Selasa, 12 Januari 2010

musim hujan kali ini...

Hampir tiap sore Jogja disiram hujan. Selagi tidak disertai angin
kencang dan petir yang menyambar-nyambar, saya masih pencinta hujan.
Hampir semua musim hujan selama 4 tahun ini saya lewatkan di Jogja dan
selama itu pula saya hanya bisa membayangkan betapa enaknya berkumpul
bersama keluarga besar ketika hujan.

Adik-adik saya yang jumlahnya tiga orang itu biasanya akan sibuk
meminta kakaknya ini membuat gorengan. apa saja, entah pisang goreng,
bakwan, bahkan kadang hanya sekedar tahu yang direndam dengan air garam
atau tempe yang digoreng tepung.

Biasanya mereka akan menunggu dengan sabar dan menyiapkan segelas teh
atau kopi instan panas sebagai teman makan gorengan. Bakwan, tahu atau
risoles di rumah saya ataupun di kota padang pada
umumnya disajikan dengan kuah cabe yang dibuat dari cabe giling yang
disiram air panas mendidih ditambah dengan beberapa sendok gula,
beberapa iris bawang putih dan sedikit cuka atau asam jawa. Setelah
gorengan matang dan kuah cabenya jadi, berikutnya akan terjadi gerakan
bolak balik ke dapur setiap kali gorengan diangkat hingga gorengan
habis. Hanya tersisa tumpukan piring kotor karena kami memakan gorengan
plus kuahnya dipiring-piring tersebut. Dan tak lama kemudian para
pemakan gorengan satu persatu menarik selimut dan tidur.

Di hari lain masih di musim hujan, biasanya kami akan bergantian di
dapur untuk memasak mie instan favorit dengan cara masing-masing. Ayah
saya menyukai mie instan rasa kari ayam buatan pabrik mie terkenal yang
dimasak lengkap dengan sayuran, daun bawang, seledri dan bawang goreng
dengan telur yang diaduk cepat sesaat sebelum mi instan diangkat dari
panci. Sementara versi ibu saya tidak kalah nikmatnya. Beliau hanya
akan merendam mie instan rasa ayam bawang ditambah daun bawang yang
telah diiris, cabe rawit, irisan tomat dan seledri dengan air mendidih
lalu di tutup. Setelah dianggap cukup empuk, tutup mangkok akan dibuka.
Aromanya segaaarrr sekali. Baru kemudian bumbu dan pelngkap dimasukkan
dan diakhiri dengan percikan air jeruk nipis...hmmm

Di Jogja, musim hujan membuat warung bubur kacang ijo dipenuhi oleh
anak kos. Ya warung murah meriah yang menyediakan makanan fast food
(yang memang tersaji cepat) merupakan pertolongan pertama bagi kami
anak kos yang kelaparan dan mati gaya kalo hujan tidak kunjung reda.
Akang-akang di burjo ( kebanyakan burjo dimiliki oleh orang kuningan)
akan dengan sigap memindahkan bakwan, tahu isi, tempe, pisang molen ke
baki-baki gorengan, menyiapkan mie instan rebus, bubur ayam ataupun
hanya sekedar segelas susu kental manis coklat hangat.

Hmm..meskipun tidak berada di rumah, musim hujan yang saya lewati tetap
saja menyenangkan. .Postingan yang tidak terlalu penting. mudah-mudahan
tidak di banned ama moderator :)

2 komentar:

perniquesenja mengatakan...

disini gk ada warung burjo....kalopun ada itupun cm satu yg deket tempatku dan juaaauh....
ato karena kuningan jauh dari balikpapan ya makanya mreka males buka warung burjo disini?? xixixiii...

Hesty Wulandari mengatakan...

itu karena kalo jualan burjo harganya ga bisa seribuaannn
mungkin karena orang sunda ga tahan naik kapall..ada hubungannya?