Senin, 06 Agustus 2012

Terlalu Sayang

Hampir jam setengah sebelas malam di depok dan adik saya, ade sudah tertidur pulas disebelah saya. Malam ini, malam terkahir saya di Jakarta dan saya putuskan untuk menginap di asrama mahasiswa UI untuk menemani dan lebih tepatnya mengurusi kebutuhan pindah asramanya si Ade sebelum saya pulang esok malam ke Pekanbaru.

Sebulan kami sekeluarga menghabiskan hari dengan harap cemas akan nasib dan masa depan adik saya ini. Harapan pertama kami agar dia lulus sebagai mahasiswa undangan di UGM tidak terkabulkan. Kami semua kecewa tapi pasti dia jauh lebih kecewa. Harap-harap cemas yang kedua muncul ketika periode pengumuman SNMPTN tiba dan kali ini kekecewaan yang kami hadapi jauh lebih besar dari sebelumnya saat nama si ade tidak muncul didaftar kelulusan. Hingga akhirnya namanya muncul di daftar mahasiswa yang lulus seleksi masuk Universitas Indonesia di Fakultas Hukum.

Jika boleh bercerita, maka kelulusan si Ade di FHUI adalah jalan yang dipilihkan Allah untuknya. Bagaimana tidak, dua kali ikut snmptn, UI tidak pernah menjadi pilihannya. Ia ingin kuliah di UGM bukan di UI, begitupun pilihan akan fakultas hukum, bukan keinginan utamanya, keinginan utama adik saya ini adalah menjadi akuntan.

Tapi begitulah, Allah menggoreskan namanya sebagai mahasiswa yang terdaftar lulus di kampus dan fakultas yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sabtu minggu yang lalu, saya dan dia berangkat ke Jakarta untuk mengurusi segala sesuatu mengenai kuliahnya. Kami tidak pernah bepergian berdua saja sebelumnya. Saya berangkat dari Pekanbaru dan ia berangkat dari Padang untuk kemudian bertemu di cengkareng. Hampir seminggu kami tinggal bersama di apartement milik mahasiswa saya dan melakukan banyak hal bersama untuk kemudian membuat saya menyadari bahwa saya saat itu sedang menjadi ibu bagi seorang anak yang baru beranjak dewasa.

Dan ternyata memang tidak mudah. Dia dan saya berbeda zaman. Ade, adik saya ini, anak no 4 dikeluarga kami dengan status hampir menjadi bungsu. jaraknya dengan adik saya yang lain hampir 10 tahun. Ia biasa mendapatkan banyak kemudahan sehingga seringkali tidak memepedulikan banyak hal selain diri dan keinginannya sendiri. Begitupun ia adalah tipikal anak zaman sekarang yang jauh lebih ekspresif dan keras kepala. Ia akan lebih sering bertahan dulu dengan keinginannya setiap kali saya memberikan masukan, untuk apa saja; mulai dari pemilihan barang pribadi hingga pemilihan kos. Sepanjang urusan itu, adik saya ini seringkali berkata terserah namun pada akhirnya ia akan memilih pilihannya bukan saran saya.Begitupun ketika ia terkendala suatu masalah, ia cenderung menggantungkan diri pada saya; mulai dari atm yang tidak bisa dipakai hingga membeli seragam wajib ospek saat ia tidak bisa keluar dari asrama.

Tapi lama-lama saya pikir itu salah saya juga. Saya, orang yang ingin melihat ia mengepakkan sayapnya sejauh mungkin diangkasa luas sana, malah memberi jerat di kakinya agar ia tetap dapat terbang namun dalam jangkauan mata saya. Saya ingin ia mandiri dengan kuliah jauh dari rumah, ditempat yang bagus dan banyak orang baru, namun disatu sisi saya belum melepaskannya untuk benar-benar belajar mengurus dirinya sendiri dan mengambil keputusan-keputusan penting malah terlalu sering mengkhawatirkan keadaannya hingga kemudian membiarkan diri saya yang melakukan banyak hal untuknya, yang saya pikir biasa jika seorang kakak terlalu sayang pada adikknya.

Namun saya lupa, jika sesuatu yang bernama terlalu biasanya tidak baik. Begitu juga dengan terlalu sayang. Terlalu sayang membuat kita takut melihat orang yang kita sayangi terluka dan mengalami kesulitan padahal disetiap luka dan kesulitan yang datang itulah ia dan kita akan belajar banyak hal. Kekhawatiran kalau ia akan susah di rantau setelah saya pulang membuat saya memilih untuk membereskan urusannya dulu sebelum saya pulang, kekhawatiran jika urusan dia tidak akan beres atau kekhawatiran bahwa dia tidak akan bisa melakukan banyak hal sendirian membuat saya repot sendiri dan membuat ia terlena, padahal setelah ini, ia akan mengurus dirinya sendiri bukan saya lagi.

Ah, terlalu sayang ternyata juga tidak bagus ya...:)
Baiklah, saya akan mulai melepaskannya perlahan untuk bisa berjalan sendiri. ibarat anak bayi yang belajar berjalan, jika orang tuanya takut melepaskannya maka ia takkan pernah bisa belajar berjalan


So, my dearest little sister,
Fly as high as you want..try new things as many as you want too..there's no one can beat you for that but yourself ..

If you can walk through the long and windy road so far..i really sure that you can easily walk on another road..

Take care of yourself well..I'm proud of you