Kamis, 22 September 2011

kata pengantar untuk tugas akhir-versi saya :)

Malam ini rumah saya kedatangan banyak mahasiswa. Mereka datang bukan karena rindu, tapi karena minta tanda tangan untuk TA mereka yang akan dijilid..lariiisss tanda tangannya. sebelum menandatangani TA itu, saya membolak balik 4 TA yang berbeda untuk melihta..apa lagi kalau bukan kata pengantar:) tapi ternyata kata pengantar versi mereka standar sekali..he he
Tiba-tiba saya jadi ingin membandingkannya dengan kata pengantar untuk thesis saya setahun yang lalu. Dan ternyata, saya memang mahasiswa yang sentimentil (pada waktu itu)..kata pengantar saya alamakjang panjangnya :)
jadi ingin membaginya buat banyak orang..kali2 aja terinspirasi untuk membuat kata pengantar yang pas untuk TA, Skripsi, Dll :)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirrabilalamiin..Segala puji hanyalah Untuk Allah SWT,
dengan segala kuasaNyalah tesis yang berjudul : “Analisis Faktor Ekonomi,
Teknologi, Produk Digital dan Perilaku Sebagai Faktor Yang Mendorong
Keberlanjutan Pembajakan Digital” ini bisa terwujud. Shalawat beriring salam
hanyalah untuk Rasulullah Muhammad SAW, yang melaluinya wahyu untuk
membaca diturunkan, sehingga menuntun umatnya menjadi manusia-manusia
pembelajar.
Tesis ini merupakan bentuk kerja keras yang tidak akan selesai begitu saja
tanpa bimbingan, nasehat dan pertolongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
ijinkanlah saya sebagai penulis dalam kesempatan ini menghaturkan ucapan
terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Supriyadi, M.Sc., sebagai pengelola program Magister Sains Ilmu
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, beserta jajaran pengelola program lainnya
yang telah memberikan banyak kontribusi demi terciptanya suasana belajar
yang sangat kondusif

2. Dr. Sony Warsono, MAFIS., pembimbing baik hati yang telah mendorong
saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dan dengan
kesabaran mengajar dan membimbing saya untuk hasil tesis yang lebih baik

3. Prof. Jogiyanto, HM., MBA., dan Suyanto, SE., MBA., yang telah menguji
tesis saya hingga lulus

4. Orang tua juara satu sedunia saya; Papa Forial Miad dan Mama Yurnelis yang
dengan kerja keras dan doa merekalah saya sampai di tahapan penting
kehidupan saya ini, untuk setiap tetesan keringatnya yang menjadi pembakar
semangat dan setiap doa adalah untuk masa depan saya yang lebih baik, yang
telah meyakinkan saya untuk tidak pernah menyerah hingga tesis ini terwujud.
Semoga Allah selalu memberikan umur yang panjang, melimpahkan rejeki
dan membalas kerja keras Papa dan Mama selalu

5. Saudara-Saudara saya di rumah; Kakak saya Hijria Nugraha, SS dan Uda ipar
Saya Dr-eng. Meifal Rusli beserta adil dan azzam untuk setiap nasehat,
dorongan, semangatnya serta perpanjangan nafas bulanan ☺..Adik-adik Saya
Yuli Ela Kemara, SST dan Alpha Carry Argus, Amd serta Dzaky thanks for
being my real savior..you’ve got what you want and I’ve got mine..:)..Nahlia
Pertiwi dan Mahmuda Al-Ayyubi untuk setiap oleh-oleh yang ditagih setiap
saya pulang..We might never be perfect for each other as brother and sisters,
but it’s perfect already as the way it is… Keluarga besar di Tanjung Pinang
serta Keluarga Besar di Padang Panjang untuk setiap doa dan dukungannya.

6. Dosen-dosen yang amazing, adorable and charming yang telah membuat ilmu
pengetahuan menjadi hal yang amat mempesona dan menyenangkan. Beliaubeliau
yang telah rela membagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman demi masa
depan peradaban yang lebih baik, menginspirasi saya melalui tiap sesi kuliah
dan tiap tugas yang diberikan. Semoga Allah membalas semua ilmu yang telah
diberikan sebagai amal shalih yang tidak pernah putus

7. Teman-teman “systemic” asyik, yang membuat kuliah sistem menjadi amat
menyenangkan. Terima kasih buat satu trimester yang menyenangkan dan
membuat masa tesis yang penuh tekanan itu menjadi lebih mudah, sangat
menyenangkan bisa melewati ini semua bersama-sama dan melewati masa
kelulusan bersama-sama pula. Duwi Agustina; untuk pertanyaan:”udah di acc
apa belom” yang bikin stress tapi juga bikin semangat, buat jemput antarnya
serta teman curhat yang baik, Eska Almuntaha; buat kelapangan hati,
pengertian, rumah yang menyenangkan, mobil yang bisa dipakai kapan saja
serta kesediaan berbagi Ibu dengan kami, Theresia Purbandari; untuk setiap
sms yang bertujuan untuk mengingatkan apa saja dan menyemangati apa saja,
Rilo Pambudi; the nicest man alive.. thanks for being a very nice brother to
me..I know you will make it and I’ll be waiting for that good news dan Zulfa
Devina Rahman; adik, teman dan rival perjuangan untuk banyak hal, thanks
for understanding in my bad time, I owe you much. Semoga kesuksesan akan
mengiringi setiap langkah kita dimasa yang akan datang.

8. Teman-teman September 08 yang amat menyenangkan; Kak Anny Hutagaol
untuk setiap semangat, perjalanan, curhat dan pengertian yang telah dibagi
serta untuk our amazing bromo journey, Mb Ratih, Mb Grace, Nunik untuk
selalu hadir memberikan dukungan dan semangat disaat-saat penting, Aan
untuk pelajaran kehidupan, bahwa sesulit apapun hidup harus terus dihadapi,
jangan pernah menyerah ya An, Mb Wiwin dan Mb Ulva untuk pertemanan
yang tulus dan apa adanya, Mb Yanti, Anca, Usqo, Khairul untuk pelajaran
tentang sportifitas dan menghormati perbedaan pandangan, Mb Sinar, Lidya,
Mb Nay, Orin, Sisil, Ajeng, Nina, Untuk pengalaman pertemanan yang penuh
warna, Pak Gendro (Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi bapak).
Kuliah tidak akan pernah sama tanpa kehadiran kalian.

9. Para senior ; Amy, Mb Vera, Mb Indri, Mas Rohmad, Mas Mawardin, Wibi,
Mb Nona, Ario, Mas Endra, Dian, Mb Eva, Bang Iwir, Mb Yeni, Mb Ninuk,
Mb Nining, Andi, Ana, Ayu, Meli, Bang Lutfi, Mb Inggrit, Karlina, Pak
Edwin (may you rest in peace) Terima kasih atas penerimaan yang baik
terhadap kami para junior. Tetap semangat bagi yang belum selesai tesisnya
dan semoga sukses selalu bagi yang telah selesai ☺

10. Para Junior; Wandi, Ella, Cindy, Arif, Da Henri, Agus, Melda, Mb Neni, Mb
Evi, Mita, Azwar, Pak Hermanus, Mas Anton, Puput

11. Mas dan Mbak pegawai MSI UGM tanpa terkecuali. Terima kasih atas
bantuan-bantuan yang selalu diberikan dalam keramahan

12. Izumi-san, Itoi Sensei, Yoko-san serta para Sensei di Kyushu University for
giving me the chance and trusting me. Thanks for letting me improving
myself...You’re the greatest Guru I’ve ever knew, teman-teman HLPO; Mb
Wida, Arum, Wulan, Ami, Titis, Linda, Widya, Mb Sonya, Unggul, Putra,
Andi, Bung Ady, Bung Ari untuk pengertian, dan kerjasama serta
persahabatan yang indah ini

13. Vetra, Uut, Ika, Yola dan Cupi untuk dorongan semangat yang tanpa henti,
untuk selalu mengerti dan tidak pernah menyerah mengerti saya dan untuk
persahabatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata

14. Leli, Lili dan Nani for our many years unconditional friendship, for the love,
joy and support..means so much for me

15. Kak Deni; untuk sisterhood yang everlasting, ni Anne; untuk selalu
mengingatkan tentang perlunya mencintai diri sendiri Memiliki kalian berdua
membuat saya menjadi adik paling beruntung sedunia

16. The asputers; yang membuat kehidupan merantau menjadi amat
menyenangkan, yang membuat saat-saat tidak punya uang jadi terasa tidak
begitu menyedihkan. Terima kasih untuk Dian, Yunita, Laras, Kristin, Bembi,
Ajeng dan Afifah untuk persahabatan yang menyenangkan, Bu Nona, Mami
Ely, Cece, Nti, Diana, Ria, Ayu serta teman-teman lainnya di Asput 70
Pogung Kidul.

17. Lili & adik, Ni devvy yang telah membantu penyebaran kuisioner, Para
responden yang telah membantu kelancaran penelitian ini serta Arif Perdana
yang telah membantu mengolah data. Semoga Allah memudahkan kalian
disetiap kesulitan yang dihadapi seperti kalian telah memudahkan penelitian
saya

18. Pihak-pihak lain yang telah memberikan kontribusinya namun tidak bisa
disebutkan satu persatu

Tesis adalah kuliah kehidupan. Yang setiap babnya mengajarkan tentang
pembelajaran sebenarnya, pembelajaran tentang menghargai hasil karya orang
lain, tentang ketelitian dan kesabaran untuk hasil yang maksimal, tentang terus
berjalan walaupun habis terang, Pembelajaran untuk tidak menyerah sesulit
apapun keadaannya dan yang terpenting, pembelajaran melawan diri sendiri...
Akhir kata, Semoga Allah membalas setiap sumbangsih yang diberikan
dan memberkatinya dengan kemudahan dalam setiap langkah yang diambil.
Amin.
Yogyakarta, Maret 2010
Hesty Wulandari

see? saya memang sentimentil :)

Rabu, 14 September 2011

From A Friendship Into Relationship; Why Not ?

Setelah saya ingat-ingat, banyak sekali teman saya; baik teman sekolah atau teman kuliah yang akhirnya menikah dengan temannya sendiri. Di kelas saya sewaktu SMU saja, ada dua pasang teman yang menikah sekelas. Itu baru yang sekelas saja lo, belum termasuk yang menikah seangkatan, lebih banyak lagi. Begitu juga dengan seorang teman baik saya waktu kuliah yang akhirnya menikah dengan (lagi-lagi) teman sekelas kami yang dulu sering ia ejek-ejek :). Orang yang menikah dengan teman sendiri juga pernah dibahas dalam koran Kompas.

Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada yang salah dari hubungan istimewa yang dimulai dari pertemanan. Bahkan hubungan dari pertemanan memiliki potensi untuk awet ketika berubah format. Mungkin salah satunya karena periode pertemanan yang biasanya terjalin dalam waktu yang cukup lama sehingga memungkinkan kita lebih mudah untuk menerima keadaan seseorang yang akan menjadi pasangan kita. waktu pertemanan yang cukup lama juga memungkinkan kita untuk melihat banyak sisi dari orang lain; baik sisi positif ataupun negatif. Sisi positif seseorang merupakan hal yang mudah diterima sementara sisi negatif tentu saja memerlukan lebih banyak ruang dari hati untuk bisa memakluminya. Jika teman kita pelupa, maka ketika memutuskan untuk menjadikan ia pasangan tentu saja kita sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk beradaptasi.

Jika salah satu faktor yang menjadi pertimbangan untuk memilih seseorang menjadi pasangan kita adalah penerimaan keluarga; baik keluarga kita ataupun keluarga dia. Semakin lama kita berteman dengan seseorang, maka biasanya akan semakin besar kemungkinan kita untuk dikenal baik dikeluarganya si dia dan sebaliknya. Seperti saya yang mendapatkan banyak orang tua dan saudara-saudara tambahan karena banyak teman. Sepanjang tidak ada track record yang buruk dimata keluarga teman tadi, saya pikir langkah selanjutnya akan jauh lebih mudah karena sudah tidak ada yang perlu ditaklukkan secara berlebihan.

Hal berikutnya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangkan ketika akan memutuskan menjalin hubungan dengan seorang teman adalah banyak sumber valid yang bisa dimintai pendapat tentang calon pasangan. Yang jelas teman-teman yang berada dilingkaran pertemanan itu sendiri akan jadi narasumber yang pas. Mereka (teman-teman kita itu) juga mestinya juga akan menjadi penilai yang baik karena mereka juga sudah mengenal temannya cukup lama

Dengan segala kemudahan yang ada didepan mata bukan berarti hubungan yang dimulai dari pertemanan ini tak memiliki tantangan sama sekali. Tantangan terbesarnya justru memisahkan antara status teman dan status pasangan itu sendiri. Kebiasaan santai dan memperlakukan teman sama rata kemungkinan akan terbawa dalam hubungan dan berpotensi untuk menimbulkan kesalahpahaman. bagaimanapun, setelah mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan seseorang (meskipun awalnya teman), posisinya pasti berubah dari seorang teman (biasa) menjadi teman (istimewa) yang mau tidak mau akan mempengaruhi sudut pandang dan perasaan yang ada.

Selain itu banyak orang yang beralasan bahwa hubungan yang dimulai dari teman itu sulit untuk mendapatkan chemistrynya..lha, ini kan bukan percobaan kimia. yang namanya perasaan kan bukan seperti batu yang keras sehingga tidak bisa diotak atik sama sekali. lha wong pepatang jawa aja b ilang witing tresno jalaran soko kulino kok yo...jadi kenapa harus tidak yakin kalau rasa (chemistry) itu tidak bisa ditumbuhkan?

Tantangan lain yang tak kalah sulit adalah tetap berteman meskipun hubungan itu tidak berhasil sepenuhnya karena tak jarang pasangan yang berasal pertemanan sudah terlebih dahulu kehilangan teman-teman mereka ketika hubungan dimulai dan semakin kehilangan teman ketika hubungan ini tidak berjalan...

Kalau tidak ada masalah dengan hal-hal diatas, mengapa tidak mencobanya? :)

Selasa, 13 September 2011

Cinta Pertama Anyone ?:)

malam ini, saya dan empat orang teman membahas tentang cinta pertama kami masing-masing saat sedang makan malam bersama. Seru juga ternyata pengalaman-pengalaman tentang cinta pertama, seseru perdebatan tentang defenisi apa siy cinta pertama itu, apa ia sama dengan pacar pertama atau cinta monyet atau beda sama sekali?

Salah seorang teman memberikan klasifikasi bahwa yang namanya cinta pertama tidak melulu sama dengan pacar pertama. Cinta pertama itu terjadi ketika kita jatuh hati pada seseorang yang kemudian membuat kita mengerti apa sebenarnya cinta itu; mulai dari deg-degan kalau mau ketemu tapi tetap aja selalu ingin ketemu, selalu ingin memperhatikan dan diperhatikan, dst dst. Sebagian orang mendapatkan cinta pertamanya pada pacar pertamanya atau mendapatkan cinta pertamanya pada saat ia berada pada fase cinta monyet. Jadi, cinta pertama, cinta monyet dan pacar pertama bisa saja sama tapi bisa juga tidak.

Seorang teman bercerita kalau cinta pertamanya dirasakan pada waktu duduk di kelas 5 SD, teman yang lainnya ada yang pas SMP dan saya ..hmm pas SMU. Cukup telat ya? kialo naksir-naksiran siy sebelum itu juga pernah, tapi seseorang yang membuat saya tahu tentang defenisi cinta itu saya temukan di bangku SMU. Pertama kali kenal saya takjub dengan suaranya yang amat keras, ketawanya juga amat keras bahkan tepuk tangannya lebih keras lagi. Dulu ia salah satu siswa yang amat rapi. Baju seragamnya ga pernah selebor, selalu masuk kedalam dengan ikat pinggang yang terlihat jelas terpasang. Dulu, ia tidak bisa mengetik di komputer. Pernah kami dikasih PR yang harus diketik komputer, punya dia huruf gede semua. he he

Sebenarnya lucu juga ya bisa jatuh cinta pada orang yang awalnya dinilai biasa begini. Sebenarnya dibalik ke"biasa"annya, pria ini memiliki bakat kepemimpinan yang bagus, murah hati dan teman debat yang asyik daerlin badannya bagus :). ia mulai terlihat tidak biasa saat kami sekelas menghabiskan liburan di kampungnya wali kelas yang dingin. Di kota yang sedingin itu, saya menemukan ia lari pagi hanya dengan celana pendek dan singlet..beuuuhhh keren abis :)

Sayangnya dia hanya cinta pertama saja..no more. Dan bahkan saya pernah kehilangan pertemanan saya dan dia selama empat tahun dan alhamdulillah bisa berbaikan dan jadi teman baik sampai sekarang meski sudah lama tak bertukar kabar. Ia bekerja di daerah, jadi pejabat, sudah menikah dengan perempuan cantik yang juga saya kenal baik. Waktu ia menikah, saya yang mengurus pengiriman souvenirnya dari Jogja meskipun tidak bisa datang langsung pada acaranya.

Heiii..tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki kan?
setidaknya saya senang dia menemukan orang yang tepat untuk mendampinginya
dan saya ikut bahagia melihat ia bahagia dengan kehidupannya saat ini

Ini ceritaku..bagaimana ceritamu ?