Minggu, 20 Oktober 2013

Mimpi Besar itu Bernama Hesbronz Factory

Selain menjadi wartawan, cita-cita yang sempat saya pendam itu adalah menjadi seorang koki alias juru masak. kecintaan saya terhadap dunia memasak sebesar kecintaan saya pada dunia menulis. Meskipun pada akhirnya tidak satupun dari memasak dan menulis menjadi karir, namun saya tetap sesekali menjadikannya sebagai pekerjaan yang menyenangkan.
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.

Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.

Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.

Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.

Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.

Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.

Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya

Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat

1 komentar:

perniquesenja mengatakan...

saya tak pernah keberatan kok madam, tapi malah mendukung ;)