Selasa, 05 Juni 2012

When Destiny (not) Meet Our Choice

Ada masa dimana pilihan dan takdir tidak bisa bersatu seperti yang kita inginkan. Katanya Tiara lestari dibukunya, menikah itu adalah ketika pilihan dan takdir sejalan. Jika hanya salah satu, maka tidak akan ada pernikahan, yang ada hanyalah kata-kata mantan pacar, manta kekasih atau mantan tunangan. Untuk saya pribadi, sampai hari ini pilihan saya belum sesuai dengan takdir yang ditetapkan Sang Maha Pencipta, jadilah saya punya beberapa mantan..(sok laku ya).

Bagi saya, tidak mudah memang melepaskan diri dari sesuatu yang bernama masa lalu, ada saja caranya terkoneksi dengan mereka. Seperti kemaren, ketika saya berbicara dengan seorang teman akrab saya waktu di jogja dulu. Teman saya itu, sekarang bekerja di pertambangan batubara yang merupakan bidang pekerjaan salah satu mantan pacar saya. Jadilah, atas permintaan teman saya itu, saya kembali menghubungi dia untuk bisa mendapatkan informasi seputar pekerjaan bagi teman saya tersebut.

Ia salah satu orang yang paling lama pernah mengisi hati saya. Begitu lama dan istimewa. Saya memanggilnya dengan sebutan kangmas dan dia memanggil saya dengan diajeng, panggilan termanis yg pernah saya punya meski saya bukan orang Jawa. Ketika diterima bekerja ditambang itu, ia memilih Jogja sebagai point of hire agar setiap kali cuti kami bisa bertemu. Dengannya juga impian utk menetap di Jogja saya bangun, meskipun akhirnya harus kandas. Terakhir saya menghubungi mantan pacar saya itu hampir setahun yang lalu, setelah 3 tahun memutuskan komunikasi antara saya dan dia. 3 tahun ternyata bukan waktu yang singkat, ternyata cukup panjang hingga membuat kami berdua sudah saling melupakan suara yang dulu akrab ditelinga masing-masing. Bayangkan, dulu hampir beberapa kali dalam sehari kami saling berbicara ditelepon, dengan ditemani suara kereta api (waktu ia tinggal di Lampung) atau suara kresek-kresek karena sinyal yang jelek ketika ia bekerja di pedalaman Kalimantan.

Ada kecanggungan yang ketika harus berbicara lagi dengannya. Wajar saya rasa, mengingat kami dulu adalah teman bicara. Berbagai pertanyaanpun muncul dari dia; mulai dari kabar, apakah saya sudah membeli rumah atau belum, apakah saya akan segera sekolah hingga kapan saya akan menikah. Begitupun berbagai pertanyaan juga hadir dari saya, mulai dari kabar dia dan keluarganya, anaknya sudah bisa ngapain hingga bagaimana kondisi pekerjaannya. It has been years our frequently asked question not being asked to each other..as simple as "how is today?". Ketika hubungan terjalin, maka akan banyak hal biasa menjadi luar biasa dan ketika ia berakhir, maka akan banyak juga hal luar biasa itu menjadi kembali biasa..suka atau tidak suka. Begitupun dengan saya dan dia..masa pacaran beberapa tahun itu terkikis oleh masa berjarak yang tak sebentar. semuanya terasa asing kembali.

Dari nadanya bertanya kepada saya, semua terasa seakan-akan saya dan dia masih seperti dulu, termasuk semua hal yang harusnya ia ketahui dari saya, padahal semua hal tidak lagi sama. Tak jarang juga ia bersikap seakan dia mengenal saya dengan baik dan memeberikan beberapa penilaian yang seakan-akan kondisi dia sekarang tidak lebih baik dari dulu, ketika bersama saya atau kondisi saya sekarang tidak lebih baik daripada ketika saya dulu bersama dia..

Lalu, mengapa dia tidak memilih saya saja waktu itu? agar kami bisa saling mensupport dan membuat hidup kami masing-masing terlihat lebih baik satu sama lain? Ya itulah yang disebut tidak berjodoh. Berbagai cara yang saya upayakan malah berhasil setelah kami berpisah, padahal sebelumnya semua syarat yang dia ajukan telah dengan senang hati saya penuhi malah tidak membawa saya dan dia bersatu di pelaminan. Ia malah berdiri di pelaminannya dengan pengantin wanita yang lainnya. Ya begitulah jodoh, ketika pilihan saya bertemu dengan takdir yang dipilihkan Tuhan untuk saya..Dengannya, saya telah memilih hati untuk saya singgahi, saya telah memilih mimpi untuk saya bangun dan memilih tumbuh tua bersamanya..tapi ternyata Tuhan tidak menetapkan dia untuk saya dan sebaliknya, Tuhan memilihkan orang lain yang lebih cocok mendampinginya daripada saya.

Butuh tiga tahun bagi saya untuk bisa menerima bahwa apa yang saya dan dia alami adalah hal yang disebut tidak berjodoh tadi. Seperti halnya banyak orang yang mengakui bahwa mereka percaya bahwa jodoh adalah urusan Tuhan, sayapun juga begitu. Tapi ternyata butuh lbih dari sekedar percaya, yang kita butuhkan adalah keyakinan bahwa semua memang telah diatur olehNya dengan sebaik-baiknya.

Butuh 3 tahun bagi saya untuk memaafkan dia setelah hubungan kami berakhir, padahal mungkin bukan hanya dia saja yang butuh dimaafkan, saya juga. Karena hubungan melibatkan dua orang; tidak hanya dia tapi juga saya. 3 tahun memang bukan waktu yg tidak sebentar. Tapi setelah itu, saya lega, bahwa saya bisa mengakhiri semua dengan baik dan melangkahkan kaki dengan perasaan yang ringan..


2 komentar:

Wanda mengatakan...

Memang gak mudah melepas ikatan hati dari kenangan...buat Wanda, bukannya gak bisa, tapi hati yang kadang belum mau melepaskan. Seperti barang kesayangan yang sudah rusak, gak bisa dipakai lagi, tapi ditunda-tunda terus untuk dibuang :)

Hesty Wulandari mengatakan...

hmmm tertohok.. ternyata selama ini kayaknya diriku g mau bukan ga bs ..jadi,mari dibuang barang lamanya:-D