Senin, 21 Oktober 2013

Cerita Dari Balik Dapur-Silla

Memiliki toko kue, meski tidak ada bentuk tokonya dan masih dalam taraf bertumbuh mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah belajar mengelola orang lain. Sebagai pemasak tunggal, saya biasanya cukup berhati-hati bahkan sangat berhati-hati untuk bisa mempercayai orang lain ikut memasak bersama saya. Hingga saya bertemu silla, tetangga yang kemudian menjadi asisten saya di hesbronz factory.

Awalnya, saya meminta Silla untuk membantu saya beres-beres rumah dan mencuci peralatan masak dan menimbang bahan-bahan. Bagian itulah yang seringkali akan menghabiskan waktu dan tenaga dalam  memasak, sementara sayapun masih harus ke kampus dan mengajar. Sebelum bergabung jadi asisten, saya sudah pernah mengajarkan silla membuat kue yang saya jual. Namun tiap kali ia ingin membuatnya kembali, ia selalu datang ke rumah, alasannya ga pede.

Akhirnya kesempatan pertama untuk silla membuat kue sendiri datang juga. Saat itu saya ada kelas dan tiba-tiba ada pesanan yang harus dibuat. Sayapun meminta silla untuk membuatnya. Awalnya dia menolak, lagi-lagi karena ga pede. Alasan berikutnya adalah takut dengan kompor gas dan berikutnya lagi takut gagal.
Saya bilang ke dia, lakukan saja sebaik yang dia bisa. kalo ada apa-apa dia bisa kontak saya. Alhamdulillah kue pertama ga buruk sama sekali. Tapi sesekali ada juga siy sedikit gosong, memarut keju mozarella utk bronis dan kaget sendiri karena kejunya gosong:).

Tapi sekarang, saya bisa dengan lega meninggalkan rumah hanya dengan bekal selembar kertas yang ditempel dengan magnit dipintu kulkas berisi daftar pesanan hari ini. Saya hanya perlu memastikan bahan-bahan lengkap dan tabung gas tidak kosong. Selebihnya, dia bisa melakukan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Kemudian saya mengetahui bahwa secara psikologis, dia akan grogi membuat kue jika saya ada di rumah. Jadi saya lebih memilih untuk berada di kampus saat pembuatan kue:)

Mempekerjakan seorang asisten itu bukan berarti membuat orang yang membayarnya memiliki posisi lebih tinggi berlipat-lipat. saya melihatnya sebagai simbiosis mutualisme yang perlu dijaga dengan baik. Hal yang saya pelajari adalah bagaimana memanusiakan asisten saya. Bagaimana menegur jika ia salah, memuji jika benar, mengetahui apa yang ia suka, apa yang membuat ia akan menjadi suntuk dan tidak fokus. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tidak merasa sedang bekerja setiap harinya. 

Jika dulu Silla bekerja di rumah saya 15 hari seminggu dengan gaji 400 rb, bulan ini, ia menerima gaji hampir dua kali lipatnya. Saya tidak akan lupa matanya yang berkaca-kaca saat gaji pertama saya serahkan ke tangannya. Pada saat itu saya tahu, bahwa saya tidak hanya memiliki asisten yang menyenangkan, tapi sekaligus saudara baru di rantau. Ia membereskan rumah saya seperti rumahnya, membuat kue seperti standar saya, bahkan memunculkan ide baru dan kadang memberi saya makan siang atau makanan apa saja yang ia buat di rumahnya.

JIka suatu hari nanti toko kami jadi besar, maka Silla adalah orang pertama yang akan menjadi pimpinan ketiga setelah saya dan patner saya. semoga begitu jadinya.. amin
I owe her much, so does my hesbronz factory



2 komentar:

Wanda mengatakan...

Ternyata lama menghilang di blog gara-gara Hesbronz Factory ya, subhanallah..salut sama Hesty udah jadi pebisnis, udah bisa menafkahi orang lain lewat bisnisnya.. Barusan ngintip twitternya, brownies durianmu bikin ngiler abis...pengen nyobain! semoga Allah mudahkan & lancarkan terus ya..hingga Allah sampaikan cita-cita pergi umrah dengan papa mama..hingga Hesbronz ada cabang dimana-mana & menafkahi banyak orang :')

Hesty Wulandari mengatakan...

Masih merangkak wan..masih banyak hal yg perlu dijalani lagi. Terima kasih utk doa dan supportnya. Btw, hesty ada rencana ke malaysia minggu ini.kalo drku sempat ke sing, bolehlah nyobain bronis duriannya:)