Senin, 22 November 2010

Nights In Rodhante

Pernah merasakan hampir memiliki sesuatu tapi kemudian sebelum kita memegangnya dia sudah terlebih dahulu lepas? Pernah merasa begitu memiliki seseorang dan menumbuhkan harapan membubung tentang sebuah masa depan yang indah tapi sebelum semua terwujud ia pergi begitu saja?

Bagaimana rasanya?

Hari ini saya melihatnya di film nights in rodhante..
Bukan film baru dan bahkan selalu saya lewatkan ketika ingin meminjam film di bimasakti. Dan ternyata film ini saya banget..Drama romantis..jadi nyesel kenapa dulu ga pernah mau minjam.
Film ini bercerita tentang hal diatas pada dua orang yang mengalami kegagalan dalam rumah tangga masing-masing bertemu di sebuh penginapan dan berkesempatan untuk saling jatuh cinta dan saling memperbaiki diri namun sebelum ikatan bisa dibuat, mereka harus dipisahkan oleh kematian. Si Pria- Paul, adalah dokter bedah ternama yang datang ke kota itu karena disurati oleh suami pasiennya yang meninggal di meja operasi dan si wanita-dianne adalah orang yang menggantikan temannya mengurusi penginapan tempat si paul menginap. Paul ditinggalkan oleh istri dan anaknya karena lebih mementingkan karir dokternya daripada keluarga sementara Dianne bercerai karena mantan suaminya (kalo ga salah) berselingkuh..

Perkenalan mereka berdua di penginapan di Rodhante telah memberikan perbaikan besar pada keduanya. Paul kemudian berubah menjadi orang yang lebih humanis dan Dianne yang selama ini hanya mengurus anak-anaknya saja, akhirnya lebih memberi ruang bagi dirinya sendiri. Paul kemudian memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan sang anak yang menjadi dokter di daerah terpencil dan sebelum berpisah mereka memutuskan untuk berkomitmen lebih serius.

Apalah artinya jarak, jika hari demi hari bisa mereka bisa saling bercerita dan berbagi perasaan melalui surat? Waktu menunggu akhirnya tidak lagi terasa sampai tibalah waktunya paul akan kembali ke kota itu untuk mengunjungi Dianne dan berencana berkenalan dengan anak-anaknya serta membicarakan masa depan mereka. Segala persiapan istimewa telah dilakukan Dianne Namun hari itu paul tidak datang dan Dianne tidak mendapatkan kabar apapun. Ia begitu kecewa hingga tertidur dengan gaun yang ia pakai untuk menyambut paul. Keesokan harinya Mark, putra paul datang untuk memberi tahu bahwa ayahnya tewas tertimpa longsor di daerah tempat ia berpraktek dan berterima kasih karena Dianne telah mengembalikan ayahnya kepadanya. Dan seketika itu juga semua mimpi-mimpi indah itu hancur dalam sekejap.

Bagaimana rasanya?
Kalo di film itu, digambarkan Dianne bahkan tidak bisa melakukan apa-apa selama beberapa waktu. Dia hanya diam, tidur dan menangis diantara diam dan tidurnya…

Bagaimana rasanya mengalami sendiri?
Jika itu tentang pekerjaan..
Saya sudah berkali-kali mengalaminya.
Sudah terbayang di depan mata betapa menyenangkannya jika diterima pada tes pekerjaan A, B dan C. Apalagi kalo sudah melewati beberapa tahapan tes, hingga tersisa satu atau dua tes terakhir saja. Sudah semakin dekat dengan pekerjaan-pekerjaan yang terjanjikan dan semakin terbayang betapa menyenangkannya bisa menjadi orang yang membanggakan orang tua, bisa jajanin adik-adik, beliin ponakan baju dan sejuta mimpi lainnya.
Dan ketika hasil akhirnya keluar dan menyatakan bahwa mimpi saya harus berakhir sampai disitu saja..

Rasanya? Pahit, kecewa, sedih dan kemudian saya akan sering berusaha menghibur diri dengan kata-kata “bukan rejeki saya” . Dan biasanya luka akan segera hilang atau berkurang ketika tes lain datang atau ketika lowongan lain ada..Dan sebenarnya lukanya ga seberapa..paling -paling hanya merasa kecil hati ketika teman seperjuangan lulus sementara saya engga. Paling-paling hanya merasa iri kalau teman lain sudah punya karier bagus sementara saya belum punya kesempatan untuk memulainya…

Bagaimana jika keadaannya sama seperti yang dirasakan Dianne? Bagaimana rasanya patah hati yang begitu dalam, ditinggalkan ketika mimpi indah sedang dibangun, harapan-harapan besar tinggal menunggu realisasi dan yang paling pahit adalah ketika cinta itu sedemikian besarnya..

Ingin tau rasanya?
I was there befor
Bukan untuk sekali

Dan bahkan untuk patah hati terdalam yang pernah saya lewati butuh hitungan tahun untuk membuat lukanya mengering..Bahkan hingga kini masih terbayang betapa tingginya harapan saya pada masa depan yang bisa kami bangun. Masih terbayang setiap kali hujan turun, betapa menyenangkannya kalau kami bisa duduk berdua di teras rumah memandangi hujan turun, bersenda gurau, menyesap the hangat di cangkir masing-masing..

hanya tinggal selangkah lagi menuju masa depan itu ketika akhirnya kami berpisah..dan bahkan ketika restu orang tuanya turun saya hanya bisa menangis..menangis pahit dan pilu dengan sejuta kata tanya mengapa ada di benak saya…karena semuanya sudah terlambat..

Jangan tanya bagaimana rasanya luka itu
Jika itu pahit, mungkin bukan lagi pahit ala pare atau rebusan papaya..ini mungkin pahitnya air rebusan brotowali atau mungkin lebaynya, ini pahit empedu
Jika itu luka, maka mungkin tidak cukup hanya di tutupi hansaplast..mungkin akan butuh banyak jahitan
Dan jika itu perih, maka bayangkan saja luka tadi ditetesi jeruk nipis..

Sakit..

Sakit itu akan membuat kita tak mampu berkata-kata lagi..dan bahkan membuat airmatapun tak sanggup lagi untuk menetes..

Pengalaman kehilangan ketika kita hampir mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, yang kita angankan membuat saya menjadi amat sangat berhati-hati agar tidak sakit lagi. Mungkin cerita saya dan cerita Dianne tidak serupa namun pada intinya menurut saya sama saja..

Kehilangan..
Ketika sesuatu telah hampir di genggam
Dan hampir 3 tahun peristiwa itu berlalu…
Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa saya sudah merelakan semuanya dan harus merelakannya..
Dan saya akan terus berkata pada diri sendiri untuk terus berjalan..apapun keadaannya

Dan jika sejenak saya berhenti
Bukan karena saya lelah, juga bukan karena saya tidak ingin melanjutkan perjalanan
Itu karena saya merasa telah menemukan sesuatu yaitu harapan baru pada orang yang baru..
Yang padanya , ingin saya titipkan mimpi saya tentang kehidupan yang ingin saya habiskan bersamanya..

Meskipun belum tentu ia bermimpi sama..
Dan hari ini melalui film nights in rodhante saya bercermin dan belajar, seperti halnya Dianne yang akhirnya tetap melanjutkan hidupnya meskipun ia punya kepedihan yang begitu dalam, bahwa setiap luka hati ada obatnya hanya Jika kita memang ingin mengobati dan menyembuhkannya..



2 komentar:

perniquesenja mengatakan...

'jika kita memang ingin mengobati dan menyembuhkannya...'
i love that quote madam....really love...

Hesty Wulandari mengatakan...

ve : thanks for the compliment :)