Rabu, 11 Januari 2012

Cobaan mengajar

beberapa kali dalam dua minggu terakhir saya seperti mendapatkan teguran bahwa sesekali saya harus bersikap keras kepada orang lain dan tidak melulu menjadi orang yang hanya menyenangkan hati orang lain saja. Sesekali juga saya seharusnya mengeluarkan atau menunjukkan bahwa kadang saya juga bisa marah dan tersinggung seperti orang lain.

Seperti yang terjadi hari ini di kelas. Seorang mahasiswa meminta saya untuk melepaskan kemarahan saya kalau saya memang ingin marah pada mereka. Setidaknya akan membuat mereka (para mahasiswa) menjadi takut dan segan pada saya.

Saya menarik nafas panjang
Ucapan itu mengingatkan saya pada ucapan Adam, yang seringkali mengeluarkan kata-kata :"hesty yang biasa" setiap kali saya tidak menjawab debatnya.

Saya merasa serba salah
Jujur saja, saya sebenarnya bukan tipe orang yang amat sabar. sejujurnya saya malah amat sangat moody dan gampang tersinggung. teman-teman baik saya sudah mengetahui dengan baik karakteristik saya yang ini dan rata2 sudah cukup maklum dan teruji. Ketika menjadi dosen, saya memutuskan untuk menjadi orang yang jauh lebih sabar meskipun pada dasarnya saya tetap saja mudah terpengaruh terhadap penilaian orang lain, mudah kepikiran kalau ada masalah, mudah measang muka jutek kelas tinggi kalau lagi terganggu perasaannya.

Tapi ternyata itu semua tidak semudah yang saya kira, terutama tanggapan dari orang-orang yang menjadi objek pembelajaran kesabaran saya. Sebagian dari mereka mengganggap enteng, mengganggap remeh dan bahkan agak mulai kurang ajar serta kurang sopan meskipun tak sedikit pula yang menikmatinya.

Setiap dosen punya alasan sendiri mengapa mereka mengadopsi pola-pola tertentu dalam mengajar dan mengapa mereka bertindak dengan cara tertentu pula begitu pun saya. Pelajaran semasa bangku kuliah mengajarkan saya bahwa kelas yang menyenangkan akan menjadi alasan utama kita untuk tetap datang ke kampus. nah bagaimana bisa kelas akan menjadi tempat yang menyenangkan kalau dosennya sibuk marah-marah terus sepanjang hari? bagaimana mahasiswa bisa tenang di kelas kalau dosennya sibuk mencari-cari kelemahan mahasiswanya?. Alasan saya yang lainnya adalah karena saya ingin meneruskan kebaikan yang pernah saya dapatkan dari dosen-dosen saya yang pernah menjadikan ruang kuliah sebagai candu, sehingga setiap kali pertemuan terlewatkan maka setiap kali itu pula saya merasa ada yang belum lengkap.

Tapi mungkin saya seringkali lupa bahwa kepala yang sama hitam tidak menjamin kesamaan pemikiran dan persepsi akan suatu hal, begitu pun saya tidak bisa memaksa meereka untuk mengerti dan paham akan jalan pikiran saya..

Setidaknya saya sudah mencoba..kalau gagal, mungkin ini seperti halnya teori perusahaan, bahwa jika satu teori cocok untuk diterapkan pada suatu perusahaan maka ia belum tentu akan menghasilkan kecocokan yang sama jika diaplikasikan pada perusahaan lain..kalau berhasil? berarti cuma perlu maintenance saja..dan itu akan lebih sulit tapi bukan hal yang tidak mungkin

8 komentar:

Wanda mengatakan...

Yang sabar ya Ty..Wanda pernah dengar, kalau mau marah, marahlah karena Allah bukan krn nafsu..marah dengan niat untuk mendidik pada kebaikan..pengingat utk diri sendiri jg nih..

alice in wonderland mengatakan...

waduh Mbak kalau urusan sabar saya juga susah, makanya saya terkenal sebagai pengajar yang "galak"... trus saya memutuskan untuk jadi menahan emosi ehhh malah pada ngeremehin... susah juga ya... Akhirnya saya tetep berusaha tegas walau mungkin kata2 dan nadanya diperhalus^^ Tetep semangat ya Mbak
Salam hangat dari Wonderland

merry go round mengatakan...

Serba salah ya mba... Tetap jadi diri sendiri aja, kalau mba Hesty merasa nyaman saat mengajar pasti kenyamanan tersebut akan mengalir kepada mahasiswa dalam ruangan :)

Hesty Wulandari mengatakan...

wanda : kemaren juga diingatin ama dosen waktu kuliah kalo sebenarnya inti ajaran agama kita pun ya sabar dan ikhlas..cuma memang kadang susah untuk menerapkannya bahkan juga susah untuk tetap sabar pada saat belajar sabar..makasih sudah mengingatkan kembali ya wanda
mb alice : whuaaa senangnya punya teman senasib..mungkin aku keliatan kurang tegas dan terlalu baik hati kali ya..baiklah..akan aku coba untuk lebih tegas namun tetap sabar...makasiy ya mb :)
jeng ocha : heiii welcome back to the bloggerland..so far aku memakai versiku sendiri cha, cuma ya itu, jeleknya aku selalu kepikiran komentar2 kalo aku terlalu lunak, terlalu sabar dan pada akhirnya malah ngelihat sendiri kalo mereka jadi seenaknya..*harus segera memetakan kekuatan lawan niy*

dini mengatakan...

i'm your silent reader and i like your writings..so interesting.
Since you're a lecturer but you're still young how should i call you :D ? kakak atau ibu ya? Di kampus saya...saya juga banyak bertemu dosen2 yang menyenangkan lho dan ada beberapa dari mereka yang menjadi sahabat saya. Mereka inspiratif tanpa harus jadi galak dan menjaga jarak sama mahasiswa walaupun ada juga yang "bablas" dan ujung2nya kehilangan wibawa di mata mahasiswa nya. Tapi masih banyak yang menyenangkan tanpa harus kehilangan wibawa mereka sebagai seorang dosen.

So Keep up on your goodwork then

Hesty Wulandari mengatakan...

Dini :hai din, berasa tersanjung punya silent reader kaya dirimu..aku ga muda2 amat tapi juga ga tua2 amat..jadi karena dirimu bukan mahasiswaku jadi kamu bisa manggil apa aja senyamannya kamu :)
terima kasih buat masukannya..membuat saqya jadi lebih bersemangat untuk menentukan langkah saya ke depan..membaca komen kamu saya jadi teringat apa yang ditulis oleh mark twain yang kemaren dikutip mahasiswa saya : Sing like no one's listening, love like you've never been hurt, dance like nobody's watching..so i willo teach like no one's listening ..

btw, baru aja nge klik blog kamu..keren ya gambar2nya dan heii..aku baru aja balik dari camp duri senin lalu..^_^.

Dini mengatakan...

Aku panggil kakak aja ya boleh kan? karena ada dosen-dosen yang sepertinya lebih tua dari kak hesty, aku panggil kakak..karena sebagian dari mereka kalau bicara sukanya "ber lo-gue". Malah ada seorang kenalan disini yang anaknya seumur saya tapi memaksa dipanggil namanya aja *ini lebih freak*

hahaha makasih kunjungannya gambar2 itu kebanyakan gambar suka2 saya. Karena sekarang udah mulai susah cari waktu untuk gambar serius *malah curcol*

keep writings ya kak
wah waaahh saya ga tau nih kapan lagi ke camp duri karna ayah udah pensiun taun ini dan pindah ke daerah pinggiran jakarta.

btw ngajar di politeknik ya? kebetulan disana banyak temen2 saya hehehe. if u have time we can do some chit chat :D

Hesty Wulandari mengatakan...

dini : kamu boleh panggil aku apa aja senyamannya kamu..aku selalu suka ama orang yang bisa gambar..soalnya kami sodaraan ga ada yang bisa gambar. chit chat? dengan senang hati..aku ada di @sihesty (twitter), wulandari_712 (ym) tapi ga ada pin bb ^_^