Senin, 29 November 2010

Untitled

I don't really need to realize how much you important to me until you leave
if i may say, I want you to stay
and i don't want you to leave
not even a minute

Senin, 22 November 2010

Nights In Rodhante

Pernah merasakan hampir memiliki sesuatu tapi kemudian sebelum kita memegangnya dia sudah terlebih dahulu lepas? Pernah merasa begitu memiliki seseorang dan menumbuhkan harapan membubung tentang sebuah masa depan yang indah tapi sebelum semua terwujud ia pergi begitu saja?

Bagaimana rasanya?

Hari ini saya melihatnya di film nights in rodhante..
Bukan film baru dan bahkan selalu saya lewatkan ketika ingin meminjam film di bimasakti. Dan ternyata film ini saya banget..Drama romantis..jadi nyesel kenapa dulu ga pernah mau minjam.
Film ini bercerita tentang hal diatas pada dua orang yang mengalami kegagalan dalam rumah tangga masing-masing bertemu di sebuh penginapan dan berkesempatan untuk saling jatuh cinta dan saling memperbaiki diri namun sebelum ikatan bisa dibuat, mereka harus dipisahkan oleh kematian. Si Pria- Paul, adalah dokter bedah ternama yang datang ke kota itu karena disurati oleh suami pasiennya yang meninggal di meja operasi dan si wanita-dianne adalah orang yang menggantikan temannya mengurusi penginapan tempat si paul menginap. Paul ditinggalkan oleh istri dan anaknya karena lebih mementingkan karir dokternya daripada keluarga sementara Dianne bercerai karena mantan suaminya (kalo ga salah) berselingkuh..

Perkenalan mereka berdua di penginapan di Rodhante telah memberikan perbaikan besar pada keduanya. Paul kemudian berubah menjadi orang yang lebih humanis dan Dianne yang selama ini hanya mengurus anak-anaknya saja, akhirnya lebih memberi ruang bagi dirinya sendiri. Paul kemudian memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan sang anak yang menjadi dokter di daerah terpencil dan sebelum berpisah mereka memutuskan untuk berkomitmen lebih serius.

Apalah artinya jarak, jika hari demi hari bisa mereka bisa saling bercerita dan berbagi perasaan melalui surat? Waktu menunggu akhirnya tidak lagi terasa sampai tibalah waktunya paul akan kembali ke kota itu untuk mengunjungi Dianne dan berencana berkenalan dengan anak-anaknya serta membicarakan masa depan mereka. Segala persiapan istimewa telah dilakukan Dianne Namun hari itu paul tidak datang dan Dianne tidak mendapatkan kabar apapun. Ia begitu kecewa hingga tertidur dengan gaun yang ia pakai untuk menyambut paul. Keesokan harinya Mark, putra paul datang untuk memberi tahu bahwa ayahnya tewas tertimpa longsor di daerah tempat ia berpraktek dan berterima kasih karena Dianne telah mengembalikan ayahnya kepadanya. Dan seketika itu juga semua mimpi-mimpi indah itu hancur dalam sekejap.

Bagaimana rasanya?
Kalo di film itu, digambarkan Dianne bahkan tidak bisa melakukan apa-apa selama beberapa waktu. Dia hanya diam, tidur dan menangis diantara diam dan tidurnya…

Bagaimana rasanya mengalami sendiri?
Jika itu tentang pekerjaan..
Saya sudah berkali-kali mengalaminya.
Sudah terbayang di depan mata betapa menyenangkannya jika diterima pada tes pekerjaan A, B dan C. Apalagi kalo sudah melewati beberapa tahapan tes, hingga tersisa satu atau dua tes terakhir saja. Sudah semakin dekat dengan pekerjaan-pekerjaan yang terjanjikan dan semakin terbayang betapa menyenangkannya bisa menjadi orang yang membanggakan orang tua, bisa jajanin adik-adik, beliin ponakan baju dan sejuta mimpi lainnya.
Dan ketika hasil akhirnya keluar dan menyatakan bahwa mimpi saya harus berakhir sampai disitu saja..

Rasanya? Pahit, kecewa, sedih dan kemudian saya akan sering berusaha menghibur diri dengan kata-kata “bukan rejeki saya” . Dan biasanya luka akan segera hilang atau berkurang ketika tes lain datang atau ketika lowongan lain ada..Dan sebenarnya lukanya ga seberapa..paling -paling hanya merasa kecil hati ketika teman seperjuangan lulus sementara saya engga. Paling-paling hanya merasa iri kalau teman lain sudah punya karier bagus sementara saya belum punya kesempatan untuk memulainya…

Bagaimana jika keadaannya sama seperti yang dirasakan Dianne? Bagaimana rasanya patah hati yang begitu dalam, ditinggalkan ketika mimpi indah sedang dibangun, harapan-harapan besar tinggal menunggu realisasi dan yang paling pahit adalah ketika cinta itu sedemikian besarnya..

Ingin tau rasanya?
I was there befor
Bukan untuk sekali

Dan bahkan untuk patah hati terdalam yang pernah saya lewati butuh hitungan tahun untuk membuat lukanya mengering..Bahkan hingga kini masih terbayang betapa tingginya harapan saya pada masa depan yang bisa kami bangun. Masih terbayang setiap kali hujan turun, betapa menyenangkannya kalau kami bisa duduk berdua di teras rumah memandangi hujan turun, bersenda gurau, menyesap the hangat di cangkir masing-masing..

hanya tinggal selangkah lagi menuju masa depan itu ketika akhirnya kami berpisah..dan bahkan ketika restu orang tuanya turun saya hanya bisa menangis..menangis pahit dan pilu dengan sejuta kata tanya mengapa ada di benak saya…karena semuanya sudah terlambat..

Jangan tanya bagaimana rasanya luka itu
Jika itu pahit, mungkin bukan lagi pahit ala pare atau rebusan papaya..ini mungkin pahitnya air rebusan brotowali atau mungkin lebaynya, ini pahit empedu
Jika itu luka, maka mungkin tidak cukup hanya di tutupi hansaplast..mungkin akan butuh banyak jahitan
Dan jika itu perih, maka bayangkan saja luka tadi ditetesi jeruk nipis..

Sakit..

Sakit itu akan membuat kita tak mampu berkata-kata lagi..dan bahkan membuat airmatapun tak sanggup lagi untuk menetes..

Pengalaman kehilangan ketika kita hampir mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, yang kita angankan membuat saya menjadi amat sangat berhati-hati agar tidak sakit lagi. Mungkin cerita saya dan cerita Dianne tidak serupa namun pada intinya menurut saya sama saja..

Kehilangan..
Ketika sesuatu telah hampir di genggam
Dan hampir 3 tahun peristiwa itu berlalu…
Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa saya sudah merelakan semuanya dan harus merelakannya..
Dan saya akan terus berkata pada diri sendiri untuk terus berjalan..apapun keadaannya

Dan jika sejenak saya berhenti
Bukan karena saya lelah, juga bukan karena saya tidak ingin melanjutkan perjalanan
Itu karena saya merasa telah menemukan sesuatu yaitu harapan baru pada orang yang baru..
Yang padanya , ingin saya titipkan mimpi saya tentang kehidupan yang ingin saya habiskan bersamanya..

Meskipun belum tentu ia bermimpi sama..
Dan hari ini melalui film nights in rodhante saya bercermin dan belajar, seperti halnya Dianne yang akhirnya tetap melanjutkan hidupnya meskipun ia punya kepedihan yang begitu dalam, bahwa setiap luka hati ada obatnya hanya Jika kita memang ingin mengobati dan menyembuhkannya..



Minggu, 14 November 2010

Titik Balik

Di suatu malam akhirnya saya sempat menonton liputan perjalanan ke India di National Geographic Channel. Jarang-jarang saya bisa menonton channel luar yang ada di tv kabel langganan adik ipar saya karena persaingan ketat penguasaan siaran tv dengan penguasa channel tv di rumah yaitu pengasuhnya dzaki, yang selalu memonopoli siaran –siaran lokal dengan jadwal acara favorit berupa quis dan sinetron yang berderai air mata..ha ha

Enough soal rebutan channel tv, bukan itu inti ceritanya..
Cerita perjalanan yang dilakukan oleh dua wartawan NGC asal inggris plus satu juru kamera itu jauh lebih menyenangkan untuk dibahas. Mereka jurnalist yang hebat dan kekaguman saya terhadap ketahanan mereka dalam melakukan perjalanan (rute yang panjang, berganti-ganti kendaraan mulai dari pesawat hingga motor, cuaca yang tidak sama serta berbagai tantangan lain) benar-benar tak habis-habis. Dan diantara kekaguman itu sebuah pikiran zaman lawas kembali berkelebat dipikiran saya : “jika saya dulu kuliah di jurusan komunikasi mungkin saya bisa seperti mereka, menjadi jurnalist hebat, apapun media yang dipakai dan apapun merek medianya”.

Mimpi saya untuk menjadi wartawan dimulai sejak saya duduk di bangku SMU, diawali dengan kegilaan saya pada perkembangan dunia politik yang sedang hangat-hangatnya di masa reformasi. Tiba-tiba saya ingin menjadi bagian penyebaran informasi, menjadi orang yang berada di garda depan dari setiap peristwa, melakukan perjalanan untuk meliput berita kemana saja. Waktu itu, saya ingin sekali menjadi bagian dari majalah Tempo ( majalah politk yang sudah jadi bagian saya sejak SD), Gatra, Kompas dan republika. Ketika duduk di kelas tiga, keinginan itu makin menjadi-jadi. Beberapa mata pelajaran menjadi penunjang kesukaan saya terhadap cita-cita ini. Saya menjadi sering, terlalu sering malah ambil bagian dalam perdebatan di kelas dengan selalu berusaha memberikan argumen yang bagus dan berkelas.

Dan ketika saat untuk merintis jalan untuk mewujudkan impian tiba, saya malah tidak berhasil lulus di jurusan yang saya inginkan. Saya malah lulus di jurusan yang 180 derjat berbeda dengan bayangan saya. Jurusan akuntansi dan hingga tahun ketiga kuliah saya masih tidak bisa menerima bahwa saya tidak bisa jadi wartawan sementara untuk jadi akuntan? Saya terseok-seok, bahkan mungkin merayap. Suatu kali di ujian kompre saya menyatakan pada penguji saya bahwa bukan jurusan ini yang saya inginkan. Saya hanya ingin jadi wartawan. Salah seorang penguji saya kemudian mengatakan kalo jadi wartawan tidak harus kuliah di jurusan komunikasi dari jurusan saya juga bisa. Ira Koesno, mantan announcer di SCTV itu adalah salah satu wartawan yang berasal dari jurusan akuntansi. Saya kehabisan kata dan tak punya alasan lagi

Dan apalah daya, dengan nilai kelulusan ala kadarnya akibat keengganan yang luar biasa untuk menikmati bangku kuliah, saya justru tidak diterima melamar di koran manapun. Ya bagaimana bisa, kalo yang saya kuasai tanggung semua.

Waktu berlalu dan akhirnya pengalaman masa lalu memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki masa depan. Dan ternyata saya kemudian menemukan bahwa nothing is impossible to be learned. Saya sering berpikir bahwa saya tak bisa dan saya tak tahu, saya tidak mengerti, saya kalah dan saya tidak cocok jadi akuntan tapi ternyata saya salah menilai diri saya sendiri. Saya bukannya tidak bisa, hanya tidak mau. Saya tidak mau belajar karena merasa bahwa ini bukan pilihan saya tapi pilihan orang tua, saya merasa bingung mau jadi apa dan mau dibawa kemana kuliah saya ini sehingga menutupi semangat saya untuk membiarkan pelajaran menghampiri saya.

Dan hari ini,ketika saya bisa berdiri di depan kelas dan mengajarkan mahasiswa saya pelajaran-pelajaran yang justru saya hindari dulu, saya menemukan sebuah paradoks. Siapa yang pernah menyangka apa yang dulu saya hindari mati-matian justru menjadi jalan hidup saya?

Dan mungkin hal yang sama juga akan terjadi pada kehidupan banyak orang seperti anak muda yang umurnya 8 tahun lebih muda dari saya ini..Suatu ketika, di depan kelas pada sebuah sesi berbagi ia bercerita tentang keinginan dan kenyataan yang bertolak belakang; yang sama persis dengan yang saya alami dulu..jadi wartawan dengan naluri petualangan yang tinggi tapi menjalani kuliah yang berkutat dengan angka-angka. Bedanya dia (sepertinya) menjalani keduanya dengan baik..I wish I did the same when I was younger..
Tidak hanya saya dan dia. Di luar sana, ada banyak orang yang pernah mengalami fase kehidupan seperti yang saya alami. Memiliki apa yang tidak ingin dimiliki dan kemudian melakukan apa saja agar bisa memiliki apa yang mereka ingin miliki, mulai dari tak henti-hentinya mengeluh hingga benar-benar berjuang habis-habisan agar yang diinginkan termiliki.Jika kemudian belum juga berhasil, akhirnya seringkali semua hal terasa terlalu terlambat, meskipun orang bijak bilang better late than never. Dan kita menjadi kehilangan semangat untuk memulai masuk dan menikmati perubahan karena orang lain telah berjalan amat jauh sementara kita masih berdiri termangu di garis start, ragu untuk memilih apakan melanjutkan pertandingan atau pulang dan menyerah kalah begitu saja. Jika kemudian memilih menyerah, maka keadaanlah yang kemudian akan tersalahkan

Dan begitulah hidup…

Kita tidak pernah tahu dimana titik balik hidup kita berada. Entah di kuliah yang dijalani, entah di profesi yang di pilih atau bahkan tidak di keduanya dan malah di titik yang kita sendiri tak pernah duga sebelumnya..

Rabu, 03 November 2010

Tentang mengajar

wahhh, hampir tiga mingu blog saya ga diisi..mo bilang sibuk kok kayaknya lebay ya? tapi begitulah kenyataannya..Setiap minggu, saya mengajar 16 jam dari selasa hingga jumat dengan rata-rata pertemuan 4 jam per hari. Sementara untuk ngenet, saya harus sengaja nongkrong di pustaka dan berebut komputer ama mahasiswa yang juga ingin bersocial network:)

Mahasiswa saya lucu-lucu. setiap kelas memiliki karakteristik yang berbeda. Ada kelas yang isinya orang kalem semua. Diterangin diam, ditanyain paham apa enggak diam juga, dikasih pertanyaan diam juga. Ada lagi kelas yang rameee sekali, baru masuk aja udah riuh. rajin mengajukan pertanyaan dan rajin menjawab. Sepanjang tiga minggu ini saya belum bisa bersikap cool kalo ada yang benar-benar lucu di kelas, tetap saja saya tertawa bersama mereka.

Di minggu ke 3 saya mengajar ini saya baru merasakan kembaii yang namanya capek dan lelah setelah bekerja, jam tidur kembali ke posisi semula, 9 malam atau bahkan sebelumnya, sabtu minggu yang terasa amat menyenangkan karena bisa istirahat sepuasnya, bangun siang, dll..

Setelah hampir tiga minggu mengajar, saya akhirnya menemukan hal-hal baru dan akhirnya mulai mengerti beberapa hal, seperti:

1. mengapa para dosen suka marah dan negur kalo kita lagi ngobrol di kelas pas beliau beliau lagi menerangkan
Berdiri di depan kelas membuat pandangan mata kita bisa melihat dengan luas, bahkan dengan sudut-sudut matapun kita bisa melihat sampai sudut-sudut kelas. Dari depan, setiap tingkah laku audience sangat kelihatan dan gerakan-gerakan tertentu bisa merusak konsentrasi dan membuat kita bisa lupa susunan kata-kata yang harus disampaikan, Jika dosennya lupa atau terganggu konsentrasinya oleh satu orang, itu artinya mengganggu kepentingan banyak orang di kelas itu terutama mereka yang serius ingin belajar.

2. Mengapa kalo kuliah jam 10, siang biasnya kelas gaduh atau sebaliknya senyap sekali?
Jam 10 atau jam 1 merupakan jam kuliah dengan tantangan terberat. Pada jam 10, kesibukan sudah mulai reda sementara sisa-sisa capek karena buru-buru kuliah pada jam sebelumnya masih terasa, jadilah sang kantuk mulai menyerang. Belum lagi jika mereka ga sempat sarapan, krucuk-krucuk lah itu perut..sementara jam 1, waktu yang enak untuk tidur siang apalagi setelah perut terisi penuh, makin menjadilah itu setan bergantungan dimata. Jadi, jangankan mahasiswa, dosennya aja perjuangan banget buat ngajar

3. Mengapa banyak dosen yang well-dressed kalo ngajar?
Selama 3 minggu ini, hampir tiap malam sebelum mengajar saya bertanya kepada adik saya apakah baju ini cocok dipadankan dengan rok atau celana itu..semacam ritual khususlah. Setelah resmi mengajar dan selalu berdiri di depan kelas, saya jadi paham rasanya menjadi pusat perhatian. Bayangkan semua mata tertuju pada kita, memperhatikan gerak gerik kita, baju yang kita pakai; matching ga? ada yang robek ga? ada noda ga. lama-lama saya jadi ngerasa ky selebriti aja, ga boleh tampil buruk.

Dalam pemahaman saya, semua karena profesi saya adalah jasa. Saya memberikan jasa mengajar saya pada mahasiswa dan seharusnya orang bekerja pada sektor jasa memperhatikan kpuasan konsumennya. Makanya jika kita mengajar dengan baik, berpenampilan baik, meskipun hari itu panasnya bukan main, meski hari itu jam mengajar banyak akan memberikan kepuasan sendiri pada mahasiswa yang jadi konsumen kita.

Tapi profesi ini memberikan banyak kesenangan dibalik kerepotannya..dan itu yang membuat saya selalu bersemangat untuk ke kampus setiap harinya