Minggu, 01 Januari 2012

Epilog - Dear Adam

so there i was..waiting for the airport shuttle bus in the middle of rain bring me to see him..Him..the one that being the addres of my 2 previous essay.

Hampir dua tahun lalu saya bertemu dengannya pertama kali di FX Jakarta. pertemuan yang terjadi setelah kami kenal kurang lebih 3 tahun lewat tulisan-tulisan yang muncul di layar yahoo messengger. jika ditanya kapan tepatnya saya mulai menyukainya, maka pertemuan pertama kami itulah jawabannya. Dia persis seperti yang saya kenal sepanjang percakapan saya di ym dan telpon, terutama sikap dan cara bicaranya. Saya pikir tadinya ia akan pergi begitu saja setelah kami bertemu. ketakutan yang wajar, karena ia seorang pria dan seorang pria (biasanya) visual dan saya tidak memenuhi kategori visual yang layak untuk itu.

Tapi ternyata dia tidak pergi begitu saja. kami masih menghabiskan beberapa jam untuk ngobrol hingga jalan dan nonton. pertemuan pertama yang berkesan. Sebegitu berkesannya bagi saya hingga setelahnya saya tiba-tiba menjadi seorang fans berat. Saya kemudian membombardirnya dengan segala perhatian yang berlebihan hingga ia jengah sendiri dan meminta saya untuk berhenti. Saya cuma menjawab :

" ya aku memang suka ama kamu..tapi tidak meminta kamu untuk melakukan hal yang sama kok.."

Di depan dia saya kehilangan urat malu. Saya jadi bebal. saya tetap saja merindu untuk terus mendengar suaranya setiap malam..selalu ada perang antara jari, hati dan kepala untuk memencet nomornya atau tidak yang sering berakhir dengan nada sambung diujung telepon. kalau beruntung, ia akan menjawab dengan menyenangkan dan akan lebih banyak saya yang bercerita daripada dia hingga ia sering mengeluarkan komentar :"semuanya tentang kamu!". Ah, dimatanya saya menjadi wanita yang egois dengan semua cerita saya padahal sebenarnya saya hanya bingung harus mengajukan pertanyaan yang bagaimana lagi padanya.

Minggu lalu, selama 2 hari menghabiskan waktu bersamanya, ia kembali mengajukan pertanyaan yang sama; "apa yang sebenarnya saya inginkan? benarkah saya siap untuk menjadi patnernya? atau saya hanya sekedar ingin menjadi pacarnya saja?". Kami berbincang serius cukup lama disebuah tangga didepan jalan setapak yang dilewati banyak orang. Akhirnya pembicaraan seperti itu terjadi juga..bukan yang pertama tapi ini yang pertama kalinya berlangsung live..di depan mata saya sendiri dan sayalah yang menjadi pemainnya. Saya (lagi-lagi) mencoba untuk mengatakan bahwa dia memang istimewa untuk saya. Dialah yang menjadi alasan mengapa saya ada di kota itu pada hari itu seperti halnya dialah yang menjadi alasan mengapa malam akan menjadi sangat berbeda jika tiada suaranya dipenutup hari. Lebih jauh, saya ingin bertanya mengapa saya tidak pernah menjadi pilihan hatinya..seperti yang lain, seperti wanita yang pernah ia pilih meski hanya kenal 1 bulan sementara pada saat yang sama saya sudah berdiri didekatnya selama satu tahun...tapi saya tidak mampu. Kepercayaan diri saya luruh. 2 hari cukup untuk melihat bahwa saya dan dia berada di dunia yang berbeda. Dia, pria metropolitan dengan gadget keren ditangan dan kehidupan sosial yang so-out-of-my-coverage-area dan saya dengan kehidupan kedaerahan yang normal-normal saja. but i just like him no matter how different we are and the word "like" not always need any reason..
Dan saya hanya bisa terdiam dan berkali-kali harus melihat ke arah yang berbeda agar dia tidak perlu melihat mata saya yang berkaca-kaca ketika ia menjelaskan mengapa saya tidak dipilih untuk menepati hatinya.Dia mengatakan kalau saya datang disaat yang salah sehingga semua hal yang saya lakukan untuknya jadi ikut salah. Tapi tak mengapa. Bagi saya, sesalah apapun situasinya tidak membuat dia kehilangan keistimewaannya di hati saya.Dan rupanya kami sama saja, pernah mengalami luka hati yang teramat dalam, namun luka saya lebih dahulu sembuh dari lukanya higga membuat ia kehilangan keinginan untuk jatuh cinta. Ia bicara cukup banyak tentang bagaimana ia melihat saya dalam hidupnya. Dimatanya, saya adalah seorang teman bicara yang menyenangkan, sehingga jika ia putuskan untuk menerima saya dihatinya akan ada kemungkinan kehilangan teman baik itu jika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang saya dan dia harapkan.Bisa saja sebenarnya dia berpura-pura mencintyai saya dan menerima pernyataan hati saya tapi ia tidak ingin menjadi orang yang akan menyakiti hati saya seperti perempuan perempuan lain yang pernah ia sakiti hatinya, hmmm..saya menarik nafas panjang dan menggumam dalam hati .. "bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? bagaimana jika kami ternyata bisa menjalaninya dengan baik?".


Perjalanan sore itu menuju angkot yang akan membawanya ke tempat menginap menjadi titik perpisahan kami. Setelah semua penjelasan panjang lebar dan berkali-kali menahan agar air mata saya tidak turun, kami berpisah. Malam itu saya harus kembali ke kota ini dan ia masih akan melanjutkan liburannya. Saya dan dia berjabatan tangan selayaknya seorang teman baik. Saya berbalik arah dan membiarkan airmata saya turun begitu saja. Saya (kembali) patah hati. Tapi seperti biasa, saya yakin akan bisa melewatinya. Ternyata semua hal menjadi absurd kalau sudah menyangkut hati. seberapapun seseorang mencoba menempatkan kita diposisi yang baik di kehidupannya tapi jika itu belum dihatinya, maka tetap saja ada perasaan sedih yang menyelinap. masih saja ada perih dihati, seperti yang pernah ditulis teman saya ve yang kurang lebih isinya seperti ini :" kadang jadi teman yang menyenangkan tidak enak juga..karena kita tidak akan terpilih untuk jadi lebih dari sekedar teman". Padahal seharusnya saya berterima kasih padanya. Dia tidak pernah menjauhi saya yang begitu tergila-gila padanya seperti halnya yang dilakukan teman sekelsa saya waktu SMU. Mestinya saya berterima kasih bahwa sampai hari ini saya masih bisa menikmati percakapan saya dengannya kapan saya mau. Saya sebenarnya tidak pernah benar-benar kehilangan dirinya, saya hanya tidak pernah benar-benar memiliki hatinya..

Dear Adam,
That 2 days opportunity has opened my eyes, to know you well, to see you closely and differently. to learn that we still have another important thing in life called friendship. To let me know that i might not have all the things that i want but still, i can enjoy some..so, Thank you so much for let me experiencing those heart beating, smile, laugh and tears during the time i spent with you.. I really hope that it's not an epilogue..but if it is so..i'll be fine and will only missing u sometimes :)

6 komentar:

alwaysalia mengatakan...

dear hesty, move on, and see what life can give you :)

Hesty Wulandari mengatakan...

dear alia..dont wanna move on by feet..wanna move on my a car :)

vizon mengatakan...

Sabar dan ikhlaskan... Insya Allah akan ada ganti yang lebih baik.. Allah pasti punya rencana yang indah untukmu.. Yakin itu.. :)

Hesty Wulandari mengatakan...

uda : iya uda terima kasih..kemaren baru berbincang-bincang dengan dosen yang mengajar diriku waktu s-1 dulu. belia bilang, inti ajaran agama islampun sebenarnya dua hal yang uda sampaikan tadi..sabar dan ikhlas..

hadiyah mengatakan...

menikmati hidup, sebaik2nya... let's do it! ^__^

hadiyah mengatakan...

menikmati hidup, sebaik2nya... let's do it! ^__^