Jumat, 24 April 2009

Semester II : Memahami Konsekuensi atas Setiap Keputusan

Alhamdulillah trimester dua berakhir sudah...

Semester yang penuh ketegangan dan penuh dengan pilihan beserta konsekuensinya. Selain beban kuliah yang lebih padat dibarengi dengan akhir masa proyek. Di semester ini saya belajar bahwa setiap keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensinya.

Pelajaran pertama dimulai ketika dua pekerjaan besar di kantor dibebankan kepada saya selaku koordinator. Pada saat yang bersamaan dengan ujian tengah semester, saya harus berada di jakarta untuk menunaikan kewajiban kantor. Konsekuensi yang harus saya terima adalah dosen yang bersangkutan tidak memberikan kesempatan buat ujian susulan. Saya dan pihak akademis telah berusaha keras mencari celah, tapi ternyata buntu..akhirnya saya hanya bisa menangis saja..membayangkan kemungkinan untuk mengulang di semester berikutnya, perpanjangan semester dan semakin lama membebani orang tua..Tapi saya tidak ingin membayangkan hal-hal buruk dulu. semoga bapak dosen itu tidak memberi saya nilai jelek sehingga mewajibkan saya untuk mengulang semester depan.

Yah begitulah konsekuensi dari kuliah sambil bekerja. Selain tidak lapang secara waktu, saya juga tidak lapang secara pilihan.Maka ketika pilihan sulit terjadi, itu berguna untuk mengajari saya tentang konsekuen dalam menjalankan pilihan.

Pelajaran berikutnya harus saya hadapi lagi ketika adek saya menikah beberapa pekan yang lalu. Entah mengapa tanggal pernikahan adek saya itu sama sekali ga bagus bagi saya. Pada saat yang bersamaan saya seharusnya mengikuti kuliah tambahan dengan pak Zaki berturut-turut selama tiga hari. Saya hopeless. Rencana pulang saya berantakan nyaris ga jadi.. Sekali lagi saya harus bilang ke diri saya bahwa inilah konsekuensi dari sebuah pilihan. Karena saya sudah memilih untuk melanjutkan kuliah dan orang tua saya sudah menyetujui pilihan yang sudah saya buat, maka konsekuensi yang mungin muncul pada hari pernikahan adek saya itu ya saya mungkin tidak bisa hadir. Tapi alhamdulillah ternyata Bapak profesor itu dibukakan mata hatinya. Mungkin karena ga tahan melihat tampang memelas saya selama kuliah berlangsung, salah satu jadwal tambahan dipindahkan pada hari yang sama sehingga saya bisa bolos satu hari saja. Alhamdulillah.

Pelajaran lain yang saya dapat disemester ini adalah untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja karebna saya tidak pernah tahu kapan kesempatan saya untuk berbuat baik akan berakhir. Di semester ini saya kehilangan dua teman sekaligus hanya dalam jangka waktu sebulan saja Pak Gendro dan Pak Edwin berpulang ke haribaanNya. Saya tidak terlalu dekat dengan pak Gendro, tapi saya cukup menyesal tidak terlalu sering berbincang dengan beliau sekedar berbagi cerita, mengurangi beban masalah yang beliau hadapi. Dengan pak Edwin saya sangat dekat. Beliau selalu saya antar pulang kalau saya sedang dipinjami motor. Pak Edwin sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri. Beliau tempat saya bercerita, mencari motivasi bahkan menitipkan salam pada kecengan saya yang sekelas dengan beliau. Dari beliau saya bercermin bahwa orang yang tidak sempurna saja ( beliau menderita cacat kaki sehingga harus memakai tongkat) masih terus berjuang hingga titik penghabisan, lalu mengapa saya yang masih muda, alhamdulillah sehat dan sempurna secara fisik harus menyerah begitu saja. Tapi saya senang, karena saya melepas beliau dengan tenang dengan perasaan bahagia..Pada hari kepulangan beliau, saya mendapatkan satu pelajaran lagi..tentang kehidupan. Saya melihat istri beliau ada disana masih menyambut saya dengan senyuman meskipun setelah itu kami bertangisan. Saya baru melihat kedekatan hati diantara dua orang yang saling mencintai. Pak Edwin sangat beruntung, pada detik-detik sebelum berpulang, beliau masih didampingi dengan penuh cinta oleh istrinya. It's a love for a life time..

Dan hal terbaru yang saya pelajari di semester ini adalah belajar untuk melanjutkan dan meneruskan kehidupan saya sendiri. Beberapa peristiwa yang saya alami belakangan ini mengingatkan saya bahwa sayalah yang akan bertanggungjawab terhadap terhadap diri saya sendiri..bukan orang lain. bukan siapa-siapa. Jadi disemester ini saya mulai membangun independensi diri dan mulai belajar untuk membuka hati lagi..suit suit..ya disemester ini saya mulai jatuh cinta lagi...

Apapun yang saya alami selama satu semester ini saya bersyukur karena Allah memberikan saya kesempatan untuk mengalami ini....

Dan semester yang penuh pelajaran ini berakhir sudah..
Saatnya bersiap untuk memasuki chapter kehidupan selanjutnya...

Jumat, 17 April 2009

dilangkahi...


Bagaimana rasanya dilangkahi?
Selama seminggu di rumah untuk menghadiri pernikahan adik saya yuli, pertanyaan itulah yang sering muncul dikepala saya dan dikepala orang-orang sekitar saya. Pertanyaan wajar untuk orang-orang yang hidup di lingkungan komunal.

Hmmmm
Tadinya seperti halnya kebanyakan hubungan kakak adik, saya juga tidak terlalu rela jika adik saya menikah duluan. Saya kan yang lebih tua, harusnya saya duluan yang menikah..terlebih lagi ketika mereka baru diperbolehkan menikah jika kakak perempuannya ipar saya telah menikah terlebih dahulu. Perasaan terbesar yang ada di hati saya adalah perasaan kalah dan cemburu. dua perasaan saja tapi cukup menyita energi. Dari dulu saya sering merasa kalah jika dibandingkan dengan kakak atau adik saya ini. Kalo cemburu? wajarlah jika cemburu itu hadir ketika kita melihat kehidupan orang lain jauh lebih menyenangkan daripada kehidupan kita..

Tapi itu sudah berlalu..hampir setahun lalu.
Karena ternyata proses yang dilalui adik saya jauh lebih rumit daripada yang saya bayangkan. hampir dua tahun setelah dia menyampaikan niatnya untuk menikah kepada saya, rencana itu baru terwujudkan. dan itu sudah cukup untuk menghilangkan semua kecemburuan dari hati saya.

Kadang saya pikir saya hanya kurang sabar menunggu giliran saya.
Kadang saya pikir saya hanya ketakutan jadi perawan tua
Kadang saya pikir saya hanya ketakutan jika saya harus menghabiskan sisa hidup saya sendirian
Kadang saya juga berpikir bahwa saya jauh lebih takut dengan fikiran orang terhadap diri saya sendiri..seakan akan merekalah yang memiliki jiwa dan raga saya.

Padahal
Allah itu Maha Tahu..Dia tahu kapan saya membutuhkan pendamping, Dia tahu kalau saya masih harus banyak belajar, belajar sabar, belajar mengatur keuangan, belajar membagi konsentrasi dan belajar bersyukur dan belajar mencintai diri saya sendiri.. sehingga ketika sang pendamping itu datang, saya akan menghargai dan mencintainya dengan segenap kesyukuran yang saya punya..

Jadi apa yang harus saya khawatirkan?