Sabtu, 28 Desember 2013

Canggung

Belakangan saya banyak berpikir, bahwa sebenarnya kita menuruni sifat-sifat dan karakteristik tertentu dari orang tua kita masing-masing..suka ataupun tidak suka. Dari papa, saya menuruni sifat beliau yang supel dan pandai berbicara serta berkomunikasi dengan banyak orang. Sedangkan dari mama, saya menuruni sifat skeptis, banyak pertimbangan dan canggung. Sungguh perpaduan yang aneh.

Awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa saya menuruni sifat canggung yang dimiliki oleh mama. Saya masih merasa bahwa saya termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan siapa saja. Tapi ternyata tidak begitu adanya. Kecanggungan pertama yang saya rasakan adalah ketika berhadapan dengan rekan rekan kerja pertama saya yang orang jawa semua. Menjadi satu-satunya orang sumatra pada saat itu, yang tidak menguasai bahasa jawa pula membuat saya kehilangan semangat saya ketika berada di kantor. Saya bingung bagaimana harus masuk kedalam percakapan teman-teman saya itu. Saya tidak tahu bagaimana caranya bisa ikut lucu dan tertawa ditengah obrolan yang tidak saya pahami. Dan kemudian yang terjadi adalah saya kehilangan senyum selama 3 bulan dan baru bisa memperbaiki semuanya setelahnya

Belakangan ini saya merasa kecanggungan saya menjadi-jadi. Terutama ketika saya berada di grup komunitas yang saya ikuti. saya merasa lost in translation. banyak hal yang tidak saya pahami dan tidak dipahami teman-teman saya tentang diri saya ini. Saya seringkali salah menanggapi sesuatu, sering menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan, terlalu formal, garing dan banyak hal lain yang membuat saya sebenarnya ingin menyembunyikan diri saya kedalam cangkang untuk sementara waktu. Saya berusaha tertawa normal ketika ada yang lucu sementara hati dan kepala saya sibuk berpikir mengapa saya tidak bisa tertawa lepas dengan mereka.

Ternyata lingkungan pekerjaan dan keseharian saya sebagai dosen membuat saya terbiasa memulai sesuatu dengan formal dan itu juga terbawa dan cara berkomunikasi saya dengan orang sekitar. Kehidupan saya yang lekat dengan penilaian banyak orang, membuat saya tidak bisa untuk tidak berhenti menerka-nerka apa yang dipikirkan orang tentang saya. Keberadaan saya sebagai anak tengah acap kali membuat saya menjadi peragu dalam mengambil langkah..kombinasi inilah yang membuat semua kecanggungan terasa semakin menjadi-jadi..


Bukan salah mereka saya kira..tapi mungkin saya perlu penyesuaian lebih lama. Tapi kecanggungan ini juga yang membuat saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini dan kembali membuat saya ingin menarik diri dan bersembunyi dalam goa saya...mudah-mudahan semua akan segera berlalu siring berjalannya waktu..semoga

2 komentar:

dinantonia mengatakan...

Mbak Hesty, membaca blog post Mbak, saya kok merasa punya kesamaan dengan Mbak.

Saya salut sekali dengan Mbak yang menuliskan blak-blakan dan jujur dengan diri sendiri.

Saya juga kadang berpikir kenapa saya tidak bisa tertawa lepas dan kurang nyambung dengan orang-orang. Saya memang kurang pandai beradaptasi. Canggung, iya juga. Terlalu memikirkan penilaian orang lain terhadap saya, iya juga.

Sering kali saya merasa down, capek dan putus asa. Sampai kapan saya harus berkutat dengan masalah yang sama? Walau pikiran bisa pandai menyuruh2 saya santai saja, tapi hati tak bisa dikompromi.

Sampai saya pikir2, kalau saya merasa nggak nyaman, ya, untuk apa saya berusaha terlalu keras dan memaksakan diri saya untuk bisa nyaman di situ? Lalu sampai pada kesimpulan, saya akan melakukan apa yang membuat saya hepi, dan terkadang itu berarti memilih sendiri dan menarik diri.

Walau, kadang saya masih bertanya-tanya, apa itu pilihan yang baik?

Moga-moga kita bisa tukar pikiran, ya, Mbak.

Thanks for the blog post. It's nice to know I'm not alone to feel this way.

Hesty Wulandari mengatakan...

hai mb dina, sayapun suka bingung dengan diri saya sendiri. Aslinya banyak orang yang mengira saya extrovert dan periang dan gampang beradaptasi. Tapi belakangan ini saya malah merasa bahwa saya ternyata ga seperti yang saya bayangkan. Banyak kesulitan yang saya hadapi jika saya tidak berada dalam kawasan yang saya kenal dengan baik. Seringkali saya menebak-nebak cara mereka bersikap kepada kepada mereka.
Saya juga seringkali kesulitan menyampaikan kepada mereka perasaan saya meskipun bolak balik saya mencoba saya tetap ga bisa.
Dengan menulis ini, saya merasa bahwa saya berusaha menceritakan perasaan saya. orang lain mungkin tidak akan selalu mengerti tapi itu sudah tidak penting lagi mb bagi saya.. yang penting beban saya terangkat:)

terima kasih sudah berbagi cerita ya mb..

jangan takut lagi menjadi orang yg tidak asyik. tetep akan ada yang menerima kita dengan senang hati jutru karena kita seperti itu