Jumat, 29 Januari 2010

kenapa harus iri?

Postingan lama saya di fesbuk..
pengen aja di share disini, siapa tau berguna


Kadang saya berharap kalau saya berasal dari keluarga kaya raya..tidak perlu harus konglomerat seperti aburizal bakrie..tapi cukup diatas rata-rata orang lain. Bisa beli apa saja yang saya inginkan, baju bagus, tas kulit, sepatu bermerek tanpa harus merasa tidak enak dengan orang tua karena orang tua saya punya uang segudang.., bisa kuliah dengan kendaraan sendiri, bukan menyewa seperti sekarang, bisa kos dengan kamar yang luas atau sekalian aja orang tua saya bisa membelikan sebuah rumah buat saya di jogja...dan yang paling penting, saya bisa pulang ke padang kapan saja orang tua saya rindu dan kapan saja saya mau

Itu juga yang sering membuat saya iri dengan banyak teman saya..iri dengan kemudahan mereka memperoleh barang-barang bagus, dan iri dengan uang saku yang berlimpah...saya iri..sangat iri...

Tapi alhamdulillah, dimasa-masa iri itu saya sering berbagi perasaan dengan teman-teman saya hingga suatu kali sampailah suatu kali kami berbicara tentang perasaan iri tersebut. Saya kemudian menceritakan beban perasaan saya kepada mereka..kepada orang-orang yang menjadi objek perasaan iri saya...tak lama kemudian kami saling terdiam..

Kemudian salah seorang teman menyampaikan bahwa betapa dia iri dengan saya.. Teman saya itu kemudian bercerita bahwa dia iri kepada saya karena orang yang bijaksana..memiliki kemampuan berkomunikasi yang bagus, gampang dekat dengan orang lain..bisa memasak...
Kemudian seorang teman lainnya menyambung bahwa dia iri melihat saya yang seakan -akan tidak pernah mengalami masalah pelik..everybody does right? tapi bagi mereka, saya terlihat lempeng-lempeng aja menghadapi hidup...dan saya terkejut..Saya seringkali merasa bahwa saya bukanlah objek iri hati orang lain.seketika itu juga rasa iri saya lenyap..

Hanya karena melihat satu kenikmatan di orang lain, saya lupa melihat segala kenikmatan yang saya punya. Keluarga saya memang tidak kaya raya..papa saya seorang kontraktor dengan pendapatan "rasaki harimau"..kalo lagi bagusnya bisa banyak sekali, kalo lagi sepi ya sepi..sedangkana mama saya seorang perawat yang di gaji bulanannya kami bersandar kalau papa sedang mengalami masa pasang surut..Tapi kondisi inilah yang membentuk saya menjadi risk taker, membangkitkan kreatifitas dan membentuk jiwa enterpreneurship saya..dari masa masa sulit itu jugalah saya belajar untuk bekerja keras ( at least berdagang dulu) untuk membeli apa yang saya inginkan...

Sebaliknya, Keluarga saya dengan segala kondisinya membentuk saya menjadi orang yang sangat menikmati hidup..saya tidak pelit dengan diri sendiri..saya suka tidak berpikir dua kali membeli barang kalau saya punya uang..

Ah, ternyata bener kata seorang teman..hidup itu sawang sinawang..saling melihat..ketika saya melihat hidup orang, maka seringkali saya lupa dengan kehidupan saya..padahal belum tentu kehidupan mereka cocok dengan saya..

Ternyata benar apa kata Papa saya, kata-kata yang selalu beliau ucapkan ketika saya mengalami penurunan..entah penurunan nilai, engga lulus ujian, engga lulus tes.."tidak mungkin kita memiliki semua hal yang kita inginkan di dunia ini.., kecantikan, kepintaran, kekayaan dan hal lainnya..jika kita memiliki semua itu, lalu dimana kesempatan orang lain?

Ah saya malu...malu sekali.. ternyata menurut teori Mashlow, konsep pemikiran saya akan kemakmuran baru sampai kebutuhan akan materi..saya masih belum melangkah kemana-mana..


* mengenang masa-masa bercerita disudut kamar dengan beberapa teman..

Tidak ada komentar: