Jumat, 03 Februari 2012

Gaji dan Orang Tua

Hampir satu setengah tahun saya bekerja dan rasanya saya masih baru mulai belajar mandiri, belum sampai ke tahap yang amat mandiri terutama mandiri dalam urusan finansial. Dalam 1,5 tahun bekerja ini, pendapatan saya tidak tinggi tapi alhamdulillah tidak kurang. Namun hal itu kadang yang membuat saya sering kecil hati. Gaji yang tidak berlebihan tapi cukup itu membuat saya tidak bisa untuk sering-sering mengirimkan uang pada orang tua saya. Ya setidaknya tidak sesering yang dilakukan adik atau kakak saya. Apalagi nominalnya, jauh lebih kecil dari yang mereka kirimkan. Ketika kadang saya mengutarakan kerisauan hati saya akan hal ini ke mama, beliau selalu bilang :
"yang penting bagi mama gaji kamu cukup untuk dirimu sendiri, dengan begitu, kamu sudah mengurangi beban mama".

Pernah suatu kali saya menceritakan keinginan saya untuk mencicil rumah kepada orang tua. Bekerja sebagai PNS bukan di kota sendiri membuat saya mulai memikirkan tentang kebutuhan untuk memiliki rumah sendiri. Rumah yang saya incar posisinya tidak jauh dari rumah kontrakan saya yang sekarang, tanahnya luas dengan bangunan standar. Untuk mendapatkannya, saya harus memiliki uang sejumlah hampir 35 juta dan membuka KPR senilai 80 juta. Soal KPRnya sih saya ga terlalu bingung, karena status cpns dan pns sangat dimudahkan oleh pihak bank penyedia KPR, yang saya bingungkan adalah yang 35 jt. Kalau saya membuka pinjaman lagi ke bank, maka gaji saya jadi bersisa sedikit sekali. Dan untuk kebingungan saya itu, papa saya bilang :
"kamu lihat dulu lah lokasinya, kalo cocok dan kamu suka, biar papa yg nyari 35 jtnya"

dan mama saya bilang:
" ntar kalo uang proyek papamu sudah cair semua, mudah-mudahan kami bisa membantu"

Dan saya akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil rumah. Saya malu sama orang tua saya dan hal itu yang akhirnya membuat saya merasa terlalu memaksakan diri. Bekerja membuat kita paham bahwa uang itu memang tidak mudah dicarinya dan begitu mudah untuk menghabiskannya. Selain itu, bekerja juga membuat kita mulai merasa malu untuk meminta kepada orang tua, mungkin sebenarnya lebih tepat kalau malu terlihat miskin.

Tapi sebenarnya tidak begitu dengan sudut pandang orang tua saya. Beliau sangat paham kalau karier dan pekerjaan saya masihlah seumur jagung dan saya masih memiliki banyak kebutuhan yang harus saya penuhi sehingga wajar kalau saya masih akan sering "terlihat miskin". Sebegitu pahamnya beliau hingga setiap kali mama mengunjungi saya dan adik ke Pekanbaru, beliau tidak pernah meminta dibelikan ini itu. Kalaupun sesekali saya mengajak makan atau mengajak jalan-jalan ke pasar bawah dan bertanya beliau mau dibelikan apa, beliau akan berulangkali bertanya apakah saya punya cukup uang atau tidak. Bagi orang tua, dengan bekerja ataupun memiliki penghasilan sendiri, saya sudah tidak lagi menjadi tanggungan beliau berdua, sehingga uang yang beliau berdua punya bisa dialokasikan kepada kedua adik saya yang masih sekolah.

Sesekalinya saya mau mengirimkan uang jajan kepada orang tua, maka beginilah dialognya :

Saya : "Mama lagi ada duit ga?"
mama : " kok nanya begitu?"
Saya : "Saya mau ngirimin mama uang jajan..tapi ga banyak"
Mama : "kok pake ngirimin mama duit? kamu masih ada uang? "
Saya : " kebetulan saya punya sedikit"
Mama : " benar kamu masih punya uang? kalau ga ada jangan memaksakan diri..bagi mama yang penting cukup untuk kamu"

*dan tiba-tiba saya jadi tercekat..*

Lain waktu saya menelpon papa menanyakan nomor rekening beliau, dan ketika diberitahu untuk apa saya meminta nomor rekening, beliau malah bilang begini :

" Kalau mau mengirim uang, jangan ke papa..untuk mama kalian aja..kalau papa masih kuat buat nyari uang, kalau mama kalian gajinya sudah tidak seberapa"

"kalau gt saya beliin papa pulsa aja ya?" ujar saya

" ga usah, pulsa papa masih cukup kok..kalau uang masih ada disimpan aja..kamu kan punya banyak keperluan.."


Dan saya menutup telepon siang itu dalam diam..tak terasa air mata saya mengalir dan rasa haru memenuhi dada saya..saya memang pantas malu kalau masih menyusahkan mereka..

7 komentar:

debi-ebong-bongky mengatakan...

saran db nga perlu kita tanyakan krn mereka paasti menolak jd lgsung kirim aja biar sdikit tp mereka senang pada dasarnya

Hesty Wulandari mengatakan...

debi : oalnya ngirimnya lewat rekening papa..nah, nomornya ilang:)..besok2 tips dari debi akan dipakai

Anonim mengatakan...

I feel you, Ty..wanda jg sp skrg blm byk bs bantu ortu..tp setidaknya kita gak menyusahkan ortu lagi ya..kadang sedih mikirin ortu masih kerja di hari tuanya demi gak membebani anak. wanda jg pingin gitu, tetap kerja sampai tua :)

Hesty Wulandari mengatakan...

wanda : iya wan..suka ga kebayang ya betapa lapangnya hati orang tua kita ya..dari kecil ampe gede gini masih ga keberatan aja gt direpotin kita. muah2an Allah memberikan beliau semua umur yang panjang dan rezeki yang cukup dan kita kesempatan untuk membalas jasa mereka. amin

Neyna Naya mengatakan...

Sama mbak, pengen banget ada buat disisihin untuk orang tua, tapi kalo Na nitipinnya Na tabung dlu ntr baru nitip uag jajannya

Hesty Wulandari mengatakan...

na : wahhh..moga lancar terus rejekinya jadi bis terus nabung utk ortu kita masing2 ya

khansa mengatakan...

rasanya gatel untuk komen mba Hesty..
Membahagiakan orang tua memang ga melulu tentang materi.. tapi rasanya seneng gitu mb klo bisa berbagi ma ortu.. ;)
suka ma blognya^^...