidak begitu berarti ketika ada yang menemani kita melewati hari paling berat sekalipun..Dan saya merasa beruntung.. Menjadi salah satu diantara orang yang selalu ia hibur hatinya, meski hanya dengan satu dua kalimat pendek..seperti 
"that's what brother are for mb hes.."

Dear Kibot, 
Thank U for creating smile in my face many times..like you always do in many people face
may it return to u in many ways:)
love you buddy..

Hesty

Minggu, 27 April 2014

Tentang Ambisi dan Target Hidup


Mengenal beberapa orang baru membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri. Tapi ini tidak berlaku untuk semua hal kok, hanya beberapa, terutama terkait cara saya menikmati hidup.

Teman-teman terdekat saya seringkali gemes melihat cara saya menjalani sesuatu yang seringkali tanpa perencanaan dan target. Saya memang tipikal let it flow or enjoying thing as it is atau bahasa kerennya mengalir saja. Dan setelah saya amat-amati, dari banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, rata-rata terjadi tanpa diperkirakan dan direncanakan sebelumnya meskipun beberapa diantaranya pernah masuk dalam daftar keinginan saya. Satu-satunya mapping yg pernah saya buat tentang sebuah keinginan hanyalah dream map di kelas tiga pijar waktu LLD 2014 Akber kemaren. Selain tanpa rencana, saya suka bingung kalo ditanyain akan menjadi apa saya 5 atau 10 tahun dari sekarang. Saya juga suka bingung kalo ditanyain target hidup saya apa. Seringkali saya akan menjawab dengan jawaban yang terlalu luas, seperti menjadi istri yang baik, atau dosen yang baik dan sejenisnya tanpa ambisi dan target. Semua dibuat semampu saya saja atau mungkin tepatnya, sejauh mana saya ingin membuktikan kemampuan saya.
Sepertinya saya memang tidak dikaruniai dengan kelebihan bernama ambisi yang bisa menuntun saya menjalankan sesuatu dengan target-target yang jelas. Hanya beberapa hal tertentu saja yang saya lakukan dengan penuh perencanaan, sisanya saya lebih suka bermain wait and the see.what will be happened. Jikapun direncanakan dengan baik, maka saya pastikan hanya beberapa yang sesuai dengan perencanaan awal, sisanya ya tergantung kemana hidup akan membawa rencana itu. Dan seringkali saya tidak berhasil memaksa diri saya untuk memperbaiki rencana yang sudah jauh menyimpang itu. Alih alih menariknya kembali ke jalur semula, saya lebih memilih untuk menunggu kejutan apa yang menanti dibalik rencana itu. Lebih lucu lagi, melihat sifat saya yang lempeng ini, banyak orang yang kemudian malah menjadikan saya objek dari ambisi dan obsesi mereka. Mulai dari ambisi orang tua yang ingin melihat anaknya kurus hingga ambisi untuk memberntuk karakter tertentu karena melihat potensi yang saya punya. Tapi ya lagi-lagi saya mesti bilang, hanya sebagian yang berhasil, lebih sering siy gagal :).

Bukan hal yang bagus sebenarnya. Orang bilang hidup tanpa ambisi itu ibarat burung tanpa sayap, yang akan membatasi jelajah kita kata sebagian orang. Selain itu, ambisi akan menjadi jejak penentu kesuksesan seseorang karena orang yang menjalani hidupnya dengan ambisi akan mampu mencapai apa yang tidak dicapai oleh banyak orang. Hanya saja banyak orang yang salah kaprah menggunakan kata ambisi ini. Sebagian orang menggunakan kata-kata ini untuk membuat dirinya terlihat dan menutupi kesempatan orang lain. Sebagian menghalalkan segala cara agar apa yang ia inginkan tercapai meskipun pada saat bersamaan juga akan melukai orang lain. Jika ini menyangkut ambisi bersama, banyak orang yang kemudian menjadikannya sampul bagi ambisi pribadi yang kebetulan melibatkan orang lain untuk mencapainya. It's ok actually, siapa tau malah bisa menjadi pencapaian bersama, sayangnya banyak yang suka lupa bertanya dan menyamakan langkah terlebih dahulu agar kecepatan kaki menjadi sama ketika berjalan dan melupakan jasa orang lain ketika ia tercapai. 

Meskipun bukan hal yang benar-benar bagus, tapi menjadi orang yang hidupnya mengalir seperti saya tidak sepenuhnya buruk.  Setidaknya saya lebih mudah menerima kegagalan dan jarang berhubungan dengan stress jika tidak berhasil mencapai sesuatu. Saya malah akan stress jika dipaksa untuk mengikuti keinginan dan ambisi orang lain meski itu sukses. Soal pekerjaan misalnya, saya sudah mengikuti 7 kali tes pegawai negri dari berbagai departemen sebelum lulus di tes terakhir dan menjadi dosen. Dua tes diantaranya saya ikuti berturut-beturut dan masih saja tidak lulus. Sedih siy pastinya tapi ya paling cuma perlu sehari dua hari saja untuk meratap:), setelahnya saya malah jadi bisa belajar apa saja yang perlu dipersiapkan kalo mau tes lagi. Nothing to loose does work on me in proper way, dalam pengertian always do my best and let God do the rest. Waktu ditinggal menikah oleh pacar yang sudah 3 tahun membina hubungan, saya memang patah hati setengah mati. Waktu yg saya butuhkan untuk sembuh juga tidak bisa dibilang sebentar, hampir 1/2 masa pacaran kami. Tapi alhamdulillah saya tidak sampai dirawat di rumah sakit karena mogok makan. Padahal lumayan bangetlah kalo bisa mogok makan, setidaknya saya jadi lebih kurus. tapi ternyata engga tuh, sampe hari ini saya masih tetap saja besar:)

Mungkin inilah yang dimaksud dengan keseimbangan hidup, bahwa Tuhan menciptakan kita beserta karakter yang kita bawa untuk membuat perpaduan yang sempurna untuk melengkapi kehidupan banyak orang dan sebaliknya. Bahwa orang yang ambisius disekitar saya mengajarkan saya bahwa ada banyak hal penting dalam hidup perlu dikejar dan sebagian (atau mungkin semua?) membutuhkan perencanaan. Jika orang lain akan punya back up plan, maka saya mungkin akan menyarankan no back up plan or get lost untuk setiap rencana yang gagal..Karena orang yang lempeng dan mengalir seperti saya juga sebenarnya memberikan banyak pelajaran, bahwa apapun bisa terjadi pada hal yang kita rencanakan dan mungkin itu artinya kita hanya perlu menikmati saja semua yang terjadi. :)




Rabu, 23 April 2014

A Sibling's Journey Wish

Dear Mbok Venus,

Jika ada pertanyaan kuis yang berhadiah jalan-jalan bersama satu orang sahabat ke suatu tempat saya pasti bingung memilihnya. Saya punya beberapa sahabat dekat yang semuanya memberikan kontribusi penting dalam kehidupan saya, mulai dari jaman putih abu-abu hingga sekarang mereka sudah punya anak dua atau satu. Dulu, saya dan sahabat-sahabat saya di Asrama putri 70 selalu berandai-andai bahwa suatu hari nanti kami akan melakukan perjalanan seperti yang dilakukan oleh Carrie, Samantha, Charlotte dan Miranda dalam Sex and The City. Memiliki banyak teman perempuan sebaya disekeliling untuk tetap tertawa dan bahagia ketika umur semakin menua merupakan berkah yang luar biasa. Namun ternyata tetap sulit untuk mewujudkan perjalanan bersama mengingat dua diantaranya sudah menikah dan punya anak dan yang lainnya meski masih lajang tapi jam terbang amat padat. Jadi yaa, boro-boro ke Dubai,  untuk napak tilas kembali ke Jogja bersama-sama saja terlihat amat mustahil. 

Tadinya saya berharap boleh memilih lebih dari satu orang untuk diajak ke Resort World Sentosa jika memenangkan kuis ini, karena jujur Mbok, saya punya tiga kandidat yang kesemuanya punya peranan sangat penting dalam hidup saya hari ini, melebihi sekedar teman baik. Mereka selalu ada setiap fase kehidupan yang saya alami, mulai dari yang paling manis hingga paling pahit sekalipun. Tidak terhitung banyaknya kebaikan yang pernah saya terima dari mereka sehingga saya pikir inilah kesempatan untuk membalasnya. 

Hidup benar-benar soal pilihan ya Mbok, dan memilih satu diantara mereka bukan hal yang mudah bagi saya. Saya semakin bingung mau menulis apa di blog ini agar bisa mendapatkan kesempatan ini hingga dua hari yang lalu saya menerima pesan dari adik saya di Depok yang mengabari bahwa ia baru saja mendapatkan beasiswa dari ikatan alumni dari tempatnya kuliah saat ini. Saya sangat bahagia mbok, mengingat bahwa kami sekeluarga baru saja melewati masa sulit. Saya membalas pesannya dan menulis bahwa ia bisa bepergian ke satu tempat yang diinginkan selama masa kuliahnya dengan menabung dari uang beasiswa itu, syukur-syukur bisa mengajak saya:).  

Pesan singkat dari adik saya malam itu mengingatkan saya pada tweet Mbok dua tahun yg lalu tentang siapa yang terakhir kali menjadi teman perjalanan saya dan kemana tujuan kami. Saya membalas tweet itudan menjawab bahwa saya bersama adik saya itu sedang bertualang di Jakarta sambil menunggu jadwal pendafatran ulangnya sebagai mahasiswa baru di kampus UI Depok keluar. Waktu twit saya dibalas dan diritwit oleh mbok, saya kegirangan. Norak ya? biarin ah. twet yang direply atau di ritwit oleh selebtwit pada masa itu adalah prestasi mbok.  

my next journey;s mate

Tapi bukan twitmu Mbok yang ingin saya bahas tapi isi cerita dan teman perjalanan saya kala itu. Perjalanan keliling Jakarta waktu itu merupakan perjalanan pertama kami berdua sekaligus perjalanan pertama bersama saudara tanpa orang tua yang pernah dilakukan dilakukan dikeluarga kami Mbok. Soalnya kami berlima bersaudara nyaris tidak pernah bepergian bersama dan lebih sering memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan perjalanan bersama teman-teman kami selama ini.

Sebenarnya perjalanan kami di Jakarta tidak heboh kok Mbok, hanya turun naik komuter line saja untuk mengetahui beberapa jalur dan tempat penting di Jakarta. Sisanya kami dengan noraknya keluar masuk supermarket lucu membeli salad yang buah dan sayurannya belum pernah kami temui sebelumnya, mengunjungi pasar, mencoba makanan-makanan baru dan sisanya membeli kebutuhan kuliahnya. Tapi ternyata perjalanan tersebut menjadi salah satu perjalanan paling menyenangkan yang pernah saya punya. Tidak menyangka bahwa adik kecil saya yang keras kepala itu bisa menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Mungkin karena kami hanya pergi berdua dan saat itu ia dan saya harus bekerja sama memutuskan banyak hal tentang masa depannya. Selain itu Mbok, perjalanan itu juga membuat kami lebih sering berbicara satu sama lain seperti teman dan kakak adik. Moment yang sering kami lewatkan saat berada di rumah karena masing-masing kami sibuk dengan gadget dan dunia kami masing-masing.

Setelah perjalanan sederhana itu, hampir disetiap musim maskapai pesawat melakukan promo tiket, ia selalu sibuk mengirimkan informasi harga tiket pesawat dari Pekanbaru ke Jakarta dan sibuk bertanya kapan saya akan ke Jakarta. Sesekali ia juga bertanya dan mengajak saya untuk bisa pergi liburan bareng saya kemana saja di Indonesia. Sejak saat itu, saya berniat dalam hati untuk mengusahakan minimal satu kali dalam setahun mengunjunginya ke Depok hanya untuk menikmati our time as siblings yang mungkin luput kami nikmati dulu semasa kami tinggal serumah

Dear Mbok Venus, 
Saya mungkin masih bisa menyusun jadwal untuk mengunjungi teman-teman terbaik saya atau membuatkan janji dan bersama-sama menabung untuk bisa menjelmakan impian kami untuk melakukan perjalanan ala Sex And The City atau ala Arisan 2 anytime I want. Tapi kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu bersama saudara sendiri jauh lebih susah diwujudkan. Selain jarak Pekanbaru dan Depok yang cukup jauh, jadwal libur kampusnya dan jadwal libur kampus saya tidak pernah sama. Hanya ketika lebaranlah waktu kami bersama menjadi cukup panjang, itupun akan diselingi dengan urusan pribadi masing-masing

Orang yang akan saya ajak tentunya adik saya itu Mbok. Namanya Nahlia dan ia biasa dipanggil Ade. Tahun ini umurnya 20 tahun dan saya 32 tahun. ia mahasiswi semester 4 di FH UI. Beasiswa yang ia raih itu Mbok, merupakan pembuktiannya kepada saya dan kakak-kakaknya yang lain bahwa ia bertanggungjawab terhadap pilihan kuliahnya meskipun bukan pilihan utamanya. Saya tidak terlalu pandai mengatakan perasaan saya kepada saudara-saudara saya dan kami memang tidak terlalu biasa melakukannya. Kami 5 beradik dari keluarga minang yang tidak terbiasa mengatakan rindu, sayang dan kebanggaan kami pada satu sama lain secara langsung. saya memilih untuk mengatakan lewat tulisan di blog saya yang seringkali mereka tidak baca. maka  kesempatan untuk melakukan perjalanan dan menikmati hidup di Resort World Sentosa ini merupakan cara saya untuk mengatakan kepadanya bahwa saya bangga dengan semua kerja keras yang telah ia lakukan untuk membuat kami sekeluarga terutama saya, kakaknya bangga.

Dont worry much about apa yang akan kami nikmati disana Mbok. It will be our next precious time as siblings. Jika saya dan Ade bisa sangat girang dan norak saat menikmati perjalanan naik turun komuter line Depok- Jakarta, keluar masuk tempat-tempat yang tidak pernah kami coba selama di Jakarta, maka bisa kebayang kan Mbok, betapa noraknya kami nanti disana?. Kami pasti akan sangat sangat menikmati semua yang tersedia di Resort World Sentosa Mbok kecuali kolam renang yang cukup dalam, karena kami berdua tidak bisa berenang:)

Terima Kasih Sayembaranya Mbok..
Terima Kasih sudah boleh berbagi cerita dan mimpi


Love 
Hesty 

 


Kamis, 10 April 2014

Maybe I do change..But, who doesn't?

Selesai makan siang dan duduk didepan laptop. Siang ini saya tidak punya jadwal mengajar di kampus, jadi masih bisa menikmati jam santai di rumah sebelum absen sore. Sebuah pesan masuk di bbm saya, dari seorang teman kuliah. 

"sty, pernah kontak dengan teman kita si X ga belakangan ini?"
"udah ga pernah, tiap ditelpon g pernah diangkat. pdhal sebelum menikah dia ga gitu. 
People do change ya? "
' Yup, people change and so do their friends" 

Pembicaraan yang sudah lama tidak terjadi diantara teman lama. Setelah pindah ke Pekanbaru kemudian disusul dengan kepindahan orang tua saya ke Padang Panjang, praktis saya semakin jarang ke Padang. Waktu libur yang bisa saya gunakan utk pulang secara normal itu hanyalah setiap weekend. Dengan lama perjalanan menuju sumbar yg bersikar 5-8 jam, saya memiliki pilihan terbatas. Jika saya memutuskan untuk pulang ke Padang Panjang, maka saya tidak akan ke Padang dan sebaliknya. 

Setiap kali pulang ke Padang Panjang, maka saya akan mengambil alih pekerjaan rumah yg biasa dikerjakan ibu saya. Mulai dari beres-beres rumah hingga memasak. maklum, sejak pensiun dan memutuskan utk bertani di kampung, Bapak dan ibu saya tidak terlalu mengurusi rumah, masakpun hanya secukupnya utk berdua. Menu makanan berkisar dari telor dadar atau asam padeh. Sesekali beliau berdua makan diluar atau beli nasi bungkus satu berdua. Jadi ketika ada anaknya yg pulang, ritme normal dari rumah kami mulai teras. Rumah yg dibersihkan, piring yang dicuci dan makanan yg dimasak sesaat sebelum dimakan. Kalau saya memutuskan ke Padang, maka itu waktunya saya main bersama ponakan dan adik bungsu, menemani kakak saya belanja bahan risoles ke pasar atau sekedar ngajak ponakan mampir ke swalayan untuk membeli jajanan yang mereka inginkan. Sisanya ya..leyeh-leyeh saja:)

Saya semakin jarang bertemu teman-teman saya yang berada di padang ketika pulang. Dulu, ada teman saya yang suka ngajakin kumpul kalo ada yg pulang ke padang, sekarang iapun sudah pindah ke Jakarta. Pun, hampir semua teman saya di Padang sudah menikah dan punya anak. Membuat janji bertemu dengan yang sudah menikah sama sulitnya dengan membuat janji untuk bertemu dosen pembimbing dulu. Kalo temen saya perempuan, maka alasan anak bisa jadi yg utama. Jika yang satu bisa, maka yg lain susah dan begitu seterusnya. Kalau janjian dengan teman laki-laki yang sudah menikah akan lebih sulit lagi. Bisa-bisa menjadi sasaran kecemburuan istrinya, meski istrinya kenal sekalipun. 

Pertemanan antar daerah kini semakin mudah dengan adanya fasilitas grup chat dari ponsel pintar yang beredar di pasaran. tadinya saya berpikir bahwa grup pertemanan mobile akan mengeratkan hubungan kami semua dimana saja dan kapan saja. tapi ternyata tidak. Yang ada kami tumbuh jadi orang dewasa yg absurd. Ditambah lagi bahasa tulisan yang ga kenal nada, perasaan bahwa semua teman memahami karakter temannya dan satu persatu mulai saling membanggakan pencapaian mereka. Kami semua akhirnya terperangkap dalam lingkaran atas nama teman tapi tidak pernah merasakan perasaan yang sama saat kami berjumpa dan berteman beberapa tahun yang lalu. 

Ternyata jadi orang dewasa itu susah ya..karena setiap pencapaian hidup orang dewasa membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Bisa selesai S2 misalnya, membuat saya memulai karir jauh lebih lambat dari kebanyakan teman. Sementara itu teman saya yang menikah lebih dulu dari kami semua akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga dan melepaskan kesempatan untuk menjadi wanita karir agar ia bisa melihat anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan setiap pencapaian itu juga menuntut perubahan dari orangnya..


People do change..

Satu orang teman baik yang baru saja menikah akhir tahun lalu menjadi contoh dari pembicaraan kami siang ini. Ia, biasanya jarang tidak mengangkat telepon dari saya dan kawan-kawan dan sering juga menelpon kami hanya sekedar untuk bercerita. Sejak menikah, tidak satu kalipun telepon saya diangkat. Saya berpikir ia sibuk atau mungkin tidak enak dengan istrinya. Tapi setelah mendapatkan konfirmasi hari ini, saya jadi tau bahwa yang tidak diangkat teleponnya oleh kawan saya ini bukan hanya telepon saya, tapi hampir semua telepon dari kami, teman2 akrabnya yang perempuan. Saya kangen bisa berbicara dan saling memotivasi tapi mungkin ia juga ingin menjaga perasaan pasangannya. Saya kehilangan teman baik lagi..dulu, ketika teman baik saya yg lain memutuskan menikah, saya sangat mendukungnya. Tapi setelahnya, ia tidak pernah menghubungi saya lagi. Sesekali saya berhasil berbicara dengannya dan itupun hanya beberapa menit. Ia bilang, istrinya tidak bisa menerima semua pertemanannya dengan wanita..dan saya mengerti. 

Pun ternyata dianggap berubah oleh kebanyakan teman saya. Jarang mengangkat telpon dan membalas sms. Saya mengakuinya. Soalnya yang komplain itu teman-teman saya yang menjadi ibu rumah tangga atau baru memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Seringkali mereka menelpon dan sms saat saya sedang mengajar yang artinya hp dalam posisi silent. Dan seringnya ketika ditelepon balik, mereka yang sedang sibuk mengurus anak, menyiapkan makan suami atau mau pergi dengan keluarganya. 

It feels so funny seeing people complaint about things change in friendship while they actually didn't try to maintain their friendship when they have chance to do that.. 

Dulu, saya suka sekali menghabiskan waktu dan pulsa untuk menghubungi teman-teman saya, sekedar ber hahahihi, bergosip ringan atau bahkan menjadi teman curhat. Tapi seringkali juga saya mendapatkan jawaban kalau mereka lagi sibuk dengan kerjaan, lagi sibuk dengan suami, lagi sibuk dengan apa saja..then I slowly stop to ask how are them now..Dan ketika itu terjadi pada saya dan beberapa teman yang kemudian berhenti bertanya kabar, kami dianggap berubah. Saya tidak menyalahkan teman-teman saya yang berubah pun saya juga keberatan untuk disalahkan. Saat mereka ingin bicara saya justru sedang hectic dari satu kelas ke kelas yang lain.. dan giliran saya yang akan bicara, mereka malah sedang sibuk bercengkrama dengan suami/istri dan anak..

Maybe I do change.. but, who doesn't?
Well, Every people has their own limit..


Jadi, Ga usah komplain sering-seringlah tentang kehidupan setelah tamat kuliah atau setelah memutuskan untuk menikah. Ada banyak orang yang sebenarnya sibuk menyesuaikan diri dengan kondisi bahwa orang-orang disekitarnya berubah dan ia harus menerimanya, suka atau tidak suka. Dan yang paling pahit adalah..teman-teman kitapun berubah..bahkan yang paling dekat sekalipun. Setelah semua pencapaian dalam hidup melalui sekolah, pekerjaan dan rumah tangga, ada banyak prioritas yang bergeser. Dulunya semua teman di lingkaran kita adalah yang utama. Ia bisa saja menjadi prioritas cadangan. Setelah menikah misalnya, karena satu orang baru akan menjadi prioritas utama yang bisa menggantikan semua circle yang ada.

That what we called life..

Saya bilang ke teman saya itu bahwa mungkin kita memang harus memilih siapa yang akan berada di lingkaran hidup kita saat ini. Jadi jangan sedih jika tidak terpilih untuk menjadi bagian dari lingkaran hidupnya orang lain..

dan selalu saja banyak hal yang menjadi begitu mudah untuk dikatakan..
padahal saya sendiri tahu, bahwa ketika itu terjadi, saya pun tidak mudah menghadapainya

but at least..
I've tried:)

Rabu, 26 Maret 2014

Ketika Mimpi-Mimpi Diaminkan.. Cerita dari LLD 2014 Akademi Berbagi

Our Dream Board- Photo by Gallant YP

Pernahkan membayangkan sebelumnya bahwa suatu hari anda akan berada di suatu meja dengan 5 orang tidak pernah anda kenal sebelumnya dan kemudian mereka menjadi orang pertama yang mengaminkan mimpi yang anda tulis hari itu? Saya tidak pernah. Namun kemudian saya merasa beruntung sekali bisa mengalaminya. Siang itu, Ada 7 orang di meja yang sama dengan saya dan ada 190 an orang lainnya di meja lain yang berbeda yang bergantian membacakan mimpi mereka dan pada saat bersamaan ada beratus kali kata Amin terucap di udara. Seakan mimpi dan nyata itu sejengkal adanya..

Hari ini saya melihat postingan Yani di twitter tentang keinginannya untuk berkeliling Indonesia.Tweet ini ia buat untuk membalas tweet sebuah akun pencarian harga tiket pesawat yang mempromosikan keindahan Indonesia.  Saya kemudian membalas tweet tersebut dan mengingatkan Yani bahwa kami pernah mengaminkannya mimpinya untuk berjalan-jalan keliling Indonesia dan Dunia bersama kedua orang tuanya disuatu sesi bermimpi dikelas tiga pijar hampir 3 minggu yang lalu di salatiga. Saya terharu menuliskannya dan dia mungkin juga begitu. 

Saya dan Yani berkenalan disebuah meja yang bertuliskan nama kami dan enam orang lainnya sebagai satu kelompok dalam sebuah kelas tentang pengembangan diri sendiri yan
g dibawakan oleh orang-orang hebat pencapaian kerjanya sangat luar biasa di perusahaan riset kelas dunia. Hari itu, ada tiga sesi yang kami pelajari, mulai dari mengenal diri sendiri, bermimpi hingga memetakan perjalanan pencapaian mimpi tersebut. Sesi tersebut merupakan sesi hari kedua dari rangkaian 3 hari peningkatan kualitas saya dan 190an orang lainnya yang tergabung sebagai relawan dalam komunitas akademi berbagi yang tersebar di 34 kota diseluruh Indonesia. Acara tiga hari untuk masa depan yang lebih baik ini disebut dengan Local Leaders Day (LLD). Akademi Berbagi sendiri merupakan komunitas berbagi pengetahuan yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan berbagai ilmu tanpa terikat ruang kelas dan waktu bahkan biaya. Saya sendiri bergabung di akademi berbagi Pekanbaru, yang baru berdiri September 2013 yang lalu.

Semua sesi disampaikan dengan sangat baik dan sangat menyenangkan. Tidak terbayangkan oleh saya berapa yang harus saya bayar jika saya mengikuti training semacam itu. Namun sesi yang paling saya berkesan bagi saya adalah sesi bermimpi. Ini bukan cerita tentang mimpi yang saya tulis, tapi cerita tentang dengan siapa mimpi tersebut saya bagi. 

Awalnya, masing-masing kami diminta untuk menceritakan mimpi kami kepada teman sebelah, yang selama acara disebut patner. Patner saya kemudian akan menuliskan mimpi yang diceritakan dan bergantian pula saya akan menuliskan mimpi Afif-patner saya selama hari itu. Setelah daftar mimpi tersebut selesai, kami kemudian diminta untuk bergantian membacakannya ke teman teman satu kelompok. Ada delapan orang yang bergantian membacakan mimpinya.

Hampir semua kami bermimpi untuk membahagiakan orang tua; entah dengan cara menghajikan, mengajak jalan-jalan atau membelikan rumah. Ada mimpi untuk berjalan-jalan keliling Indonesia bahkan ke luar negri, baik sendiri ataupun bersama orang tuanya . Ada yang bermimpi untuk mendirikan sekolah gratis bernuansa alam, ada yang ingin meraih piala oscar dan ada yang bercita-cita untuk sekolah lagi keluar negri seperti saya. Saya dan dua perempuan lainnya di kelompok itu juga menuliskan mimpi tentang finding our own Mr. Right and live happily ever after:). 

Tanpa disadari, ada banyak mipi yang serupa, ada banyak impian yang saya pkir hanya mimpi pribadi yang ternyata juga dimiliki oleh orang lain. Rasanya seperti menemukan teman bermimpi. Saat pembacaan mimpi tentang orang tua merupakan bagian paling emosional. Ada yang terbata-bata membacakannya dan ada pula yang membacakannya sambil menangis. Dan mata sayapun juga berkaca-kaca dan tak lama kemudian ikut menangis. Bagi sebagian orang mimpi itu bersifat pribadi, tidak untuk dipublikasikan. tapi hari itu, saya tidak menyesal membacakan mimpi-mimpi pribadi saya, begitupun saya rasa dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Disetiap meja, saat setiap mimpi dibacakan, ada tujuh suara yang secara bersamaan dan terus menerus melafazkan amin.  Sampai kemudian kami sudah tidak lagi mengetahui mimpi siapa yang barusan kami aminkan. 

Siang itu saya tidak berhenti merinding.

Rasanya mimpi saya menjadi dekat dan mudah hanya karena dukungan 5 orang yang baru saya kenal hari itu lewat sepotong kata yang terdiri dari empat huruf AMIN.Tapi empat huruf dalam satu kata itu saya tahu persis diucapkan dengan tulus, bahkan sebagian ditambahkan dengan doa dan kata-kata penyemangat. Itulah yang membuat saya rasanya menyesal hanya menuliskan 7 saja mimpi yang saya punya. Saya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak lagi dukungan dan doa yang tulus untuk mimpi yang saya punya.

Lagi-lagi saya merasa beruntung telah menjadi satu dari 199 orang yang berkesempatan untuk diperbaiki kualitasnya. Dan saya merasa sangat jauh lebih beruntung karena saya bisa berbagi mimpi dengan teman-teman baru..meskipun saya tidak pernah mengenal mereka secara dekat sebelumnya.

Hari itu, saya dengan senang hati ikut mengaminkan sekian ratus mimpi yang terucap karena saya tahu bahwa ada beratus orang juga yang mengaminkan mimpi saya meski tidak semua pernah mendengarkannya.