Senin, 19 Desember 2011

menemukan, menikmati dan menularkan

Membaca kembali postingan-postingan lama saya di multiply, saya menemukan tulisan ini :
"membaca postingannya my sister tentang kebahagiaan sederhana..jadi pengen menjawab pertanyaan yang sama..Apa ya kebahagiaan sederhanaku?
1. Ditelpon si Dia...walaupun si Dia suka ngambek dan sensitif..tetap aja aku bahagia kalo dia menelpon...akan lebih bahagia lagi kalo selama menelpon dia baik-baik saja..
2. Kalo hari ini di kantor ga bikin kesalahan..kalo semua appointment yang diarrange ga ada yang berubah, counterpartnya bisa semua...dan kalo pekerjaanku dipuji bos
3. Kalo pulang ato pergi kerja ada yang nebengin ( cape juga jalan kaki terus..kapan ya bisa beli motor..?)
4. Bisa beli barang yang diinginkan tanpa rasa bersalah setelahnya..
5. Kalo sekarang ini, bahagia banget kalo udah hari Jumat...karena besoknya bisa bangun siang...
6. Dan bahagia banget ngeliat harga mangga cuma 2000/ kgnya..."


Postingan itu saya buat hampir 4 tahun yang lalu ketika saya masih di Jogja, masih pacaran dengan mantan saya yang sekarang sudah menikah dan masih bekerja dengan bos saya yang orang jepang itu. membaca postingan ini membuat saya tersadar kalau ternyata, dulu saya hanya butuh hal2 kecil saya untuk bahagia. Sekarang, saya seringkali mulai kesulitan menemukan dan menikmati kebahagiaan itu sendiri, mungkin karena pengaruh waktu, tempat dan usia. Padahal, yang menjadi sumber kebahagiaan itu tidak melulu hal-hal yang luar biasa kan?

Sumber kebahagiaan bagi setiap orang tidak pernah sama. Apa yang membuat saya bahagia belum tentu akan menjadi hal yang membahagiakan buat teman-teman saya. tapi satu hal yang saya percayai, bahagia atau tidak, itu kita yang menentukan bukan orang lain. Meskipun begitu, sumber kebahagiaan kita bisa saja datang dari orang lain ataupun dengan pertolongan orang lain, maka kebahagiaan bisa kita rasakan.

Setelah saya amat-amati, pengeluaran bulanan saya yang cukup lumayan setelah makan dan bensin adalah pulsa. Untuk nomor simpati, pulsa dengan nominal 20rb saja, saya bisa menghabiskannya dalam waktu paling lama cuma 3-4 hari.itu akan habis lebih lama untuk kartu xl saya karena kebanyakan teman-teman saya bernomor telkomsel bukan x1, plus nomor untuk internet. pulsa 20 rb tadi akan habis lebih cepat jika saya sedang rajin menelpon kecengan saya di cerita sebelumnya :D. Tapi saya ga suka mikirin tuh berapa uang yang saya keluarkan tiap bulannya untuk pulsa. bukan karena saya banyak uang tapi karena pulsa yang saya habiskan itu saya gunakan untuk menelpon orang-orang terdekat saya; menghabiskan 1-2 jam chitchat hanya untuk bertanya kabar, saling mendengarkan cerita, saling memberi masukan, saling menertawakan dan pada akhirnya kami akan saling berbagi tawa..jikapun hari itu tidak semua hal berlangsung menyenangkan..maka pada akhirnya saya dan teman-teman akan saling menularkan semangat dan mengakhirinya dengan pelukan..pelukan virtual. Berbicara dengan teman-teman saya ditelepon adalah salah satu kebahagiaan saya..dengannya jarak yang terbentang diantara kami jadi tidak lagi terasa. Perjalanan hidup mempertemukan saya dengan banyak orang dibanyak daerah..mulai dari ujung barat hingga ke ujung timur nusantara dan rasanya masih sulit untuk menemui mereka satu-persatu. Teleponlah yang akhirnya menghubungkan saya dengan mereka sehingga akhirnya pulsa yang hilang itu tergantikan dengan hal-hal yang jauh lebih besar dari nilai yang saya habiskan.

Banyak diantara kita, termasuk saya seringkali terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan ketika ingin melakukan sesuatu yang akan membuat kita bahagia sehingga membuat kita akhirnya melewatkan kesempatan untuk bahagia dengan menikmati hal-hal yang tidak perlu kita khawatirkan. Ketika banyak orang memulai trend untuk memakai inner atau dalaman jilbab yang berupa bandana, saya tidak pernah tertarik mencobanya karena merasa muka saya yang bulan ini tidak cocok dengan jilbab yang memakai bandana. belum lagi saya melihat bahwa trend ini kebanyakan diikuti oleh anak-anak muda yang saya ajar di kelas. Saya jadi takut dianggap sok muda atau ga tau umur. Suatu kali ketika berada di rumah, saya iseng2 mencoba untuk memakai bandana punya adek saya dan kemudian memasangkan dengan jilbab. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya, kakak dan adek saya bilang kalau saya terlihat bagus dengan itu. Akhirnya saya beranikan diri datang ke kampus dengan dandan baru..dan ternyata lagi-lagi kekhawatiran saya tidak menjadi kenyataan. sebaliknya, banyak yang bilang saya jauh lebih segar dan muda. .. Pujian, meskipun seringkali melenakan, bisa menjadi salah satu hal yang membuat kita merasa bahagia. dalam kasus diatas, saya menyesal terlalu mengkhawatirkan hal yang ga penting sehingga akhirnya melewatkan hal yang mungkin saja bisa membahagiakan saya.

Hidup memang tidak selalu mulus, tapi ketidakmulusan hidup juga bukan alasan untuk menjadi tidak bahagia kan? Siapa yang bisa menjamin kalau hidup kita mulus-mulus saja akan membuat kita selalu bahagia..mungkin kita malah akan ngeluh karena hidup kita begitu-begitu saja...Jadi berjanji akan selalu berusaha untuk menemukan kebahagiaan saya sendiri, menikmati dan kemudian menularkannya pada orang lain

Tidak ada komentar: