Jumat, 08 Juni 2012

Mengambil Resiko

Saya suka kagum dengan orang-orang yang memiliki keberanian untuk mengambil resiko dalam kehidupan. Papa saya contohnya, beliau hidup dengan resiko disekitarnya. Dulu, awal menikah dengan mama saya, beliau memutuskan untuk keluar dari perusahaan BUMN dibidang kelistrikan dan memilih menjadi anak buah orang lain disebuah biro kontraktor listrik kecil. Ketika saya bertanya kepada beliau, mengapa beliau tidak bertahan saja di kantor tersebut, dalam pikiran saya setidaknya mungkin saat ini beliau pensiun sebagai salah satu dari jajaran bos yang ada, papa saya menjawab : " jika papa tidak keluar dari sana, mungkin papa tidak akan bisa dengan leluasa membuatkan kalian rumah yang layak dan pendidikan yang bagus ". Saya mangut-mangut saja saat itu. Setelah bertumbuh, saya jadi tahu resiko apa yang harus dihadapi papa dan kami semua. Ada saatnya kami semua harus berangkat sekolah dengan uang jajan sekedarnya karena uang proyek belum keluar sementara proyek baru membutuhkan banyak uang. Resiko lainnya yang diambil papa saya adalah menanggung kehidupan anak buahnya, yang kondisinya jauh-jauh lebih buruk dari kami, sekedar memberikan uang seratus-dua ratus ribu ke mereka untuk membeli beras atau membayar uang sekolah anak. Hingga bulan lalu, saat saya pulang ke Padang, saya masih sering melihat mereka sesekali datang dengan muka tanpa harapan dan pulang dengan muka berbinar-binar hanya karena uang seratus ribu. Resikonya lain yang kemudian baru saya sadari juga adalah, betapa banyaknya Allah mengirimkan kemudahan pada kami, anak-anak papa karena resiko yang diambil papa untuk selalu memudahkan orang lain

Tadi malam, bersama atiek, cepi dan mas jully teman-teman akrab saya di Pekanbaru, saya menemani cepi membeli oleh-oleh lempok durian yang akan diberikan Cepi ke sorang kolega yang berkunjung ke Pekanbaru. Lempok durian yang kami beli itu tidak dijual di toko oleh-oleh semacam megarasa, khadijah atau cik puan, ia hanya dijual di gerobak beroda milik seorang tukang durian di jalan riau. Bukan kali pertama saya kesana, sebelumnya saya dan atiek sudah pernah membeli untuk oleh-oleh ke Jawa. Lempok pinggir jalan itu jauh lebih murah dari yang di toko tapi jauhhhh lebih enak juga, karena duriannya berasal dari durian yang tidak habis terual di gerobaknya pada hari itu. Karena pertama kali beli dan belum tau rasanya, saya menanyakan sampel, tak disangka beliau memotong dua sebatang lempok ukuran 20 cm, separuhnya dikasih saya untuk dicoba. Saya kaget juga dengan keberanian si bapak memberikan sampel senilai 7500. Bandingkan dengan toko-toko sejenis yang mmberikan sampel seupil saja. Ketika selesai beli oleh-oleh waktu itu, saya dan atik mendapatkan bonus masing-masing sebatang lempok yang dijadikan sampel tadi.

Tadi malam, teman saya cepi itu, membeli 8 kotak lempok masing-masing seharga 25. Bonus yang diberikan si bapak penjual itu juga ga kira-kira. Kami berempat, bisa makan durian gratis. Memang bukan durian yang super-super enak, tapi tetap saja kalau terjual harganya diatas 20rb/buah. sebelum memakan durian, beliau menyuruh saya mencicipi rasanya, kalau tidak manis, batal. Padahalnya hanya durian gratis lo, si bapak memilih untuk tidak sembarangan ngasih durian ke orang lain. Malam itu, duriannya tinggal berapa buah saja saat sebuah mobil berenti dan sepasang suami istri turun. Beliau langsung mengatakan kalau duriannya tidak ada yang bagus, beliau menjanjikan besok hari akan lebih banyak yang bagus yang datang. Beliau mengambil resiko kehilangan beberapa puluh atau ratusan ribu malam itu, hal yang tidak umum dilakukan oleh pedagang lain.

Ternyata keberanian mengambil resiko itulah yang membuat beliau memiliki banyak langganan. Pelanggan yang membeli durian ditempat beliau tidak perlu merasa khawatir akan mendapatkan durian yang tidak berkualitas, kalaupun dapat yang buruk, bisa ditukarkan kembali. Dan malam itu, beliau kembali mengambil resiko dengan memberi kami masing-masing sebatang lempok..60 ribu baru saja hilang..tapi saya yakin akan segera berganti dengan beratus-ratus ribu..

Kalau bapak tukang durian itu seberani itu, berarti saya dan banyak orang juga pasti bisa :)

2 komentar:

merry go round mengatakan...

Hhhhmmm... kalau menurut saya sih lebih cenderung pada 'the power of giving' :)

Hesty Wulandari mengatakan...

jeng ocha : hhmmm..sebenarnya iya juga..tapi sudut pandang yang dipakai beda :)