Jumat, 15 Juni 2012

Lebih Dari Sekedar Gelar Juara

Tidak seperti kebanyakan orang, saya termasuk orang yang tidak menyukai dan menggemari olah raga sepak bola. Serame apapun kehebohan event-event bola besar seperti piala dunia, piala asia atau yang sedang berlangsung hari ini, Euro, saya sama sekali tidak terpengaruh. Bagi saya, sepak bola itu membingungkan, satu bola kok ya diperebutkan. kenapa engga beli aja sendiri-sendiri trus dimainin?

Nyaris tidak ada faktor kuat yang mendorong saya untuk bisa menikmati nonton bola. Pertandingan bola dalam negri jarang yang berakhir happy ending seringnya berakhir rusuh. Pertandingan lawan tim luar lebih sering kalah daripada menang, Pemain bola dalam negri juga lebih banyak yang berasal dari luar..hmm...kalau sudah seperti ini, saya rasanya lebih memilih nonton pertandingan bulu tangkis saja.

Kemudian saya kenal dengan Kak deni,kakak kos yang rela begadang sendirian di ruang TV kosan kami menonton pertandingan MU. Baginya MU dan bola adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Saat kami makin akrabpun, saya masih saja tidak pernah tertarik menemaninya menonton tengah malam. Begitupun ketika kamar saya kebagian TV hibahan dari adek saya di Jakarta dan dijadikan markas buat nonton tengah malam oleh adek-adek kos, saya lebih memilih tidur ketika mereka semua teriak-teriak saat gawang dibobol.

Pun saya pernah memiliki kekasih seorang mantan pemain bola di sebuah klub di timur Indonesia sana. Saya sih tidak terlalu tahu tentang perjalanannya di klub itu, entah hanya jadi cadangan atau jadi pemain utama. Dan seorang pemain bola seperti dia pastilah juga pecinta bola.Namun, semasa saya menjadi kekasihnya, saya hanya duduk sebagai supporter bagi dia, belum sampai ke taraf pencinta bola; hanya membawakan jagung rebus, mengupasinya dan menunggu si penonton setia itu makan jagung sambil berteriak-teriak dan melupakan saya yang duduk disebelahnya. Sayanya? ga ngerti apa yang terjadi di TV.

Pandangan saya tentang bola mulai berubah ketika saya mengenal seorang perempuan yang kemudian saya ketahui menjadi admin di komunitas fans klub bola aremania untuk daerah sumatera di Kaskus. Saya punya banyak teman perempuan pencinta bola, tapi yang sampai ngadmin di sebuah komunitas bola, lokal pula menurut saya bukan hal yang biasa. Itu hal yang luar biasa. Karena perempuan menggilai bola biasanya karena pemainnya yang ganteng-ganteng, baru kemudian pindah ke teknik dan lain-lainnya. Bahkan tidak sedikit perempuan menggilai bola karena ingin dianggap gaul dan keren sehingga bisa dengan mudah lalu lalang didunia laki-laki.

Teman saya ini, kemudian sering memaksa saya untuk beberapa kali menemaninya nonton bareng di komunitas fans club Pekanbaru. Jadilah saya kemudian ikut-ikutan nonton tanpa mengerti bagaimana pertandingan berjalan..(masih seperti biasa:). Sebagai penonton pasif, saya hanya bisa terkaget-kaget kalo meja digebrak kalo gol gagal dicetak dan setiap kali kata-kata J**N**K itu bertebaran diudara. Teman saya dan kegilaannya pada aremania akhirnya menjadi racun dikepala saya..ring tone hapenya yang marsnya aremania, tanpa sadar sering saya senandungkan di sepanjang jalan ketika saya mengendarai motor, padahal aremania itu masih jauh dari pikiran saya apalagi Aremanya. Hinga saat ini saya masih tidak mengerti mengapa banyak ABG yang menggilai Dendi, Ridwan atau Sunarto..karena menurut saya mereka hanya seperti pria-pria biasa yang bermain bola.

Witing tresno jalaran soko kulino kata orang jawa..
Saya mungkin masih belum tergila-gila pada bola, tapi sedikit demi sedikit saya mulai jatuh cinta pada orang-orang yang membuat dunia disekitar bola itu menjadi jauh lebih menyenangkan dan tak jarang menjadi mencengangkan. Ketika saya bertanya pada teman saya itu, mengapa ia begitu getol membela klub lokal, sementara banyak orang begitu memuja-muja klub-klub luar negeri? ia menjawab karena semua orang yang pernah hidup di Malang pasti memiliki fase kecintaan dan jatuh cinta pada arema meskipun ia tidak lagi tinggal di Malang. Dari ceritanya saya mengetahui betapa kuatnya atmosfer bola melekat pada sebuah kota dan betapa tak terpisahkannya sebuah kota dan klub bolanya.

Dari situ saya banyak belajar, bahwa kecintaan itu bisa dibangun dan bisa ditumbuhkan meskipun akan ada saja orang yang meruntuhkannya. Bahwa sebuah klub bola bisa membangun banyak hal diluar permainannya sendiri. Ia bisa membangun masyarakat yang mencintai olahraga sehingga bisa bersikap sportif dan menjadi pendukung yang baik, bukan hanya sekedar penonton bola yang bisa bersorak ketika tim kebanggaannya menang dan melempari pemain dengan botol kosong ke tengah lapangan jika timnya kalah. Ia juga membangun perekonomian; mulai dari penjual minuman di stadion hingga mereka yang menjual kaos dengan nama tim mereka tercetak di punggung kaos itu.

Dan yang paling penting, olahraga dan klub seperti yang digilai teman saya ini, Arema, telah membangun banyak jaringan pertemanan dan persaudaraan. Tak peduli dimanapun mereka berdomisili saat ini, salam satu jiwanya arema tetap menyatukan mereka.

Hari ini didepan kelas, ketika salah satu mahasiswa saya bertanya apakah saya seorang penggemar bola, maka saya menjawab dengan jujur bahwa saya bukan seorang penggila bola, bahkan saya jarang menonton pertandingan bola. Pada mereka saya berkata jika saya ingin menonton bola, maka saya akan menonton liga dalam negri. Saat itu mereka kembali bertanya, apa enaknya nonton pertandingan klub bola dalam negri, maka saya menjawab :" bukankah seharusnya kita yang menjadi penonton di negeri kita sendiri? bukankah kita yang harusnya digaris paling depan membanggakan tim-tim yang mati-matian berjuang untuk membuat kita sebagai warga negara, sebagai penduduk dari dareah yang kita tinggali merasa bangga atas apa yang mereka raih?. lalu jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjadi penyemangat agar olahraga ini tidak hanya sekedar menjadi biang kerusuhan namn menjadi sumber kebanggaan? kalo bukan kita lalu siapa?"

Sampai hari ini saya masih seorang awam di olahraga ini, saya masih tidak mengerti mana yang offside, mengapa ada gol yang dianulir, mengapa seorang pemain bisa mendapat kartu merah atau kuning. Tapi, saya berjanji untuk belajar mengerti bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar gelar juara di lapangan..

salam satu jiwa..dari fansnya persipura yang ngefans karena pernah mencintai orang papua:)

Jumat, 08 Juni 2012

Mengambil Resiko

Saya suka kagum dengan orang-orang yang memiliki keberanian untuk mengambil resiko dalam kehidupan. Papa saya contohnya, beliau hidup dengan resiko disekitarnya. Dulu, awal menikah dengan mama saya, beliau memutuskan untuk keluar dari perusahaan BUMN dibidang kelistrikan dan memilih menjadi anak buah orang lain disebuah biro kontraktor listrik kecil. Ketika saya bertanya kepada beliau, mengapa beliau tidak bertahan saja di kantor tersebut, dalam pikiran saya setidaknya mungkin saat ini beliau pensiun sebagai salah satu dari jajaran bos yang ada, papa saya menjawab : " jika papa tidak keluar dari sana, mungkin papa tidak akan bisa dengan leluasa membuatkan kalian rumah yang layak dan pendidikan yang bagus ". Saya mangut-mangut saja saat itu. Setelah bertumbuh, saya jadi tahu resiko apa yang harus dihadapi papa dan kami semua. Ada saatnya kami semua harus berangkat sekolah dengan uang jajan sekedarnya karena uang proyek belum keluar sementara proyek baru membutuhkan banyak uang. Resiko lainnya yang diambil papa saya adalah menanggung kehidupan anak buahnya, yang kondisinya jauh-jauh lebih buruk dari kami, sekedar memberikan uang seratus-dua ratus ribu ke mereka untuk membeli beras atau membayar uang sekolah anak. Hingga bulan lalu, saat saya pulang ke Padang, saya masih sering melihat mereka sesekali datang dengan muka tanpa harapan dan pulang dengan muka berbinar-binar hanya karena uang seratus ribu. Resikonya lain yang kemudian baru saya sadari juga adalah, betapa banyaknya Allah mengirimkan kemudahan pada kami, anak-anak papa karena resiko yang diambil papa untuk selalu memudahkan orang lain

Tadi malam, bersama atiek, cepi dan mas jully teman-teman akrab saya di Pekanbaru, saya menemani cepi membeli oleh-oleh lempok durian yang akan diberikan Cepi ke sorang kolega yang berkunjung ke Pekanbaru. Lempok durian yang kami beli itu tidak dijual di toko oleh-oleh semacam megarasa, khadijah atau cik puan, ia hanya dijual di gerobak beroda milik seorang tukang durian di jalan riau. Bukan kali pertama saya kesana, sebelumnya saya dan atiek sudah pernah membeli untuk oleh-oleh ke Jawa. Lempok pinggir jalan itu jauh lebih murah dari yang di toko tapi jauhhhh lebih enak juga, karena duriannya berasal dari durian yang tidak habis terual di gerobaknya pada hari itu. Karena pertama kali beli dan belum tau rasanya, saya menanyakan sampel, tak disangka beliau memotong dua sebatang lempok ukuran 20 cm, separuhnya dikasih saya untuk dicoba. Saya kaget juga dengan keberanian si bapak memberikan sampel senilai 7500. Bandingkan dengan toko-toko sejenis yang mmberikan sampel seupil saja. Ketika selesai beli oleh-oleh waktu itu, saya dan atik mendapatkan bonus masing-masing sebatang lempok yang dijadikan sampel tadi.

Tadi malam, teman saya cepi itu, membeli 8 kotak lempok masing-masing seharga 25. Bonus yang diberikan si bapak penjual itu juga ga kira-kira. Kami berempat, bisa makan durian gratis. Memang bukan durian yang super-super enak, tapi tetap saja kalau terjual harganya diatas 20rb/buah. sebelum memakan durian, beliau menyuruh saya mencicipi rasanya, kalau tidak manis, batal. Padahalnya hanya durian gratis lo, si bapak memilih untuk tidak sembarangan ngasih durian ke orang lain. Malam itu, duriannya tinggal berapa buah saja saat sebuah mobil berenti dan sepasang suami istri turun. Beliau langsung mengatakan kalau duriannya tidak ada yang bagus, beliau menjanjikan besok hari akan lebih banyak yang bagus yang datang. Beliau mengambil resiko kehilangan beberapa puluh atau ratusan ribu malam itu, hal yang tidak umum dilakukan oleh pedagang lain.

Ternyata keberanian mengambil resiko itulah yang membuat beliau memiliki banyak langganan. Pelanggan yang membeli durian ditempat beliau tidak perlu merasa khawatir akan mendapatkan durian yang tidak berkualitas, kalaupun dapat yang buruk, bisa ditukarkan kembali. Dan malam itu, beliau kembali mengambil resiko dengan memberi kami masing-masing sebatang lempok..60 ribu baru saja hilang..tapi saya yakin akan segera berganti dengan beratus-ratus ribu..

Kalau bapak tukang durian itu seberani itu, berarti saya dan banyak orang juga pasti bisa :)

Selasa, 05 Juni 2012

When Destiny (not) Meet Our Choice

Ada masa dimana pilihan dan takdir tidak bisa bersatu seperti yang kita inginkan. Katanya Tiara lestari dibukunya, menikah itu adalah ketika pilihan dan takdir sejalan. Jika hanya salah satu, maka tidak akan ada pernikahan, yang ada hanyalah kata-kata mantan pacar, manta kekasih atau mantan tunangan. Untuk saya pribadi, sampai hari ini pilihan saya belum sesuai dengan takdir yang ditetapkan Sang Maha Pencipta, jadilah saya punya beberapa mantan..(sok laku ya).

Bagi saya, tidak mudah memang melepaskan diri dari sesuatu yang bernama masa lalu, ada saja caranya terkoneksi dengan mereka. Seperti kemaren, ketika saya berbicara dengan seorang teman akrab saya waktu di jogja dulu. Teman saya itu, sekarang bekerja di pertambangan batubara yang merupakan bidang pekerjaan salah satu mantan pacar saya. Jadilah, atas permintaan teman saya itu, saya kembali menghubungi dia untuk bisa mendapatkan informasi seputar pekerjaan bagi teman saya tersebut.

Ia salah satu orang yang paling lama pernah mengisi hati saya. Begitu lama dan istimewa. Saya memanggilnya dengan sebutan kangmas dan dia memanggil saya dengan diajeng, panggilan termanis yg pernah saya punya meski saya bukan orang Jawa. Ketika diterima bekerja ditambang itu, ia memilih Jogja sebagai point of hire agar setiap kali cuti kami bisa bertemu. Dengannya juga impian utk menetap di Jogja saya bangun, meskipun akhirnya harus kandas. Terakhir saya menghubungi mantan pacar saya itu hampir setahun yang lalu, setelah 3 tahun memutuskan komunikasi antara saya dan dia. 3 tahun ternyata bukan waktu yang singkat, ternyata cukup panjang hingga membuat kami berdua sudah saling melupakan suara yang dulu akrab ditelinga masing-masing. Bayangkan, dulu hampir beberapa kali dalam sehari kami saling berbicara ditelepon, dengan ditemani suara kereta api (waktu ia tinggal di Lampung) atau suara kresek-kresek karena sinyal yang jelek ketika ia bekerja di pedalaman Kalimantan.

Ada kecanggungan yang ketika harus berbicara lagi dengannya. Wajar saya rasa, mengingat kami dulu adalah teman bicara. Berbagai pertanyaanpun muncul dari dia; mulai dari kabar, apakah saya sudah membeli rumah atau belum, apakah saya akan segera sekolah hingga kapan saya akan menikah. Begitupun berbagai pertanyaan juga hadir dari saya, mulai dari kabar dia dan keluarganya, anaknya sudah bisa ngapain hingga bagaimana kondisi pekerjaannya. It has been years our frequently asked question not being asked to each other..as simple as "how is today?". Ketika hubungan terjalin, maka akan banyak hal biasa menjadi luar biasa dan ketika ia berakhir, maka akan banyak juga hal luar biasa itu menjadi kembali biasa..suka atau tidak suka. Begitupun dengan saya dan dia..masa pacaran beberapa tahun itu terkikis oleh masa berjarak yang tak sebentar. semuanya terasa asing kembali.

Dari nadanya bertanya kepada saya, semua terasa seakan-akan saya dan dia masih seperti dulu, termasuk semua hal yang harusnya ia ketahui dari saya, padahal semua hal tidak lagi sama. Tak jarang juga ia bersikap seakan dia mengenal saya dengan baik dan memeberikan beberapa penilaian yang seakan-akan kondisi dia sekarang tidak lebih baik dari dulu, ketika bersama saya atau kondisi saya sekarang tidak lebih baik daripada ketika saya dulu bersama dia..

Lalu, mengapa dia tidak memilih saya saja waktu itu? agar kami bisa saling mensupport dan membuat hidup kami masing-masing terlihat lebih baik satu sama lain? Ya itulah yang disebut tidak berjodoh. Berbagai cara yang saya upayakan malah berhasil setelah kami berpisah, padahal sebelumnya semua syarat yang dia ajukan telah dengan senang hati saya penuhi malah tidak membawa saya dan dia bersatu di pelaminan. Ia malah berdiri di pelaminannya dengan pengantin wanita yang lainnya. Ya begitulah jodoh, ketika pilihan saya bertemu dengan takdir yang dipilihkan Tuhan untuk saya..Dengannya, saya telah memilih hati untuk saya singgahi, saya telah memilih mimpi untuk saya bangun dan memilih tumbuh tua bersamanya..tapi ternyata Tuhan tidak menetapkan dia untuk saya dan sebaliknya, Tuhan memilihkan orang lain yang lebih cocok mendampinginya daripada saya.

Butuh tiga tahun bagi saya untuk bisa menerima bahwa apa yang saya dan dia alami adalah hal yang disebut tidak berjodoh tadi. Seperti halnya banyak orang yang mengakui bahwa mereka percaya bahwa jodoh adalah urusan Tuhan, sayapun juga begitu. Tapi ternyata butuh lbih dari sekedar percaya, yang kita butuhkan adalah keyakinan bahwa semua memang telah diatur olehNya dengan sebaik-baiknya.

Butuh 3 tahun bagi saya untuk memaafkan dia setelah hubungan kami berakhir, padahal mungkin bukan hanya dia saja yang butuh dimaafkan, saya juga. Karena hubungan melibatkan dua orang; tidak hanya dia tapi juga saya. 3 tahun memang bukan waktu yg tidak sebentar. Tapi setelah itu, saya lega, bahwa saya bisa mengakhiri semua dengan baik dan melangkahkan kaki dengan perasaan yang ringan..