Sabtu, 28 Desember 2013

Pria VS Wanita

Saya bertemu dengan seorang pria yang mengatakan kepada saya bahwa ia jatuh hati pada saya. Saya berkenalan hanya empat hari sebelum kami bertemu dan hanya berbicara satu jam saja. Selebihnya, hidup saya sangat naik turun setelahnya. Pria ini, senang menguji saya, menguji hati saya untuknya. Saya dan dia berbeda kasta, jika kata itu boleh dipergunakan untuk menggambarkan perbedaan kami; dalam apa saja; pendidikan, pekerjaan hingga cara bertutur kata. Saya tidak keberatan sebenarnya, begitupun dirinya tapi sekitar kamilah yang membuat segalanya menjadi begitu berat.

Saudara saya mengatakan bahwa harga diri seorang pria terletak pada isi dompetnya. Jika dompetnya tebal, maka meskipun yang lainnya biasa saja, maka ia akan selalu percaya diri. Sedangkan saya percaya bahwa harga diri seorang pria harusnya tetap berada di hati dan pikirannya saja. Jikalah boleh kita berandai-andai, jika saja saya dan pria itu menikah, maka kasta, dompet, pendidikan, dllnya seharusnya tidak akan pernah muncul lagi dan mengganggu kami.

Saya belum menikah, dan tentu saja belum berpengalaman sama sekali soal pernikahan, tapi satu hal yang saya yakini, bahwa laki-laki adalah imamnya perempuan jika mereka sudah di sahkan dalam ijab kabul nanti. Jika diibaratkan dalam sebuah mobil, maka yang laki-laki adalah supirnya dan perempuan bisa jadi penumpang, navigator atau mungkin jadi supir pengganti. Artinya, sepanjang perjalanan ia bergantung sepenuhnya kemanapun sang supir mengarahkan mobilnya. Sesekali, jika mobil yang dibawa berjalan terlalu kencang, maka sebagai penumpang ia berhak menggingatkan. Jika bertindak sebagai navigator, ia akan mengingatkan si supir untuk waspada terhadap gangguan yang ada di kiri dan kanan kendaraan mereka, membantu membaca peta dan mencari petunjuk arah atau turun bertanya kepada penduduk sekitar jika mereka tersesat. Dan tentu saja ia harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang sedikit menyamai supir utama jika harus menjadi supir pengganti.

Dengan begitu panjang perumpamaan yang saya buat untuk menggambarkan hubungan pria dan wanita dalam pernikahan, tidak serta merta membuat pria ini begitu saja mempercayai bahwa saya tidak akan melecehkannya seperti yang dilakukan banyak wanita yang berpendidikan dan berpenghasilan lebih tinggi daripada di pria. Begitu ia tidak bisa menutupi caranya menunjukkan rasa egonya terhadap saya.

Entah bagaimana seharusnya..
tapi mungkin saja saya dan dia dipertemukan hanya untuk belajar terlebih dahulu bagaimana mengenal karakter lawan jenis dengan baik sebelum memutuskan untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius

dari postingan lama yang akhirnya selesai juga:)

Canggung

Belakangan saya banyak berpikir, bahwa sebenarnya kita menuruni sifat-sifat dan karakteristik tertentu dari orang tua kita masing-masing..suka ataupun tidak suka. Dari papa, saya menuruni sifat beliau yang supel dan pandai berbicara serta berkomunikasi dengan banyak orang. Sedangkan dari mama, saya menuruni sifat skeptis, banyak pertimbangan dan canggung. Sungguh perpaduan yang aneh.

Awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa saya menuruni sifat canggung yang dimiliki oleh mama. Saya masih merasa bahwa saya termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan siapa saja. Tapi ternyata tidak begitu adanya. Kecanggungan pertama yang saya rasakan adalah ketika berhadapan dengan rekan rekan kerja pertama saya yang orang jawa semua. Menjadi satu-satunya orang sumatra pada saat itu, yang tidak menguasai bahasa jawa pula membuat saya kehilangan semangat saya ketika berada di kantor. Saya bingung bagaimana harus masuk kedalam percakapan teman-teman saya itu. Saya tidak tahu bagaimana caranya bisa ikut lucu dan tertawa ditengah obrolan yang tidak saya pahami. Dan kemudian yang terjadi adalah saya kehilangan senyum selama 3 bulan dan baru bisa memperbaiki semuanya setelahnya

Belakangan ini saya merasa kecanggungan saya menjadi-jadi. Terutama ketika saya berada di grup komunitas yang saya ikuti. saya merasa lost in translation. banyak hal yang tidak saya pahami dan tidak dipahami teman-teman saya tentang diri saya ini. Saya seringkali salah menanggapi sesuatu, sering menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan, terlalu formal, garing dan banyak hal lain yang membuat saya sebenarnya ingin menyembunyikan diri saya kedalam cangkang untuk sementara waktu. Saya berusaha tertawa normal ketika ada yang lucu sementara hati dan kepala saya sibuk berpikir mengapa saya tidak bisa tertawa lepas dengan mereka.

Ternyata lingkungan pekerjaan dan keseharian saya sebagai dosen membuat saya terbiasa memulai sesuatu dengan formal dan itu juga terbawa dan cara berkomunikasi saya dengan orang sekitar. Kehidupan saya yang lekat dengan penilaian banyak orang, membuat saya tidak bisa untuk tidak berhenti menerka-nerka apa yang dipikirkan orang tentang saya. Keberadaan saya sebagai anak tengah acap kali membuat saya menjadi peragu dalam mengambil langkah..kombinasi inilah yang membuat semua kecanggungan terasa semakin menjadi-jadi..


Bukan salah mereka saya kira..tapi mungkin saya perlu penyesuaian lebih lama. Tapi kecanggungan ini juga yang membuat saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini dan kembali membuat saya ingin menarik diri dan bersembunyi dalam goa saya...mudah-mudahan semua akan segera berlalu siring berjalannya waktu..semoga

Jumat, 27 Desember 2013

Unplanned your plan - Kuala Lumpur trip prologue

Plan A : go with your itinerary, stay in a comfort place, reach many hots spots as many as you want
Plan B : Unplanned your plan

Bulan lalu, saya seharusnya terbang ke Thailand untuk mempresentasikan paper saya yang diterima pada sebuah konferensi internasional tapi apa daya, hingga dua hari sebelum hari H surat izin keberangkatan saya dinas ke thailand tak kunjung ada kabarnya dari Sekretariat Negara. Sementara itu, jika dipaksakan, maka keberangkatan saya itu akan kecil kemungkinan didanai atau jika didanaipun, ada kemungkinan dana itu harus dikembalikan. Sedih sih, apalagi saya sudah terlanjur memesan tiket pekanbaru- kualalumpur terlebih dahulu untuk mengantisipasi mahalnya harga tiket.

Tapi ya sudahlah..
semakin dipikirin malah nanti semakin kesal. Awalnya, saya bermaksud untuk sekalian melakukan long trip pekanbaru-kualalampur-bangkok-kualalumpur-singapore setelah presentasi usai. Mumpung punya perjalanan ke bangkok dan sebagiannya akan dibayari dan mumpung paspor saya sudah jadi dan mumpung pertama kalinya ke luar negri dan ke negara yang bisa disambung-sambungkan perjalanannnya...

Dan kenyataannya..
saya batal ke bangkok sementara itu tiket Pekanbaru-KL yang saya pesan memiliki range terbang 10 hari. sungguh membingungkan. perjalanan 10 hari di suatu negara yang belum pernah saya datangi tentu saja akan membutuhkan biaya yang panjang dan memotong waktu ngajar saya untuk sementara waktu. Ditengah kebingungan itu, saya memutuskan untuk kembali mengecek harga tiket ke KL dari pekanbaru di antara tanggal pemesanan tiket saya sebelumnya dan ternyata harganya hanya IDR 120 rb saja...hmmm 

Jadilah awal november kemaren saya akhirnya memakai pasport saya untuk pertama kalinya. Ternyata perjalanan ke luar negeri dan sendiri pula itu bikin senewen. Saya bolak balik bertanya kepada teman-teman saya yang sudah wara wiri ke Kuala lumpur untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasilnya malah saya stress sendiri. Stress karena saya malah jadi ketakutan sendiri membayangkan berada ditempat asing diluar Indonesia, sendiri pula. Masa keberangkatan saya yang jatuh setelah liburan usai, membuat saya tidak punya teman perjalanan. Tapi tiket sudah dipesan dan pasport sudah dibuat.. lalu kenapa tidak kita nikmati saja rencana ini? 

Dan setelah malam sebelumnya demam dan paginya masih harus ke kampus ngantairn laporan, Rabu siang (07/11) saya sudah duduk manis di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim menunggu pesawat yang akan membawa saya ke tujuan. Gabungan antara rasa takut dan terlalu bersemangat menjadi satu. Saya datang ke counter check-in dan masuk ruang tunggu seakan saya belum pernah terbang sebelumnya. takut salah, takut ada yang berbeda dan lain-lain..but we will never know until we have really tried:) 

Then, Kuala Lumpur Here I come:)

My First Backpack Only Trip


Kuala Lumpur dari Udara
Boarding pass dengan cap imigrasi



Senin, 16 Desember 2013

Dear Atiek..

There is an end to all things..no matter how much we want to hold on to them
- unknown-



Saya tidak suka perpisahan, semanis apapun ia dikemas. Beberapa bulan terakhir ini satu persatu teman saya di komunitas jalan-jalan kami angkat kaki dari Pekanbaru dan beberapa kali pula saya menjadi pembawa acara perpisahan mereka. No matter how bad your friend is, still there will be one hole created in your heart when he/she leave. Sebenarnya, pengalaman saya ketika menjadi anak kos di jogja telah memaksa saya untuk  membiasakan diri dengan perpisahan, karena pada akhirnya setiap orang harus melanjutkan hidupnya masing-masing meskipun dengan jarak yang berjauhan dan bukan dengan orang yang sama. Tapi semuanya dimentahkan kembali ketika saya datang ke kota ini. Di kota ini saya bertemu dengan banyak teman-teman yang juga merantau seperti saya, tidak punya teman dan kemudian menjalin pertemanan dari ketiadaan itu..dari persamaan nasib dan pikiran.

Saya berkenalan dengan Atiek hampir 3 tahun yang lalu di dalam mobil avanza sewaan yang membawa saya, Arka, Romel dan Atiek sendiri ke daerah Siak. Trip pertama kami disebuah komunitas yang menjadi awal pertemanan kami selama tiga tahun ini.  Sebagai sesama perantau, kesamaan kami adalah sama-sama hobi mengutuk betapa bobroknya kota yang tanahnya kami injak dan kami jadikan tempat mencari kehidupan ini.
Akan tetapi, perkenalan kami dan  kemudian menyusul perkenalan denganteman-teman saya yang lain di komunitas jalan-jalan kami, menjadi awal saya untuk melihat bahwa kota ini tidak seburuk yang dibayangkan.

Sayapun tidak tahu mengapa kami bisa berteman sedemikan dekat. Padahal saya dan dia sangat berbeda sifat dan karakter..
Ia suka saos sambal sementara saya sukanya saos tomat
ia akan memakan ampela dan saya akan memakan hati
saya suka tahu ia sukanya tempe
saya formal dan dia casual
saya berhati lembek dan dia to do point

Tapi sebenarnya kami sama saja..terlihat sangat tangguh tapi sebenarnya juga amat rapuh
ia suka lagu-lagu cadas tapi sebaliknya, hatinya terlalu mudah tersentuh
kami suka nonton film Indonesia terbaru di bioskop
kami suka ke pasar tradisional, membeli ikan dan kemudian memasaknya
Ia dan saya lebih suka ke supermarket belanja harian daripada mengitari mall
Kami akhirnya menjadi penjelajah kuliner di kota ini, penongkrong nomaden dari kafe satu ke yang lainnya
Tidak keberatan membayar mahal untuk makanan asal enak dan akan keberatan membayar mahal untuk pakaian dan lain-lain. 
Saya sensitif dan ia cengeng, bahkan lebih cengeng dari saya, mudah menangis oleh hal-hal yang tidak terbayangkan oleh saya sebelumya, ia menangis mendengar rekaman suara teman kami bernyanyi untuk anaknya, ketika membaca postingan ttg kerasnya kehidupan di jakarta dan bahkan menangis karena postingan seorang teman ttg keberangkatannya bulan depan..


Tuhan mengirim seseorang dalam kehidupan kita untuk alasan tertentu. Dan Tuhan mengirimkan Athiek di hidup saya agar saya bisa belajar untuk  membangun banyak hal baik dalam diri saya yang seringkali tidak saya sadari. ia, melihat lebih banyak dari yang saya lihat. Atiek mengajari saya untuk lebih galak dan tegas karena ia tahu saya orangnya ga tegaan sehingga gampang dimanfaatkan. Ia mengajari saya berbagi tanpa harus menghitung-hitung kapan semuanya akan kembali
Ia datang untuk menjadi orang yang mengatakan bahwa saya bisa melakukan sesuatu lebih dari yang saya bayangkan tanpa banyak kata-kata
Ia melindungi saya dari omongan-omongan yang tidak ingin saya dengar
menghormati pilihan saya atas sebuah hubungan, meskipun dengan orang sama sekali tidak ia sukai meskipun dengan orang yang salah dan meskipun tanpa masa depan
Ia menyediakan kamarnya dan memabgi kasurnya yang tidak besar itu untuk ditiduri bersama saya jika saya kemalaman agar saya tidak merasa sendiri dan kesepiian
Tidak pernah keberatan dengan berteman dengan saya yang besar ini karena ia bisa berlindung dibalik tubuh saya dari angin ketika kami berkendara dengan motor.
with her, i learn that as long as my friend happy, i'll happy coz so does her.

Tiga tahun yang terlalu sebentar..dan saya gamang..
saya terlalu terbiasa dengannya..
tanpa perlu dikatakan, ia sudah tahu bagaimana membaca saya, mengerti kapan harus bicara kapan harus diam dan kapan harus mengerasi saya yang hatinya lembek ini..
Ia mengatakan apa yang saya tidak bisa katakan, 
menjadi orang yang berulangkali mengatakan pada saya bahwa saya tidak boleh menilai diri saya terlalu rendah dan menilai orang lain terlalu tinggi
menjadi tempat bercerita untuk rahasia saya yang paling besar sekalipun tanpa perlu takut rahasia itu akan diceritakan kepada orang lain

Jika saja saya boleh memilih, saya ingin ia selamanya di Pekanbaru saja..bahu membahu dengan saya dan teman-teman lain membangun akademi berbagi yang baru kami rintis..Menjadi pintu yang saya ketuk ketika saya lelah atau ketika saya bersemangat, teman pergi sarapan hingga makan malam saya ke tempat yg selalu membuat kami bingung untuk menentukannya.. Jika boleh, saya tidak ingin ia pergi, karena saya tidak tahu apa jadinya pekanbaru dan saya tanpa dia. Tapi saya ingat ketika ia bercerita bahwa alasan kepindahannya adalah agar lebih dekat dengan rumah, dengan ibunya yang sudah mulai menua, agar ada keluarga yang menjaga ketika ia sakit..dan kemudian saya menyadari betapa egoisnya saya menahannya disini hanya agar saya selalu ada teman..

Dear Atiek, 

I hate seeing how time flies and counting the days till you really have to go
I cant wondering how hard the future will be without u here with me
That how much i thank you for standing beside me for years..
Accepting me for whoever I am
Listening my story again and again
giving me hug when it is needed
giving me support when I'm weak
Being proud for every single achievement that i made
For being more a bestiest, a sister and a family
for uncountable things that i cant mention one by one along our three years friendship

wishing for years more to go
still, you can count on me as long as you want
no matter how far the distance will be
growing old together, sharing our life story till our own eyes cant clearly see

Dear Atiek, 

Thank you for a very wonderful 3 years that we've spent together..
surely, I'll be missing every single thing that we used to do together
but dont worry, I'll be fine..and so do u

So, see u again dear..
Someday, when Air Asia have a flight promo to Makasar, I'll be there:)


Minggu, 27 Oktober 2013

Akademi Berbagi Pekanbaru - Ketika Mimpi Tidak Lagi Sekedar Mimpi




“To find your highest level of success, you must be willing to help others become successful.”

[Author Unknown]

Tahun 2010, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki ke kota Pekanbaru ini hingga di tahun ketiga saya tinggal disini, saya masih sering mengutuk cara berpikir orang-orang disekitar saya serta cara mereka menilai dan memperlakukan orang lain. Selain itu, saya masih sering terkaget-kaget mengetahui bahwa ada banyak hal diluar sana yang tidak diketahui oleh mahasiswa saya dan mereka tenang-tenang saja sementara saya gregetan setengah mati.  Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan sedemikian pesat, namun sebagian orang tidak mengetahui cara untuk menambah ilmu mereka dan sebagiannya lagi memilih untuk masa bodoh saja.

Hingga saya dan Athiek bertemu dengan seorang teman baru (lagi). Teman baru saya ini adalah teman dari Rendra, Rendra sendiri saya kenal karena saya berteman dengan Athiek. Pertemanan memang memang pada akhirnya akan membawa kita ke pertemanan baru. Teman baru saya ini orang Pekanbaru yang lama di Jakarta dan kemudian pulang lagi ke Pekanbaru. Tentu saja, seperti halnya saya orang Sumatra yang pernah di Jawa dan kembali ke Sumatra, ia membawa kegelisahan dan kegeraman yang sama melihat kota yang berpotensi besar dan kaya secara sumber daya alam tapi tidak punya greget, sementara dibelahan lain bumi Indonesia sudah mulai bergerak lebih cepat sementara disini ya slow motion aja. Jangankan teman baru saya itu, saya aja yang bukan orang sini gregetaannya setengah mati melihat ada banyak potensi yang bisa digerakkan tapi kemudian ya dianggurin begitu saja :(.

Dari kegelisahan itulah, teman baru saya ini kemudian mengajak kami; saya, Athiek dan Rendra untuk melakukan sesuatu untuk kota yang telah menjadi tempat kami hidup dan mencari rezeki. Sesuatu gerakan kecil yang merupakan percabangan dari gerakan besar yang sudah berdiri diberbagai kota di Indonesia dan beberapa diantaranya berada di Sumatra; seperti Jambi, Medan hingga Labuhan Batu bernama Akademi Berbagi. Akademi berbagi sendiri menurut saya merupakan gerakan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan terutama yang aplikatif dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia merupakan penjelmaan sekolah dalam bentuk yang lebih fleksibel. Fleksibel dalam hal waktu, tempat dan peserta namun tetap mengikuti kaidah seharusnya sebuah kelas; memiliki kurikulum, pengelola dan pengajar.

Pada saat itu, memiliki mimpi bahwa gerakan ini akan hadir di Pekanbaru seperti mimpi yang menjelma menjadi nyata. Why dream comes true?. Di tahun 2011, saya sudah mengenal gerakan akademi berbagi ini dan bahkan pernah melamar menjadi kepala sekolah agar Pekanbaru bisa punya kelas serupa. Keinginan ini dimulai dari pertama kali saya melihat ada banyak postingan tentang kelas berbagi pengetahuan yang diprakarsai oleh akun @akademiberbagi dan @pasarsapi bersliweran di linimasa akun twitter saya. Tiba-tiba saya merasa cemburu. Cemburu karena tidak ada gerakan serupa di kota ini pada saat itu sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru, seperti yang didapatkan oleh teman-teman saya di Jawa sana. Dengan berbekal kecemburuan itulah saya kemudian melamar menjadi kepala sekolah untuk akademi berbagi pekanbaru namun saya tidak berhasil memulainya karena tidak menemukan patner yang cocok.

Bagi saya, pertemuan pertama kami; saya, Athiek, Rendra dan teman baru saya itu di pertengahan tahun ini disebuah cafe seperti menarik saya kepada sebuah mimpi yang sempat dibangun dan kemudian ditenggelamkan karena saya tidak mampu membangunnya sendiri. Tiba-tiba saya merasa bahwa memiliki sebuah kelas beragi di kota ini tidaklah mustahil lagi karena ada empat orang dengan pemikiran yang sama, ingin membangun pekanbaru, bergabung didalamnya. Begitulah, meeting demi meeting selepas jam kerja, chatting di grup whattsap atau imel menjadi langkah-langkah kecil dari sebuah langkah besar bernama Akademi Berbagi Pekanbaru. dimulai dari sebuah akun twitter bernama @akberpekanbaru, kami mulai menjalin mimpi agar belajar menjadi menyenangkan dan mudah bagi semua orang yang ingin belajar tanpa harus tersekat oleh, waktu, usia, tempat dan biaya.

Bulan lalu (26/10), seiring dibukanya kelas perdana kami, dan sabtu kemaren (26/11) setelah kelas kedua berlangsung, keyakinan saya makin menguat, bahwa ternyata tidak harus selalu berada dipusat informasi untuk bisa melakukan banyak hal dan tidak selalu harus berada di Jawa untuk bisa memperoleh kesempatan yang sama seperti yang didapatkan orang lain. Sebaliknya, justru karena tidak berada dipusat informasi seperti di jawa saya dan teman-teman di akademi berbagi pekanbaru bisa menciptakan kesempatan yang sama bagi banyak orang.
 

Senin, 21 Oktober 2013

Cerita Dari Balik Dapur-Silla

Memiliki toko kue, meski tidak ada bentuk tokonya dan masih dalam taraf bertumbuh mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah belajar mengelola orang lain. Sebagai pemasak tunggal, saya biasanya cukup berhati-hati bahkan sangat berhati-hati untuk bisa mempercayai orang lain ikut memasak bersama saya. Hingga saya bertemu silla, tetangga yang kemudian menjadi asisten saya di hesbronz factory.

Awalnya, saya meminta Silla untuk membantu saya beres-beres rumah dan mencuci peralatan masak dan menimbang bahan-bahan. Bagian itulah yang seringkali akan menghabiskan waktu dan tenaga dalam  memasak, sementara sayapun masih harus ke kampus dan mengajar. Sebelum bergabung jadi asisten, saya sudah pernah mengajarkan silla membuat kue yang saya jual. Namun tiap kali ia ingin membuatnya kembali, ia selalu datang ke rumah, alasannya ga pede.

Akhirnya kesempatan pertama untuk silla membuat kue sendiri datang juga. Saat itu saya ada kelas dan tiba-tiba ada pesanan yang harus dibuat. Sayapun meminta silla untuk membuatnya. Awalnya dia menolak, lagi-lagi karena ga pede. Alasan berikutnya adalah takut dengan kompor gas dan berikutnya lagi takut gagal.
Saya bilang ke dia, lakukan saja sebaik yang dia bisa. kalo ada apa-apa dia bisa kontak saya. Alhamdulillah kue pertama ga buruk sama sekali. Tapi sesekali ada juga siy sedikit gosong, memarut keju mozarella utk bronis dan kaget sendiri karena kejunya gosong:).

Tapi sekarang, saya bisa dengan lega meninggalkan rumah hanya dengan bekal selembar kertas yang ditempel dengan magnit dipintu kulkas berisi daftar pesanan hari ini. Saya hanya perlu memastikan bahan-bahan lengkap dan tabung gas tidak kosong. Selebihnya, dia bisa melakukan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Kemudian saya mengetahui bahwa secara psikologis, dia akan grogi membuat kue jika saya ada di rumah. Jadi saya lebih memilih untuk berada di kampus saat pembuatan kue:)

Mempekerjakan seorang asisten itu bukan berarti membuat orang yang membayarnya memiliki posisi lebih tinggi berlipat-lipat. saya melihatnya sebagai simbiosis mutualisme yang perlu dijaga dengan baik. Hal yang saya pelajari adalah bagaimana memanusiakan asisten saya. Bagaimana menegur jika ia salah, memuji jika benar, mengetahui apa yang ia suka, apa yang membuat ia akan menjadi suntuk dan tidak fokus. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tidak merasa sedang bekerja setiap harinya. 

Jika dulu Silla bekerja di rumah saya 15 hari seminggu dengan gaji 400 rb, bulan ini, ia menerima gaji hampir dua kali lipatnya. Saya tidak akan lupa matanya yang berkaca-kaca saat gaji pertama saya serahkan ke tangannya. Pada saat itu saya tahu, bahwa saya tidak hanya memiliki asisten yang menyenangkan, tapi sekaligus saudara baru di rantau. Ia membereskan rumah saya seperti rumahnya, membuat kue seperti standar saya, bahkan memunculkan ide baru dan kadang memberi saya makan siang atau makanan apa saja yang ia buat di rumahnya.

JIka suatu hari nanti toko kami jadi besar, maka Silla adalah orang pertama yang akan menjadi pimpinan ketiga setelah saya dan patner saya. semoga begitu jadinya.. amin
I owe her much, so does my hesbronz factory



Minggu, 20 Oktober 2013

Mimpi Besar itu Bernama Hesbronz Factory

Selain menjadi wartawan, cita-cita yang sempat saya pendam itu adalah menjadi seorang koki alias juru masak. kecintaan saya terhadap dunia memasak sebesar kecintaan saya pada dunia menulis. Meskipun pada akhirnya tidak satupun dari memasak dan menulis menjadi karir, namun saya tetap sesekali menjadikannya sebagai pekerjaan yang menyenangkan.
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.

Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.

Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.

Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.

Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.

Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.

Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya

Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat

Senin, 04 Maret 2013

Bisa Di Adu

Ditengah menjamurnya acara pencarian bakat untuk para penyanyi di TV, saya jatuh cinta pada acara The Voice Indonesia yang disiarkan di Indoesiar. Acara pencarian bakat ini mencari para penyanyi yang diseleksi melalui tahapan blind audition. Blind audition ini mempersilahkan para peserta untuk bernyanyi didepan juri yang duduk di kursi-kursi yang membelakangi mereka. Mengapa para jurinya tidak bisa melihat langsung si peserta menyanyi didepan mereka? Saya pikir karena manusia itu makhluk visual, yang lebih gampang terpengaruh pada apa yang dilihat mata daripada yang didengarkan telinga. Itulah yang selama ini terjadi pada acara-acara sejenis. Mereka yang terpilih seringkali karena dianggap menjual, meskipun suaranya malah tidak menjual sama sekali. Dengan adanya blind audition ini, para juri (sepertinya) diharapkan untuk benar-benar bisa menilai suara daripada tampilannya.

Hidup kadang-kadang aneh ya, begitu juga dengan orang-orang yang berada disekitar kita. Ah, saya benci sebenarnya jika harus menulis tentang ini. Tapi saya tidak pernah benar-benar merasa sekecewa ini dengan situasi saya saat ini. Jika diibaratkan, saya ini penyanyi yang sering ikut audisi acara pencarian bakat tapi berkali-kali juga ditolak karena dianggap tidak menjual. Bukankah yang perlu dari seorang penyanyi itu suaranya? kalo tampilannya kurang menjual, tinggal dipoles tho?.

Seperti mereka yang berusaha menunjukkan apa yang mereka miliki kepada orang-orang diluar sana, saya juga sudah berusaha membangun diri saya dengan sebaik-baiknya hanya agar saya bisa dinilai secara lengkap dan utuh, tidak sepotong-sepotong. Bahwa saya, dengan badan saya yang sebesar ini bukanlah orang tidak bisa mengerjakan apa-apa, bahwa saya dengan ukuran tubuh saya ini memiliki pekerjaan yang bagus, bahwa saya, bukan orang pemalas yang kerjanya hanya makan dan tidur saja sehingga kemudian hasilnya badan saya sebesar ini. Tapi sayang, saya lebih sering kecewa, mungkin karena saya berharap pada manusia, bukan pencipta manusia.

Sebenarnya bukan kali ini saja saya ditolak karena masalah fisik. terlalu sering malah. Tapi yang terjadi kali ini terasa jauh lebih menyakitkan bagi saya.Mungkin karena saya sudah bosan ditolak atau mungkin karena penolakan itu terjadi setelah semua proses berjalan cukup jauh dan semua orang yang terlibat didalamnya mengetahui siapa saya sedari awal. Saya tidak suka jika orang lain melebih-lebihkan cerita tentang saya, saya maunya mereka melihat saya sendiri dengan mata kepala mereka, berkenalan dan kemudian berinteraksi dengan saya, setelah itu, silahkan nilai saya, dengan objektif dan terbuka. Sayangnya, banyak orang yang mematikan kesempatan saya, bahkan sebelum saya sempat melangkah, seperti mereka-mereka yang bertarung di acara pencarian bakat di televisi, yang bahkan baru satu bait lagu saja dinyanyikan sudah dihentikan. Bisa saja suara khasnya akan terdengar pada saat refrain, tapi sayang kita tidak cukup sabar menantinya. 

Ah, Kadang saya cuma tak habis pikir, betapa mudahnya seseorang merendahkan orang lain hanya karena ia badannya besar, hanya karena kulitnya tidak putih padahal ia sendiri melihat langsung bagaimana mereka membangun hidup setiap hari.  Begitu mudahnya orang mematikan kesempatan orang lain hanya karena mereka tidak memiliki spesifikasi fisik seperti yang dimiliki oleh rata-rata orang. padahal ada banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka selama ini menyembunyikan kedukaan mereka dibalik senyuman tipis saat kesempatan itu hilang, karena saat itu sebenarnya mereka kehilangan peluang untuk membuktikan bahwa apa yang orang-orang itu pikirkan tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan jauh lebih sering salah.

Bilang saja saya terlalu sensitif dan saya akan bilang bahwa anda benar. Tapi cobalah sekali-sekali berjalan dengan memakai sepatu yang biasa kami pakai, laluilah jalanan yang biasa kami lewati, lihatlah kehidupan sebagaimana kami selama ini melihatnya dan rasakan juga bagaimana selama ini bagaimana orang-orang diluar sana memperlakukan kami. Dan setelah itu kalian akan tahu, bahwa semua kata-kata motivasi yang menyuruh kami untuk menegakkan dagu dan mengangkat kepala dan tidak mempedulikan omongan orang itu nol besar.

" Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat

Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya"


-malaikat juga tahu-Dee Lestari





Kamis, 28 Februari 2013

Merantau


Tujuh tahun yang lalu saya mulai pertualangan perdana saya menetap di negeri seberang, kota yang menjadi impian saya sejak lama. Bukan perjalanan pertama saya tapi menjadi pertama kalinya bagi saya memindahkan hidup  ke sebuah tempat sangat-sangat baru dan asing. Pertualangan perdana itu diberi nama merantau. 

Merantau bagi saya yang berdarah minang merupakan hal yang biasa. Provinsi tempat saya dilahirkan dan dibesarkan; Sumatera Barat- bukanlah provinsi kaya, begitupun kota Padang, tempat saya dan keluarga berdomisili hanya sebuah kota biasa yang kebetulan besar karena menjadi ibukota provinsi. Tidak ada minyak bumi yang ditambang disana, hanya pernah ada batubara, itupun bekas galiannya sudah dijadikan objek wisata. Tidak ada hasil alam dari perut bumi yang bisa menjadi magnet yang membuat banyak orang berleha-leha sepanjang hari. begitupun tidak banyak orang yang bertanam sawit atau karet, kalaupun ada, mungkin lebih banyak perusahaan minyak sawit yang memilikinya daripada orang per orang. maka ada banyak orang yang akhirnya memilih meninggalkan kampung halamannya; mungkin mereka bosan dengan cocok tanam, mungkin mereka bosan dengan ritme hidup yang begitu-begitu saja sehingga butuh tantangan baru dan memaksa mereka keluar dari rumah, dari kampung dan dari kawasan aman mereka.

Orang minang biasanya merantau untuk dua hal; mencari penghidupan yang lebih layak atau menuntut ilmu. mereka yang mencari penghidupan yang lebih layak kemudian akan menjelma menjadi pedagang kecil hingga saudagar; yang berjualan barang-barang seribu tiga hingga yang berjualan barang sejuta satu. mulai dari beras hingga yang menjadi nasi. Oleh karena itulah orang minang diluar sana dianggap sangat jeli melihat peluang; hanya dengan melihat perempatan dan tanah kosong saja, mereka sudah bisa menebak seberapa potensial kawasan itu jika dijadikan rumah makan atau lapak untuk berjualan. Mereka yang menuntut ilmu, biasanya mendatangi kota-kota pelajar utama di pulau jawa, Memulai impian ketika kendaraan yang mengakut mereka mulai berjalan menuju kota tujuan. Berharap menjadi penerus cendikiawan-cendikiawan minang yang tersohor atau setidaknya pulang menjadi alim ulam dan cadiak pandai tampek batanyo. 
Sedangkan saya, menjadi perantauan dengan tujuan kedua dan dengan syarat dan ketentuan tertentu kadang berubah menjadi perantauan dengan tujuan pertama :) Jika Dompet masih tebal, saya akan fokus jadi perantauan yang menuntut ilmu, jika dompet mulai menipis, maka saya bisa berjualan apa saja :)

Merantau sebenarnya tidak menjanjikan hal-hal yang melulu manis, ia bahkan lebih banyak menyodorkan kepahitan. Di rantau, ada banyak makanan yang tidak biasa di lidah, sedangkan makanan dari daerah asal harganya menipiskan kantongs. Ada banyak orang yang kita tidak mengerti bahasanya, yang membuat kita sulit tertawa ketika mereka tertawa didekat kita karena takut kitalah yang menjadi objek tertawaan. Ada masa ketika uang menipis sementara tanggal muda masih lama, ada masa ketika kita sakit dan tidak ada yang merawat dan lainnya. tapi pahitnya merantau itulah yang sebenarnya yang mengajarkan bahwa sebenarnya kita terlalu sering melewatkan hal-hal manis dalam hidup kita masing-masing karena terlalu mudah didapat. Ya, sebut saja makanan yang sehari-hari dihiudangkan oleh ibu di rumah, yang seringkali terlihat membosankan sehingga jajanan biasa diluar sana terlihat seribu kali lebih menarik

Selain mengajarkan banyak hal seperti yang saya sebutkan diatas, merantau bagi saya benar-benar pintu yang mempertemukan saya dengan banyak orang orang baru yang mengisi hidup saya pengganti kerabat dan teman yang saya tinggalkan di daerah lama. Meskipun tidak ada yang benar-benar persis seperti mereka, tapi merantau membuat saya memiliki banyak orang tua baru; almarhum pakde dan bude penjaga kosan tempat saya tinggal, ibu yoshua langganan pijit saya, orang tua dari teman-teman kos saya, bapak endro-supir di kantor saya yang lama, dosen pembimbing saya hingga bapak-bapak dan ibu-ibu yang tinggal di gang yang sama dengan tempat saya tinggal. Beliau-beliau itulah yang mengobati kerinduan saya akan mama dan papa saat saya jauh dari rumah. Begitupun saya bagi mereka kadang menjadi pengganti bagi anak-anak mereka yang sudah keluar dari rumah. Di rantau juga saya menemukan saudara-saudara baru, yang kemudian menjadi tak kalah dekat, bahkan jauh lebih dekat daripada saudara saya sendiri; kakak kos saya kak deni, teman milis mb yuni, mas ardian, mb dian, teman-teman kantor yang usianya diatas saya atau adik-adik kos yang menjadikan saya sebagai kakak mereka. Dan yang paling banyak yang saya dapatkan dari merantau adalah teman-teman baru. Meskipun teknologi berkembang sangat pesat, tapi saya pikir, tanpa merantau saya tidak akan pernah terhubung dengan mereka yang hingga hari ini menjadi teman-teman baik saya. Karena kami keluar dari rumah kami masing-masinglah maka kami saling bertemu,bertegur sapa hingga kemudian menjadi kawan. 

Empat tahun kemudian saya kembali memindahkan hidup saya ke tempat baru, kali ini lebih dekat ke rumah. Kota perantauan saya yang pertama sebenarnya terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan, tetapi saya tidak akan mendapatkan banyak hal dan kesempatan baru dalam karir saya jika tetap bersikeras tinggal disana. Untuk pekerjaan yang saya pilih, saya hanya akan menjadi ikan kecil di kolam yang besar, hampir tak terlihat. kota tujuan merantau saya yang baru tidak semenyenangkan kota sebelumnya bagi saya. proses adaptasinya cukup berat karena saya berhadapana dengan ritem, pola dan pemikiran yang bertolak belakang dengan kota sebelumnya. beberapa waktu diawal merantau, saya kesepian, merasa tidak ada orang-orang yang saya inginkan berada disekitar saya. Kehidupan saya kembali monoton, tidak sama seperti di kota yang lama yang penuh dengan aktivitas dan pertemanan. 

Hingga suatu ajakan menjelalah objek wisata di provinsi ini muncul di facebook saya hampir dua tahun yang lalu. Saya berpikir, mungkin inilah saatnya saya mencari teman-teman baru, kerabat-kerabat baru pengganti mereka yang saya tinggalkan disana. Pagi itu, ketika pintu mobil yang berhenti di depan kontrakan saya dibuka, saat itulah saya tahu, bahwa saya menemukan teman baru, kerabat baru dalam perantauan baru saya. Perjalanan pertama saya di daerah baru benar-benar membuktikan bahwa teman dan kerabat itu ada dimana-mana, sepanjang kita juga tidak berdiam diri menunggu saja. Tak masalah siapa yang menyodorkan tangan terlebih dahulu untuk memulai berkenalan, tak masalah siapa yang akan menyambutnya. kadang mungkin kita harus memulainya terlebih dahulu, kadang orang lain. Yang penting adalah setelahnya, setelah jabat tangan usai, setelah nama disebutkan, jika setelahnya senyum terkembang, maka ia atau mereka mungkin orang baru yang akan menjadi teman dan kerabat baru kita.


perjalanan pertama- Siak 140511 dan teman baru berikutnya dalam hidup saya; Romel(baju merah-abu2) , Atiek dan Arka (baju hitam)


Pada akhirnya, meskipun saya masih harus terus beradaptasi, meskipun teman datang dan pergi, tapi merantau adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya, keputusan terbaik yang merubah cara saya memandang banyak hal. Ia memberikan saya kesempatan untuk menikmati hal-hal baru, berkenalan dengan hal-hal baru atau bahkan belajar menyukai hal-hal, tempat-tempat, makanan serta karakter orang yang tadinya tidak saya sukai

“Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang"

- Syair Imaam Syafi’i tentang Merantau