Selasa, 20 Desember 2011

Beri Cinta Waktu...- Dear Adam


Dear Adam,

Pagi ini aku bangun dengan perasaan tak biasa. Pekanbaru tidak pernah sedingin ini sebelumnya, begitupun hatiku rasanya tidak pernah sehangat pagi ini. Terima kasih untuk balasannya. Tak pernah menyangka kalau aku akan menerima balasan semanis itu darimu, dengan kata-kata yang lugas, khas kamu tapi aku suka. Paragraf demi paragraf aku baca berkali-kali. Dan berkali-kali pula aku terdiam, tercenung dan mencari makna dibalik tulisan itu hingga akhirnya aku jatuh cinta pada paragraf terakhir. Ia telah membuat aku memerah dan tersipu-sipu hingga semalam aku tertidur dengan senyum yang tanpa sengaja kamu ukir di wajahku. Ternyata kita berkomunikasi jauh lebih baik lewat tulisan ya?. Meskipun demikian aku tetap masih lebih suka mendengar langsung kamu berbicara di telingaku, rasanya lebih hidup.

Adam,
Hari kemaren terasa begitu berbeda meski aku tidak tahu apakah esok begitu juga. Yang jelas aku ingin menikmati saja apa yang sedang kupunya tanpa perlu menghabiskan waktu untuk merisaukan apa yang mungkin akan terjadi esok hari, menikmati rona merah di pipi yang menghangat ini, menikmati rasa seakan ribuan kupu2 menari-menari di perutku.

Dear Adam,
aku kirimkan sebait lagunya maliq n d' essential untuk mu pagi ini.
Beri cinta waktu
untuk memahami
untuk meyakini
bila esok yang kan terjadi
semua indah kan terjalani..
lengkapnya kamu bisa lihat disini

Have a blessed day Adam

Senin, 19 Desember 2011

menemukan, menikmati dan menularkan

Membaca kembali postingan-postingan lama saya di multiply, saya menemukan tulisan ini :
"membaca postingannya my sister tentang kebahagiaan sederhana..jadi pengen menjawab pertanyaan yang sama..Apa ya kebahagiaan sederhanaku?
1. Ditelpon si Dia...walaupun si Dia suka ngambek dan sensitif..tetap aja aku bahagia kalo dia menelpon...akan lebih bahagia lagi kalo selama menelpon dia baik-baik saja..
2. Kalo hari ini di kantor ga bikin kesalahan..kalo semua appointment yang diarrange ga ada yang berubah, counterpartnya bisa semua...dan kalo pekerjaanku dipuji bos
3. Kalo pulang ato pergi kerja ada yang nebengin ( cape juga jalan kaki terus..kapan ya bisa beli motor..?)
4. Bisa beli barang yang diinginkan tanpa rasa bersalah setelahnya..
5. Kalo sekarang ini, bahagia banget kalo udah hari Jumat...karena besoknya bisa bangun siang...
6. Dan bahagia banget ngeliat harga mangga cuma 2000/ kgnya..."


Postingan itu saya buat hampir 4 tahun yang lalu ketika saya masih di Jogja, masih pacaran dengan mantan saya yang sekarang sudah menikah dan masih bekerja dengan bos saya yang orang jepang itu. membaca postingan ini membuat saya tersadar kalau ternyata, dulu saya hanya butuh hal2 kecil saya untuk bahagia. Sekarang, saya seringkali mulai kesulitan menemukan dan menikmati kebahagiaan itu sendiri, mungkin karena pengaruh waktu, tempat dan usia. Padahal, yang menjadi sumber kebahagiaan itu tidak melulu hal-hal yang luar biasa kan?

Sumber kebahagiaan bagi setiap orang tidak pernah sama. Apa yang membuat saya bahagia belum tentu akan menjadi hal yang membahagiakan buat teman-teman saya. tapi satu hal yang saya percayai, bahagia atau tidak, itu kita yang menentukan bukan orang lain. Meskipun begitu, sumber kebahagiaan kita bisa saja datang dari orang lain ataupun dengan pertolongan orang lain, maka kebahagiaan bisa kita rasakan.

Setelah saya amat-amati, pengeluaran bulanan saya yang cukup lumayan setelah makan dan bensin adalah pulsa. Untuk nomor simpati, pulsa dengan nominal 20rb saja, saya bisa menghabiskannya dalam waktu paling lama cuma 3-4 hari.itu akan habis lebih lama untuk kartu xl saya karena kebanyakan teman-teman saya bernomor telkomsel bukan x1, plus nomor untuk internet. pulsa 20 rb tadi akan habis lebih cepat jika saya sedang rajin menelpon kecengan saya di cerita sebelumnya :D. Tapi saya ga suka mikirin tuh berapa uang yang saya keluarkan tiap bulannya untuk pulsa. bukan karena saya banyak uang tapi karena pulsa yang saya habiskan itu saya gunakan untuk menelpon orang-orang terdekat saya; menghabiskan 1-2 jam chitchat hanya untuk bertanya kabar, saling mendengarkan cerita, saling memberi masukan, saling menertawakan dan pada akhirnya kami akan saling berbagi tawa..jikapun hari itu tidak semua hal berlangsung menyenangkan..maka pada akhirnya saya dan teman-teman akan saling menularkan semangat dan mengakhirinya dengan pelukan..pelukan virtual. Berbicara dengan teman-teman saya ditelepon adalah salah satu kebahagiaan saya..dengannya jarak yang terbentang diantara kami jadi tidak lagi terasa. Perjalanan hidup mempertemukan saya dengan banyak orang dibanyak daerah..mulai dari ujung barat hingga ke ujung timur nusantara dan rasanya masih sulit untuk menemui mereka satu-persatu. Teleponlah yang akhirnya menghubungkan saya dengan mereka sehingga akhirnya pulsa yang hilang itu tergantikan dengan hal-hal yang jauh lebih besar dari nilai yang saya habiskan.

Banyak diantara kita, termasuk saya seringkali terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan ketika ingin melakukan sesuatu yang akan membuat kita bahagia sehingga membuat kita akhirnya melewatkan kesempatan untuk bahagia dengan menikmati hal-hal yang tidak perlu kita khawatirkan. Ketika banyak orang memulai trend untuk memakai inner atau dalaman jilbab yang berupa bandana, saya tidak pernah tertarik mencobanya karena merasa muka saya yang bulan ini tidak cocok dengan jilbab yang memakai bandana. belum lagi saya melihat bahwa trend ini kebanyakan diikuti oleh anak-anak muda yang saya ajar di kelas. Saya jadi takut dianggap sok muda atau ga tau umur. Suatu kali ketika berada di rumah, saya iseng2 mencoba untuk memakai bandana punya adek saya dan kemudian memasangkan dengan jilbab. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya, kakak dan adek saya bilang kalau saya terlihat bagus dengan itu. Akhirnya saya beranikan diri datang ke kampus dengan dandan baru..dan ternyata lagi-lagi kekhawatiran saya tidak menjadi kenyataan. sebaliknya, banyak yang bilang saya jauh lebih segar dan muda. .. Pujian, meskipun seringkali melenakan, bisa menjadi salah satu hal yang membuat kita merasa bahagia. dalam kasus diatas, saya menyesal terlalu mengkhawatirkan hal yang ga penting sehingga akhirnya melewatkan hal yang mungkin saja bisa membahagiakan saya.

Hidup memang tidak selalu mulus, tapi ketidakmulusan hidup juga bukan alasan untuk menjadi tidak bahagia kan? Siapa yang bisa menjamin kalau hidup kita mulus-mulus saja akan membuat kita selalu bahagia..mungkin kita malah akan ngeluh karena hidup kita begitu-begitu saja...Jadi berjanji akan selalu berusaha untuk menemukan kebahagiaan saya sendiri, menikmati dan kemudian menularkannya pada orang lain

Minggu, 18 Desember 2011

Dear Adam

Dear Adam..

kuharap kamu belum bosan kalo aku beritahu bahwa bagiku kamu begitu istimewa. ini yang kesekian kalinya. aku tidak ingin berkata :"belahlah dadaku agar kamu tahu isi hatiku" karena aku belum ingin mati sekarang sehingga tidak bisa lagi menikmati percakapan-percakapan antara aku dan kamu..yaaa meskipun kadang ga jelas, meskipun kamu sering bosan..

bagiku setiap malam adalah masa harap cemas..menekan nomor telponmu yang bahkan tidak pernah ada didaftar kontakku, yang kuhapus agar aku tidak terlalu sering mengingatmu..tapi sayangnya kepala dan hatiku tak pernah lupa..lagipula, nomor telponmu terlalu sulit untuk dilupakan. Menunggu nada sambung terdengar dan cemas..kalau telepon dariku akan mengganggumu sehingga kamu tidak pernah tertarik lagi untuk mengangkatnya. Ahh..aku cemas kalau aku mulai membosankan bagimu. padahal mengapa harus cemas ya..pun aku tahu kalo aku juga tidak pernah semenarik itu bagimu -__-

Adam,
Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa tidak semua hal di dunia ini butuh alasan..sebagian bahkan terjadi tanpa alasan..seperti mengapa aku tidak pernah lelah dan berhenti menyapamu bertahun-tahun..aku akan menjawab aku suka aja..dan mengapa aku suka? ya karena bagiku kamu begitu istimewa.
maka, jika kamu bertanya lagi, mengapa aku begitu ..hmmm tergila-gila atau terobsesi padamu..maka kali ini aku akan menjawab :
1. Dari pertama aku mengenalmu bertahun yang lalu, aku tahu kalau kamu pria pintar, dan pria pintar selalu menarik
2. aku suka caramu berbicara dan bercerita..dan aku bahkan suka caramu menyanyikan sebuah lagu, meskipun bagiku suaramu cukup sumbang
3. dan bagiku kamu punya sesuatu, entah itu kharisma atau pesona atau hal lain yang aku bahkan tidak punya cukup banyak kata utk bisa menggambarkannya
4. and i love the feel when your name on my lips..when my finger type your name in sms and when my ear hear your voice..
5. as a conclusion..i just love everything about you..except the girls around you

Heiii..Aku langsung bisa membayangkan komentar yang akan keluar dari mulutmu :

"Hesty,dari semua yang kamu bilang, tidak ada satupun yang menunjukkan kalo kamu suka dan cinta sama aku..kamu cuma terobsesi..Kenapa siy tidak mencari orang lain saja?" ha ha

Gapapalah..aku juga akan paham aja kalau semua alasan akan terdengar sangat egois bagimu..*karena kamu selalu menilai bahwa aku terlalu mementingkan diriku sendiri, seringkali tidak pernah berpikir tentangmu*..maka maafkanlah aku..mungkin kita hanya berbeda sudut pandang saja. bagiku selama ini aku berpikir kalau aku sudah berusaha memperlakukanmu dengan sangat istimewa sebisa aku, namun mungkin bagimu tidak begitu. tidak mengapa Adam, its just about the way you see something and the way i see something.

mungkin sudah saatnya aku perlu mulai berpikir untuk memiliki hewan peliharaan saja untuk menemaniku sehingga aku bisa melupakan segala sesuatu tentang kamu. Tapi aku pasti akan tetap menelpon kamu kok..ha ha..karena aku ga pernah benar2 bisa berhenti menggilaimu.
Ohya, kalau aku membeli kucing, aku akan menamainya Adam juga. Setidaknya bisa menjadi sesuatu yang akan mengingatkanku padamu..^_^

Btw, aku lupa bilang..kalo bahasa inggris kamu bagus sekali :)

Senin, 12 Desember 2011

sebelum 30 menjelang...

sepanjang 29 tahun umur saya, hanya satu kali saya pernah punya pesta ulang tahun. Pesta ulang tahun dalam defenisi anak-anak, ada gaun pesta yang dibawahnya mekar berlapis-lapis, ada balon-balon warna warni..ada mie goreng, ada bungkusan yang dibawa tamu-tamu pulang dan tentu saja ada kue tart dengan hiasan bunga-bunga dan boneka, ada yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun beramai-ramai, tiup lilin dan potong kue..pesta itu disiapkan mama pas saya berumur 4 tahun, dirayakan bersamaan dengan pesta ulang tahun kakak saya yang ke 7 tahun. Kakak saya berulang tahun ditanggal 22 november dan saya 7 desember. biar hemat :)

Sisanya, mama dan saya lebih banyak mengandalkan kreativitas. Ketika saya TK, saya tidak sempat ikut pesta ulang tahun karena sakit. hanya kakak saya yang punya foto seragam ulang tahun TK kami. Beranjak SD, ulang tahun saya dirayakan dengan membagi-bagi potongan kue bolu marmer jeruk bikinan mama atau berbagi permen dan wafer. sesempatnya saja.Beranjak SMP, traktiran mulai jadi tren. berasa keren kalo bisa mentraktir teman makan, baik itu cuma makan di kantin,atau beli gorengan aja. kalau punya uang banyak, bisalah mentraktir teman di warung bakso. Pas SMU, saya lebih sering ngajakin teman makan di rumah, dengan menu buatan sendiri. Pas kuliah, menunya malah lebih variatif, dari mie goreng hingga nasi dan ikan bakar lengkap dengan sumber uang hasil jualan risoles atau lauk-pauk.

Keluarga kami tidak kaya raya, tapi juga tidak kekurangan. alhamdulillah, tapi membuat perayaan ulang tahun memang bukan hal yang biasa di keluarga. kami biasanya menghabiskan hari ulang tahun dengan masakan rumahan, hanya dibuat agak istimewa atau sesekali beli martabak mesir dan nasi goreng kubang.Sepanjang masa sekolah dan kuliah, saya melihat dan beberapa kali kecipratan rejeki traktiran ulang tahun teman. Ulang tahun teman yang cukup membuat iri adalah ulang tahun seorang teman SMU di sebuah restoran fast food ternama. acaranya sih ga luar biasa, tapi black forestnya, ciuman pipi kiri dan kanan dari orang tua, menu yang disajikan yang luar biasa serta orang yang mengundangnya yang keren:D..apalagi untuk jarang makan fast food ky saya dulu..

Empat tahun ngekos di jogja, ulang tahun mulai menjadi suatu yang ritual..mulai dari kejutan, trus traktiran trus kalo lagi beruntung dapat kado :),. lagi-lagi sebagai anak kos, saya mengandalkan kreativitas saja..bikin brownies sediri, bikin makanan apa trus ngajak anak-anak makan bareng. sekalinya pernah dikasih kejuatan tengah malam ama adik-adik kos dan dipaksa nraktir burger ama mereka, naik kelas dari selera burjo..uang di dompet 180rb ludes, badan dan rambut abu amis telor..lengkap sudah penderitaan..bau dan bangkrut:). Pernah juga dapat kejutan dari teman-teman, tapi karena lagi ga enakan, saya ga keluar dari kamar..esok paginya didepan kamar saya sudah ada kursi, boneka dan kue ultah lengkap dengan surat cinta dari mereka..boneka pertama saya:)

Tahun ini, tahun kedua saya ulang tahun sebagai seorang dosen dan ditempat baru. beda dengan tahun lalu, ulang tahun saya kali ini tidak bertepatan dengan hari mengajar dan rumah yang jauh..jadi rasanya tidak akan ada surprise party. tengah malam, saat memasuki umur 29..saya hanya sholat dua rakaat dan berdoa panjang, berterima kasih sama Yang Maha Menciptakan dan yang memegang umur saya.. mengajukan beberapa permintaan khusus dan kemudian tidur. Paginya malah tidak ada menu istimewa, hanya telor balado karena siangnya saya dan teman-teman janjian makan siang bareng..biasa saja.Hanya sms yang silih berganti masuk ke inbox hp dan beberapa telpon dari sahabat yang menyiratkan hari itu hari saya. bahkan keluarga saya saja lupa..ha ha. Baru menjelang malam, saya mendapatkan kejutan dari romel, atiek dan kiki yang datang ke rumah malam-malam mebawa satu kue ulang tahun yang imut2 dengan satu lilin menyala...ga terduga karena rumah saya jauhnya minta ampun, sampe saya tergagap2 pas mau berdoa. Semakin malam makin istimewa, setelah satu kejutan dari teman tadi, hampir jam 1 setelah saya hampir terlelap saya mendapatkan kejutan lagi, kali ini dari egi, fauzi, jenni, jimmy dan wendra anak-anak saya. mereka datang jauh jauh dari rumbai untuk saya...sampai jam 3 kami bercerita dan berbagi tawa..sampai tetangga ada yang keluar rumah karena berisik..dan terakhir jumat lalu, saya merayakannya dengan kakak saya arina dengan banyak tawa dan cerita. i do feel blessed.

hari ulang tahun yang (hampir) seperti hari biasa padahal pertambahan umur bukanlah hal yang biasa. setahun lagi saya tiga puluh. diusia saya hari ini, teman saya sudah punya anak 3, ada yang baru menikah..ada yang sedang mengambil sekolah doktoral, punya karier yang strategis dan lain-lain. tapi hidup saya juga alhamdulillah sangat baik sejauh ini. Punya keluarga yang lengkap dan teman yang banyak. pekerjaan saya lebih dari cukup..cukup gajinya,kekayaan hati dan pengalamannya yang sungguh sangat signifikan bagi saya, pekerjaan yang membuat saya terus belajar tiap hari dan memberikan saya kesempatan untuk memiliki banyak anak-anak meski bukan terlahir dari rahim saya sendiri. di usia 29, saya masih sendiri dan masih belum ada petunjuk siapa yang akan menjadi pendamping saya hingga tua nanti, tapi seperti yang kakak saya-arina bilang, Tuhan (mungkin) belum melengkapi saya untuk hal itu, tapi Ia telah memberi banyak sekali keberkahan diberbagai sisi lainnya; pekerjaan, uang dan teman-teman.

Satu tahun sebelum usia 30 menjelang..ketika lilin akan ditiup saya berdoa semoga Dia Yang Maha Mengetahui segala sesuatu itu mengabulkan pengharapan saya untuk pendamping, sekolah dan karier..tapi yang paling penting dari semua itu, semoga Ia selalu memberikan saya hati yang semakin bijak dan penuh syukur sehingga tetap bisa melihat segala sesuatu dengan lebih baik...

Minggu, 04 Desember 2011

Bilang Terima Kasih? Ga Susah Kok

Ada 2 kata singkat yang sering dilupakan oleh banyak orang ketika berhadapan dengan orang lain, padahal kata itu begitu singkat dan untuk mengucapkannya kita hanya memerlukan mungkin hanya satu detik saja. Kata yang saya maksudkan adalah terima kasih.

Kata terima kasih bagi saya menunjukkan bahwa saya menghargai tindakan, bantuan ataupun pekerjaan yang telah dilakukannya untuk meringankan kondisi saya. Jika saya yang mendapatkan terima kasih, maka itu artinya seseorang telah menghargai apa yang telah saya lakukan untuknya. Terima kasih tidak selalu diberikan untuk hal-hal yang bersifat materi. Ia bahkan akan jauh lebih bernilai dibandingkan dengan materi itu sendiri. Seringkali kita lupa mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang sepele yang kita terima atau mungkin karena pekerjaan yang telah dilakukan oleh orang lain untuk kita karena jika dinilai dengan materi harganya tidak seberapa.

Setiap kali ke mall, saya selalu bertemu dengan dua pos kecil yang menjadi tempat bekerjanya para juru print parkir dan setiap kali saya mengantri masuk, sering saya melihat banyak orang hanya mengambil tiket lalu pergi begitu saja. Suatu ketika, saat giliran saya tiba, setelah tiket tercetak dan saya ambil, saya menyempatkan untuk bilang :"makasih" sambil tersenyum. Dan apa yang terlihat didepan mata saya cukup mengagetkan. Mas-mas yang ngeprint tiket itu terlihat kaget, lalu dengan senyum juga ia berteriak "sama-sama". Kenapa ia kaget? mungkin selama ini jarang ada orang yang bilang terima kasih waktu ngambil tiket. Perhatiin deh kalo masuk mall atau tempat-tempat lain yang pakai tiket parkir, seringnya banyak orang yang langsung pergi begitu saja setelah mengambil tiet, sebagian lagi malah mengambil tiket dengan muka cemberut kalau tiketnya kelamaan dicetak. Padahal kalo dipikir-pikir, kalo mbak-mbak atau mas-mas yang ngeprint tiket itu ga ada, pasti yang bawa kendaraan di mall ga bisa parkir.

Saya juga selalu mengucapkan terima kasih pada supir angkot waktu membayar ongkos dan biasanya juga dibalas dengan bengong. mungkin dianya berpikiran kenapa penumpangnya yang ngomong terima kasih ya? kan yang dapat penghasilan sopirnya. Padahal kalo dipikir-pikir lagi, memang kita yang berkontribusi atas pendapatan yang diperoleh bapak sopir pada hari itu karena kita yang punya uang, tapi kalo ga ada angkot yg disupiri orang lain buat ditumpangi, lalu kapan sampainya kita ke tujuan?.

Kata terima kasih ini sebenarnya termasuk kata yang ajaib menurut saya. Ia bisa mencerahkan hati banyak orang dan bahkan malah membuat rikuh banyak orang juga. Tidak jarang sebenarnya banyak orang yang akhirnya merasa kalau yang ia kerjakan untuk orang lain itu ga seberapa artinya ketika ia menerima ucapan terima kasih dari orang lain. Abang angkat saya misalnya, setiap kali ia menelpon untuk mendengarkan keluh kesah saya, saya pasti mengakhiri dengan kata-kata :
"thank u for calling me abang"
dan sebagai jawabannya :
"ah, makasiy buat apa dek..abangmu malu sebenarnya tidak bisa setiap saat menjadi abang yang baik untukmu. tapi mudah-mudahan kamu selalu baik disana".
kata-kata yang selalu bikin haru. kurang pantas apa coba kita mengucapkan terima kasih untuk yang menelpon kita? kecuali untuk debt collector atau orang iseng kali ya..setidaknya mereka sudah mengorbankan pulsanya untuk mendengarkan suara kita, apalagi kalo yg nelpon kaya abang angkat saya itu..

Dan yang paling menggetarkan kalo mesti mengucapkan terima kasih itu ya sama orang tua. Dulu, waktu ngekos, setiap kali papa saya mengirimkan sms bahwa uang sudah dikirim, saya pasti menelpon atau mengirimkan sms untuk bilang terima kasih banyak..dengan nada tercekat...lain waktu ketika beliau yang mengucapkan terima kasih karena saya belikan pulsa hp sekedarnya, saya malah terharu luar biasa.

Dengan menggunakan kata yang begitu sederhana, kita ternyata bisa mengubah hari banyak orang menjadi lebih cerah lo...Jadi, masih sulit buat ngucapin terima kasih?

Kamis, 01 Desember 2011

Kata Orang

ketika pindah dari jogja ke padang lalu ke pekanbaru saya tahu bahwa saya akan berhadapan dengan banyak hal yang jauh berbeda dengan yang biasa saya hadapi di Jogja, mulai dari fasilitas seperti bioskop, toko buku, wi-fi gratis dimana-mana hingga perilaku orang-orangnya yang tentu saja berbeda.

Hal yang paling saya ingat tentang Jogja adalah keramahan yang kita peroleh dengan gratis, tanpa perlu berbaju bagus, tanpa perlu bilang siapa kita, apa pekerjaan, apa gelar yang kita punya dst. Hal yang sering saya dapatkan disini seringkali malah sebaliknya. Saya ga tau mengapa, tapi kota pekanbaru ini memiliki citra yang glamor; banyak proyek-proyek mercusuar, ruko dan mall ada dimana-mana dan tanpa disadari begitu juga orang-orangnya.

Saya ingat, hari pertama saya akan berangkat mengajar, adik saya mengingatkan saya untuk berangkat mengajar dengan baju yang bagus, kalau bisa yang wah. Dia bilang kalo orang pekanbaru itu glamor, kalo kalah gaya saya mungkin tidak akan dilihat. hmmm... awal yang berbeda sudah dimulai..saya harus tampil bagus agar bisa didengar atau dilihat orang lain.

Untungnya saya ga kehilangan akal. saya mengajar dengan style saya sendiri, baju kurung dan sarung batik..i just think that i dont need to be glamour as well, just look different..side effectnya adalah keringatan sepanjang hari. Selain itu, saya harus kembali tampil dengan muka bermake-up sepanjang hari. ya efeknya jadi jerawatan karena kota ini sangat panas dan berdebu dan make up yang menempel di muka akan semakin menutup pori-pori. Begini ni pemnampilan saya kalo mau ke kampus..(kalo lagi mood^_^)



kalo saya bandingkan, (meskipun sebenarnya perbandingan bukanlah hal yang baik)Jogja jauh lebih menyenangkan utk hal ini. Saya bertemu dengan banyak orang hebat dan kaya yang penampilannya biasa saja namun tetap saja orang akan hormat dan respek kepada mereka dan malah akan semakin respek setelah tahu siapa mereka. Begitupun kita tidak perlu berdandan heboh hanya untuk ke mall. dengan pake jeans dan baju kaospun kita tetap dilayani dengan baik. meskipun semua orang berlaku demikian, tapi kebanyakan begitu.

Kampus saya yang satunya jauh lebih parah dalam memperlakukan dan menilai orang sehingga mau tidak mau, saya harus menunjukkan taring kalau tidak ingin disepelekan.Dan bagi orang-orang yang pernah disepelekan, mereka sering mengingatkan saya untuk tidak terlalu ramah, karena seringnya malah ga didengar. tapi saya berusaha bertahan dengan hal-hal baik yang pernah saya bawa dari Jogja dan sesekali saja menunjukkan siapa saya, itu juga kalau terdesak.

Hari pertama saya ke kampus ini, saya bertanya pada beberapa orang mahasiswa ttg lokasi ruangan yang saya tuju. Dan saya terkaget-kaget karena tidak ada satupun yang menjawab dengan nada ramah, semuanya dengan nada tak acuh. baru ketika ditanya apa urusan saya ke kampus itu, sikap mereka berubah drastis. Dan setelah masa ngantor dimulai, kenyataan tetap saja sama. Tidak hanya mahasiswa, sesama kolegapun gitu. Kalau tampil biasa saja-karena kantor saya disudut dan acnya ga dingin, saya sering cuma pakai kemeja dan rok standar dan muka tanpa make up-, maka kolega saya akan sering berkomentar kalo saya terlalu cuek, tidak memperhatikan penampilan, dll. ketika tampil agak istimewa, komennya malah :" kok tumben?" atau "mau kemana?" *tarik nafas*

Persoalan apa yang orang lain omongkan, apa yang orang lain pikirkan terhadap diri kita memang menjadi cerita yang tidak pernah selesai. apalagi untuk orang yang pemikir dan perasa seperti saya. Seringkali saya terpengaruh cukup lama dan jadi resah dan gelisah hanya karena mendengarkan apa kata orang. dan itu semakin menjadi-jadi setelah saya pindah kesini.

Kadang banyak orang bertanya dan berkomentar dengan kedok perhatian. padahal yang diperhatiin aja ga merasa diperhatikan malah dizalimi. Awal mula saya ngontrak rumah, saya mengalami kesulitan untuk membedakan mana yang perhatian, mana yang rese. Ketika belanja di warung, saya dikomentari karena sering pulang malam sehingga akhirnya saya harus menjelaskan pekerjaan saya apa, ngajar dimana aja. lain lagi tetangga sebelah suka bilang begini ama anaknya didepan saya :
"Jangan ganggu tante hesty itu..dia sibuk.."
atau
"ooo ada rupanya tante hesty di rumah..kirain ga ada. habis biasanya kan ga pernah ada dirumah "

Bapak RT saya lebih parah lagi. pernah jam 10 malam ia mengetuk pintu rumah untuk meminta uang ronda. setelah uang diterima beliau bertanya :
Pak RT : "ibu masih tinggal sendiri?"
saya : "iya pak"
Pak RT : "carilah suami bu..biar kami ga pusing mikirin keamanan ibu"

astagfirullah...
perasaan urusan status orang lain bukan urusannya pak RT deh..kalo saya ngomel-ngomel, orang lain akan menanggapi dengan :"anggap aja perhatian".

perhatian kalo sampai mengusik yang diberi perhatian itu mah namanya mengganggu.
tapi setelah dipikir-pikir ya, mungkin sayanya yang bodoh..kok bisa-bisanya hidup diatur orang ya..diatur ama pikiran orang lain padahal ya kadang orang yang ngomong atau bersikap seperti yang saya rasakan hanya sekedar lalu aja..mungkin dia malah lupa pernah berbuat atau berkomentar apa..sementara saya malah kepikiran dan terpengaruhnya lama banget..*huh.
benar juga apa yang teman saya bilang :"ga penting apa yang dinilai orang..yang penting apa yang dinilai Allah"..besok-besok saya akan belajar untuk ga peduli apa penilaian dan komentar orang kalau itu hanya akan membuat saya menderita berhati-hari ..:)

Senin, 31 Oktober 2011

Anak-anak saya..

Saya teringat, disuatu pagi dihari minggu saya menerima sms :

"ibu, kapan bisa menemani saya membeli kain untuk membuat kebaya wisuda?, saya tidak tahu harus bertanya dan mengajak siapa lagi..saya kan sudah tidak punya mama .."

hari itu, saya masih berumur 28 tahun dan belum menikah..tapi sms yang saya terima di hape saya membuat saya merasa menjadi lebih tua beberapa tahun dan membuat saya seakan sedang menjadi seorang ibu bagi seorang anak.

ketika Tuhan mengirim saya ke Kota ini untuk melanjutkan hidup, saya baru berumur 27 tahun 10 bulan, masih single dan masih terintimidasi dengan pertanyaan kapan menikah? kapan punya anak? dan lain-lain..Hidup single itu menyenangkan..selama tidak sering mendengar apa kata orang disekeliling meskipun kadang ad masanya rasa iri melihat orang lain jalan berduaan akan menyergap..rasa sepi melihat orang lain bercengkarama dengan keluarganya akan menghampiri.

Dan ternyata salah satu alasan mengapa Tuhan mengirimkan saya ke kota ini adalah untuk bertemu dengan anak saya tadi beserta teman-temannya yang akhirnya menjadi anak saya yang lainnya. kalau dihitung-hitung, saya punya hampir 60 anak pada semester itu, meski tidak semua dekat dengan saya, tapi keberadaan mereka membuat saya sejenak melupakan keruwetan kehidupan seorang lajang dan menikmati masa single itu. Saya bertemu orang-orang ini di kampus tempat saya mengajar..di kelas yang riuh, yang pertama kali kaki melangkah wajah penuh tetesan keringat karena grogi..Dilain hal, saya merasa bahwa anak-anak itu dikirimkan Tuhan agar saya tidak kesepian dan agar saya bisa belajar menjadi seorang ibu.

Ketika satu dua datang kekelas dengan muka murung, saya belajar untuk menjadi teman bercerita..saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik dan belajar untuk menahan diri untuk tidak menggurui. Meski kadang apa yang mereka ceritakan seakan mengorek luka hati saya juga, tapi saya juga belajar untuk tidak menyamaratakan persepsi orang terhadap satu masalah. Ketika mereka menangis, saya belajar untuk mengusap airmata mereka, belajar untuk menghibur orang lain seakan-akan saya sedang belajar untuk membujuk anak -anak yang sedang merajuk dengan setangkai permen..

Ketika semester berlalu berganti akan kecemasan dan keputusaaan akan tugas akhir, saya belajar untuk membesarkan hati mereka, meyakinkan mereka bahwa mereka bisa melakukannya seperti saat orang tua menyemanngati anaknya yang sedang belajar jalan..kadang mereka akan sampai ke pelukan, kadang mereka terjatuh dipertengahan...dan ketika mereka jatuh itulah saya belajar untuk menjadi supporter yang baik yang tidak akan menyerah menyemangati mereka yang bahkan sudah ingin menyerah..

Ketika mereka mengajak saya nongkrong minum skotang semalaman di jalan sudirman, saya belajar untuk mengenal dunia yang berbeda dengan dunia saya ketika masih seumuran mereka dan darinya saya belajar untuk menikmati hidup dari berbagai sisi. Skotang yang kami minum harganya cuma 10 rb segelas, tapi cerita yang akan kami bagi melebihi gelas yang ada di meja kami malam itu..dan ketika waktu sekotengan semakin jarang, saya belajar memaklumi bahwa mereka mungkin sedang ingin menikmati dunia mereka sendiri

Ketika sms diatas saya terima, saya seperti sedang belajar bagaimana jika suatu hari nanti anak gadis saya wisuda, kain baju kebaya seperti apa yang akan saya pilihkan? kain apa yang cocok jadi bawahannya? seharian itu saya benar-benar memiliki anak-anak gadis..memilihkan baju, menemani mereka mencari penjahit hingga memilihkan sepatu, menemani mereka membeli pakaian dalam..just like what a mom used to do with her kids..

Dan ketika kemaren saya melihat betapa gagah dan cantiknya mereka dalam balutan jas dan kebaya dihari wisuda mereka..diantara kebahagiaan dan kesedihan saya, saya belajar untuk melepaskan mereka..karena akan ada saatnya nanti mereka tidak menjadi anak-anak saya lagi..mereka akan terus berlari mengejar mimpi mereka dan terbang hingga tinggi...mungkin suatu hari nanti kami tidak akan bertemu lagi tapi saya hanya berharap ketika kami semakin jauh, mereka masih mengingat saya dan saat mereka jatuh, mereka boleh menangis dipelukan saya kapan saja

Bagi saya, anak-anak itu adalah salah satu bagian terbaik dalam kehidupan saya..
mereka memang bukan anak kandung saya, yang terlahir dari rahim saya..
tapi mereka adalah anak-anak yang terlahir dari hati saya...

Anak-anak saya itu mengajarkan saya bahwa hidup itu tidak sepi dan saya tidak pernah sendiri

Kamis, 22 September 2011

kata pengantar untuk tugas akhir-versi saya :)

Malam ini rumah saya kedatangan banyak mahasiswa. Mereka datang bukan karena rindu, tapi karena minta tanda tangan untuk TA mereka yang akan dijilid..lariiisss tanda tangannya. sebelum menandatangani TA itu, saya membolak balik 4 TA yang berbeda untuk melihta..apa lagi kalau bukan kata pengantar:) tapi ternyata kata pengantar versi mereka standar sekali..he he
Tiba-tiba saya jadi ingin membandingkannya dengan kata pengantar untuk thesis saya setahun yang lalu. Dan ternyata, saya memang mahasiswa yang sentimentil (pada waktu itu)..kata pengantar saya alamakjang panjangnya :)
jadi ingin membaginya buat banyak orang..kali2 aja terinspirasi untuk membuat kata pengantar yang pas untuk TA, Skripsi, Dll :)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirrabilalamiin..Segala puji hanyalah Untuk Allah SWT,
dengan segala kuasaNyalah tesis yang berjudul : “Analisis Faktor Ekonomi,
Teknologi, Produk Digital dan Perilaku Sebagai Faktor Yang Mendorong
Keberlanjutan Pembajakan Digital” ini bisa terwujud. Shalawat beriring salam
hanyalah untuk Rasulullah Muhammad SAW, yang melaluinya wahyu untuk
membaca diturunkan, sehingga menuntun umatnya menjadi manusia-manusia
pembelajar.
Tesis ini merupakan bentuk kerja keras yang tidak akan selesai begitu saja
tanpa bimbingan, nasehat dan pertolongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
ijinkanlah saya sebagai penulis dalam kesempatan ini menghaturkan ucapan
terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Supriyadi, M.Sc., sebagai pengelola program Magister Sains Ilmu
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, beserta jajaran pengelola program lainnya
yang telah memberikan banyak kontribusi demi terciptanya suasana belajar
yang sangat kondusif

2. Dr. Sony Warsono, MAFIS., pembimbing baik hati yang telah mendorong
saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dan dengan
kesabaran mengajar dan membimbing saya untuk hasil tesis yang lebih baik

3. Prof. Jogiyanto, HM., MBA., dan Suyanto, SE., MBA., yang telah menguji
tesis saya hingga lulus

4. Orang tua juara satu sedunia saya; Papa Forial Miad dan Mama Yurnelis yang
dengan kerja keras dan doa merekalah saya sampai di tahapan penting
kehidupan saya ini, untuk setiap tetesan keringatnya yang menjadi pembakar
semangat dan setiap doa adalah untuk masa depan saya yang lebih baik, yang
telah meyakinkan saya untuk tidak pernah menyerah hingga tesis ini terwujud.
Semoga Allah selalu memberikan umur yang panjang, melimpahkan rejeki
dan membalas kerja keras Papa dan Mama selalu

5. Saudara-Saudara saya di rumah; Kakak saya Hijria Nugraha, SS dan Uda ipar
Saya Dr-eng. Meifal Rusli beserta adil dan azzam untuk setiap nasehat,
dorongan, semangatnya serta perpanjangan nafas bulanan ☺..Adik-adik Saya
Yuli Ela Kemara, SST dan Alpha Carry Argus, Amd serta Dzaky thanks for
being my real savior..you’ve got what you want and I’ve got mine..:)..Nahlia
Pertiwi dan Mahmuda Al-Ayyubi untuk setiap oleh-oleh yang ditagih setiap
saya pulang..We might never be perfect for each other as brother and sisters,
but it’s perfect already as the way it is… Keluarga besar di Tanjung Pinang
serta Keluarga Besar di Padang Panjang untuk setiap doa dan dukungannya.

6. Dosen-dosen yang amazing, adorable and charming yang telah membuat ilmu
pengetahuan menjadi hal yang amat mempesona dan menyenangkan. Beliaubeliau
yang telah rela membagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman demi masa
depan peradaban yang lebih baik, menginspirasi saya melalui tiap sesi kuliah
dan tiap tugas yang diberikan. Semoga Allah membalas semua ilmu yang telah
diberikan sebagai amal shalih yang tidak pernah putus

7. Teman-teman “systemic” asyik, yang membuat kuliah sistem menjadi amat
menyenangkan. Terima kasih buat satu trimester yang menyenangkan dan
membuat masa tesis yang penuh tekanan itu menjadi lebih mudah, sangat
menyenangkan bisa melewati ini semua bersama-sama dan melewati masa
kelulusan bersama-sama pula. Duwi Agustina; untuk pertanyaan:”udah di acc
apa belom” yang bikin stress tapi juga bikin semangat, buat jemput antarnya
serta teman curhat yang baik, Eska Almuntaha; buat kelapangan hati,
pengertian, rumah yang menyenangkan, mobil yang bisa dipakai kapan saja
serta kesediaan berbagi Ibu dengan kami, Theresia Purbandari; untuk setiap
sms yang bertujuan untuk mengingatkan apa saja dan menyemangati apa saja,
Rilo Pambudi; the nicest man alive.. thanks for being a very nice brother to
me..I know you will make it and I’ll be waiting for that good news dan Zulfa
Devina Rahman; adik, teman dan rival perjuangan untuk banyak hal, thanks
for understanding in my bad time, I owe you much. Semoga kesuksesan akan
mengiringi setiap langkah kita dimasa yang akan datang.

8. Teman-teman September 08 yang amat menyenangkan; Kak Anny Hutagaol
untuk setiap semangat, perjalanan, curhat dan pengertian yang telah dibagi
serta untuk our amazing bromo journey, Mb Ratih, Mb Grace, Nunik untuk
selalu hadir memberikan dukungan dan semangat disaat-saat penting, Aan
untuk pelajaran kehidupan, bahwa sesulit apapun hidup harus terus dihadapi,
jangan pernah menyerah ya An, Mb Wiwin dan Mb Ulva untuk pertemanan
yang tulus dan apa adanya, Mb Yanti, Anca, Usqo, Khairul untuk pelajaran
tentang sportifitas dan menghormati perbedaan pandangan, Mb Sinar, Lidya,
Mb Nay, Orin, Sisil, Ajeng, Nina, Untuk pengalaman pertemanan yang penuh
warna, Pak Gendro (Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi bapak).
Kuliah tidak akan pernah sama tanpa kehadiran kalian.

9. Para senior ; Amy, Mb Vera, Mb Indri, Mas Rohmad, Mas Mawardin, Wibi,
Mb Nona, Ario, Mas Endra, Dian, Mb Eva, Bang Iwir, Mb Yeni, Mb Ninuk,
Mb Nining, Andi, Ana, Ayu, Meli, Bang Lutfi, Mb Inggrit, Karlina, Pak
Edwin (may you rest in peace) Terima kasih atas penerimaan yang baik
terhadap kami para junior. Tetap semangat bagi yang belum selesai tesisnya
dan semoga sukses selalu bagi yang telah selesai ☺

10. Para Junior; Wandi, Ella, Cindy, Arif, Da Henri, Agus, Melda, Mb Neni, Mb
Evi, Mita, Azwar, Pak Hermanus, Mas Anton, Puput

11. Mas dan Mbak pegawai MSI UGM tanpa terkecuali. Terima kasih atas
bantuan-bantuan yang selalu diberikan dalam keramahan

12. Izumi-san, Itoi Sensei, Yoko-san serta para Sensei di Kyushu University for
giving me the chance and trusting me. Thanks for letting me improving
myself...You’re the greatest Guru I’ve ever knew, teman-teman HLPO; Mb
Wida, Arum, Wulan, Ami, Titis, Linda, Widya, Mb Sonya, Unggul, Putra,
Andi, Bung Ady, Bung Ari untuk pengertian, dan kerjasama serta
persahabatan yang indah ini

13. Vetra, Uut, Ika, Yola dan Cupi untuk dorongan semangat yang tanpa henti,
untuk selalu mengerti dan tidak pernah menyerah mengerti saya dan untuk
persahabatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata

14. Leli, Lili dan Nani for our many years unconditional friendship, for the love,
joy and support..means so much for me

15. Kak Deni; untuk sisterhood yang everlasting, ni Anne; untuk selalu
mengingatkan tentang perlunya mencintai diri sendiri Memiliki kalian berdua
membuat saya menjadi adik paling beruntung sedunia

16. The asputers; yang membuat kehidupan merantau menjadi amat
menyenangkan, yang membuat saat-saat tidak punya uang jadi terasa tidak
begitu menyedihkan. Terima kasih untuk Dian, Yunita, Laras, Kristin, Bembi,
Ajeng dan Afifah untuk persahabatan yang menyenangkan, Bu Nona, Mami
Ely, Cece, Nti, Diana, Ria, Ayu serta teman-teman lainnya di Asput 70
Pogung Kidul.

17. Lili & adik, Ni devvy yang telah membantu penyebaran kuisioner, Para
responden yang telah membantu kelancaran penelitian ini serta Arif Perdana
yang telah membantu mengolah data. Semoga Allah memudahkan kalian
disetiap kesulitan yang dihadapi seperti kalian telah memudahkan penelitian
saya

18. Pihak-pihak lain yang telah memberikan kontribusinya namun tidak bisa
disebutkan satu persatu

Tesis adalah kuliah kehidupan. Yang setiap babnya mengajarkan tentang
pembelajaran sebenarnya, pembelajaran tentang menghargai hasil karya orang
lain, tentang ketelitian dan kesabaran untuk hasil yang maksimal, tentang terus
berjalan walaupun habis terang, Pembelajaran untuk tidak menyerah sesulit
apapun keadaannya dan yang terpenting, pembelajaran melawan diri sendiri...
Akhir kata, Semoga Allah membalas setiap sumbangsih yang diberikan
dan memberkatinya dengan kemudahan dalam setiap langkah yang diambil.
Amin.
Yogyakarta, Maret 2010
Hesty Wulandari

see? saya memang sentimentil :)

Rabu, 14 September 2011

From A Friendship Into Relationship; Why Not ?

Setelah saya ingat-ingat, banyak sekali teman saya; baik teman sekolah atau teman kuliah yang akhirnya menikah dengan temannya sendiri. Di kelas saya sewaktu SMU saja, ada dua pasang teman yang menikah sekelas. Itu baru yang sekelas saja lo, belum termasuk yang menikah seangkatan, lebih banyak lagi. Begitu juga dengan seorang teman baik saya waktu kuliah yang akhirnya menikah dengan (lagi-lagi) teman sekelas kami yang dulu sering ia ejek-ejek :). Orang yang menikah dengan teman sendiri juga pernah dibahas dalam koran Kompas.

Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada yang salah dari hubungan istimewa yang dimulai dari pertemanan. Bahkan hubungan dari pertemanan memiliki potensi untuk awet ketika berubah format. Mungkin salah satunya karena periode pertemanan yang biasanya terjalin dalam waktu yang cukup lama sehingga memungkinkan kita lebih mudah untuk menerima keadaan seseorang yang akan menjadi pasangan kita. waktu pertemanan yang cukup lama juga memungkinkan kita untuk melihat banyak sisi dari orang lain; baik sisi positif ataupun negatif. Sisi positif seseorang merupakan hal yang mudah diterima sementara sisi negatif tentu saja memerlukan lebih banyak ruang dari hati untuk bisa memakluminya. Jika teman kita pelupa, maka ketika memutuskan untuk menjadikan ia pasangan tentu saja kita sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk beradaptasi.

Jika salah satu faktor yang menjadi pertimbangan untuk memilih seseorang menjadi pasangan kita adalah penerimaan keluarga; baik keluarga kita ataupun keluarga dia. Semakin lama kita berteman dengan seseorang, maka biasanya akan semakin besar kemungkinan kita untuk dikenal baik dikeluarganya si dia dan sebaliknya. Seperti saya yang mendapatkan banyak orang tua dan saudara-saudara tambahan karena banyak teman. Sepanjang tidak ada track record yang buruk dimata keluarga teman tadi, saya pikir langkah selanjutnya akan jauh lebih mudah karena sudah tidak ada yang perlu ditaklukkan secara berlebihan.

Hal berikutnya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangkan ketika akan memutuskan menjalin hubungan dengan seorang teman adalah banyak sumber valid yang bisa dimintai pendapat tentang calon pasangan. Yang jelas teman-teman yang berada dilingkaran pertemanan itu sendiri akan jadi narasumber yang pas. Mereka (teman-teman kita itu) juga mestinya juga akan menjadi penilai yang baik karena mereka juga sudah mengenal temannya cukup lama

Dengan segala kemudahan yang ada didepan mata bukan berarti hubungan yang dimulai dari pertemanan ini tak memiliki tantangan sama sekali. Tantangan terbesarnya justru memisahkan antara status teman dan status pasangan itu sendiri. Kebiasaan santai dan memperlakukan teman sama rata kemungkinan akan terbawa dalam hubungan dan berpotensi untuk menimbulkan kesalahpahaman. bagaimanapun, setelah mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan seseorang (meskipun awalnya teman), posisinya pasti berubah dari seorang teman (biasa) menjadi teman (istimewa) yang mau tidak mau akan mempengaruhi sudut pandang dan perasaan yang ada.

Selain itu banyak orang yang beralasan bahwa hubungan yang dimulai dari teman itu sulit untuk mendapatkan chemistrynya..lha, ini kan bukan percobaan kimia. yang namanya perasaan kan bukan seperti batu yang keras sehingga tidak bisa diotak atik sama sekali. lha wong pepatang jawa aja b ilang witing tresno jalaran soko kulino kok yo...jadi kenapa harus tidak yakin kalau rasa (chemistry) itu tidak bisa ditumbuhkan?

Tantangan lain yang tak kalah sulit adalah tetap berteman meskipun hubungan itu tidak berhasil sepenuhnya karena tak jarang pasangan yang berasal pertemanan sudah terlebih dahulu kehilangan teman-teman mereka ketika hubungan dimulai dan semakin kehilangan teman ketika hubungan ini tidak berjalan...

Kalau tidak ada masalah dengan hal-hal diatas, mengapa tidak mencobanya? :)

Selasa, 13 September 2011

Cinta Pertama Anyone ?:)

malam ini, saya dan empat orang teman membahas tentang cinta pertama kami masing-masing saat sedang makan malam bersama. Seru juga ternyata pengalaman-pengalaman tentang cinta pertama, seseru perdebatan tentang defenisi apa siy cinta pertama itu, apa ia sama dengan pacar pertama atau cinta monyet atau beda sama sekali?

Salah seorang teman memberikan klasifikasi bahwa yang namanya cinta pertama tidak melulu sama dengan pacar pertama. Cinta pertama itu terjadi ketika kita jatuh hati pada seseorang yang kemudian membuat kita mengerti apa sebenarnya cinta itu; mulai dari deg-degan kalau mau ketemu tapi tetap aja selalu ingin ketemu, selalu ingin memperhatikan dan diperhatikan, dst dst. Sebagian orang mendapatkan cinta pertamanya pada pacar pertamanya atau mendapatkan cinta pertamanya pada saat ia berada pada fase cinta monyet. Jadi, cinta pertama, cinta monyet dan pacar pertama bisa saja sama tapi bisa juga tidak.

Seorang teman bercerita kalau cinta pertamanya dirasakan pada waktu duduk di kelas 5 SD, teman yang lainnya ada yang pas SMP dan saya ..hmm pas SMU. Cukup telat ya? kialo naksir-naksiran siy sebelum itu juga pernah, tapi seseorang yang membuat saya tahu tentang defenisi cinta itu saya temukan di bangku SMU. Pertama kali kenal saya takjub dengan suaranya yang amat keras, ketawanya juga amat keras bahkan tepuk tangannya lebih keras lagi. Dulu ia salah satu siswa yang amat rapi. Baju seragamnya ga pernah selebor, selalu masuk kedalam dengan ikat pinggang yang terlihat jelas terpasang. Dulu, ia tidak bisa mengetik di komputer. Pernah kami dikasih PR yang harus diketik komputer, punya dia huruf gede semua. he he

Sebenarnya lucu juga ya bisa jatuh cinta pada orang yang awalnya dinilai biasa begini. Sebenarnya dibalik ke"biasa"annya, pria ini memiliki bakat kepemimpinan yang bagus, murah hati dan teman debat yang asyik daerlin badannya bagus :). ia mulai terlihat tidak biasa saat kami sekelas menghabiskan liburan di kampungnya wali kelas yang dingin. Di kota yang sedingin itu, saya menemukan ia lari pagi hanya dengan celana pendek dan singlet..beuuuhhh keren abis :)

Sayangnya dia hanya cinta pertama saja..no more. Dan bahkan saya pernah kehilangan pertemanan saya dan dia selama empat tahun dan alhamdulillah bisa berbaikan dan jadi teman baik sampai sekarang meski sudah lama tak bertukar kabar. Ia bekerja di daerah, jadi pejabat, sudah menikah dengan perempuan cantik yang juga saya kenal baik. Waktu ia menikah, saya yang mengurus pengiriman souvenirnya dari Jogja meskipun tidak bisa datang langsung pada acaranya.

Heiii..tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki kan?
setidaknya saya senang dia menemukan orang yang tepat untuk mendampinginya
dan saya ikut bahagia melihat ia bahagia dengan kehidupannya saat ini

Ini ceritaku..bagaimana ceritamu ?

Kamis, 14 Juli 2011

Happy Birthday Mom

setelah merantau ke Jogja dan berhasil menghidupkan kehidupan sendiri untuk 4 tahun, rasanya gamang sekali ketika harus kembali mendekat ke rumah. Dulu ketika saya di Jogja, jadwal pulang sekali setahun adalah waktu yang saya tunggu, ga peduli titipan yang melebihi jatah bagasi untuk dicari, ga peduli harus jualan brownies agar bisa balik lagi ke Jogja. Ketika harus benar-benar pulang, saya galau..saya takut..

Saya pernah berkata pada mama saya ketika beliau menyuruh saya segera pulang setelah wisuda. saya katakan kalau saya takut jika saya pulang, beliau akan menjadi tidak sabar melihat hidup saya bergerak tidak secepat gerak hidup orang lain, tidak secepat gerak hidup teman-teman saya, anak-anaknya teman mama saya ataupun tidak seperti yang beliau inginkan. Saya takut sekali jika berdekatan dan mengalami fase seperti itu, beliau menjadi tidak bisa melihat kembali hal-hal baik dalam diri saya..seperti dulu...

It happened..
not as worst as before..but it worse enough for me

Di satu waktu, saya masih mendengar permintaan itu dari mama untuk saya..
permintaan yang sulit untuk saya penuhi...
hingga saya merasa begitu buruk dan tak berarti di mata beliau dan segala yang saya capai terasa sia-sia..
dan saya kehilangan hari-hari bersinar saya..
sibuk memikirkan mengapa begini mengapa begitu..

Diisatu film india tentang anak dyslexia yang saya tonton, saya menangis..
saya menangis di adegan saat ishaan masuk asrama dan menangis..dengan lagu yang menyayat hati..
lirik lagunya berbunyi :"apakah aku begitu buruk mama?"

dan membuat saya kembali berpikir, apakah saya harus bertubuh sempurna untuk mendapatkan cinta yang sama dengan cinta yang diberikan mama saya kepada saudara saya yang lainnya..?

Di suatu malam, saat saya pulang ke Padang
akhirnya saya menangis lagi
kali ini di depan beliau
mama saya
disaat beliau kembali menyampaikan permintaan itu
dengan cara beliau..yang tak pernah saya mengerti
dan dengan tangisan itu saya berbicara
dengan mulut yang bergetar dan airmata yang mengalir tanpa henti
mengatakan bahwa jika memang itu akan membuat beliau bangga terhadap saya, saya akan melakukannya..
meski harus membayar mahal untuk membeli sederetan suplemen yang bisa menyulap tubuh saya seperti yang beliau inginkan...

dan beliau menjawab..

"mama mengkhawatirkan kamu..kesehatan dan persyaratan untuk menjadi 100% pns"
"mama takut kamu ga bisa melaluinya nanti.."

sedu sedan itu masih berlanjut dalam pembicaraan ibu dan anak itu
dan saya merenung..
mungkin saya memang masih belum bisa memahami mama saya dengan baik
dan begitupun beliau, ada yang masih belum bisa beliau pahami dengan baik dari saya
mungkin beliau sebegitu sayangnya pada saya hingga tak bisa menyingkirkan kekhawatiran itu pada diri saya
dan mungkin saya juga masih belum paham bahasa cinta mama pada saya yang selama ini semua tersampaikan bukan dengan cara yang kami inginkan masing-masing..

ternyata masih banyak hal yang harus saya dan mama pelajari dalam hubungan mama dan anak perempuannya

"ma, saya memang masih gemuk, hingga hari ini..
tapi saya masih bisa dibanggakan..
saya bekerja, dengan pekerjaan yang dulu mama impikan untuk kakak saya..saya mewujudkannya..
gaji saya memang tidak tinggi ma, tapi saya masih bisa mentraktir mama sedikit kalau mama ke pekanbaru..
Saya belum menikah ma, tapi saya yakin saya akan menemukan dia suatu hari nanti..
saya bukan orang gendut yang hanya tinggal di rumah, menghabiskan hari didepan makanan dan tempat tidur
jadi, do not worry much about me mom..I'll live my life well:)"


Happy birthday mom..

I pray for your longer life, healthy and wealthy..
So we can fix our relationship and turn it into a frinedship
Then you can see reach my doctoral degree and feel proud of me
being beside me on my wedding
and taking care of your next grandchildren
Dear mom,

in many ways, we are so identical while in other ways, we are so different..
But you know mom, I love you more than my big body..
and i know that you love me that much too:

Jumat, 29 April 2011

Fisik, Suku, Pendidikan dan Pasangan hidup

Setelah beberapa kali mengalami yang namanya merasa-menemukan-orang-yang-tepat-namun-kemudian-menyadari-bukan-dia-orangnya...saya mulai menyadari kalau saya punya tiga hal yang amat sangat utama untuk tidak terpilih untuk memenangkan hati seorang pria..

Hal yang pertama jelaslah masalah fisik..hal yang kedua masalah suku dan yang ketiga masalah pendidikan

Masalah fisik sudah makanan sehari-hari..hampir khatamlah saya untuk urusan ini..saya termasuk kategori yang ga bisa dipajang..ga bisa dibanggakan untuk dibawa-bawa..Suatu kali dalam perjalanan pulang, seorang kenalan di mobil angkutan menawarkan saya untuk dijodohkan dengan daftar kenalannya..ia langsung menelpon saat itu juga dan menawarkan ke kenalannya untuk kenalan dengan saya :

"saya punya kenalan niy, dosen umurnya 28 tahun..kamu mau ga kenalan"
"badannya siy montok..tapi obat herbal kan ada di mana-mana "

si ibu menelpon dengan suara keras yang bisa dipastikan hampir semua orang di mobil itu bisa mendengarnya..saya mendadak ingin sembunyi saja..tapi baju kiriman si vetra semalam memukul kesadaran saya bahwa saya ikut andil dalam penolakan itu..dengan tidak menunjukkan kebanggaan menjadi orang besar :)..jujur..kalau sudah berhadapan dengan masalah relationship..saya kehilangan kepercayaan diri untuk bisa merasa sama dengan wanita-wanita lain..Besok saya akan pake bajunya jalan-jalan :)

Berikutnya saya perlu berjuang duia tahun lebih untuk bisa diterima disebuah keluarga jawa..dan akhirnya gagal..dalam mindset mereka (keluarga itu), yang namanya wanita minang itu suka mengatur, ga suka berbagi, pelit, pemarah dll...dan si ibu takutnya anaknya jadi tidak memikirkan keluarganya lagi kalo punya menantu seperti saya ...:) ya sudahlah..sampai hari ini saya tetap bangga jadi perempuan minang, yang mandiri tapi tidak serta merta melupakan bahwa saya butuh pria..bagi saya setiap pria dan wanita memiliki koneksi yang tak terkatakan..kadang ia timbul tanpa alasan..dan tanpa persyaratan latar belakang tapi banyak orang yang memilih untuk membuatnya sulit...Tidak semua keluarga lain suku keberatan menerima menantu dari lain suku..saya percaya itu

Yang belakangan ini yang mulai diperhitungkan adalah gelar kesarjanaan saya...
saya kuliah hingga tiga kali dengan tiga deret gelar yang bisa disandingkan dibelakang nama..mulai dari gelar S1, profesi hingga S2. tapi gelar itu bukan difungsikan untuk menjatuhkan harga diri seorang pria..Deretan gelar itu juga bukan alasan untuk sesuatu yang bernama prestise..itu perlambang sebuah perjuangan..lambang dari kecintaan terhadap ilmu pengetahuan serta persyaratan untuk sebuah pilihan profesi... Bagi saya gelar tidak selalu identik dengan kepintaran dan kemudian kemungkinan untuk merendahkan orang yang gelarnya tidak sebanyak itu.. dan saya masih belum ingin berhenti..
Dalam pemikiran saya, seorang wanita mestilah berpendidikan karena ditangannyalah pendidikan generasi berikutnya berada, ia juga mesti tangguh karena ketika sesuatu terjadi dengan keluarga, ia harus siap untuk berbagi posisi dengan patnernya namun yang paling penting dari itu semua..ia harus bisa berbesar hati..jika semua yang ia inginkan tidak ia dapatkan..

But I will not stop hoping and searching..
God just hiding him in somewhere and all i need to do is keep looking :)

cuma cerita ga jelas..
dah lama ga nulis

Selasa, 08 Maret 2011

Belajar dari orang hebat jilid 3

Profesor Eddy Rasyid hanyalah salah satu contoh nyata bagaimana sebuah institusi mampu membentuk watak dan kepribadian yang hebat. Bahkan untuk karakteristik suatu suku bangsa yang tidak pernah mau terhimpit dibawah orang lain sekalipun. Harus saya akui bahwa tanah Jawa benar-benar membukakan mata saya tentang defenisi orang hebat itu sendiri. Hampir ditiap sudut kita bisa bertemu dengan banyak orang hebat dengan berbagai watak dan karakter. Ada yang sombongnya setengah mati sampai pengen nyambit pake sendal kalo ketemu. Tapi ya kita ga bisa buat apa-apa karena memang pada kenyataannya orangnya memang hebat dan pantas sombong. Tapi tidak sedikit pula yang benar-benar tidak kelihatan ”orang hebatnya”.

Ketika sempat bekerja di proyek kerjasama UGM dengan JICA, kantor saya berseberangan dengan kantor Rektor dan seringkali juga berurusan dengan kantor itu. Prof Sudjarwadi, rektor UGM itu orangnya benar-benar mencengangkan. Beliau tidak segan-segan mampir ke kantor kami dan berbincang dengan bos saya dan menyapa kami para kroco-kroco ini sementara ibu wakil rektornya setengah mati susah ditemui dan dihubungi. Bapak rektor itu selalu menyediakan waktunya (kalau beliau sedang berada di tempat) untuk setiap urusan yang melibatkan kantor saya dan kantor beliau, selalu menyempatkan diri menyambut setiap profesor Jepang yang berkunjung hingga mengundang kami makan siang atau berbincang di kantornya yang hangat dan staf-stafnya yang menyenangkan. Beliau juga tidak tampil wah seperti gambaran rektor yang ada di kepala saya. Paling sering saya melihat beliau dengan tampilan celana panjang dan baju kemeja putih, biasa saja, meskipun kita tak pernah tahu apa merek kemeja yang ia pakai.

Dan UGM benar-benar tempat yang tepat untuk memperluas sudut pandang saya tentang bagaimana seharusnya bersikap agar bisa menjadi orang hebat juga. Sewaktu kuliah PPAK, saya mengenal Dr Sony Warsono yang saat itu menjabat sebagai kepala program yang sedang saya ikuti. Orangnya amat sederhana, khas orang jawa kebanyakan. Berpakaian apa adanya dan kadang kala malah terkesan kurang memperhatikan penampilan. Tapi beliau benar-benar orang hebat yang hebat. Hal pertama yang selalu saya ingat tentang beliau adalah cara beliau memanggil kami para mahasiswa yang masih ingusan ini, yaitu dengan menggunakan kata panggilan panjenengan (yang biasanya digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua dalam bahasa jawa halus) bukan sampeyan (yang biasanya dipakai untuk memanggil orang yang seumuran atau yang lebih muda dalam bahasa jawa sehari-hari). Saya merasa di wongke -istilah bahasa jawa untuk pengertian dimanusiakan atau dianggap manusia- dan kadang malah merasa sungkan, masa beliau yang lebih tua dan lebih hebat aja segitu sopannya sementara kita yang masih muda malah seenaknya. Hal berikutnya yang masih terekam kuat dalam ingatan saya adalah ketika beliau berkali-kali meminta maaf kepada saya dan teman-teman sekelas karena punya masalah dengan salah satu dosen yang mengajar kami dan beliau terlambat mengetahuinya. Dari situ saya mengerti kalau beliau adalah tipe pemimpin yang benar-benar mendengarkan suara arus bawah dan menghargai siapa saja yang berada disekitarnya. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terus melanjutkan kuliah ke jenjang master dan kemudian menjadi pembimbing dari thesis saya..sepanjang masa kuliah, saya memanggil beliau dengan nama Bapak yang lembut hatinya..

Pak Sony bukan satu-satunya orang hebat yang saya temui di UGM. Bapak-Bapak yang telah terlebih dahulu saya sebutkan nmanya diatas adalah orang-orang hebat yang sehari-hari wara-wiri di kampung UGM. Bapak Zaki Baridwan, kemudian menjadi salah satu idola saya. Meskipun saya hanya mendapat nilai C di mata kuliah teori akuntansi yang beliau ajarkan, mendapatkan 3 kali point nol dari 4 kali quiz yang beliau adakan dan hanya mampu stress dari jumat ke senin, beliau menunjukkan kepada saya dan teman-teman bahwa untuk menjadi orang hebat, setiap orang membutuhkan proses, kerja keras dan tempaan yang lama. Meskipun keras hati, beliau menunjukkan sikap kebapakannya dengan memberikan saya izin untuk tidak masuk ke kelas beliau saat adik saya menikah dan itu kemudian menjadi joke baru di kelas-kelas beliau berikutnya. Untuk orang ini, saya benar-benar menemukan seorang begawan yang sesungguhnya. Bahasanya rapi, bahasa inggrisnya yahud, kemampuan menulis artikelnya tidak diragukan lagi dan tentu saja pemahamannya terhadap ilmu akuntansi amat luar biasa. Beliau bahkan hapal satu persatu isi buku teori akuntansi yang kami pelajari tanpa melihatnya, sellau datang lebih awal dari mahasiswanya dan selalu tampil rapi dan berkelas. Setiap kali mengingat beliau, saya teringat wajah-wajah khas para mafia itali di film-film action. Beliau memiliki hidup yang amat teratur (menurut pandangan saya sih). Kami pernah diminta hadir kuliah jam 6 pagi. Ketika banyak yang mengeluh, beliau menjawab :"Jam segitu saya biasanya sudah selesai olahraga dan sarapan". Hmm..jadi tau kenapa beliau tidak mau turun menmui saya dengan baju tidur..karena baju tidur (mungkin) bukan untuk dipakai keluar kamar atau keluar rumah menemui tamu.

Jika Bapak Zaki Baridwan selalu tampil rapi, maka tidak jauh berbeda dengan Bapak Prof Jogiyanto Hartono juga demikian, tapi beliau tidak pernah memakai singlet didalam baju kemejanya. Kalau Profesor satunya amat serius, yang satu ini malah sering memberikan lelucon yang garing yang membuat kita tertawa bukan karena leluconnya tapi karena kegaringannya. Meskipun demikian, beliau merupakan salah satu orang hebat yang benar-benar menguasai banyak hal sekaligus; akuntansi, pasar modal, sistem informasi dan metodologi penelitian. Buku-buku yang beliau karang juga sudah banyak sekali dan selalu menjadi acuan bagi banyak orang.

*Untuk dosen-dosen saya yang amat inspiratif..it's always be an honored to know you all

still plan to be continued... dan kali ini silahkan menyimpulkan sendiri pelajaran yang bisa diambil..:)

Belajar dari orang hebat jilid 2

Perjalanan dari Padang sampai ke Bukittinggi untuk berdarmawisata bersama para peserta SNA 9 saya habiskan dalam bis berisikan orang-orang hebat tadi. Memang tidak semua orang hebat akuntansi ada disana, sebagian telah pulang duluan karena acara telah selesai dan asih ada pekerjaan yang mungkin harus mereka selesaikan. Sebagian mungkin telah diajak berdarmawisata sendiri oleh kantor-kantor cabang perusahaan tempat mereka menjadi direksi. Saya ingat, ketika di bandara, saya kehilangan beberapa orang hebat itu ketika bus yang membawa mereka ke penginapan akan berangkat. Ternyata, beberapa orang yang hilang itu telah dijemput banyak mobil. Pak Soenardji dari UI dijemput koleganya dari Semen Padang, dengan mobil yang sama saya suatu kali ditumpangkan beliau di mobil itu ketika menunggu angkot di simpang by pass. Pak Zaki di jemput oleh mobil BNI sementara Pak Mas’oed di jemput oleh mobil BTN.Kalau saja saya tidak bertugas disana dan tidak menjadi LO, pastilah saya tidak tahu seberapa hebat dan seberapa pentingnya mereka.

Tapi orang-orang hebat yang ada di bis juga tidak kalah mempesona. Sepanjang jalan,para orang hebat itu melucu, bernyanyi-nyanyi, menertawakan dan mengomentari panduan saya. Anak -anak sekali..Saya iba-tiba teringat iklan Nokia versi lama yang taglinenya "selalu ada jiwa anak-anak dalam diri kita". Pelajaran moral no tiga dari mereka adalah : " Be yourself". Seberapa hebatpun mereka, mereka tidak segan-segan menampilkan sisi lain yang sama saja seperti orang biasa lainnya. Dan jika memang begitu adanya berarti tidak ada yang salah. Istilah menjadi diri sendiri ini bagi saya juga berarti menikmati tiap moment yang kita lewati dengan cara kita masing-masing..ya seperti yang mereka lakukan..tertawa-tawa, bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan karena memang pada saat itu waktunya bersenang-senang.

Di rombongan itu, saya juga menemukan ada beberapa profesor yang membawa serta istrinya. Salah satunya adalah Prof Basuki dari Universitas Airlangga. Kesan pertama saya adalah beliau adalah orang yang ramah. Keramahan yang sama juga ditunjukkan istrinya pada saya. Sama dengan dua orang terdahulu yang saya ceritakan, penampilannya juga biasa saja. Saya ikut membantu istri beliau untuk menterjemahkan bahasanya para pedagang dan ikut membantu memilihkan dan menawar barang. Kami sempat berfoto bersama di depan jam gadang dan sebelum berpisah beliau sempat menawari saya untuk main ke rumahnya jika saya nanti ada waktu ke Surabaya. Sayang beribu kali sayang, hingga tahun terakhir saya di Jogja, saya belum sempat menginjakkan kaki di Surabaya. Terakhir saya menemukan akun fesbuk beliau dan mengirimkan pesan namun belum berani meminta beliau untuk jadi teman saya. Sungkan soalnya. Tidak hanya Pak Basuki sebenarnya yang menawari saya untuk singgah ke rumahnya jika berkesempatan berkunjung ke kota tempat ia dan keluarga berdomisili, ada banyak orang hebat yang menawari saya untuk mampir jika saya berkesempatan berkunjung ke kota mereka dan bahkan sampai hari ini masih ada yang masih mengirimkan saya sms untuk sekedar untuk bertanya kabar. Pelajaran no 4 dari mereka, ada banyak celah yang bisa membuat orang hebat menjadi tak terjamah oleh banyak orang, terlihat begitu hebat dan begitu tinggi, tapi tidak ada yang salah dengan membumi, toh dengan semakin dekat jarak kita dengan orang disekitar maka sebenarnya makin tampaklah bahwa sebenarnya yang hebat itu memang hebat meskipun tidak ada maksud sedikitpun untuk menunjukkannya.

Berkenalan dengan banyak orang hebatari dubia akademis sebenarnya secara tidak langsung menjawab pertanyaan tentang dimanakah kita sebenarnya bisa dengan mudah menemukan orang hebat selain di pusat-pusat ilmu pengetahuan seperti sekolah dan kampus?.

Di kampus saya Universitas Andalas, ada banyak orang yang diakui masyarakat sebagai orang hebat dan tidak sedikit yang berkaliber nasional tapi hanya sedikit yang saya kenal dengan baik. Separuhnya karena saya merasa saya tidak ada apa-apanya alias kecil hati dan tidak pede kalau berhadapan dengan mereka dan sebagian karena saya tidak merasakan kehebatan itu. Ada dua orang dosen yang paling sering disebut namanya ketika saya mengenalkan diri dan asal di waktu kuliah lanjutan. Ketika saya menyebutkan nama Unand, nama pendek dari Universitas Andalas, maka kalimat lanjutannya adalah :”oo mahasiswanya Pak Eddy Rasyid?” atau ”pernah belajar dengan Pak Niki?”. Orang pertama yang saya sebutkan tadi memang bukan orang pertama yang saya sebut hebat, meskipun sering sekali kami bertemu. Saya bahkan baru menyadarinya ketika saya melanjutkan kuliah saya di kampus saya berikutnya UGM. Pak Eddy merupakan orang Unand yang amat terkenal di jurusan akuntansi UGM. Hampir setiap kali kelas berganti dan dosen berganti dan perkenalan diri diulang lagi, pertanyaan ataupun pernyataan yang sama selalu keluar lagi.

Jujur saja, sewaktu kuliah Introduction to Accounting dengan Pak Eddy di semester satu kelas berbahasa Inggris, saya benar-benar tidak paham dengan apa yang beliau ajarkan. Beliau sering tidak masuk, jarang menerangkan, lebih sering menyuruh kami belajar sendiri dan ketika ujian soalnya alamak pula. Belakangan saya baru tahu kalau beliau adalah salah satu aset kelas dunia yang dimiliki kampus saya. Jam terbangnya sudah nasional dan global sehingga menyebabkan beliau jarang masuk dan (mungkin) ini juga yang membuat beliau memaksa kami para mahasiswanya untuk ikut go global dengan cara pengajaran beliau. Pak Eddy juga pernah memarahi saya didepan banyak orang karena lebih memilih mengumpulkan dana untuk mahasiswa yang sakit keras dan kegiatan-kegiatan yang harusnya bukan menjadi urusan saya daripada kuliah yang benar dan mengerjakan skripsi agar cepat tamat. Sejak saat itu, saya malas ketemu beliau, takut diomeli..ha ha. Namun meskipun demikian, dari beliaulah saya mendapatkan kata-kata favorit saya setelah jadi dosen :”an excellent teacher is inspiring”. Kuliah saya di UGM membuka mata saya bahwa selama ini saya menyia-nyiakan kesempatan saya untuk belajar banyak dari orang yang diakui kehebatannya di universitas yang bahkan kelasnya jauh diatas universitas saya dulu, namun ada satu kesempatan besar lainnya yang tidak ingin saya sia-siakan, mengejar ilmu di universitas yang menjadi almamater beliau dulunya, tempat yang menempa beliau menjadi orang hebat.

Ketika saya menyelesaikan kuliah S2 dan pulang ke Padang, beliau meminta saya untuk berkunjung ke rumahnya. Dikesempatan itu beliau mengutarakan bahwa sejak pertama kali beliau mengenal saya, maka bayangan pekerjaan yang cocok untuk saya adalah menjadi dosen. Ucapan ini jugalah yang semakin meyakinkan saya untuk memilih dosen sebagai jalan hidup saya. Hal berikutnya yang masih saya ingat dan saya pegang adalah saat beliau mengucapkan kembali nasehat yang pernah diberikan oleh sahabat almarhum ayahnya A.A Navis; yang kurang lebihnya berbunyi :”Jika ada hal yang tidak saya senangi/ buruk dari guru saya dulu, maka ketika saya menjadi guru tidak akan saya lakukan. Namun jika ada hal yang saya senangi/ hal baik dari guru saya maka akan saya lanjutkan”. Hal yang sama juga sering saya utarakan kepada mahasiswa saya, mengapa cara saya berbeda dengan dosen-dosen lainnya. Kepada beliau, saya juga mengutarakan kecemasan saya tentang beratnya ketika harus pulang dan berpisah dari lingkungan ideal yang ada dalam pikiran saya dan betapa menakutkannya menghadapi keinginan dan sikap banyak orang di kampung halaman saya terhadap kehidupan saya. Untuk curhat saya itu, beliau berkata :”Orang minang itu tidak dibesarkan dengan pujian Hes, mereka dibesarkan dengan celaan agar menjadi orang yang kuat”. Beliau jugalah yang menyemangati saya untuk tetap membawa keJogjaan saya dalam pekerjaan ini, entah melalui cara mengajar, cara belajar, model tugas, model kuliah atau bahkan cara bersikap, dengan begitu kita akan memiliki ciri khas dan orang akan sulit untuk tidak mengingat kita. Dan hal terakhir pada hari itu yang dipesankan beliau kepada saya adalah:”jangan bekerja karena uang..jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh, maka uang akan datang dengan sendirinya ”...

Pelajaran moral no lima dari orang hebat ini adalah: kadang tidak ada yang bisa digapai dengan mudah dah gratis tanpa perjuangan dan kerja keras. Jika kita adalah orang hebat, maka membagikan cerita dan pengalaman kita pada orang lain juga bisa mendorong lahirnya orang-orang hebat lainnya

Selasa, 08 Februari 2011

Belajar dari orang-orang hebat..jilid 1

Saya pikir saya adalah orang yang cukup beruntung memiliki banyak kesempatan untuk bertemu banyak orang-orang hebat dalam kehidupan ini. Orang hebat yang pernah saya temuipun cukup beragam; mulai dari praktisi akuntansi yang hebat, dosen yang hebat, ahli kuliner yang hebat, wartawan hebat, mahasiswa hebat dan tentu saja teman-teman yang hebat.



Pengalaman pertama bertemu orang-orang yang hebat saya rasakan hampir lima tahun yang lalu ketika menjadi panitia dadakan dalam simposium nasional akuntansi 9 di almamater saya Universitas Andalas. Pada saat itu saya kebetulan sedang pulang ke Padang dalam rangka menghadiri pernikahan sahabat saya bukan untuk menjadi panitia acara tersebut. Posisi saya dalam kepanitian tersebut hanyalah posisi penggembira, hanya menjadi liaison officer alias penghubung antara peserta dan panitia inti. Meskipun hanya penggembira, posisi ini merupakan salah satu posisi yang paling diandalkan dalam acara- acara berskala besar karena job desknya amat tak terbatas, yaitu mengurusi orang.



Dua hari pertama saya habiskan untuk bertugas di Bandara Internasional Minangkabau, menyambut para tamu yang rata-rata datang ke Padang dengan jalur udara kemudian meminta mereka mengisi buku tamu serta memberi tanda pada daftar tamu yang dinanti. Di BIM itulah pertama kali saya melihat raut wajah para orang hebat akuntansi yang selama ini hanya pernah saya lihat tercetak dibuku-buku yang kami pakai kuliah, sebagian bahkan belum pernah saya baca. Saya menjumpai Zaki Baridwan, Ainun Na’im, Slamet Sugiri, Amir Abadi Jusuf, Alm Mas’ud Mahfoez, Soekrisno Agoes, Indra Wijaya Kusuma, Suwardjono dan sederet nama beken lainnya. Mereka hadir di acara itu sebagai penguji untuk berbagai artikel akuntansi yang akan ditampilkan di simposium tersebut. Selain sebagai penyambut tamu, sebagai LO saya juga bertugas untuk melakukan pembayaran honor dan transportasi bagi para reviewer tersebut, menjadi pemandu utama di bis mereka ketika jalan-jalan ke bukittinggi hingga menjawab telepon dan sms yang mereka kirimkan dalam berbagai kondisi



Orang hebat yang paling dekat dengan saya selama acara tersebut adalah Prof Soekrisno Agoes. Beliau adalah dekan Fakultas Ekonomi sebuah Universitas Swasta di Jakarta. Selain itu, Pak Kris, begitu saya memanggilnya, juga memiliki kantor akuntan publik serta mengarang buku yang dijadikan acuan untuk mata kuliah audit di banyak universitas. Sebagai seorang profesor, tampilan Pak Kris menurut saya biasa saja, jauh dari kesan parlente dan keglamoran yang biasa ditunjukkan oleh para intelektual pada umumnya. Menurut saya tampilannya biasa saja, kalah dengan kerapihan dan kegantengan Profesor Zaki Baridwan. Pak Kris memiliki pembawaan yang santai serta seorang perokok berat. Bersama beliau, saya merasa tidak sedang menghabiskan waktu dengan seorang profesor, melainkan bersama seorang ayah. Sayang, setelah beberapa kali hp saya hilang, saya juga kehilangan komunikasi saya bersama beliau..Tapi pelajaran pertama tentang orang hebat yang saya dapatkan adalah jadi orang hebat tidak perlu selalu terlihat hebat. Berarti betul juga kata pepatah, dont judge a book by its cover.



Ketika berikutnya saya berkesempatan untuk membayar uang transportasi bagi Profesor Zaki Baridwan dan Prof Ainun Na’im di hotel Bumi Minang, saya menjumpai seorang profesor muda yang bersahaja. Pak Ainun turun dari kamar hotelnya menuju lobi untuk bertemu saya hanya dengan mengenakan celana pendek dan kemeja batik biasa saja. Tidak tampak sama sekali kalau beliau adalah seorang dekan di fakultas prestius di universitas impian banyak orang. Dan dari penampilannya malam itu, mungkin akan banyak orang yang kecele dan tidak mengira kalau beliau memiliki posisi penting di Pertamina. Selanjutnya saya ingat pernah bertemu beliau di supermarket di kota Jogja, mendorong kereta belanja yang penuh dengan sayur-mayur dan buah-buahan sementara sang istri berjalan duluan memilih belanjaan lain. Berhubung Pak Zaki, begitu biasanya Profesor Zaki Baridwan disapa tidak bisa turun menemui saya karena sudah berganti baju, saya hanya bisa menitipkan uang beliau pada Pak Ainun. Waktu itu saya hanya bisa berpikir, “ apa kalau orang sudah berganti baju dengan baju tidur maka ia jadi tidak bisa menemui tamu ya?”. Maklum, kalau teman saya datang ke rumah saya bisa saja menemui mereka dengan baju yang sedang saya pakai, entah itu baju main, entah itu baju tidur. Jawaban atas pertanyaan itu saya dapatkan setelah saya bertemu dengan beliau di kelas ketika kuliah. Pelajaran yang saya dapatkan malam itu adalah, meskipun hanya dibungkus dengan kemasan yang sederhana, sesuatu yang bersinar akan tetap selalu bersinar dan sebaliknya.

Jumat, 04 Februari 2011

bukan jarak tapi waktu...


Teringat masa kuliah S2, setiap semester merupakan hal yang menyenangkan dan penuh dengan pelajaran-pelajaran baru..dan setiap akhir semester saatnya membuat review dan membuatnya jadi file baru dalam folder yang berjuul kenangan..

Di semester pertama saya menjadi dosen, saya juga mendapati hal-hal yang menyenangkan..dan di akhir semester, saya juga ingin mengenangnya dari sudut pandang saya sebagai dosen..

semester ini tidak akan pernah indah tanpa penerimaan dari mahasiswa-mahasiswa saya...untuk itu, di hari terakhir kuliah, saya printkan ucapan terima kasih saya buat mereka..yaaa setidaknya suatu saat mereka akan ingat bahwa mereka dan saya pernah berada dalam kelas yang sama berbagi pelajaran tentang hidup...

"Dear kids,

Tak terasa satu semester berjalan begitu cepat..
Saya masih mengingat betapa besar kegugupan menghancurkan kepercayaan diri yang telah saya bangun habis-habisan ketika saya memutuskan untuk menemani dan mengisi sepenggal kisah hidup kalian dalam sebuah kelas..Hari itu, ketika pertama kali kaki saya melangkah masuk ke kelas, saya masih berpikir, siapa yang akan saya hadapi hari ini? Bagaimanakan mereka melihat saya? Apakah baju yang saya kenakan sudah cukup pantas? Apakah cara bicara saya sudah cukup jelas? Apakah lelucon yang saya lontarkan cukup lucu? Apakah mereka akan menerima saya dengan baik atau mereka akan mengolok-olok saya? Dan sejuta apakah lainnya..

Dear kids,
Hari itu, di minggu pertama perjalanan pertama saya menuju pintu gerbang pengajaran, saya menyadari bahwa kehidupan saya tidak akan pernah sama lagi..saat itu juga saya menyadari bahwa Kota Jogja yang saya tinggalkan hanya bisa saya kunjungi sekali-sekali saja karena sepertinya perlahan namun pasti hati saya telah tertawan untuk kemudian kehilangan kemampuan untuk pergi..
Hari itu dan seterusnya saya mengetahui bahwa ketika saya ketuk, pintu persahabatan di depan saya langsung terbuka..tidak sedikit tapi terbuka lebaaar sekali..saya kemudian merasa berpasang tangan menarik saya mengajak saya berlari, melompat dan menari menikmati taman indah pertemanan di usia muda..

Bagi saya, hari itu menjadi awal karir saya di mulai, saya menyadari bahwa saya telah membuat keputusan yang benar tentang kehidupan saya..saya telah menemukan sesuatu yang akhirnya akan menjadi jalan hidup saya, mendapatkan gairah yang besar untuk terus berjalan menikmati hari-hari depan dan kemudian dengan tanpa keberatan sedikitpun melemparkan senyum saya ke masa lalu dan menutupnya perlahan...

Mungkin karena kita serupa, orang-orang yang hidupnya penuh perjuangan untuk membuktikan siapa dirinya kepada orang lain..kita jugalah yang harus terjatuh berkali-kali dan kemudian saling mengulurkan tangan agar kita bisa sama-sama bangun dan meneruskan kehidupan..kita jugalah yang berkali-kali tersesat, berputar-putar mencari arah mata angin penghidupan, mengutuki kegelapan hati dan pikiran kita sendiri dan kemudian bersama-sama pula mencari cahaya baru...

Kadang saya berharap saya bisa membekukan waktu..
Agar kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama
Entah hanya untuk menambah kepusingan kepala karena angka-angka yang tak kunjung jelas darimana datangnya...
Atau mungkin hanya sekedar bercerita apa saja yang tak jelas ujung pangkalnya..
Atau mungkin menertawakan kebodohan kita sendiri...

Tapi saya lalu tersadar kalau saya akan menjadi begitu egois..
Karena jika saya bisa menghentikan waktu, maka saya juga akan menghentikan langkah kalian untuk jalan panjang yang bernama masa depan...
Saya tetap ingin selalu menghabiskan waktu bersama kalian..sekuat keinginan saya untuk selalu melihat kalian maju, meraih semua mimpi yang pernah ada dalam pikiran kalian..menjalani jatuh bangunnya kehidupan dan kemudian membagi kebijakannya pada orang lain..Saya juga ingin melihat ukiran nama kalian dalam bingkai bingkai keberhasilan..menjadi orang nomor satu yang ikut berbahagia jika kalian berhasil dan sebaliknya juga menjadi orang nomor satu yang kalian cari untuk menangisi kegagalan...

Suatu hari nanti,
Jika kalian menjadi orang yang sukses
Ingatlah bahwa kesuksesan kalian tidak datang sendiri..tapi bersama dengan orang-orang hebat dalam kelas yang hebat ini..jadi rendah hatilah
Jika kalian merasa gagal.
Ingatlah bahwa kalian pernah bergabung bersama-sama orang yang hebat pula..lalu bersemangatlah..
Dan jika tua nanti kita telah hidup masing-masing, ingatlah bahwa kita pernah berbagi hari..

Dan,
Akhirnya waktu memisahkan kita..
Bukan jarak..
Itu artinya kita masih bisa saling melemparkan senyum kalau bertemu
Masih bisa berbagi ejekan, berbagi teriakan, tawa dan bahkan sepiring gorengan..

Lalu, apalagi yang bisa saya sampaikan selain terima kasih?

Untuk semua pelajaran, pengalaman dan semua cerita panjang yang telah kita bagi selama beberapa bulan ini....
Mungkin hanya satu semester kita pernah selalu bersama-sama..tapi bagi saya ini adalah hadiah indah untuk sepanjang kehidupan saya..

Selalu senang pernah mengenal orang-orang hebat seperti kalian
Regards,

IbuHesty"



*dan seorang mahasiswa saya bilang :"ibu, jangan terlalu diambil hati..kita masih tetap akan bisa bertemu kok.."
ahh...saya memang terlalu sentimentil :)

Rabu, 05 Januari 2011

Guru yang menginspirasi

Hari ini saya membaca e-mail yang diforward seorang teman baik kepada saya..
dan saya sangat terinspirasi..
mudah-mudahan saya dan teman-teman lain yang berprofesi sebagai dosen dan guru bisa mengikuti jejak mereka yang diceritakan di cerita ini..
"Orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti ~ Albert Einstein"

JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah kuno bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda, sebuah kuliah fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika kuantum nama kuliah itu. Hariadi Paminto Soepangkat—doktor fisika zat padat lulusan Universitas Purdue, Indiana, AS — sang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh tinggi besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak pemuncak eksekutif bisnis itu, telah berdiri penuh wibawa di hadapan sekitar 150 mahasiswa dari tiga jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika dan meteorologi.

Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba nama saya dia panggil.
”Saya, Pak,” jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan.
”Kota asal Saudara di mana?” tanyanya sambil menuruni panggung kuliah yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat saya duduk di barisan depan.
”Sidikalang, Pak,” jawab saya.
”Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, daerah Saudara penghasil kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?”
”Betul, Pak,” jawab saya sumringah.
”Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?”
”Seratus lima puluh kilo Pak.”
”Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?”
”Lima ribu, Pak.”
”Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”
“Berastagi, Pak.”

Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung kuliah, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira seperti inilah yang dimaksud dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu tidak cukup mengantarnya sampai ke Medan. Jadi, lima ribu adalah uang ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”

“Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi yang minimum, untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu bahwa energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi, yang besarnya menurut Max Planck adalah hv, di mana v frekuensi radiasi itu dan h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat-minus-34 joule-detik. Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya.”

Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa. Tapi, saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat perhatian seluruh kelas dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit saja sorotan lampu perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa diri spesial. Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi. Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum.

Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A. Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya adalah C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A sungguh sangat sedikit.

Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya itu setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, kreditnya maksimum: empat. Bukan cuma itu, di zaman itu, cuma ada dua mata kuliah fisika yang dianggap dahsyat: fisika kuantum dan relativitas umum. Yang terakhir ini belum disajikan di tingkat S1. Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada kuliah sepenuh: mekanika kuantum, yang akan didalami nanti di tingkat S2.

Saya juga takjub pada diri sendiri. Mengapa mendadak saya jadi sangat pintar? Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya Pak Hariadi mengajar kami memang luar biasa. Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang menunggu dosen. Pak Hariadi sebaliknya.

Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan istimewa tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat dia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 100 menit itu selesai.

Lima tahun saya kuliah, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi. Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika hanya Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian. Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi. Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja ilustrasi itu sangat menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang pada momen pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik ditelusuri.

Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya dan jeri pada pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi killer. Ia memenuhi tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu sendiri. Jadi, sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat A.

Sampai ke Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi kebanggaan mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. Tak tahan, saya pun menulis sepucuk surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa syukur dan terima kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara mengajarnya saya apresiasi dengan rinci. Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30 mahasiswa yang mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian dia yang berterima kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam kepada orangtua saya, dia mengundang saya ke kantornya usai libur. Waktu itu Pak Hariadi adalah dekan Fakultas MIPA. ”Saya ingin mengenal Saudara lebih dekat.” katanya.

Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang saya bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang istimewa ini, Ibu saya mengusulkan memberikan ulos sebagai cinderamata. Ulos dan kopi, itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung. Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, Pak Hariadi, tanpa saya duga, meminta agar saya bersedia menjadi asistennya. Terhenyak saya. Tubuh saya mendadak ringan. Seperti kapas di awang-awang layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya sambut.

Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata, dia sempat tertegun lalu berkata, ”Wah, istri saya harus ikut bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi.” Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi, saya pun jadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi Sidikalang saya serahkan. Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983–saat itu Pak Hariadi sudah menjabat sebagai rektor ITB–saya terus membantunya sebagai asisten kuliah fisika kuantum.

Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat saya selama kuliah di ITB. Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika, kimia, dan biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup mengajar secerdas dan sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata pelajaran keras itu tidak akan pernah jadi momok buat anak-anak muda kita. Bahkan, matematika dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.


JANSEN H. SINAMO - 8 Etos Kerja Profesional
Fisika Kuantum memiliki makna yang sama dengan Mekanika Kuantum, adalah ranah ilmu Fisika Teori yang berfokus dan berusaha menjelaskan perilaku materi sewaktu berinteraksi dengan energi yang terjadi pada skala mikro (microcosmos). Pelopornya adalah Max Planck, terpicu oleh penyelidikannya terhadap karakteristik panas dan sesuatu yang mengeluarkan panas. Kata "Kuantum" berasal dari Quanta, istilah yang dipopulerkan Planck untuk menunjuk bahwa cahaya sejatinya merupakan gelombang kumpulan paket-paket energi (quanta). http://www.pbs.org/transistor/science/info/quantum.html

Senin, 03 Januari 2011

kampus ini mengalihkan duniaku

hampir setengah tahun silam, saya memutuskan untuk angkat koper dari jogja. Hidup saya disana sudah mulai memasuki masa-masa stagnan sementara umur terus merangkak naik..Saya akhirnya pulang..menikmati masa menganggur sebulan dua bulan sambil merayakan lebaran sebelum akhirnya berpindah ke provinsi tetangga..

Salah satu alasan mengapa saya pulang adalah karena saya telah menerima tawaran untuk mengajar di politeknik swasta di kota tetangga itu...yup..politeknik tempat saya mengajar bernama Politeknik Caltex Riau, yang menyandang nama besar perusahaan minyak yang dulunya (dan samapi sekarang ) masih sangat eksis disini sebelum berganti nama menjadi Chevron. Kampus ini berlokasi di Rumbai, daerah pinggiran kota Pekanbaru yang merupakan jalur untuk menuju ladang minyak Duri serta kota pelabuhan Dumai dan jugajuga merupakan jalan yang akan dilalui kalo kita ingin berangkat ke Medan dari Pekanbaru.




Hari pertama saya datang ke kampus untuk rapat tahun ajaran baru, saya melihat kampus yang luamayan besar dengan arsitektur cukup indah. Di pintu gerbang saya menemukan tulisan-tulisan :"no smoking area" khas petunjuk keamanan di perusahaan yang sangat peduli dengan keamanan dan keselamatan kerja. Setelah masuk kedalamnya dan mengikuti rapat, saya semakin tahu kalo kampus ini menerapkan batas kecepatan rata-rata untuk kendaraan bermotor didalam kampus, kewajiban untuk selalu menggunakan helm dan memasang kedua kaca spion bagi motor serta perhatian yang tinggi terhadap pemanasan global dengan mengurangi penggunaan ac di ruang-ruang kelas dan menggantinya dengan kipas angin serta jendela-jendela yang banyak serta tiang tiang besi dengan tumbuhan merambat untuk meneduhkan...Tapi itu kunjungan hari pertama...




Kalo hari pertama mengajar?
Saya sudah pernah menceritakannya di tulisan sebelumnya...
Rapi ga apalah..mari kita tambah lagi...

Hari pertama mengajar tiba-tiba saya jadi ga senang dengan ide ramah lingkungan ini..saya jadi seperti tidak ingin mendukung kampanye mengurangi pemanasan global yang dibawa oleh kampus ini...

Hari pertama mengajar kelasnya Panassss...keringat tak berhenti mengalir di kening saya..baju saya basah dan mahasiswa mengira saya grogi tingkat tinggi..ha ha..padahal memang begitu..ha ha

Meskipun harus berada di motor menyusuri jalanan harapan raya-rumbai 30 menit, panas terik yang bikin makin hitam dan jerawatan..tapi saya selalu punya alasan untuk datang ke kampus ini...
yaitu untuk melihat senyum mereka :)

ini yang saya bisa ceritakan tentang kampus tempat saya bertemu mereka..
masih terlalu sedikit karena sebagian besar masih sulit diungkapkan dengan kata-kata..bagi mnereka yang sudah bertahun-tahun disana mungkin sudah mulai bosan..tapi bagi saya cerita baru saja dimulai...