Sabtu, 28 Desember 2013

Pria VS Wanita

Saya bertemu dengan seorang pria yang mengatakan kepada saya bahwa ia jatuh hati pada saya. Saya berkenalan hanya empat hari sebelum kami bertemu dan hanya berbicara satu jam saja. Selebihnya, hidup saya sangat naik turun setelahnya. Pria ini, senang menguji saya, menguji hati saya untuknya. Saya dan dia berbeda kasta, jika kata itu boleh dipergunakan untuk menggambarkan perbedaan kami; dalam apa saja; pendidikan, pekerjaan hingga cara bertutur kata. Saya tidak keberatan sebenarnya, begitupun dirinya tapi sekitar kamilah yang membuat segalanya menjadi begitu berat.

Saudara saya mengatakan bahwa harga diri seorang pria terletak pada isi dompetnya. Jika dompetnya tebal, maka meskipun yang lainnya biasa saja, maka ia akan selalu percaya diri. Sedangkan saya percaya bahwa harga diri seorang pria harusnya tetap berada di hati dan pikirannya saja. Jikalah boleh kita berandai-andai, jika saja saya dan pria itu menikah, maka kasta, dompet, pendidikan, dllnya seharusnya tidak akan pernah muncul lagi dan mengganggu kami.

Saya belum menikah, dan tentu saja belum berpengalaman sama sekali soal pernikahan, tapi satu hal yang saya yakini, bahwa laki-laki adalah imamnya perempuan jika mereka sudah di sahkan dalam ijab kabul nanti. Jika diibaratkan dalam sebuah mobil, maka yang laki-laki adalah supirnya dan perempuan bisa jadi penumpang, navigator atau mungkin jadi supir pengganti. Artinya, sepanjang perjalanan ia bergantung sepenuhnya kemanapun sang supir mengarahkan mobilnya. Sesekali, jika mobil yang dibawa berjalan terlalu kencang, maka sebagai penumpang ia berhak menggingatkan. Jika bertindak sebagai navigator, ia akan mengingatkan si supir untuk waspada terhadap gangguan yang ada di kiri dan kanan kendaraan mereka, membantu membaca peta dan mencari petunjuk arah atau turun bertanya kepada penduduk sekitar jika mereka tersesat. Dan tentu saja ia harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang sedikit menyamai supir utama jika harus menjadi supir pengganti.

Dengan begitu panjang perumpamaan yang saya buat untuk menggambarkan hubungan pria dan wanita dalam pernikahan, tidak serta merta membuat pria ini begitu saja mempercayai bahwa saya tidak akan melecehkannya seperti yang dilakukan banyak wanita yang berpendidikan dan berpenghasilan lebih tinggi daripada di pria. Begitu ia tidak bisa menutupi caranya menunjukkan rasa egonya terhadap saya.

Entah bagaimana seharusnya..
tapi mungkin saja saya dan dia dipertemukan hanya untuk belajar terlebih dahulu bagaimana mengenal karakter lawan jenis dengan baik sebelum memutuskan untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius

dari postingan lama yang akhirnya selesai juga:)

Tidak ada komentar: