Minggu, 27 Oktober 2013

Akademi Berbagi Pekanbaru - Ketika Mimpi Tidak Lagi Sekedar Mimpi




“To find your highest level of success, you must be willing to help others become successful.”

[Author Unknown]

Tahun 2010, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki ke kota Pekanbaru ini hingga di tahun ketiga saya tinggal disini, saya masih sering mengutuk cara berpikir orang-orang disekitar saya serta cara mereka menilai dan memperlakukan orang lain. Selain itu, saya masih sering terkaget-kaget mengetahui bahwa ada banyak hal diluar sana yang tidak diketahui oleh mahasiswa saya dan mereka tenang-tenang saja sementara saya gregetan setengah mati.  Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan sedemikian pesat, namun sebagian orang tidak mengetahui cara untuk menambah ilmu mereka dan sebagiannya lagi memilih untuk masa bodoh saja.

Hingga saya dan Athiek bertemu dengan seorang teman baru (lagi). Teman baru saya ini adalah teman dari Rendra, Rendra sendiri saya kenal karena saya berteman dengan Athiek. Pertemanan memang memang pada akhirnya akan membawa kita ke pertemanan baru. Teman baru saya ini orang Pekanbaru yang lama di Jakarta dan kemudian pulang lagi ke Pekanbaru. Tentu saja, seperti halnya saya orang Sumatra yang pernah di Jawa dan kembali ke Sumatra, ia membawa kegelisahan dan kegeraman yang sama melihat kota yang berpotensi besar dan kaya secara sumber daya alam tapi tidak punya greget, sementara dibelahan lain bumi Indonesia sudah mulai bergerak lebih cepat sementara disini ya slow motion aja. Jangankan teman baru saya itu, saya aja yang bukan orang sini gregetaannya setengah mati melihat ada banyak potensi yang bisa digerakkan tapi kemudian ya dianggurin begitu saja :(.

Dari kegelisahan itulah, teman baru saya ini kemudian mengajak kami; saya, Athiek dan Rendra untuk melakukan sesuatu untuk kota yang telah menjadi tempat kami hidup dan mencari rezeki. Sesuatu gerakan kecil yang merupakan percabangan dari gerakan besar yang sudah berdiri diberbagai kota di Indonesia dan beberapa diantaranya berada di Sumatra; seperti Jambi, Medan hingga Labuhan Batu bernama Akademi Berbagi. Akademi berbagi sendiri menurut saya merupakan gerakan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan terutama yang aplikatif dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia merupakan penjelmaan sekolah dalam bentuk yang lebih fleksibel. Fleksibel dalam hal waktu, tempat dan peserta namun tetap mengikuti kaidah seharusnya sebuah kelas; memiliki kurikulum, pengelola dan pengajar.

Pada saat itu, memiliki mimpi bahwa gerakan ini akan hadir di Pekanbaru seperti mimpi yang menjelma menjadi nyata. Why dream comes true?. Di tahun 2011, saya sudah mengenal gerakan akademi berbagi ini dan bahkan pernah melamar menjadi kepala sekolah agar Pekanbaru bisa punya kelas serupa. Keinginan ini dimulai dari pertama kali saya melihat ada banyak postingan tentang kelas berbagi pengetahuan yang diprakarsai oleh akun @akademiberbagi dan @pasarsapi bersliweran di linimasa akun twitter saya. Tiba-tiba saya merasa cemburu. Cemburu karena tidak ada gerakan serupa di kota ini pada saat itu sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru, seperti yang didapatkan oleh teman-teman saya di Jawa sana. Dengan berbekal kecemburuan itulah saya kemudian melamar menjadi kepala sekolah untuk akademi berbagi pekanbaru namun saya tidak berhasil memulainya karena tidak menemukan patner yang cocok.

Bagi saya, pertemuan pertama kami; saya, Athiek, Rendra dan teman baru saya itu di pertengahan tahun ini disebuah cafe seperti menarik saya kepada sebuah mimpi yang sempat dibangun dan kemudian ditenggelamkan karena saya tidak mampu membangunnya sendiri. Tiba-tiba saya merasa bahwa memiliki sebuah kelas beragi di kota ini tidaklah mustahil lagi karena ada empat orang dengan pemikiran yang sama, ingin membangun pekanbaru, bergabung didalamnya. Begitulah, meeting demi meeting selepas jam kerja, chatting di grup whattsap atau imel menjadi langkah-langkah kecil dari sebuah langkah besar bernama Akademi Berbagi Pekanbaru. dimulai dari sebuah akun twitter bernama @akberpekanbaru, kami mulai menjalin mimpi agar belajar menjadi menyenangkan dan mudah bagi semua orang yang ingin belajar tanpa harus tersekat oleh, waktu, usia, tempat dan biaya.

Bulan lalu (26/10), seiring dibukanya kelas perdana kami, dan sabtu kemaren (26/11) setelah kelas kedua berlangsung, keyakinan saya makin menguat, bahwa ternyata tidak harus selalu berada dipusat informasi untuk bisa melakukan banyak hal dan tidak selalu harus berada di Jawa untuk bisa memperoleh kesempatan yang sama seperti yang didapatkan orang lain. Sebaliknya, justru karena tidak berada dipusat informasi seperti di jawa saya dan teman-teman di akademi berbagi pekanbaru bisa menciptakan kesempatan yang sama bagi banyak orang.
 

Senin, 21 Oktober 2013

Cerita Dari Balik Dapur-Silla

Memiliki toko kue, meski tidak ada bentuk tokonya dan masih dalam taraf bertumbuh mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah belajar mengelola orang lain. Sebagai pemasak tunggal, saya biasanya cukup berhati-hati bahkan sangat berhati-hati untuk bisa mempercayai orang lain ikut memasak bersama saya. Hingga saya bertemu silla, tetangga yang kemudian menjadi asisten saya di hesbronz factory.

Awalnya, saya meminta Silla untuk membantu saya beres-beres rumah dan mencuci peralatan masak dan menimbang bahan-bahan. Bagian itulah yang seringkali akan menghabiskan waktu dan tenaga dalam  memasak, sementara sayapun masih harus ke kampus dan mengajar. Sebelum bergabung jadi asisten, saya sudah pernah mengajarkan silla membuat kue yang saya jual. Namun tiap kali ia ingin membuatnya kembali, ia selalu datang ke rumah, alasannya ga pede.

Akhirnya kesempatan pertama untuk silla membuat kue sendiri datang juga. Saat itu saya ada kelas dan tiba-tiba ada pesanan yang harus dibuat. Sayapun meminta silla untuk membuatnya. Awalnya dia menolak, lagi-lagi karena ga pede. Alasan berikutnya adalah takut dengan kompor gas dan berikutnya lagi takut gagal.
Saya bilang ke dia, lakukan saja sebaik yang dia bisa. kalo ada apa-apa dia bisa kontak saya. Alhamdulillah kue pertama ga buruk sama sekali. Tapi sesekali ada juga siy sedikit gosong, memarut keju mozarella utk bronis dan kaget sendiri karena kejunya gosong:).

Tapi sekarang, saya bisa dengan lega meninggalkan rumah hanya dengan bekal selembar kertas yang ditempel dengan magnit dipintu kulkas berisi daftar pesanan hari ini. Saya hanya perlu memastikan bahan-bahan lengkap dan tabung gas tidak kosong. Selebihnya, dia bisa melakukan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Kemudian saya mengetahui bahwa secara psikologis, dia akan grogi membuat kue jika saya ada di rumah. Jadi saya lebih memilih untuk berada di kampus saat pembuatan kue:)

Mempekerjakan seorang asisten itu bukan berarti membuat orang yang membayarnya memiliki posisi lebih tinggi berlipat-lipat. saya melihatnya sebagai simbiosis mutualisme yang perlu dijaga dengan baik. Hal yang saya pelajari adalah bagaimana memanusiakan asisten saya. Bagaimana menegur jika ia salah, memuji jika benar, mengetahui apa yang ia suka, apa yang membuat ia akan menjadi suntuk dan tidak fokus. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tidak merasa sedang bekerja setiap harinya. 

Jika dulu Silla bekerja di rumah saya 15 hari seminggu dengan gaji 400 rb, bulan ini, ia menerima gaji hampir dua kali lipatnya. Saya tidak akan lupa matanya yang berkaca-kaca saat gaji pertama saya serahkan ke tangannya. Pada saat itu saya tahu, bahwa saya tidak hanya memiliki asisten yang menyenangkan, tapi sekaligus saudara baru di rantau. Ia membereskan rumah saya seperti rumahnya, membuat kue seperti standar saya, bahkan memunculkan ide baru dan kadang memberi saya makan siang atau makanan apa saja yang ia buat di rumahnya.

JIka suatu hari nanti toko kami jadi besar, maka Silla adalah orang pertama yang akan menjadi pimpinan ketiga setelah saya dan patner saya. semoga begitu jadinya.. amin
I owe her much, so does my hesbronz factory



Minggu, 20 Oktober 2013

Mimpi Besar itu Bernama Hesbronz Factory

Selain menjadi wartawan, cita-cita yang sempat saya pendam itu adalah menjadi seorang koki alias juru masak. kecintaan saya terhadap dunia memasak sebesar kecintaan saya pada dunia menulis. Meskipun pada akhirnya tidak satupun dari memasak dan menulis menjadi karir, namun saya tetap sesekali menjadikannya sebagai pekerjaan yang menyenangkan.
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.

Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.

Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.

Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.

Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.

Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.

Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya

Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat