Selasa, 22 Desember 2009

mama..you know I love you..

Hari ibu ..
dan saya belum menelpon mama pagi ini dan belum menelepon mama untuk minggu ini..saya rindu sebenarnya, tapi saya takut kalo saya tidak bisa menahan emosi saya ketika menelepon beliau, takut tidak bisa menahan tangis kalau bercerita betapa sulitnya hari-hari belakangan ini harus saya lewati..saya takut menambah beban beliau..

Ketika minggu lalu beliau menelepon saya untuk menanyakan kesulitan yang saya hadapai pada saat thesis, saya dengan tercekat-cekat harus meminta maaf kalau nanti beliau harus menyiapkan uang kuliah tambahan. Saya merasa amat bersalah, pada mama dan papa. di dalam benak saya, hanya terbayang dua wajah orang yang saya cintai, yang semakin menua tapi masih tetap harus di repotkan oleh saya..belum ada satupun saya membalas kebaikan dan membahagiakan mereka..

dan semua ini membuat saya tertekan. resah dan risau sepanjang hari..
hingga suara mama di telpon menenangkan saya. Beliau mengatakan bahwa beliau akan mendoakan semoga thesis saya bisa selesai secepatnya dan beliau akan sekuat tenaga mencarikan biaya untuk saya..ah mama...saya tidak tau kapan semua jerih dan payah ini akan terbayarkan..maafkan saya

di hari ibu ini, saya ingin mempersembahkan tulisan saya buat mama, yang pernah saya posting di notes saya di fesbuk..tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jasa beliau terhadap saya..tidak akan pernah terbalas...

Mama, I love you...

"Saya jarang menulis tentang mama saya dalam note atau blog bukan karena saya tidak menyayangi beliau seperti saya menyayangi Papa saya, namun justru karena saya tidak bisa menemukan kata-kata yang sepadan untuk bisa mewakili pentingnya keberdaan beliau dalam kehidupan saya. Pastinya jikalau mama saya tidak ada, maka saya juga mungkin tidak ada. Ini sama saja dengan filosofi ayam dan telur..Saya ada, karena beliau ada.

Saya dan mama sangat mirip. Mungkin kemiripan itu jugalah yang membuat kami seringkali bertentangan satu sama lain. Seorang teman pernah berkata pada saya; Jika kita merasa tidak cocok dengan seseorang, maka bisa jadi karena apa yang tidak kita sukai pada dirinya juga ada pada diri kita...hmmm mungkin temen saya itu ada benarnya juga.

Bagi saya, perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa memahami keinginan mama terhadap saya. Mama menurut saya seperti halnya ibu-ibu lain, yang seringkali lebih senang melihat anak orang lain daripada anaknya sendiri dan saya juga begitu, lebih senang melihat ibunya orang lain dari pada ibu saya sendiri. Saya dekat dengan banyak mama temen saya dan saya juga akrab dengan banyak tante-tante, teman kerja mama saya di RSUP. Rasanya bagi saya lebih mudah untuk mendekati mereka daripada mendekati mama saya sendiri...

Keadaan mulai berubah ketika saya tamat kuliah. Pada malam pelepasan wisuda, saya memberikan sambutan dengan memakai baju baru hadiah kelulusan dari mama. Baju pertama yang saya pakai dengan sukacita dan ikut serta mendongkrak kepercayaan diri saya untuk bercerita banyak mewakili para wisudawan selama 20 menit tanpa teks..saya melihat binar bangga di mata beliau..ah kalau saja waktu bisa diulang kembali....Namun sayangnya kebahagiaan itu tidak berlajut pada keesokan harinya ketika acara wisuda berlangsung, Papa dan mama memilih untuk tidak masuk ke dalam gedung...kecewanya masih terasa sampai sekarang..ya tidak ada yang istimewa memang..melihat anaknya lulus dengan kategori biasa-biasa saja..

Tidak ada yang tahu tentang hari esok dan tidak ada yang tahu apa yang direncanakan Tuhan.
Setelah upacara kelulusan, Papa dan mama kemudian menghadiahi saya kesempatan terhebat yang pernah saya punya. Kuliah di kota yang sudah saya impikan sejak saya duduk di bangku SMU. Disuatu subuh mama mengantar saya ke Bandara dan kami berpelukan dan bertangisan...Saya mulai gamang, kami tidak pernah berpisah lama. Hanya ketika saya kecil dulu saja, ketika saya dan saudara saudara saya bergantian dititipkan di tempat nenek.

Setelah saya di Jogja, barulah saya memahami apa makna dari merantau.
Merantau ternyata mengajarkan saya bahwa tidak ada tempat yang menyenangkan selain dirumah...seburuk apapun keadaannya. Merantau membuat saya mengetahui bahwa saya beruntung karena masih memiliki orang tua, masih dimarahi kalau salah, masih dirawat kalau sakit, masih suka diceramahi dan diawasi..karena ternyata itulah yang saya rindukan selama saya merantau.

Merantau juga mengajari saya untuk menciptakan kondisi bukan hanya protes dengan keadaan. Sesekali saya menelpon mama saya hanya untuk sekedar bertanya apakah beliau sehat sehat saja, masak apa hari ini..pertanyaan yang menurut saya cukup sederhana tapi mampu membuat beliau canggung. Ah..mungkin selama ini sayalah yang salah..tidak berusaha mengerti apa yang beliau rasakan dan tidak pernah bertanya..

Setelah merantau juga saya baru menyadari bahwa apa yang telah mama saya lakukan agar saya bisa sekolah tinggi hingga hari ini nyaris tak terbayar. Saya membayangkan betapa banyak keinginan yang harus beliau tahan agar bisa menabung untuk uang semesteran saya..dan alhamdulillah saya masih bisa meringankan beban beliau dengan menanggung biaya hidup sendiri selama setengah tahun..tapi itu juga masih jauuuuhhhh dari cukup untuk mengganti setiap sen yang beliau keluarkan...

Sekarang...
Mama saya masih orang yang sama...tapi beliau kemudian menelepon saya jika beberapa hari saya tidak mengirim kabar ke rumah hanya untuk bertanya kenapa saya tidak menelpon...dan kemudian saya akan menggoda beliau dengan bertanya :" mama taragak yo?"

Mama saya masih orang yang sama, yang mendahulukan kepentingan saya dibandingkan keinginan beliau sendiri. tapi sekarang belaiu sudah punya sense of business yang bagus loo..beliau marketing batik saya di Padang. Ditangan beliau tumpukan batik yang saya kirim bulan lalu lenyap dalam waktu seminggu..dan beliau ingin keuntungannya jadi punya saya saja.beliau hanya minta dibelikan baju baru aja lebaran nanti

Mama saya masih orang yang sama..Beliau masih terus menyemangati saya untuk mengajukan beasiswa keluar negri..mendukung saya untuk bekerja dimanapun saya akan bekerja nantinya, bahkan hingga ke daerah terpencil sekalipun..Dari beliaulah ketangguhan seorang wanita dapatkan dan beliau percaya itu. Cuma bedanya sekarang beliau mulai berperan sebagai teman saya, mengoda saya agar saya mau bercerita kalau-kalau sudah ada pria yang bisa saya kenalkan ke beliau sebagai calon menantu...dan ketika saya jawab belum ada, maka beliau dengan lapang hati menghibur saya dan mengatakan "jangan khawatir, nanti akan ada saatnya..dan setiap selesai sholat mama selalu mendoakan eti.."..

ah mama..
Semua masih tetap sama..yang berbeda hanyalah kemauan kami berdua untuk berusaha saling menyelami hati masing-masing. andai saja saya tahu sejak lama..
tapi tidak apa-apa...kalau tidak begini, maka saya dan beliau tidak akan pernah belajar ...

Dan benar kan..perlu banyak kata untuk bisa menggambarkan terima kasih saya kepada beliau..atas setiap doa, airmata dan usaha dan pengertian yang beliau lpunya dan akukan untuk saya...

Semoga Allah memberikan Umur yang Panjang, kesehatan dan kebahagiaan serta kesempatan bagi saya untuk membalas semua jasa yang tidak terbalas tersebut di sisa umur beliau..Amin ya Rabbal alamiin

Un Amore Presempre MOm"