Senin, 31 Oktober 2011

Anak-anak saya..

Saya teringat, disuatu pagi dihari minggu saya menerima sms :

"ibu, kapan bisa menemani saya membeli kain untuk membuat kebaya wisuda?, saya tidak tahu harus bertanya dan mengajak siapa lagi..saya kan sudah tidak punya mama .."

hari itu, saya masih berumur 28 tahun dan belum menikah..tapi sms yang saya terima di hape saya membuat saya merasa menjadi lebih tua beberapa tahun dan membuat saya seakan sedang menjadi seorang ibu bagi seorang anak.

ketika Tuhan mengirim saya ke Kota ini untuk melanjutkan hidup, saya baru berumur 27 tahun 10 bulan, masih single dan masih terintimidasi dengan pertanyaan kapan menikah? kapan punya anak? dan lain-lain..Hidup single itu menyenangkan..selama tidak sering mendengar apa kata orang disekeliling meskipun kadang ad masanya rasa iri melihat orang lain jalan berduaan akan menyergap..rasa sepi melihat orang lain bercengkarama dengan keluarganya akan menghampiri.

Dan ternyata salah satu alasan mengapa Tuhan mengirimkan saya ke kota ini adalah untuk bertemu dengan anak saya tadi beserta teman-temannya yang akhirnya menjadi anak saya yang lainnya. kalau dihitung-hitung, saya punya hampir 60 anak pada semester itu, meski tidak semua dekat dengan saya, tapi keberadaan mereka membuat saya sejenak melupakan keruwetan kehidupan seorang lajang dan menikmati masa single itu. Saya bertemu orang-orang ini di kampus tempat saya mengajar..di kelas yang riuh, yang pertama kali kaki melangkah wajah penuh tetesan keringat karena grogi..Dilain hal, saya merasa bahwa anak-anak itu dikirimkan Tuhan agar saya tidak kesepian dan agar saya bisa belajar menjadi seorang ibu.

Ketika satu dua datang kekelas dengan muka murung, saya belajar untuk menjadi teman bercerita..saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik dan belajar untuk menahan diri untuk tidak menggurui. Meski kadang apa yang mereka ceritakan seakan mengorek luka hati saya juga, tapi saya juga belajar untuk tidak menyamaratakan persepsi orang terhadap satu masalah. Ketika mereka menangis, saya belajar untuk mengusap airmata mereka, belajar untuk menghibur orang lain seakan-akan saya sedang belajar untuk membujuk anak -anak yang sedang merajuk dengan setangkai permen..

Ketika semester berlalu berganti akan kecemasan dan keputusaaan akan tugas akhir, saya belajar untuk membesarkan hati mereka, meyakinkan mereka bahwa mereka bisa melakukannya seperti saat orang tua menyemanngati anaknya yang sedang belajar jalan..kadang mereka akan sampai ke pelukan, kadang mereka terjatuh dipertengahan...dan ketika mereka jatuh itulah saya belajar untuk menjadi supporter yang baik yang tidak akan menyerah menyemangati mereka yang bahkan sudah ingin menyerah..

Ketika mereka mengajak saya nongkrong minum skotang semalaman di jalan sudirman, saya belajar untuk mengenal dunia yang berbeda dengan dunia saya ketika masih seumuran mereka dan darinya saya belajar untuk menikmati hidup dari berbagai sisi. Skotang yang kami minum harganya cuma 10 rb segelas, tapi cerita yang akan kami bagi melebihi gelas yang ada di meja kami malam itu..dan ketika waktu sekotengan semakin jarang, saya belajar memaklumi bahwa mereka mungkin sedang ingin menikmati dunia mereka sendiri

Ketika sms diatas saya terima, saya seperti sedang belajar bagaimana jika suatu hari nanti anak gadis saya wisuda, kain baju kebaya seperti apa yang akan saya pilihkan? kain apa yang cocok jadi bawahannya? seharian itu saya benar-benar memiliki anak-anak gadis..memilihkan baju, menemani mereka mencari penjahit hingga memilihkan sepatu, menemani mereka membeli pakaian dalam..just like what a mom used to do with her kids..

Dan ketika kemaren saya melihat betapa gagah dan cantiknya mereka dalam balutan jas dan kebaya dihari wisuda mereka..diantara kebahagiaan dan kesedihan saya, saya belajar untuk melepaskan mereka..karena akan ada saatnya nanti mereka tidak menjadi anak-anak saya lagi..mereka akan terus berlari mengejar mimpi mereka dan terbang hingga tinggi...mungkin suatu hari nanti kami tidak akan bertemu lagi tapi saya hanya berharap ketika kami semakin jauh, mereka masih mengingat saya dan saat mereka jatuh, mereka boleh menangis dipelukan saya kapan saja

Bagi saya, anak-anak itu adalah salah satu bagian terbaik dalam kehidupan saya..
mereka memang bukan anak kandung saya, yang terlahir dari rahim saya..
tapi mereka adalah anak-anak yang terlahir dari hati saya...

Anak-anak saya itu mengajarkan saya bahwa hidup itu tidak sepi dan saya tidak pernah sendiri

5 komentar:

merry go round mengatakan...

Jujur mba,,, aku nangis bacanya. Tulisan dan perasaannya tulus dan mengalir banget ke pembaca. Aku jadi ikut sesek ngebaca perjalanan hidup mba bareng mereka.

Mereka seperti malaikat kecil yg mengajari makna hidup ya mba. Ada hal-hal besar di luar sana selain sekedar kehidupan normal lahir-sekolah-bekerja-menikah-punya anak-mati. Hal-hal seperti ini yg membuat hidup menjadi lebih kaya bukan.

Hesty Wulandari mengatakan...

jeng ocha, kadang aku merindukan kehidupan normal juga..tapi memiliki mereka seperti memiliki kehidupan normal yang sekaligus ga normal tapi luar biasa. pekerjaan tertentu seperti pekerjaanku dan pekerjaan lain yg berhubungan dengan banyak orang memberikan kita kesempatan untuk melihat dan merasakan banyak hal lain yang jauh lebih menyenangkan daripada hanya berpikir kenapa hidup saya tidak pernah normal..begitu juga waktu aku baca tulisanmu ttg komuter dan komen tapi ga muncul, waktu itu aku menulis bahwa dirimu begitu hebat bisa melihat sudut pandang yang cantik dari menjadi seorang komuter sementara orang lain malah cuma melihat yang jelek2nya saja.. seperti aku yang melihat hal-hal besar diluar sana lewat anak-anakku, dirimu juga bisa melihat hal-hal besar dari mata komutermu, mata-mata teman kerja di kantor atau mungkin hanya orang yang ditemui di jalanan..*jadi ceramah :) btw, thanks for stopping by jeng

indra intisa mengatakan...

kisah yang bagus mbak hesti :)
sy menikmati seolah saya didalammnya..
btw kapan ne bareng makan bakpau lagi..? eh BIKA rasa Duren keju di GOR padang :)

Wanda mengatakan...

speechless...great piece, hesty :)

Hesty Wulandari mengatakan...

indra : thanks..begitulah kalo dosen kelewat sentimentil...jadi kapan nge enhai lagi?
wanda : makasiy sudah mampir dan membaca..kalo cerita ttg anak-anak, dirimu pasti punya cerita lebih banyak