Rabu, 07 Juli 2010

Tips mengetahui keaslian rumah makan Padang...versi saya

Sebagai orang padang perantauan, banyak yang suka bertanya kepada saya, bagaimana membedakan masakan padang asli dengan masakan padang jadi-jadian. Di Jogja, rumah makan padang ada di hampir setiap sudut kota. Separuhnya dimiliki oleh orang padang asli dan separuhnya dimiliki oleh orang jawa (biasanya orang wonosari) yang pernah kerja di rumah makan padang atau memang orang jawa yang pernah tinggal di padang. Awal kepindahan saya ke Jogja, saya sering kecewa dengan masakan padang yang saya temui..jauh dibawah perkiraan saya. Lambat laun saya mulai memperhatikan, bahwa di rumah makan yang saya agak kuciwa tadi, biasanya pemiliknya bukan urang awak. Ada beberapa hal yang saya perhatikan ketika makan di rumah makan padang, untuk mengetahui apakah rumah makan ini asli atau jadi-jadian
1. Sambalado.
Di daerah asalnya, sambalado hanya berbahan dasar cabe keriting bukan cabe rawit, tomat dan bawang. Berlaku untuk sambalado ijau ataupun sambalado merah. Sambalado goreng ataupun sambalado bauok (rebus). Hal inilah yang menyebabkan sambalado padang tidak memberikan efek panas menyengat, melainkan efek hangat dan panas di tubuh. Di beberapa turunan sambalado, seperti sambalado tanak dan sambalado hati, sudah mulai ada penggunaaan daun karena sambalado ini tonenya sudah mendekati gulai. Minimal daun yang digunakan adalah daun salam.
2. Kekentalan gulai
Di beberapa daerah, rumah makan padang sudah mulai mengalami modifikasi kekentalan santan. Hal ini terutama tergantung pada ketersediaan kelapa dan kebiasaan masyarakat setempat. Masyarakat jawa biasanya tidak terlalu suka masakan dengan santan kental dan harga kelapa disini mahal. Di daerah asalnya, kelapa merupakan sumber daya yang melimpah hingga banyak sekali usaha berbasis kelapa yang berkembang. Mulai dari penjualan kelapa butiran hingga penyediaan santan. Bagi masyarakat minang, gulai baru dikatakan gulai jika perbandingan air dan santannya minimal setara. Lebih pekat malah lebih baik.
3. Bumbu kari dalam gulai
Tidak semua gulai memakai bumbu kari. Bagi saya sangat mengherankan kalau gulai ayam biasa ( bumbu kuning) juga diberi bumbu kari. Bumbu kari yang dalam istilah padang dinamakan pamasak, biasanya digunakan untuk gulai cancang, gulai cubadak, gulai kambing dan sesekali kadang dimasukkan untuk campuran rendang. Jika anda makan di rumah makan yang (bahkan) gulai ikannya berasa kari, berarti pemiliknya bukan urang awak
4. Telor Dadar
Telor dadar di rumah makan padang biasanya tebal dengan tampilan luar renyah dan dalamnya padat. Tekstur padat bukan ditimbulkan oleh penggunaan campuran tepung, melainkan karena penggunaan telor bebek dan biasanya ditambah oleh irisan daun bawang yang kaya. Kalau di rumah saya, telur dadar biasanya akan memakai kentang yang diiris halus sehingga menjaga tektur telur agar tidak mengempes setelah di goreng
5. Teh
Meskipun bukan keharusan, rumah makan padang original biasanya menggunakan teh hitam biasa tanpa tambahan rasa (biasanya bermerek bendera atau goal para). Kalau tidak ada pilihan lain baru mereka menggunakan teh setempat. Karena pada dasarnya orang padang tidak suka teh yang beraroma.

Pendapat diatas bersifat personal. Bisa kurang bisa juga terlalu berlebihan. Tapi mudah-mudahan bisa bermanfaat terutama bagi penggemar masakan padang.

2 komentar:

merry go round mengatakan...

Hoho...penggemar masakan padang sejati.

Hesty Wulandari mengatakan...

iya dong...orang padang sejatiiii:)