Selasa, 08 Maret 2011

Belajar dari orang hebat jilid 3

Profesor Eddy Rasyid hanyalah salah satu contoh nyata bagaimana sebuah institusi mampu membentuk watak dan kepribadian yang hebat. Bahkan untuk karakteristik suatu suku bangsa yang tidak pernah mau terhimpit dibawah orang lain sekalipun. Harus saya akui bahwa tanah Jawa benar-benar membukakan mata saya tentang defenisi orang hebat itu sendiri. Hampir ditiap sudut kita bisa bertemu dengan banyak orang hebat dengan berbagai watak dan karakter. Ada yang sombongnya setengah mati sampai pengen nyambit pake sendal kalo ketemu. Tapi ya kita ga bisa buat apa-apa karena memang pada kenyataannya orangnya memang hebat dan pantas sombong. Tapi tidak sedikit pula yang benar-benar tidak kelihatan ”orang hebatnya”.

Ketika sempat bekerja di proyek kerjasama UGM dengan JICA, kantor saya berseberangan dengan kantor Rektor dan seringkali juga berurusan dengan kantor itu. Prof Sudjarwadi, rektor UGM itu orangnya benar-benar mencengangkan. Beliau tidak segan-segan mampir ke kantor kami dan berbincang dengan bos saya dan menyapa kami para kroco-kroco ini sementara ibu wakil rektornya setengah mati susah ditemui dan dihubungi. Bapak rektor itu selalu menyediakan waktunya (kalau beliau sedang berada di tempat) untuk setiap urusan yang melibatkan kantor saya dan kantor beliau, selalu menyempatkan diri menyambut setiap profesor Jepang yang berkunjung hingga mengundang kami makan siang atau berbincang di kantornya yang hangat dan staf-stafnya yang menyenangkan. Beliau juga tidak tampil wah seperti gambaran rektor yang ada di kepala saya. Paling sering saya melihat beliau dengan tampilan celana panjang dan baju kemeja putih, biasa saja, meskipun kita tak pernah tahu apa merek kemeja yang ia pakai.

Dan UGM benar-benar tempat yang tepat untuk memperluas sudut pandang saya tentang bagaimana seharusnya bersikap agar bisa menjadi orang hebat juga. Sewaktu kuliah PPAK, saya mengenal Dr Sony Warsono yang saat itu menjabat sebagai kepala program yang sedang saya ikuti. Orangnya amat sederhana, khas orang jawa kebanyakan. Berpakaian apa adanya dan kadang kala malah terkesan kurang memperhatikan penampilan. Tapi beliau benar-benar orang hebat yang hebat. Hal pertama yang selalu saya ingat tentang beliau adalah cara beliau memanggil kami para mahasiswa yang masih ingusan ini, yaitu dengan menggunakan kata panggilan panjenengan (yang biasanya digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua dalam bahasa jawa halus) bukan sampeyan (yang biasanya dipakai untuk memanggil orang yang seumuran atau yang lebih muda dalam bahasa jawa sehari-hari). Saya merasa di wongke -istilah bahasa jawa untuk pengertian dimanusiakan atau dianggap manusia- dan kadang malah merasa sungkan, masa beliau yang lebih tua dan lebih hebat aja segitu sopannya sementara kita yang masih muda malah seenaknya. Hal berikutnya yang masih terekam kuat dalam ingatan saya adalah ketika beliau berkali-kali meminta maaf kepada saya dan teman-teman sekelas karena punya masalah dengan salah satu dosen yang mengajar kami dan beliau terlambat mengetahuinya. Dari situ saya mengerti kalau beliau adalah tipe pemimpin yang benar-benar mendengarkan suara arus bawah dan menghargai siapa saja yang berada disekitarnya. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terus melanjutkan kuliah ke jenjang master dan kemudian menjadi pembimbing dari thesis saya..sepanjang masa kuliah, saya memanggil beliau dengan nama Bapak yang lembut hatinya..

Pak Sony bukan satu-satunya orang hebat yang saya temui di UGM. Bapak-Bapak yang telah terlebih dahulu saya sebutkan nmanya diatas adalah orang-orang hebat yang sehari-hari wara-wiri di kampung UGM. Bapak Zaki Baridwan, kemudian menjadi salah satu idola saya. Meskipun saya hanya mendapat nilai C di mata kuliah teori akuntansi yang beliau ajarkan, mendapatkan 3 kali point nol dari 4 kali quiz yang beliau adakan dan hanya mampu stress dari jumat ke senin, beliau menunjukkan kepada saya dan teman-teman bahwa untuk menjadi orang hebat, setiap orang membutuhkan proses, kerja keras dan tempaan yang lama. Meskipun keras hati, beliau menunjukkan sikap kebapakannya dengan memberikan saya izin untuk tidak masuk ke kelas beliau saat adik saya menikah dan itu kemudian menjadi joke baru di kelas-kelas beliau berikutnya. Untuk orang ini, saya benar-benar menemukan seorang begawan yang sesungguhnya. Bahasanya rapi, bahasa inggrisnya yahud, kemampuan menulis artikelnya tidak diragukan lagi dan tentu saja pemahamannya terhadap ilmu akuntansi amat luar biasa. Beliau bahkan hapal satu persatu isi buku teori akuntansi yang kami pelajari tanpa melihatnya, sellau datang lebih awal dari mahasiswanya dan selalu tampil rapi dan berkelas. Setiap kali mengingat beliau, saya teringat wajah-wajah khas para mafia itali di film-film action. Beliau memiliki hidup yang amat teratur (menurut pandangan saya sih). Kami pernah diminta hadir kuliah jam 6 pagi. Ketika banyak yang mengeluh, beliau menjawab :"Jam segitu saya biasanya sudah selesai olahraga dan sarapan". Hmm..jadi tau kenapa beliau tidak mau turun menmui saya dengan baju tidur..karena baju tidur (mungkin) bukan untuk dipakai keluar kamar atau keluar rumah menemui tamu.

Jika Bapak Zaki Baridwan selalu tampil rapi, maka tidak jauh berbeda dengan Bapak Prof Jogiyanto Hartono juga demikian, tapi beliau tidak pernah memakai singlet didalam baju kemejanya. Kalau Profesor satunya amat serius, yang satu ini malah sering memberikan lelucon yang garing yang membuat kita tertawa bukan karena leluconnya tapi karena kegaringannya. Meskipun demikian, beliau merupakan salah satu orang hebat yang benar-benar menguasai banyak hal sekaligus; akuntansi, pasar modal, sistem informasi dan metodologi penelitian. Buku-buku yang beliau karang juga sudah banyak sekali dan selalu menjadi acuan bagi banyak orang.

*Untuk dosen-dosen saya yang amat inspiratif..it's always be an honored to know you all

still plan to be continued... dan kali ini silahkan menyimpulkan sendiri pelajaran yang bisa diambil..:)

2 komentar:

cipu mengatakan...

Hmmm setuju.

Rata-rata orang hebat adalah mereka yang down to earth. Semoga Hesty bisa ngikutin jejak mereka.

Tapi banyak juga lho sosok hebat yang tidak melalui jalur institusi pendidikan

Hesty Wulandari mengatakan...

cipu : mudah-mudahan begitu ya cipu amiinn... doakan juga dong diriku bisa sekolah ke LN kaya dirimu :)

memang ada banyak sekali orang hebat dengan berbagai background..tapi kebetulan yang kali ini masih seputaran per kampus an :)