Sabtu, 21 Agustus 2010

Framing; Tentang Si Gendut, Kutilang dan Ginanjar..

Malam sudah larut, tapi saya belum tidur. Memang sengaja, soalnya saya ingin menonton konser terakhir Harmoni SCTV yang keren banget itu..

Tapi bukan harmoni yang ingin saya ceritakan disini. Tapi saya ingin berbagi tweet yang dibuat oleh @VeHandojo, salah satu dari sekoan banyak orang yang saya ikuti untuk meramaikan khazanah pemikiran saya melalui dunia maya. Setelah Nani tampil membawakan lagu Rossa, Vehandojo menulis : "Nania is a gorgeous plus-size lady. She's always my number one Indonesian Idol. Remember her "Indonesia Pusaka"? Goosebumps!"..

Sudah bisa menebak pikiran saya kan?
Salah kalau saya mau berbicara tentang postur tubuh (lagi)..tapi kali ini saya ingin bercerita tentang bagaimana kosakata berbeda namun memiliki arti sama bisa memberikan pemaknaan psikologis yang lebih baik sehingga memepengaruhi pengambilan keputusan. Saya teringat dengan kuliah yang disampaikan oleh dosen favorit saya yang ilmunya luas sekali, Dr. Bambang Riyanto..beliau menyebutkan istilah Framing untuk istilah ini, namun Framing atau cara penyajian informasi biasanya digunakan untuk menjelaskan bagaimana sesuatu yang bermuatan informasi sama namun jika disampaikan dengan cara yang berbeda akan memberikan dampak psikologis yang berbeda terutama dalam pengambilan keputusan. Contoh yang sering beliau pakai adalah : orang akan lebih suka mendengar :"Jika memakai satu vaksin, maka dari seratus ekor ayam, 20 ekor akan selamat" daripada :"Jika memakai vaksin ini, maka 80 ekor ayam akan mati"..

Begitu juga dengan kata-kata..
Kalau di kosakata barat sana, menurut dosen saya yang pakar bahasa, Bapak Suwardjono, satu kata bisa dipakai untuk banyak pengertian dan bertingkat-tingkat. Seperti kata cantik bisa dipadankan dengan pretty, beautiful hingga Gorgeous , sementara di Indonesia kadang lebih sedikit.

Begitu juga dengan yang ditulis oleh VeHandojo tadi. Terus terang saya tidak kenal dengan beliau, hanya mengikuti beliau karena disarankan oleh beberapa orang terkemuka dan ternyata cukup menyenangkan membaca tulisan 40 karakternya di timeline

saya, sehingga apa yang saya tulis saya rasa cukup objektif.

Plus-size lady jika diartikan secara gamblang berarti wanita berukuran plus. Kalau diterjemahkan di google artinya lebih berantakan; ukuran plus wanita..yang sebenarnya memiliki makna yang sama saja dengan gemuk, gendut, gembrot dan sederet kata-kata lainnya yang terdengar jauh lebih menghina dan menghakimi. Plus size lady, bagi saya yang memang berukuran plus terdengar jauuuuuhhh lebih manusiawi.

Tapi ini memang soal kebiasaan ya..

Banyak orang yang lebih suka mengingat dan memanggil orang lain dengan tag line yang negatifnya dulu dan sulit melekatkan tagline positif. Maka akan ada panggilan si A yang ginanjar alias gigi nan jarang, si B lesuik alias kutilang, si C nan pendek, si D nan tongos dan sedert orang dengan tagline negatif lainnya. Dulu waktu SD, saya dikenal dengan nama Hesty Bobo karena gigi depan saya besar-besar seperti gigi si bobo, kelinci yang jadi ikon suatu majalah. Nama lain saya adalah Hesty Gapuak yang dalam bahasa Indonesia berarti Hesty Gendut..ga ada tuh yang memanggil saya dengan tagline; Hesty si dokter kecil (karena saya dokter kecil dulunya), hesty yang juara atau hesty yang ngegemesin...

Padahal, sama halnya dengan kasus intial anchor diatas, bukankah kita lebih senang jika mendengar yang baik-baik daripada yang buruk? tapi mengapa kita jauh lebih senang mengucapkan yang kosakata yang buruk daripada yang baik?

Dan tanpa kita sadari,
Hal-hal seperti itulah yang kemudian memunculkan ketidakpercayaan diri pada orang-orang tertentu..

yang membuat mereka (kadang) menolak untuk menjadi dirinya sendiri
dan percaya atau tidak, yang juga membuat orang mati-matian melakukan diet ketat, operasi perbaikan wajah hingga memakai kawat gigi

Padahal,
Siapa yang tahu tentang masa depan ya?
para model keren-keren di dalam dan luar negri banyak yang minderan dan lebih memilih untuk berjalan membungkuk karena berpostur menjualng jauh dari teman-teman seumurannya...dan setelah itu kita yang terbiasa memanggilnya dengan tagline negatif seperti kutilang, kurus, kecil hanya akan bisa terpesona dan kemudian menjadi fans berat..

Jadi,
Mulai hari ini, mari berjanji untuk memanggil dan mengingat orang lain dengan tagline positif; seperti Si A yang senyumnya aduhai, Si B yang rambutnya bagus..dll..Bukankah Rasulullah juga mengajarkan untuk memanggil orang dengan panggilan terbaiknya?

Dan bukankah diantara sekian banyak kekurangan yang dimiliki oleh seseorang, Tuhan menitipkan kelebihan-kelebihan yang menjadikannya imbang?

Oke Temans?
Janji ya:)

4 komentar:

perniquesenja mengatakan...

Is it hurt when I called u 'madamkuw'?
Panggilan ini terlintas begitu saja karena di suatu pagi nan cerah dirimu memanggilku yang sedang enggan mengunyah untuk sarapan nasgor bersama di kamarmu. Aku langsung ingat ibuku yang dengan lembut menyuruhku makan tanpa paksaan dan tekanan sama sekali namun sukses membuatku makan saat itu.

Hesty Wulandari mengatakan...

ve : sebenarnya yang ku maksud disini lebih ke panggilan yang tidak mengenakkan di telinga..seperti si hitam, si gendut, si kurus dan si jelek2 lainnya:)

Desi mengatakan...

Insya Allah bu, ga panggil dengan istilah yg aneh2 lagi... :)

Hesty Wulandari mengatakan...

ici : janji ya? he he