Minggu, 14 November 2010

Titik Balik

Di suatu malam akhirnya saya sempat menonton liputan perjalanan ke India di National Geographic Channel. Jarang-jarang saya bisa menonton channel luar yang ada di tv kabel langganan adik ipar saya karena persaingan ketat penguasaan siaran tv dengan penguasa channel tv di rumah yaitu pengasuhnya dzaki, yang selalu memonopoli siaran –siaran lokal dengan jadwal acara favorit berupa quis dan sinetron yang berderai air mata..ha ha

Enough soal rebutan channel tv, bukan itu inti ceritanya..
Cerita perjalanan yang dilakukan oleh dua wartawan NGC asal inggris plus satu juru kamera itu jauh lebih menyenangkan untuk dibahas. Mereka jurnalist yang hebat dan kekaguman saya terhadap ketahanan mereka dalam melakukan perjalanan (rute yang panjang, berganti-ganti kendaraan mulai dari pesawat hingga motor, cuaca yang tidak sama serta berbagai tantangan lain) benar-benar tak habis-habis. Dan diantara kekaguman itu sebuah pikiran zaman lawas kembali berkelebat dipikiran saya : “jika saya dulu kuliah di jurusan komunikasi mungkin saya bisa seperti mereka, menjadi jurnalist hebat, apapun media yang dipakai dan apapun merek medianya”.

Mimpi saya untuk menjadi wartawan dimulai sejak saya duduk di bangku SMU, diawali dengan kegilaan saya pada perkembangan dunia politik yang sedang hangat-hangatnya di masa reformasi. Tiba-tiba saya ingin menjadi bagian penyebaran informasi, menjadi orang yang berada di garda depan dari setiap peristwa, melakukan perjalanan untuk meliput berita kemana saja. Waktu itu, saya ingin sekali menjadi bagian dari majalah Tempo ( majalah politk yang sudah jadi bagian saya sejak SD), Gatra, Kompas dan republika. Ketika duduk di kelas tiga, keinginan itu makin menjadi-jadi. Beberapa mata pelajaran menjadi penunjang kesukaan saya terhadap cita-cita ini. Saya menjadi sering, terlalu sering malah ambil bagian dalam perdebatan di kelas dengan selalu berusaha memberikan argumen yang bagus dan berkelas.

Dan ketika saat untuk merintis jalan untuk mewujudkan impian tiba, saya malah tidak berhasil lulus di jurusan yang saya inginkan. Saya malah lulus di jurusan yang 180 derjat berbeda dengan bayangan saya. Jurusan akuntansi dan hingga tahun ketiga kuliah saya masih tidak bisa menerima bahwa saya tidak bisa jadi wartawan sementara untuk jadi akuntan? Saya terseok-seok, bahkan mungkin merayap. Suatu kali di ujian kompre saya menyatakan pada penguji saya bahwa bukan jurusan ini yang saya inginkan. Saya hanya ingin jadi wartawan. Salah seorang penguji saya kemudian mengatakan kalo jadi wartawan tidak harus kuliah di jurusan komunikasi dari jurusan saya juga bisa. Ira Koesno, mantan announcer di SCTV itu adalah salah satu wartawan yang berasal dari jurusan akuntansi. Saya kehabisan kata dan tak punya alasan lagi

Dan apalah daya, dengan nilai kelulusan ala kadarnya akibat keengganan yang luar biasa untuk menikmati bangku kuliah, saya justru tidak diterima melamar di koran manapun. Ya bagaimana bisa, kalo yang saya kuasai tanggung semua.

Waktu berlalu dan akhirnya pengalaman masa lalu memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki masa depan. Dan ternyata saya kemudian menemukan bahwa nothing is impossible to be learned. Saya sering berpikir bahwa saya tak bisa dan saya tak tahu, saya tidak mengerti, saya kalah dan saya tidak cocok jadi akuntan tapi ternyata saya salah menilai diri saya sendiri. Saya bukannya tidak bisa, hanya tidak mau. Saya tidak mau belajar karena merasa bahwa ini bukan pilihan saya tapi pilihan orang tua, saya merasa bingung mau jadi apa dan mau dibawa kemana kuliah saya ini sehingga menutupi semangat saya untuk membiarkan pelajaran menghampiri saya.

Dan hari ini,ketika saya bisa berdiri di depan kelas dan mengajarkan mahasiswa saya pelajaran-pelajaran yang justru saya hindari dulu, saya menemukan sebuah paradoks. Siapa yang pernah menyangka apa yang dulu saya hindari mati-matian justru menjadi jalan hidup saya?

Dan mungkin hal yang sama juga akan terjadi pada kehidupan banyak orang seperti anak muda yang umurnya 8 tahun lebih muda dari saya ini..Suatu ketika, di depan kelas pada sebuah sesi berbagi ia bercerita tentang keinginan dan kenyataan yang bertolak belakang; yang sama persis dengan yang saya alami dulu..jadi wartawan dengan naluri petualangan yang tinggi tapi menjalani kuliah yang berkutat dengan angka-angka. Bedanya dia (sepertinya) menjalani keduanya dengan baik..I wish I did the same when I was younger..
Tidak hanya saya dan dia. Di luar sana, ada banyak orang yang pernah mengalami fase kehidupan seperti yang saya alami. Memiliki apa yang tidak ingin dimiliki dan kemudian melakukan apa saja agar bisa memiliki apa yang mereka ingin miliki, mulai dari tak henti-hentinya mengeluh hingga benar-benar berjuang habis-habisan agar yang diinginkan termiliki.Jika kemudian belum juga berhasil, akhirnya seringkali semua hal terasa terlalu terlambat, meskipun orang bijak bilang better late than never. Dan kita menjadi kehilangan semangat untuk memulai masuk dan menikmati perubahan karena orang lain telah berjalan amat jauh sementara kita masih berdiri termangu di garis start, ragu untuk memilih apakan melanjutkan pertandingan atau pulang dan menyerah kalah begitu saja. Jika kemudian memilih menyerah, maka keadaanlah yang kemudian akan tersalahkan

Dan begitulah hidup…

Kita tidak pernah tahu dimana titik balik hidup kita berada. Entah di kuliah yang dijalani, entah di profesi yang di pilih atau bahkan tidak di keduanya dan malah di titik yang kita sendiri tak pernah duga sebelumnya..

Tidak ada komentar: