Kamis, 28 Februari 2013

Merantau


Tujuh tahun yang lalu saya mulai pertualangan perdana saya menetap di negeri seberang, kota yang menjadi impian saya sejak lama. Bukan perjalanan pertama saya tapi menjadi pertama kalinya bagi saya memindahkan hidup  ke sebuah tempat sangat-sangat baru dan asing. Pertualangan perdana itu diberi nama merantau. 

Merantau bagi saya yang berdarah minang merupakan hal yang biasa. Provinsi tempat saya dilahirkan dan dibesarkan; Sumatera Barat- bukanlah provinsi kaya, begitupun kota Padang, tempat saya dan keluarga berdomisili hanya sebuah kota biasa yang kebetulan besar karena menjadi ibukota provinsi. Tidak ada minyak bumi yang ditambang disana, hanya pernah ada batubara, itupun bekas galiannya sudah dijadikan objek wisata. Tidak ada hasil alam dari perut bumi yang bisa menjadi magnet yang membuat banyak orang berleha-leha sepanjang hari. begitupun tidak banyak orang yang bertanam sawit atau karet, kalaupun ada, mungkin lebih banyak perusahaan minyak sawit yang memilikinya daripada orang per orang. maka ada banyak orang yang akhirnya memilih meninggalkan kampung halamannya; mungkin mereka bosan dengan cocok tanam, mungkin mereka bosan dengan ritme hidup yang begitu-begitu saja sehingga butuh tantangan baru dan memaksa mereka keluar dari rumah, dari kampung dan dari kawasan aman mereka.

Orang minang biasanya merantau untuk dua hal; mencari penghidupan yang lebih layak atau menuntut ilmu. mereka yang mencari penghidupan yang lebih layak kemudian akan menjelma menjadi pedagang kecil hingga saudagar; yang berjualan barang-barang seribu tiga hingga yang berjualan barang sejuta satu. mulai dari beras hingga yang menjadi nasi. Oleh karena itulah orang minang diluar sana dianggap sangat jeli melihat peluang; hanya dengan melihat perempatan dan tanah kosong saja, mereka sudah bisa menebak seberapa potensial kawasan itu jika dijadikan rumah makan atau lapak untuk berjualan. Mereka yang menuntut ilmu, biasanya mendatangi kota-kota pelajar utama di pulau jawa, Memulai impian ketika kendaraan yang mengakut mereka mulai berjalan menuju kota tujuan. Berharap menjadi penerus cendikiawan-cendikiawan minang yang tersohor atau setidaknya pulang menjadi alim ulam dan cadiak pandai tampek batanyo. 
Sedangkan saya, menjadi perantauan dengan tujuan kedua dan dengan syarat dan ketentuan tertentu kadang berubah menjadi perantauan dengan tujuan pertama :) Jika Dompet masih tebal, saya akan fokus jadi perantauan yang menuntut ilmu, jika dompet mulai menipis, maka saya bisa berjualan apa saja :)

Merantau sebenarnya tidak menjanjikan hal-hal yang melulu manis, ia bahkan lebih banyak menyodorkan kepahitan. Di rantau, ada banyak makanan yang tidak biasa di lidah, sedangkan makanan dari daerah asal harganya menipiskan kantongs. Ada banyak orang yang kita tidak mengerti bahasanya, yang membuat kita sulit tertawa ketika mereka tertawa didekat kita karena takut kitalah yang menjadi objek tertawaan. Ada masa ketika uang menipis sementara tanggal muda masih lama, ada masa ketika kita sakit dan tidak ada yang merawat dan lainnya. tapi pahitnya merantau itulah yang sebenarnya yang mengajarkan bahwa sebenarnya kita terlalu sering melewatkan hal-hal manis dalam hidup kita masing-masing karena terlalu mudah didapat. Ya, sebut saja makanan yang sehari-hari dihiudangkan oleh ibu di rumah, yang seringkali terlihat membosankan sehingga jajanan biasa diluar sana terlihat seribu kali lebih menarik

Selain mengajarkan banyak hal seperti yang saya sebutkan diatas, merantau bagi saya benar-benar pintu yang mempertemukan saya dengan banyak orang orang baru yang mengisi hidup saya pengganti kerabat dan teman yang saya tinggalkan di daerah lama. Meskipun tidak ada yang benar-benar persis seperti mereka, tapi merantau membuat saya memiliki banyak orang tua baru; almarhum pakde dan bude penjaga kosan tempat saya tinggal, ibu yoshua langganan pijit saya, orang tua dari teman-teman kos saya, bapak endro-supir di kantor saya yang lama, dosen pembimbing saya hingga bapak-bapak dan ibu-ibu yang tinggal di gang yang sama dengan tempat saya tinggal. Beliau-beliau itulah yang mengobati kerinduan saya akan mama dan papa saat saya jauh dari rumah. Begitupun saya bagi mereka kadang menjadi pengganti bagi anak-anak mereka yang sudah keluar dari rumah. Di rantau juga saya menemukan saudara-saudara baru, yang kemudian menjadi tak kalah dekat, bahkan jauh lebih dekat daripada saudara saya sendiri; kakak kos saya kak deni, teman milis mb yuni, mas ardian, mb dian, teman-teman kantor yang usianya diatas saya atau adik-adik kos yang menjadikan saya sebagai kakak mereka. Dan yang paling banyak yang saya dapatkan dari merantau adalah teman-teman baru. Meskipun teknologi berkembang sangat pesat, tapi saya pikir, tanpa merantau saya tidak akan pernah terhubung dengan mereka yang hingga hari ini menjadi teman-teman baik saya. Karena kami keluar dari rumah kami masing-masinglah maka kami saling bertemu,bertegur sapa hingga kemudian menjadi kawan. 

Empat tahun kemudian saya kembali memindahkan hidup saya ke tempat baru, kali ini lebih dekat ke rumah. Kota perantauan saya yang pertama sebenarnya terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan, tetapi saya tidak akan mendapatkan banyak hal dan kesempatan baru dalam karir saya jika tetap bersikeras tinggal disana. Untuk pekerjaan yang saya pilih, saya hanya akan menjadi ikan kecil di kolam yang besar, hampir tak terlihat. kota tujuan merantau saya yang baru tidak semenyenangkan kota sebelumnya bagi saya. proses adaptasinya cukup berat karena saya berhadapana dengan ritem, pola dan pemikiran yang bertolak belakang dengan kota sebelumnya. beberapa waktu diawal merantau, saya kesepian, merasa tidak ada orang-orang yang saya inginkan berada disekitar saya. Kehidupan saya kembali monoton, tidak sama seperti di kota yang lama yang penuh dengan aktivitas dan pertemanan. 

Hingga suatu ajakan menjelalah objek wisata di provinsi ini muncul di facebook saya hampir dua tahun yang lalu. Saya berpikir, mungkin inilah saatnya saya mencari teman-teman baru, kerabat-kerabat baru pengganti mereka yang saya tinggalkan disana. Pagi itu, ketika pintu mobil yang berhenti di depan kontrakan saya dibuka, saat itulah saya tahu, bahwa saya menemukan teman baru, kerabat baru dalam perantauan baru saya. Perjalanan pertama saya di daerah baru benar-benar membuktikan bahwa teman dan kerabat itu ada dimana-mana, sepanjang kita juga tidak berdiam diri menunggu saja. Tak masalah siapa yang menyodorkan tangan terlebih dahulu untuk memulai berkenalan, tak masalah siapa yang akan menyambutnya. kadang mungkin kita harus memulainya terlebih dahulu, kadang orang lain. Yang penting adalah setelahnya, setelah jabat tangan usai, setelah nama disebutkan, jika setelahnya senyum terkembang, maka ia atau mereka mungkin orang baru yang akan menjadi teman dan kerabat baru kita.


perjalanan pertama- Siak 140511 dan teman baru berikutnya dalam hidup saya; Romel(baju merah-abu2) , Atiek dan Arka (baju hitam)


Pada akhirnya, meskipun saya masih harus terus beradaptasi, meskipun teman datang dan pergi, tapi merantau adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya, keputusan terbaik yang merubah cara saya memandang banyak hal. Ia memberikan saya kesempatan untuk menikmati hal-hal baru, berkenalan dengan hal-hal baru atau bahkan belajar menyukai hal-hal, tempat-tempat, makanan serta karakter orang yang tadinya tidak saya sukai

“Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang"

- Syair Imaam Syafi’i tentang Merantau