Selasa, 08 Februari 2011

Belajar dari orang-orang hebat..jilid 1

Saya pikir saya adalah orang yang cukup beruntung memiliki banyak kesempatan untuk bertemu banyak orang-orang hebat dalam kehidupan ini. Orang hebat yang pernah saya temuipun cukup beragam; mulai dari praktisi akuntansi yang hebat, dosen yang hebat, ahli kuliner yang hebat, wartawan hebat, mahasiswa hebat dan tentu saja teman-teman yang hebat.



Pengalaman pertama bertemu orang-orang yang hebat saya rasakan hampir lima tahun yang lalu ketika menjadi panitia dadakan dalam simposium nasional akuntansi 9 di almamater saya Universitas Andalas. Pada saat itu saya kebetulan sedang pulang ke Padang dalam rangka menghadiri pernikahan sahabat saya bukan untuk menjadi panitia acara tersebut. Posisi saya dalam kepanitian tersebut hanyalah posisi penggembira, hanya menjadi liaison officer alias penghubung antara peserta dan panitia inti. Meskipun hanya penggembira, posisi ini merupakan salah satu posisi yang paling diandalkan dalam acara- acara berskala besar karena job desknya amat tak terbatas, yaitu mengurusi orang.



Dua hari pertama saya habiskan untuk bertugas di Bandara Internasional Minangkabau, menyambut para tamu yang rata-rata datang ke Padang dengan jalur udara kemudian meminta mereka mengisi buku tamu serta memberi tanda pada daftar tamu yang dinanti. Di BIM itulah pertama kali saya melihat raut wajah para orang hebat akuntansi yang selama ini hanya pernah saya lihat tercetak dibuku-buku yang kami pakai kuliah, sebagian bahkan belum pernah saya baca. Saya menjumpai Zaki Baridwan, Ainun Na’im, Slamet Sugiri, Amir Abadi Jusuf, Alm Mas’ud Mahfoez, Soekrisno Agoes, Indra Wijaya Kusuma, Suwardjono dan sederet nama beken lainnya. Mereka hadir di acara itu sebagai penguji untuk berbagai artikel akuntansi yang akan ditampilkan di simposium tersebut. Selain sebagai penyambut tamu, sebagai LO saya juga bertugas untuk melakukan pembayaran honor dan transportasi bagi para reviewer tersebut, menjadi pemandu utama di bis mereka ketika jalan-jalan ke bukittinggi hingga menjawab telepon dan sms yang mereka kirimkan dalam berbagai kondisi



Orang hebat yang paling dekat dengan saya selama acara tersebut adalah Prof Soekrisno Agoes. Beliau adalah dekan Fakultas Ekonomi sebuah Universitas Swasta di Jakarta. Selain itu, Pak Kris, begitu saya memanggilnya, juga memiliki kantor akuntan publik serta mengarang buku yang dijadikan acuan untuk mata kuliah audit di banyak universitas. Sebagai seorang profesor, tampilan Pak Kris menurut saya biasa saja, jauh dari kesan parlente dan keglamoran yang biasa ditunjukkan oleh para intelektual pada umumnya. Menurut saya tampilannya biasa saja, kalah dengan kerapihan dan kegantengan Profesor Zaki Baridwan. Pak Kris memiliki pembawaan yang santai serta seorang perokok berat. Bersama beliau, saya merasa tidak sedang menghabiskan waktu dengan seorang profesor, melainkan bersama seorang ayah. Sayang, setelah beberapa kali hp saya hilang, saya juga kehilangan komunikasi saya bersama beliau..Tapi pelajaran pertama tentang orang hebat yang saya dapatkan adalah jadi orang hebat tidak perlu selalu terlihat hebat. Berarti betul juga kata pepatah, dont judge a book by its cover.



Ketika berikutnya saya berkesempatan untuk membayar uang transportasi bagi Profesor Zaki Baridwan dan Prof Ainun Na’im di hotel Bumi Minang, saya menjumpai seorang profesor muda yang bersahaja. Pak Ainun turun dari kamar hotelnya menuju lobi untuk bertemu saya hanya dengan mengenakan celana pendek dan kemeja batik biasa saja. Tidak tampak sama sekali kalau beliau adalah seorang dekan di fakultas prestius di universitas impian banyak orang. Dan dari penampilannya malam itu, mungkin akan banyak orang yang kecele dan tidak mengira kalau beliau memiliki posisi penting di Pertamina. Selanjutnya saya ingat pernah bertemu beliau di supermarket di kota Jogja, mendorong kereta belanja yang penuh dengan sayur-mayur dan buah-buahan sementara sang istri berjalan duluan memilih belanjaan lain. Berhubung Pak Zaki, begitu biasanya Profesor Zaki Baridwan disapa tidak bisa turun menemui saya karena sudah berganti baju, saya hanya bisa menitipkan uang beliau pada Pak Ainun. Waktu itu saya hanya bisa berpikir, “ apa kalau orang sudah berganti baju dengan baju tidur maka ia jadi tidak bisa menemui tamu ya?”. Maklum, kalau teman saya datang ke rumah saya bisa saja menemui mereka dengan baju yang sedang saya pakai, entah itu baju main, entah itu baju tidur. Jawaban atas pertanyaan itu saya dapatkan setelah saya bertemu dengan beliau di kelas ketika kuliah. Pelajaran yang saya dapatkan malam itu adalah, meskipun hanya dibungkus dengan kemasan yang sederhana, sesuatu yang bersinar akan tetap selalu bersinar dan sebaliknya.

2 komentar:

Himawan Pridityo mengatakan...

sikap para dosen kadang berbeda dari sikap universitas. Jika mereka tahu apa yg mereka jual, yakni pengetahuan, lalu apa sebenarnya yg dijual oleh universitas? Ketika kampus2 semakin banyak, dan masing2 menawarkan program yg sama, link and match yg sama kuat, maka perbedaan yg muncul mau tidak mau adalah soal trust. Kepercayaan sebagai sebuah lembaga yg memberikan layanan profesional dgn imbalan yg besar. cukupkah? Ternyata tidak. Maka mulailah universitas bermain di ranah kharisma. Menjadi profesional berarti menjadi elitis, dan menjual gengsi, imej, serta reputasi. Itulah ujung dari perlombaan kapitalis, yg saat ini juga dialami oleh lembaga pendidikan kita. Maka tidak perlu terkejut jika gedung2 universitas itu makin lama makin terlihat pongah.

Hesty Wulandari mengatakan...

bung HP : hmm...tiba-tiba takut aja kalau suatu saat saya menajdi yang digambarkan di komen itu :"Menjadi profesional berarti menjadi elitis, dan menjual gengsi, imej, serta reputasi"..
Tapi mudah-mudahan tidak..
jadi bagaimana seharusnya bersikap?