Rabu, 05 Januari 2011

Guru yang menginspirasi

Hari ini saya membaca e-mail yang diforward seorang teman baik kepada saya..
dan saya sangat terinspirasi..
mudah-mudahan saya dan teman-teman lain yang berprofesi sebagai dosen dan guru bisa mengikuti jejak mereka yang diceritakan di cerita ini..
"Orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti ~ Albert Einstein"

JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah kuno bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda, sebuah kuliah fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika kuantum nama kuliah itu. Hariadi Paminto Soepangkat—doktor fisika zat padat lulusan Universitas Purdue, Indiana, AS — sang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh tinggi besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak pemuncak eksekutif bisnis itu, telah berdiri penuh wibawa di hadapan sekitar 150 mahasiswa dari tiga jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika dan meteorologi.

Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba nama saya dia panggil.
”Saya, Pak,” jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan.
”Kota asal Saudara di mana?” tanyanya sambil menuruni panggung kuliah yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat saya duduk di barisan depan.
”Sidikalang, Pak,” jawab saya.
”Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, daerah Saudara penghasil kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?”
”Betul, Pak,” jawab saya sumringah.
”Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?”
”Seratus lima puluh kilo Pak.”
”Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?”
”Lima ribu, Pak.”
”Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”
“Berastagi, Pak.”

Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung kuliah, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira seperti inilah yang dimaksud dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu tidak cukup mengantarnya sampai ke Medan. Jadi, lima ribu adalah uang ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”

“Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi yang minimum, untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu bahwa energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi, yang besarnya menurut Max Planck adalah hv, di mana v frekuensi radiasi itu dan h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat-minus-34 joule-detik. Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya.”

Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa. Tapi, saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat perhatian seluruh kelas dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit saja sorotan lampu perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa diri spesial. Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi. Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum.

Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A. Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya adalah C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A sungguh sangat sedikit.

Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya itu setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, kreditnya maksimum: empat. Bukan cuma itu, di zaman itu, cuma ada dua mata kuliah fisika yang dianggap dahsyat: fisika kuantum dan relativitas umum. Yang terakhir ini belum disajikan di tingkat S1. Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada kuliah sepenuh: mekanika kuantum, yang akan didalami nanti di tingkat S2.

Saya juga takjub pada diri sendiri. Mengapa mendadak saya jadi sangat pintar? Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya Pak Hariadi mengajar kami memang luar biasa. Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang menunggu dosen. Pak Hariadi sebaliknya.

Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan istimewa tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat dia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 100 menit itu selesai.

Lima tahun saya kuliah, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi. Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika hanya Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian. Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi. Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja ilustrasi itu sangat menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang pada momen pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik ditelusuri.

Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya dan jeri pada pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi killer. Ia memenuhi tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu sendiri. Jadi, sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat A.

Sampai ke Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi kebanggaan mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. Tak tahan, saya pun menulis sepucuk surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa syukur dan terima kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara mengajarnya saya apresiasi dengan rinci. Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30 mahasiswa yang mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian dia yang berterima kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam kepada orangtua saya, dia mengundang saya ke kantornya usai libur. Waktu itu Pak Hariadi adalah dekan Fakultas MIPA. ”Saya ingin mengenal Saudara lebih dekat.” katanya.

Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang saya bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang istimewa ini, Ibu saya mengusulkan memberikan ulos sebagai cinderamata. Ulos dan kopi, itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung. Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, Pak Hariadi, tanpa saya duga, meminta agar saya bersedia menjadi asistennya. Terhenyak saya. Tubuh saya mendadak ringan. Seperti kapas di awang-awang layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya sambut.

Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata, dia sempat tertegun lalu berkata, ”Wah, istri saya harus ikut bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi.” Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi, saya pun jadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi Sidikalang saya serahkan. Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983–saat itu Pak Hariadi sudah menjabat sebagai rektor ITB–saya terus membantunya sebagai asisten kuliah fisika kuantum.

Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat saya selama kuliah di ITB. Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika, kimia, dan biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup mengajar secerdas dan sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata pelajaran keras itu tidak akan pernah jadi momok buat anak-anak muda kita. Bahkan, matematika dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.


JANSEN H. SINAMO - 8 Etos Kerja Profesional
Fisika Kuantum memiliki makna yang sama dengan Mekanika Kuantum, adalah ranah ilmu Fisika Teori yang berfokus dan berusaha menjelaskan perilaku materi sewaktu berinteraksi dengan energi yang terjadi pada skala mikro (microcosmos). Pelopornya adalah Max Planck, terpicu oleh penyelidikannya terhadap karakteristik panas dan sesuatu yang mengeluarkan panas. Kata "Kuantum" berasal dari Quanta, istilah yang dipopulerkan Planck untuk menunjuk bahwa cahaya sejatinya merupakan gelombang kumpulan paket-paket energi (quanta). http://www.pbs.org/transistor/science/info/quantum.html

Senin, 03 Januari 2011

kampus ini mengalihkan duniaku

hampir setengah tahun silam, saya memutuskan untuk angkat koper dari jogja. Hidup saya disana sudah mulai memasuki masa-masa stagnan sementara umur terus merangkak naik..Saya akhirnya pulang..menikmati masa menganggur sebulan dua bulan sambil merayakan lebaran sebelum akhirnya berpindah ke provinsi tetangga..

Salah satu alasan mengapa saya pulang adalah karena saya telah menerima tawaran untuk mengajar di politeknik swasta di kota tetangga itu...yup..politeknik tempat saya mengajar bernama Politeknik Caltex Riau, yang menyandang nama besar perusahaan minyak yang dulunya (dan samapi sekarang ) masih sangat eksis disini sebelum berganti nama menjadi Chevron. Kampus ini berlokasi di Rumbai, daerah pinggiran kota Pekanbaru yang merupakan jalur untuk menuju ladang minyak Duri serta kota pelabuhan Dumai dan jugajuga merupakan jalan yang akan dilalui kalo kita ingin berangkat ke Medan dari Pekanbaru.




Hari pertama saya datang ke kampus untuk rapat tahun ajaran baru, saya melihat kampus yang luamayan besar dengan arsitektur cukup indah. Di pintu gerbang saya menemukan tulisan-tulisan :"no smoking area" khas petunjuk keamanan di perusahaan yang sangat peduli dengan keamanan dan keselamatan kerja. Setelah masuk kedalamnya dan mengikuti rapat, saya semakin tahu kalo kampus ini menerapkan batas kecepatan rata-rata untuk kendaraan bermotor didalam kampus, kewajiban untuk selalu menggunakan helm dan memasang kedua kaca spion bagi motor serta perhatian yang tinggi terhadap pemanasan global dengan mengurangi penggunaan ac di ruang-ruang kelas dan menggantinya dengan kipas angin serta jendela-jendela yang banyak serta tiang tiang besi dengan tumbuhan merambat untuk meneduhkan...Tapi itu kunjungan hari pertama...




Kalo hari pertama mengajar?
Saya sudah pernah menceritakannya di tulisan sebelumnya...
Rapi ga apalah..mari kita tambah lagi...

Hari pertama mengajar tiba-tiba saya jadi ga senang dengan ide ramah lingkungan ini..saya jadi seperti tidak ingin mendukung kampanye mengurangi pemanasan global yang dibawa oleh kampus ini...

Hari pertama mengajar kelasnya Panassss...keringat tak berhenti mengalir di kening saya..baju saya basah dan mahasiswa mengira saya grogi tingkat tinggi..ha ha..padahal memang begitu..ha ha

Meskipun harus berada di motor menyusuri jalanan harapan raya-rumbai 30 menit, panas terik yang bikin makin hitam dan jerawatan..tapi saya selalu punya alasan untuk datang ke kampus ini...
yaitu untuk melihat senyum mereka :)

ini yang saya bisa ceritakan tentang kampus tempat saya bertemu mereka..
masih terlalu sedikit karena sebagian besar masih sulit diungkapkan dengan kata-kata..bagi mnereka yang sudah bertahun-tahun disana mungkin sudah mulai bosan..tapi bagi saya cerita baru saja dimulai...